Home » » Drone Killer, Senjata Pamungkas Modern Disegani Lawan (1)

Drone Killer, Senjata Pamungkas Modern Disegani Lawan (1)

Kecanggihan drone juga dibarengi hadirnya teknologi guna redam senjata tanpa awak tersebut

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Artikel ini membahas perkembangan teknokogi Drone dengan segala perkembangannya secara bertahap. Silahkan menikmatinya. Satu dekade ini pesawat udara nir-awak atau drone (Unmanned Aerial Systems\UAS) banyak diulas terutama saat perang melawan terror-nya Amerika Serikat di Afghanistan, Iraq dan Syria.


Kini, kian banyaknya produsen pesawat pengintai/penghancur nir-awak atau sering juga disebut Drone, banyak juga industri memikirkan memproduksi lawannya atau anti-nya.  Disebut sebagai CUAS atau Counter Unmanned Aerial Systems.  Tujuannya mendeteksi, menjejaki dan menetralisir TUAS (Tactical Unmanned Aerial Systems).  Sarana deteksi bisa beri konfirmasi secara positif adanya UAS yang harus dinetralisir baik dengan cara mengganggu dengan jamming atau memotong frekuensi kendalinya atau data-link operatornya sehingga UAS dapat dijatuhkan, atau diserang secara fisik untuk dihancurkan.



TUAS menurut Kepala Teknologi Raytheon Missile System, Don Sullivan, biasanya sulit ditemui, deteksi dan jejaki. Karena selain kecil, biasanya terbang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar, sehingga dapat memberikan sinyal palsu ke radar.  Radar dengan frekuensi radio Ku-band (KuRFS) sudah digunakan oleh beberapa pasukan Artileri anti-Serangan Udara (C-RAM/Counter Rocket Artillery and Mortar) untuk mendeteksi dan menjejaki proyektil yang datang. Ini juga sangat efektif hadapi UAS yang berukuran kecil dan terbang rendah.  Melengkapi radar dengan system sensor lainnya seperti electro-optics untuk verifikasi target sasaran (Lasa-X : Laporan Sasaran ”X”).



Raytheon sudah kembangkan LiteEye dilengkapi sistem ADIS (Counter-UAS Detection and Identification System), dengan system penjejak/klasifikasi electro-optic (EO).  ADIS menggunakan seri Radar Keamanan Udara Blighter’s A400 untuk mendeteksi UAS, termasuk  terbang di areal urban atau dekat garis horizon.  Juga dilengkapi dengan Chess Dynamics Hawkeye system dan EO video tracker, keduanya efektif untuk bekerja dengan jangkauan jarak jauh dengan kamera berwarna serta menghasilkan gambar thermal dengan sensitivitas tinggi.  



Teknologi penjejakan dengan video merupakan salah satu inti dari sistem UAS, kombinasi EO dengan informasi target (Lasa) radar memungkinkan tak hanya tentukan target, tapi juga arahkan lokasi si operator (pin pointing).  Jarak jangkauan radar efektif 8 km dan mampu menangkap obyek sasaran sampai yang berukuran kecil sekitar 0,01 m2.
ADIS dapat dioperasikan dari atas kendaraan maupun di pada sebuah lokasi tetap di pos darat.  Dalam sebuah demonstrasi gelar oleh Angkatan Darat Amerika Serikat, ADIS dipasang pada Rantis Truck 4x4 Oshkosh.  



Juga ada yang dipasang pada Kendaraan tempur beroda ban Stryker yang dikombinasi baik dengan penjejak drone, senjata atau peluru kendali, dengan RF non-kinetic . Radar yang dioperasikan merupakan system radar aktif yang memerlukan transmisi enerji frekuensi radio (RF), sehingga, dapat mendeteksi countermeasures dari UAS.  Detektor akustik UAS umumnya menggunakan cara pasif dengan penerima (RX) yang sangat sensitif dan piranti lunak penganalisa untuk mendeteksi dan mengklasifikasi UAS berdasar sumber kebisingan (noise signature).



Foto: Istimewa

Thanks for reading & sharing Indonesia Mandiri

Previous
« Prev Post

Menuju Indonesia Mandiri

Populer