Home » » Denkavkud: Menjaga Tradisi Kaveleri TNI AD

Denkavkud: Menjaga Tradisi Kaveleri TNI AD

Parongpong, Bandung Barat (Indonesiamandiri) - Dalam dunia kemiliteran, sejarah atau tradisi kaveleri memiliki makna yang sangat penting. Diambil dari bahasa Perancis, "Chevalier", yang artinya kuda, di masa kerajaan dahulu memang peran kuda sangat strategis. Disamping tentunya sebagai alat transportasi, kuda juga memiliki andil besar ketika dipakai untuk berperang.

Tradisi dan sejarah kaveleri berkuda juga membekas di Tanah Air ini. Sebagai warisan kolonial Belanda, beberapa saat setelah Perundingan Meja Bundar di akhir 1949, maka begitu banyak alutsista Belanda kemudian diserahkan kepada RI. Salah satunya adalah kuda ini. Sejak 1953, TNI Angkatan Darat telah membentuk Detasemen Kaveleri Berkuda (Denkavkud). Sejumlah operasi militer dilakukan ketika mempertahankan kemerdekaan dari rongrongan musuh, seperti saat menumpas Gerakan DI/TII di Jabar, pemberontakan G30S/PKI di Jabar, Jakarta dan Jawa Timur, serta terakhir operasi di Timor Timur.

Kini, di masa damai, keberadaan Denkavkud tetap dipertahankan, di bawah rantai komando Pusat Kesenjataan Kaveleri, Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD. Utamanya dalam kegiatan kenegaraan dan pembinaan olahraga berkuda. Banyak prestasi sudah ditorehkan oleh prajurit Denkavkud di ajang olahraga bergengsi internasional seperti Sea Games dan Asian Games serta di dalam negeri (PON).

Beberapa waktu lalu (27-28/9), Dinas Penerangan TNI AD membawa puluhan wartawan untuk mengunjungi Markas Denkavkud, yang terletak di Jalan Kolonel Masturi Km.7, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat. Berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Bandung,Markas Denkavkud begitu asri. Karena berada di daerah perbukitan atau sekitar 1200-1400 meter dari permukaan laut dengan suhu antara 17-27 derajat celcius dengan Luas 104 hektar.

"Ini satuan berkuda satu-satunya di Indonesia. Ya adanya di Parongpong," kata Kolonel Beni Bintoro, Kasubdis Penmedtak Dinpenad, yang memimpin rombongan dari Jakarta bersama wartawan. Di Denkavkud, para wartawan diajak untuk melihat pengenalan, perawatan serta beberapa aksi prajurit Denkavkud di saat bertempur melawan musuh.

"Kuda-kuda di sini disamping kami datangkan dari luar negeri (Eropa), juga adalah hasil kawin silang dengan kuda lokal. Kami monitor terus hasil penngembangbiakkannya agar kualitas kuda tetap terjadi dengan baik," jelas Mayor Kav Solikhin, Komandan Denkavkud.

Di Denkavkud sendiri, kini dihuni 246 prajurit (termasuk pegawai negeri sipil) dan 120 kuda. Saat PON XIX yang lalu (17-25/9), Markas Denkavkud pun dipakai untuk berbagai jenis lomba berkuda.

Seiring dengan perkembangan zaman, di mana alutsista kesatuan kaveleri sudah berwujud menjadi kendaraan lapis baja, tentunya keberadaan Denkavkud perlu dipertimbangkan lebih tepat sasaran lagi kegunaannya. Lokasinya yang sangat strategis di wilayah wisata pegunungan, tentunya akan lebih menarik jika kedepan markas Denkavkud pun dapat dikelola untuk sarana pendidikan dan olahraga wisata berkuda bagi masyarakat umum.

Sarana pendidikan untuk latihan berkuda memang sudah dilakukan di Denkavkud. Tinggal dikembangkan lebih luas lagi untuk sektor pariwisatanya dengan kemasan yang menarik. Misalnya saja, ada juga museum sejarah Denkavkud dengan diisi berbagai aksi dan prestasi yang pernah diraihnya. Dengan demikian, saat musim liburan tiba, seperti dikatakan oleh Dandenkavkud Mayor Solikhin, tempat ini hanya menjadi lintasan bagi para wisatawan yang sedang berlibur. Karena memang disekitar Markas Denkavkud, sudah dikelilingi berbagai tempat peristirahatan dan rekreasi (vila, hotel, rumah makan, dan lain-lain).

Masalahnya memang, bisakah fasilitas milik militer difungsikan juga sebagian untuk  kebutuhan lain seperti sarana pariwisata? Meminjam motto kesatuan Kaveleri, "jaya di masa perang dan berguna di masa damai." Sehingga tradisi kaveleri berkuda TNI AD tetap terpelihara lebih baik lagi dan kian dicintai rakyat (abri).
Foto: abri

Thanks for reading & sharing Indonesia Mandiri

Previous
« Prev Post

Menuju Indonesia Mandiri

Populer