Home » » Kemandirian Industri Garam Nasional Menjadi Tantangan Besar

Kemandirian Industri Garam Nasional Menjadi Tantangan Besar

Posted by Indonesia Mandiri on September 29, 2020

Pemerintah tengah membuat strategi untuk mengurangi ketergantungan impor garam
Cilegon (IndonesiaMandiri) – Untuk optimalisasi pemenuhan serta pemanfaatan garam sebagai bahan baku pabrik Chlor Alkali Plant (CAP), Kemenko Maritim dan Investasi (Marves) berkoordinasi ke beberapa perusahaan importir garam industri di Cilegon, Jawa Barat.  Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin melakukan kunjungan ke PT. Asahimas Chemical (PT. ASC) dan PT Sulfindo Adiusaha.

“Kali ini kita ingin lihat langsung mereka sebagai beberapa importir atau pemakai garam impor industri terbesar di Indonesia, seperti PT. ASC kurang lebih 1,2 juta ton pemakaiannya. Kita lihat apakah bisa menggunakan subtitusi daripada garam lokal,” kata Deputi Safri di PT. ASC (28/9). Kemenko Marves bersama dengan BPPT dan Kementerian/ Lembaga terkait ingin mengupayakan bagaimana pemenuhan garam impor dapat diterapkan dengan upaya mandiri.
“Kita coba teknisnya gimana, dan itu harus ada perubahan cara kerjanya. Nah ini akan mempengaruhi kinerja dengan mempengaruhi perekonomiannya. Tentu menjadi masukkan mereka juga untuk pengembangan daripada industri menggunakan bahan baku garam di Indonesia ini,” ujarnya.
“Dan kami yakin mereka mensupply paling tidak ada 400 industri hulu di Indonesia yang menggunakan bahan baku mereka, sehingga kelanjutan daripada industri mereka ini harus kita jaga. Tentunya sekarang kita meminta mereka melihat industri garam yang kita miliki, berapa persen bisa mensubtitusi daripada garam impor. Dengan itu diharapkan kita bisa mengurangi impor garam secara nasional,” jelas Safri.
Sementara itu, Asisten Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Amalyos menambahkan, upaya mandiri sesuai apa yang diungkapkan Safri terhadap kedua perusahan yang bergerak di bidang petrokimia tersebut melalui pengenalan inovasi teknologi yang diinisiasi oleh BPPT berupa pemanfaatan rejected brine dari PLTU di sekitar Cilegon. Ini nantinya bisa disalurkan melalui pipa dan diterima langsung oleh pabrik petrokimia terutama 2 pabrik besar ini.
“Nah kita berharap pertemuan ini bisa membuat suatu kesepakatan untuk melengkapi feasibility study yang saat ini sedang dilakukan oleh BPPT, sehingga nanti kita dapat gambaran apakah inovasinya bisa diimplementasikan dan tentunya kita berharap apa yang sudah diinisiasi BPPT bisa kita dorong untuk menjadi program nasional,” terang Amalyos.
Sehingga, lanjut Amalyos, dalam konteks pergaraman nasional apa yang sudah dilakukan BPPT ini merupakan inovasi baru yang diharapkan bisa diimplementasikan dalam rangka subtitusi garam impor yang selama ini cukup besar pemakaiannya. Setiap tahunnya kita datangkan dari luar dalam rangka pemenuhan bagi kebutuhan industri CAP, dan tentunya diharapkan akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dalam pergaraman nasional (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala