Saatnya KLHK Perluas Riset Potensi Keanekaragaman Hayati Taman Nasional

Tim riset KLHK di Taman Nasional Gunung Ciremai

Jakarta (IndonesiaMandiri) - “Ini goodnews, dan betapa pentingnya memelihara kawasan koservasi,” ucap Wiratno, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KSDAE-KLHK, saat jumpa pers tentang riset yang sedang dikembangkan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bekerjasama dan Institut Pertanian Bogor (IPB), di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta (27/5). Riset tersebut bernama bioprospecting mikroba, berguna sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas pertanian sehat tanpa pupuk kimia dan pestisida.

“Temuan ini merupakan bukti bahwa betapa pentingnya kawasan konservasi, bukan hanya terkait dengan perubahan iklim, habitat satwa liar, air, dan wisata alam itu sudah biasa, tapi penemuan ini merupakan hal yang luar biasa,” jelas Wiratno. Karena kegiatan eksplorasi, dan pemanfaatan mikrob berada di taman nasional, ini menjadi model kontribusi taman nasional, sebagai solusi memecahkan masalah pertanian pegunungan dan perubahan iklim. 

Penelitian di TNGC yang dipimpin Dr. Suryo Wiyono dari Laboratorium Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, melibatkan 37 sampel yang dikumpulkan dari tanah, akar-akaran, dan daun dari berbagai tanaman di kawasan TNGC untuk mendapatkan mikrob berguna. “Berdasarkan hasil isolasi, uji hemolysis, dan uji hipersensitif, menghasilkan tiga kelompok mikrob yang berguna bagi tanaman. Pertama, cendawan patogen serangga hama, khususnya kelompok wereng dan kutu-kutuan, yaitu cendawan Hirsutella sp dan Lecanicillium sp,” ungkap Dr. Suryo.

Fakta di lapangan juga menunjukan bahwa mikrob bermanfaat (PGPR) dari dalam TNGC terbukti meningkatkan pertumbuhan, dan menyehatkan tanaman. Termasuk pada tanaman pemulihan ekosistem, terbukti mempercepat pertumbuhan tinggi tanaman hutan hanya dalam kurun waktu 5 bulan. Kini, sebagian besar petani dari 54 Desa penyangga langsung menggunakan bahan kimia buatan sebagai penyubur tanaman maupun sebagai pembasmi hama. Praktek yang sudah dilakukan bertahun-tahun tersebut dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem alam, baik yang ada di dalam maupun luar TNGC.

Momentum ini hendaknya menjadi perhatian serius KLHK untuk perkuat kegiatan risetnya kedepan. Wiratno mengakui, riset tak berada di unitnya KSDAE, tetapi di Badan Litbang KLHK. “Berbeda dengan di luar negeri ada dalam unit konservasi. Lagi pula, pos anggaran untuk riset pun juga masih terbatas (ma).

Foto: istimewa/abri
Share:

Arsip