Biksu Badra Ruci: “Tempat Merayakan Waisak Paling Tepat Di Hati Kita”

Biksu Badra Ruci
Jakarta (IndonesiaMandiri) - Fong Kwang atau Biksu Badra Ruci, di lingkungan penganut Budha Indonesia, Asean bahkan internasional, namanya sudah tak asing lagi. Badra Ruci yang kelahiran Tanjung Pinang 15 Desember 1973, kini menjabat Sekretaris Jenderal Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI). Beliau pernah menjabat sebagai Mahalekhanadikari Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan sebagai Nayaka Sangha Vajrayana SAGIN. Akhirnya pada  26 Juli 2002, beliau menerima penahbisan Biksu penuh dari Yang Maha Suci Dalai Lama XIV.
Biksu yang pernah studi Ilmu Kimia di Semarang  dan Filsafat Buddhis di Universitas Biara Drepung Gomang di India Selatan, sangat kuat pengetahuannya tentang keberadaan candi-candi Nusantara, dan gemar membaca  sejarah, budaya, dan ideologi. Berikut ini petikan wawancaranya dengan IndonesiaMandiri terkait perayaan Hari Waisak:
IndonesiaMandiri (IM).  Apa Makna peringatan Waisak saat ini?
Badra Ruci (BR). Waisak itu memperingati 3 peristiwa penting dalam hidup Buddha: kelahiran, pencapainan kesempurnaan, dan mangkatnya. Ketiga hal itu terjadi pada hari sama yakni saat purnama bulat di bulan ke 5 penanggalan lunar. Waisak bagi umat pengikut ajaran Buddha jadi penting untuk menilai kembali bahwa apakah kita sudah sejauh apa kesempurnaan hidup ini . 

(IM). Perayaan Hari Waisak di Indonesia begitu meriah. Bagaimana menurut anda?

(BR). Di setiap negara Buddhis perayaan Waisak meriah karena hari itu begitu penting bagi setiap manusia yang mengejar kesempurnaan hidup. Bercermin pada Buddha, setiap langkah hidup ini menuju pencerahan sempurna bagi semua mahluk tanpa kecuali. Di Indonesia seperti perayaan natal, idul fitri, nyepi .. waisak rayakan meriah oleh umat buddha itu memcerminkan ke bhinnekaan bangsa ini. Beragam keyakinan yang berkembang justru mendidik bangsa kita saling menghargai dan menjaga bangsa yang luar biasa ini.

Lokasi Percandian Muaro Jambi yang juga miliki nilai penting bagi umat Budha
(IM). Seringkali perayaan Waisak diidentikka dengan Candi Borobudur. Mengapa?
(BR). Candi agung Borobudur sejak dikelola sekarang semakin menjadi komersil, orientasinya banyaknya pengunjung. Nilai-nilai candi tidak dikedepankan. Lingkungan juga semakin gersang dari nuansa spritual. Orang akhirnya datang hanya melihat tumpukan batu di bawah terik matahari.  Apa yang diperoleh bagi pengujung tak lebih banyak dibanding keuntungan tiket oleh pengelola candi itu. Sederhana saja.. jika kita ingin mata air menjadi semakin banyak air mengalir.. lingkungan nya harus kita jaga dan radius pepohonan nya harus semakin lebar.   Mereka tidak melihat seperti itu. Yang kelola candi bukan orang buddhis tentu tidak paham . 

(IM). Bagaimana sebaiknya merayakan kegiatan ibadah Budha, seperti Waisak?

(BR). Merayakan ditempat yang paling suci bagi umat itu bukan di candi,vihara atau di stupa besar. Tempat paling suci itu adalah di hatinya masing-masing. Kembali ke keheningan yang dalam batin kita dengan perenungan-perenungan dharma dan gunakan analisa pengetahuan kita untuk mengkoreksi apakah batin dan perilaku kita sudah baik, apakah perjalanan hidup ini diarahkan pada jalan spritual atau mencari kemakmuran dan gemerlapnya indah dunia. Setelah kematian saat ini, kita pergi ke mana, semua yang kita kumpulkan di dunia ini berguna kah bagi kita... hal seperti ini harus direnungkan pada purnama Waisak ini. Vihara ini ada di dalam hati terdalam kita semua (ma)

Foto: Istimewa/abri
Share:

Arsip