Provinsi Babel Bakal Perbanyak Atraksi Wisata

Suasana diskusi menggali potensi wisata eks tambang di Bangka Tengah
Bangka Tengah (IndonesiaMandiri) – Dengan telah ditetapkannya Tanjung Kelayang di Belitung sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional/KSPN dengan sebutan “10 Bali Baru” oleh Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata/Kemenpar sejak 4 tahun lalu, kini kawasan berjuluk “Laskar Pelangi” itu kian terkenal baik di dalam dan luar negeri.  Sektor pariwisata di Belitung kian berkembang,  setelah ditetapkan juga Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus/KEK Pariwisata utamanya wisata bahari.  

Lalu, bagaimana dengan saudara sebelahnya, Pulau Bangka? Provisi Bangka Belitung atau Babel dulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah terbesar di dunia. Setelah stok timah menurun, maka pihak Pemda memajukan pariwisata untuk menjadi alternatif unggulan. Dan di Belitung, sudah berjalan. Di Bangka, dengan satu kota dan empat kabupaten, upaya memajukan pariwisata juga sudah mulai. Salah satunya dengan memanfaatkan potensi sejarah dari masa keberadaan tambang timah. Bangka juga sudah mengajukan hal serupa seperti Belitung, dengan menawarkan KEK Pariwisata di Tanjug Gunung dan Sungailiat. Namun dua KEK tersebut sampai saat ini belum disetujui Pemerintah Pusat.

Menpar Arief Yahya (tengah berkacamata) saat kunjungi Bangka
Saat diskusi tentang Pengembangan Destinasi Pariwisata Berbasis Tambang oleh  Kemenpar di Bangka Tengah (29/5), berbagai peluang menggali potensi eks tambang di Bangka dibahas. Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regioal I Kemenpar,  mengajak pihak Pemda di Babel untuk melihat peluang wisata dari eks tambang, disamping  potensi yang sudah ada terus dikembangkan. “Cerita sejarah panjang masa kejayaan timah di Babel, bisa dikemas dengan story telling yang menarik. Sehingga bisa menarik wisatawan lokal dan luar negeri pelajari jejak masa kejayaan Timah dahulu,” ucap Lokot. Berbagai bangunan kuno yang dulu dibikin Belanda untuk industri Timah, bisa menjadi pesona wisata “kota tua”, seperti yang ada di Pangkalpinang, Bangka Tengah, serta Bangka Barat.

Rivai, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Babel, juga sedang gencar mengemas atraksi wisata di Bael agar wisatawan kian nyaman berkunjung. “Karena tak hanya budaya dan kulinernya saja, tapi juga harus bisa disajikan dengan atraksi wisata yang baik,” harap Rivai. Masyarakat pun perlu disadarkan secara bertahap, bahwa sektor pariwisata memiliki potensi besar dikembangkan. “Anggaran untuk pariwisata di Bali dan Yogya tidak besar. Tapi masyarakatnya disana sudah sadar wisata. Di sini anggarannya sudah besar tapi masyarakat belum bergerak,” ungkap Rivai. Itu sebabnya, Rivai ingin perbanyak atraksi wisata  - termasuk pemanfaatan potensi sejarah masa lalu tambang – guna mendongkrak kunjungan wisatawan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun pernah menggarisbawahi, yang terpenting adalah komitmen CEO atau kepala daerah untuk majukan sektor pariwisata. “Babel harus melakukan transformasi ekonomi dari tambang ke pariwisata, dan ini harus diawali dengan CEO komitmen,” tegas Arief Yahya (ma).

Foto: istimewa/abri.
Share:

Arsip