Home » » Tapir&Harimau Sumatera Meski Terbatas Masih Bisa Dijumpai di Angkola Selatan

Tapir&Harimau Sumatera Meski Terbatas Masih Bisa Dijumpai di Angkola Selatan

Posted by INDONESIA MANDIRI on Minggu, 28 Juli 2019

Satwa Tapir yang terekan kamera trap
Angkola Selatan/Sumut (IndonesiaMandiri) - Tim Conservation International Indonesia/CII menemukan jejak dan kotoran harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Hutan Lindung Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selaan, Sumatera Utara, saat survei keanekaragaman hayati Februari lalu. Survei memakai kamera perangkap (camera trap) sepanjang Maret sampai Juli 2019 meliputi area seluas 4.800 ha, juga tidak menemukan adanya foto aktivitas satwa yang dilindungi tersebut. Populasi harimau sumatera terus menurun di habitat alaminya, dan saat ini diperkirakan 400-500 ekor yang sebagian besar hidup di dalam kawasan taman nasional di Sumatera serta berstatus kritis terancam punah (critically endangered).
 
Survei camera trap itu merekam satwa lain yang juga dilindungi undang-undang antara lain tapir sumatera (Tapirus indicus) berstatus genting (endangered), dan trenggiling yang berstatus kritis (critically endangered). Kedua satwa ini  dilindungi Peraturan Pemerintah 7/1999 yang melarang setiap orang menangkap, memelihara, dan memperniagakannya. Adanya permintaan yang tinggi terhadap daging dan sisik trenggiling yang konon dipercaya sebagai bahan obat, telah memicu praktik perburuan liar dan  penyelundupan trenggiling ke Cina dan Vietnam marak sejak 2017. Sedangkan tapir yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan yaitu berfungsi sebagai penebar biji di hutan melalui kotorannya (feses), juga menyusut populasinya.
 
Babi celeng termasuk yang sering terlihat di Angkola
Metode survei camera trap yang dilaksanakan CII bekerja sama dengan PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ) ini, membagi seluruh kawasan ke dalam 1 blok meliputi ±4.800 ha dengan menempatkan camera trap pada 12 sampling unit. Tiap camera trap berjalan selama 75-103 hari (sampling occation). Total perolehan foto adalah 450 frame, terdiri dari 420 foto satwa (15 jenis mamalia, dan tiga jenis burung), serta 30 foto manusia termasuk anggota tim yang memasang perangkap kamera dan para petani lokal yang masuk ke hutan.  
 
Dari hasil itu, tampak dua jenis satwa paling sering terfoto dibanding satwa lainnya yaitu babi celeng (terdeteksi pada 9 lokasi) dan beruk (terdeteksi pada 8 lokasi). Jumlah foto satwa tertinggi adalah foto babi celeng (Sus scrofa) sebanyak 165 foto (39,29%) dan beruk (Macaca nemestrina) sebanyak 157 foto (37,38%), sedangkan yang terendah adalah tapir (Tapirus indicus), binturong (Artistic binturong), musang leher kuning (Martes flavigula), landak ekor panjang (Trichys fasciculata), dan sempidan biru (Lophura ignita), masing masing 1 foto (0,24%).
 
Menurut Anton Ario, Senior Manager Program Terrestrial CII, tak terdeteksinya harimau sumatera bukan berarti satwa tersebut tidak beredar di area hutan lindung. Terbukti, jejak dan kotorannya masih ditemukan. Kemungkinan yang terjadi karena satwa tersebut memiliki wilayah jelajah lebih luas (>50 km²), dan Angola Selatan hanya merupakan area lintasan yang menghubungkan kawasan hutan satu dengan lainnya. Selain itu, tidak terdeteksinya harimau sumatera juga disebabkan periode terpasang kamera relatif singkat atau lokasi penempatan kamera kurang pas.

Namun, Anton tidak menampik adanya kerusakan ekosistem hutan yang menyumbang pada penyusutan jumlah satwa liar di dalamya. “Rendahnya penampakan beberapa satwa di dalam kamera seperti tapir, binturong atau musang ekor kuning, menunjukkan ada gangguan habitat satwaliar di hutan lindung Angkola Selatan, berupa rusaknya habitat dan aktivitas perburuan,” ujarnya (lw/ab).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri