Home » » Perang Topat Cermin Perdamaian Antar Umat Beragama di Lombok

Perang Topat Cermin Perdamaian Antar Umat Beragama di Lombok

Posted by INDONESIA MANDIRI on Kamis, 12 Desember 2019

Perang Topat tunjukkan umat Islam dan Hindu di Lombok miliki tradisi  kebersamaan yang kuat
Lombok Barat (IndonesiaMandiri) - Bila mendengar kata perang, tentu yang terlintas kesan menyeramkan. Berbeda dengan Perang Topat di Kompleks Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang justru jauh dari kesan seram. Malahan rasa damai yang terasa setelah “perang” digelar.

Ratusan peserta perang antara umat Muslim dan Hindu serta suku Sasak dan Bali hadir berbaur menjadi satu. Mereka datang menghadiri sebuah tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun. Tradisi perang topat ini menceritakan kedamaian masyarakat Lombok Barat saat hidup sehari-hari dalam keberagaman. Islam dan Hindu menyatu tanpa ada gesekan dan konfrontasi. Yang muncul justru tradisi Perang Topat yang lestari hingga sekarang.

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid menjelaskan, Perang Topat bukan merupakan perang sungguhan, melainkan sebuah tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Tradisi ini melambangkan kedamaian masyarakat Lombok Barat saat mempraktikkan hidup dalam keberagaman. Islam dan Hindu menyatu tanpa ada gesekan dan konfrontasi hingga sekarang.

Tradisi Perang Topat sudah berjalan ratusan tahun di Lombok, Nusa Tenggara Barat
Menurut Bupati Fauzan, gambaran keharmonisan umat beragama tersebut bisa disaksikan sebelum puncak Perang Topat dimulai dengan ritual mengarak kerbau. Tokoh agama dari perwakilan umat Muslim dan Hindu memegang tali kerbau saat mengarak keliling taman Pura Lingsar. “Kerbau merupakan simbol penghormatan kepada umat Islam dan Hindu. Alangkah indahnya kenyataan yang dibungkus dengan kesadaran total bahwa kita semua mahluk Allah SWT, guna merajut persaudaraan dan perdamaian. Jadi filosopi Perang Topat yakni mempertahankna tradisi menjaga toleransi," katanya.

Ia juga meminta kepada Dinas Pariwisata Lombok Barat untuk memastikan kalender penyelenggaraan tradisi Perang Topat agar bisa diketahui setahun sebelumnya.
Sementara Asisten Deputi Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Muh Ricky Fauziyani menyebut, “Lombok Barat beruntung punya tradisi adiluhung yang tinggi. Itu yang harus kita lestarikan, serta dipromosikan sehingga banyak wisatawan yang tertarik dengan budaya yang ada di sini. Terlebih Lombok memiliki kawasan destinasi super prioritas Mandalika, harus dimanfaatkan secara maksimal” (ma/ag).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala