Home » » RS Lapangan Dan Pasokan Oksigen Disiapkan Selama PPKM Darurat

RS Lapangan Dan Pasokan Oksigen Disiapkan Selama PPKM Darurat

Posted by Indonesia Mandiri on Juli 05, 2021

Rumah Sakit Lapangan segera difungsikan untuk menopang kegiatan di masa PPKM Darurat
Jakarta (IndonesiaMandiri) – “Di sini kita ada lonjakan penyebaran kasus Covid-19, sehingga PPKM Darurat sudah kita lakukan mulai kemarin sampai nanti 20 Juli 2021. Untuk itu, kita gerak cepat memenuhi kebutuhan produk farmasi dan alkes kita, seperti kesiapan RS Lapangan dan pasokan oksigen,” ujar Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut B. Panjaitan.

Luhut membahas mengenai kesiapan Rumah Sakit Lapangan (RS Lapangan) dan kemampuan ketersediaan oksigen selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat (4/7).

Untuk itu, percepatan perlu segera dilakukan. Pertama, RS Lapangan di Wisma Haji Pondok Gede, Bekasi dengan delapan gedungnya akan difungsikan untuk perawatan intensif, gejala sedang dan asrama perawat. Pemanfaatan dari ruangan nantinya memperhatikan zoning risiko, sirkulasi udara, akses dan jalur lalu-lintas petugas, pasien, logistik, dan barang bersih atau kotor.

“1 (satu) gedung nanti untuk perawatan intensif, kemudian 5 (lima) gedung untuk gejala sedang, dan 2 (dua) gedung untuk asrama perawat. Setiap gedung, punya kamar yang dimanfaatkan sebagai ruang tindakan, ruang farmasi, laundry, dan ruang petugas. In total, kita punya 785 tempat tidur (TT),” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat rapat bersama Luhut.

Untuk Wisma Haji Pondok Gede ditargetkan mampu menerima 600 hingga 700 pasien komorbid yang nantinya bisa ditindak dan sudah dimulai. Dengan kapasitas seperti ini, tenaga kesehatan nantinya akan didatangkan dari luar Pulau Jawa untuk membantu menangani pasien yang ada di sini. “Kami sudah koordinasi dengan MenPUPR agar disediakan tempat tinggal bagi mereka,” papar Menkes.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Men PUPR) Basuki Hadimuljono sudah menyiapkan Rumah PU di kawasan Pasar Jumat yang mampu menampung para tenaga kesehatan yang dikirim dari luar Pulau Jawa.

Sementara itu untuk beberapa tempat yang juga dijadikan RS Lapangan seperti Rusun Nagrak, Pasar Rumput, dan Wisma Atlet yang dijadikan tempat isolasi. Rusun Nagrak dan Pasar Rumput sudah mulai terisi dan beberapa tower juga sudah mulai penuh. Mereka yang masuk adalah pasien dengan kriteria OTG atau ada gejala ringan, tetapi tidak memenuhi 3 syarat, tidak memiliki komorbid, memiliki saturasi diatas 95%, dan tidak sesak nafas.

Soal ketersediaan oksigen, data dari Kemenkes dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terlihat terjadi kenaikan permintaan hingga lima kali lipat. Untuk itu, Luhut berkoordinasi dengan Kemenperin agar pencatatan kebutuhan oksigen dirapikan di setiap kota. ““Sekarang kita butuh data yang detail. Kita bikin konversi oksigen industri semua full ke oksigen farmasi. Kekurangan kita ini bisa nanti terpenuhi, jika oksigen industri itu semua kita fokus ke oksigen farmasi,” terang Luhut.

Menanggapinya, Kemenperin menyatakan para produsen gas oksigen sudah 100% diwajibkan geser produksinya ke oksigen medis. Sehingga bisa didapat 1.700 ton per hari nasional, dimana 1.400 ton per hari dari nasional digunakan untuk Pulau Jawa. Industri oksigen kecil juga sudah mulai dikerahkan juga untuk mengkonversi produksi gas oksigennya ke oksigen farmasi.

Selain itu beberapa perusahaan juga ikut mengirimkan Iso Tank untuk penanganan pasokan oksigen. Terdapat 21 unit kapasitas 20 ton Isotank dari IMIP Morowali akan tiba di Tanjung Priok pada 6 Juli 2021. Kemudian 5 unit Isotank dari Balikpapan (merupakan Iso Tank baru) akan tiba pada 9 Juli di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sedangkan 4 unit 20 feet dari Pertamina (ex LNG perlu dibersihkan) sedang dalam perjalanan dari Belawan kira-kira 4 hingga 5 hari perjalanan laut. Terakhir, akan ada tambahan 3 ton oksigen cair per hari dari Krakatau Steel, Cilegon. PT Matesu Abadi dari Qingdao juga direncanakan pada 10 Juli 2021 tiba di Surabaya dan membawa 2.300 tabung kecil berkapasitas 1m3.
Nakes TNI juga diperbantukan untuk masa PPKM Darurat
Beberapa industri oksigen seperti Samator Group, LINDE Indonesia, Petrokimia Gresik dan LINDE Indonesia, Air Products Indonesia, Air Liquide Indonesia, dan Iwatani Industrial Gas Indonesia juga berkomitmen untuk memasok oksigen medis di Pulau Jawa yang jika ditotal mampu mencapai 1315 ton per hari.

Bantuan Lainnya dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu pengembangan RS Modular Extension RSPJ. Totalnya ada sebanyak 400 TT ICU atau HCU. Ini merupakan kerja sama antara Pertamina IHC dan Wika Gedung. Fasilitas ini nantinya bisa dijadikan percontohan dan dikembangkan untuk kawasan Bandung, Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari segi keamanan untuk mengamankan RS Lapangan dan ketersediaan pasokan oksigen juga sudah dikoordinasi dan hari ini dilaksanakan. Satgas Oksigen dan Mitigasi segera dibentuk hari ini untuk setiap daerah di Indonesia oleh Kemenkes (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri