Home » , » Prof Dr Enny Sudarmonowati, Ketua Komite Nasional Man and Biosphere/MABUnesco untuk Indonesia “Indonesia Belum Manfaatkan Kekayaan CagarBiosfer”

Prof Dr Enny Sudarmonowati, Ketua Komite Nasional Man and Biosphere/MABUnesco untuk Indonesia “Indonesia Belum Manfaatkan Kekayaan CagarBiosfer”

Posted by Indonesia Mandiri on September 12, 2017


Jakarta (IndonesiaMandiri) – Sebagai negara terbesar di dunia untuk keanekaragaman hayati (biodiversity), Indonesia menjadi perhatian banyak negara lain. Karena, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia begitu kaya dan lengkap, mulai dari keragaman ekosistem, spesies dan genetik.

Namun demikian, kesadaran masyarakat dan Pemerintah di dalam memelihara “anugerah Tuhan” berupa alam ini belum optimal. Artinya, kita masih sering mendengar adanya penebangan liar di sejumlah hutan Indonesia, pengrusakan hutan dengan pembakaran yang kian marak, eksploitasi alam untuk kepentingan industri dengan tak mengindahkan keseimbangan ekosistem, dan lain sebagainya.

Ada istilah lain yang masih terkait dengan keaneragaman hayati, yaitu Cagar Biosfer (CB), yang secara umum masih jarang terdengar oleh masyarakat umum. Nah, Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki 11 CB (Cibodas, Komodo, Tanjung Puting, Lore Lindu, Siberut, Gunung Leuser, Giam Siak Kecil, Bromo, Wakatobi, Takabonerate dan Blambangan).

CB merupakan upaya untuk menata keseimbangan hidup antara manusia dengan lingkungannya yang didasarkan pada capaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Indonesia, ada kawasan CB yang sudah masuk usia 40 tahun pada 2017 ini, yaitu Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Tanjung Pitung di Kabupaten Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah, Lore Lindu di Sulawesi Tengah dan Cibodas di Jawa Barat.

Dengan penetapan CB yang telah diakui dunia melalui Unesco, Indonesia menjadi salah satu laboratorium keaneragaman hayati. Banyak manfaat maupun bantuan dari mancanegara yang datang hanya untuk memelihara CB di Indonesia terawat dengan baik. Karena ini menyangkut keseimbangan dunia secara keseluruhan.

Di bawah ini, ada wawancara IndonesiaMandiri dengan Ketua Komite Nasional Cagar Biosfer Unesco untuk Indonesia, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati. Enny, yang sehari-harinya menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Enny sering keliling untuk memonitor langsung perkembangan yang terjadi 11 CB yang menyebar di alam nusantara ini. Doktor bidang Plant Biotechnology dari Universitas Bath, London ini, juga acapkali diundang oleh berbagai forum internasional yang membahas tentang keaneragaman hayati. Berikut petikan wawancaranya:

IndonesiaMandiri (IM). Apa manfaat terbesar dengan ditetapkannya sebuah negara seperti Indonesia memiliki Cagar Biosfer (CB) oleh Unesco?

Enny Sudarmonowati (ES). Keuntungannya, minimal ada tiga. Pertama, lebih menjaga kawasan, bukan hanya kawasan inti (kawasan konservasi), namun juga kawasan penyangga dan transisi, karena sudah menjadi bagian dari jejaring Cagar Biosfer dunia; Kedua, mempermudah memperoleh kerja sama dengan luar negeri dan pendanaan dari donor international; Ketiga, mempromosikan wilayah ke tingkat global dengan mudah termasuk produk yang dapat diangkat ke pasar internasional.

IM. Apakah dengan sendirinya Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah di mana wilayahnya memiliki CB, justru mendapat “pekerjaan rumah” tambahan dengan mengalokasikan anggaran spesial guna merawatnya?

ES. Alokasi anggaran dari pemda hanya sebagai pancingan pendanaan karena yang diperoleh akan lebih besar dari yang dikeluarkan. Karena selain lebih terjaga kawasannya dengan status CB, akan banyak aktor internasional yang tertarik melakukan kegiatan di kawasan CB karena lebih bernilai internasional. Dampak lainnya merupakan nilai yang terkait jasa lingkungan dan ekowisata karena jumlah pengunjung ke lokasi CB dapat lebih meningkat.

IM. Indonesia telah memiliki 11 CB dan ada empat yang sudah berusia 40 tahun pada 2017 ini. Bagaimana Ibu sebagai Ketua Komite Nasional CB/MAB dalam menilai pengelolaan CB selama ini (plus-minusnya)?

ES. Saat kini walau sudah dibuat model pengelolaan berupa Forum Koordinasi atau Konsorsium Pengelola Cagar Biosfer, masih berfokus atau menitikberatkan pada zona inti karena di bawah Kementerian LHK saja, sehingga kawasan penyangga dan transisi yang berada di wilayah Pemda belum banyak diberi perhatian. Oleh karena itu fokus kegiatan akan lebih banyak dilakukan di area penyangga dan transisi. Masih perlu banyak dilakukan “awareness” ke PEMDA dan jajarannya dan masyarakat. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus sehingga pemahaman mengenai Cagar Biosfer bisa dapat standar. Belum banyak yang memanfaatkan predikat sebagai Cagar Biosfer, selain pemahaman, juga karena baru lima yang mempunyai logo Cagar Biosfer (selama ini hanya sebagai Taman Nasional) dibuat sejak Juni 2016 - Agustus 2017, sisanya baru akan dibuat dalam tahun ini. Sekarang juga sedang menggalang pendanaan untuk program di Cagar Biosfer. Mengajak Perguruan Tinggi dan stakeholder lain seperti swasta untuk melakukan kegiatan di Cagat Biosfer.

IM. Kita ketahui bersama bahwa CB sangat besar manfaatnya untuk kelangsungan hidup masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia umumnya. Seberapa jauh dari pengalaman ibu melihat kesadaran masyarakat kita sendiri (mulai Pemerintah Pusat, Pemda hingga kebawah) untuk memelihara CB?

ES. Kesadaran masih rendah terutama karena ketidaktahuan, sehingga sosialisasi harus lebih banyak dan kontinu. Ini perlu pendanaan untuk melakukan kegiatan tersebut. Pemda perlu diberi bukti manfaat dengan adanya kawasan CB ini.

IM. Belakangan ini Pemerintah menggenjot sektor pariwisata secara masif untuk mendatangkan banyak pendapatan dari kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Konsekuensinya, akan ada banjir wisatawan. Bagaimana kita mensikapi ini agar CB tetap terpelihara dengan baik?

ES. Dengan ditetapkannya sebuah daerah seagai CB, justru akan lebih terjaga kawasannya, dibandingkan sebagai kawasan pariwisata saja karena ada kriteria sebagai ekowisata. Bukan hanya pariwisata secara umum. Perlunya menggalang Duta Cagar Biosfer sehingga dapat ikut mengawasi dan mensosialisasikan kesadaran pembangunan berkelanjutan dan nilai-nilai konservasi di wilayah CB. Yang dikawatirkan justru wilayah yang bukan Cagar Biosfer. Sosialisasi tentang pentingnya konservasi dan pembangunan berkelanjutan perlu ditingkatkn ke masyarakat.

IM. Terkait dengan pertanyaan nomor 5, Pemerintah juga membentuk Badan Otoritas Pariwisata (BOP) di sejumlah destinasi wisata unggulan. Salah satunya adalah di mana terdapat CB, seperti di Komodo, Wakatobi dan Bromo. BOP ini memiliki wewenang lebih besar dan tujuannya lebih kearah percepatan kemajuan pariwisatanya. Bagaimana Ibu menilainya?

ES. Perlu memberi pengertian kepada pemerintah atau BOP di wilayah CB agar dikelola khusus, dibedakan dengan yang bukan. Sosialisasi dan pemberian pemahaman pada pemerintah dan BOP tentang CB perlu dilakukan terus-menerus (ab).
Foto: istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala