Home » » Hubungan Indonesia Portugis

Hubungan Indonesia Portugis

Posted by INDONESIA MANDIRI on September 03, 2015

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Hubungan diplomatik RI – Portugal secara formal dimulai pada saat Portugal membuka legation di Jakarta pada 13 Mei 1950. Pembukaan kantor ini dilakukan setelah pada tanggal 28 Desember 1949 Portugal mengakui kemerdekaan Indonesia. Segera setelah dibuka legation di Jakarta.

Pada 1 Januari 1965, setelah 15 tahun menjalin hubungan resmi, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik secara resmi dengan portugal.


Alasan pemutusan hubungan tersebut, untuk menghindari kritik negara-negara anggota Gerakan Non-Blok, bahwa Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan salah satu negara penjajah, dimana penjajahan bertentangan dengan prinsip-prinsip Non-Blok.

Setelah 10 tahun putus hubungan diplomatik, pada 21 Januari 1975 hubungan diplomatik tersebut dibuka kembali. Setelah rezim baru yang berkuasa di Portugal melakukan “Revolusi Mawar Merah” tahun 1974.

Hubungan diplomatik kali kedua ini tidak berlangsung lama, kali ini pemerintah Portugal yang memutuskan hubungan secara sepihak pada tanggal 7 Desember 1975. Portugal menutup kedubesnya di Jakarta, dan sekaligus meminta Indonesia untuk menutup KBRI di Lisabon.

Kepentingan Indonesia di Portugal selanjutnya ditangani melalui Kedutaan Besar Filipina; sedangkan kepentingan Portugal di Indonesia ditangani melalui Kedutaan Besar Belanda.Tetapi setelah Kedubes Filipina di Portugal di tutup pada akhir Juni 1976, Indonesia tidak melihat urgensinya untuk meminta bantuan negara lain.

Lembaran baru dimulai kembali setelah pembukaan interests section pada Januari 1999, yang kemudian diikuti dengan pemulihan hubungan diplomatik pada 28 Desember 1999. Dalam kesempatan ini, Portugal menyatakan, bahwa Timor Timur bukanlah elemen pemisah, tetapi justru merupakan elemen perekat antara Indonesia dan Portugal, bahkan dengan Pemerintah Australia. Sikap forward-looking sudah ditunjukan oleh masyarakat Portugal yang semula bersikap apriori atas kebijakan Pemerintah RI.

Hubungan politik RI – Portugal sejauh ini telah menunjukkan perkembangan yang positif. Portugal telah memberikan komitmennya untuk selalu mendukung integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sepenuhnya, yang juga sejalan dengan kebijakan Uni Eropa terhadap Indonesia.

Setelah normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Portugal pada tanggal 28 Desember 1999, kedua negara sama-sama menunjukkan komitmennya untuk membangun kembali hubungan bilateral yang sempat terputus karena masalah Timor Timur. Secara umum, hubungan bilateral Indonesia-Portugal telah berjalan dengan baik dan menunjukan adanya peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya frekuensi kunjungan pejabat kedua negara dalam membangun kerjasama bilateral.

Pada tanggal 2 Februari 2007, Grupo Parlementar de Amizade Portugal – Indonesia (Kaukus Indonesia) dibentuk secara resmi oleh Ketua Parlemen Potugal Dr. Jaime Gama di Kantor Assembleia da Republica. Segera setelah terbentuknya Kaukus Indonesia di Parlemen Portugal, pada tanggal 13 Februari 2007 juga telah dibentuk Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI - Parlemen Portugal (Kaukus Portugal), yang diketuai oleh Bapak. A. M. Fatwa. Guna lebih mengintensifkan hubungan kedua negara telah ditandatangani MoU on Bilateral Consultation oleh kedua Menlu pada pertemuan bilateral di Jakarta, 4 Agustus 2010. MoU ini memformalkan mekanisme hubungan dan kerjasama kedua negara.

Volume perdagangan RI-Portugal pada tahun 2009 mencapai US$ 114,92 juta dengan ekspor Indonesia ke Portugal mencapai US$ 102,27 juta dan impor dari Portugal mencapai US$ 12,65 juta dengan surplus bagi Indonesia sebesar US$ 89,62 juta. Namun, di tahun 2010 volume perdagangan RI – Portugal hanya sebesar US$ 109,1 juta dengan surplus bagi Indonesia sebesar US$ 75,2 juta. Volume perdagangan dari tahun 2009 ke 2010 turun sebesar 4,89%.

Sementara investasi Portugal ke Indonesia dapat dikatakan masih relatif kecil. Saat ini baru dua perusahaan Portugal yang menanamkan modalnya di Indonesia dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) yaitu di sektor perminyakan dan sektor pariwisata.

Ekspor Indonesia ke Portugal antara lain mencakup komponen sepatu, kerajinan tangan, produk elektronik, komponen komputer, mebel, kayu lapis, plastik, peralatan dapur, minyak kelapa, rempah-rempah dan tumbuhan herbal, kopi, tekstil, garmen, karet alam, serat kain dan benang, dan sebagainya. Sementara itu, impor Indonesia dari Portugal meliputi pakaian sutra, peralatan untuk listrik, bahan kimia untuk pewarna, sepatu, cork goods, anggur, produk buah-buahan yang dikeringkan, kulit yang telah disamak, produk-produk farmasi, produk kimia, dan sebagainya.

Indonesia dan Portugal memiliki sejarah yang panjang di bidang kebudayaan sejak abad 16. Masyarakat Portugis yang tinggal di Indonesia telah membawa pengaruh budaya pada masyarakat Indonesia, hal ini dapat dilihat banyaknya penggunaan kata-kata Portugis dalam bahasa Indonesia, serta musik keroncong yang dipengaruhi oleh musik daerah di Portugis.

Pembentukan ALIAC (Associasio Luso – Indonesia para Amizade a Cooperacao) di Lisabon sebagai mitra dari Asosiasi Persahabatan dan Kerjasama Indonesia-Portugal (APKIP) yang telah berdiri sebelumnya di Indonesia, serta pembentukan Asosiasi Segitiga Indonesia-Portugal-Timor Leste di Lisabon diharapkan dapat melengkapi kerjasama antar Pemerintah kedua negara.

Pemerintah Indonesia setiap tahunnya menyediakan beasiswa Dharmasiswa bagi peserta Portugal. Hingga saat ini, sudah ada 8 peserta Portugal yang ikutserta dalam program tersebut, juga termasuk dua siswa yang mempelajari gamelan di ISI Yogyakarta.

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala