Home » » Gairahkan Usaha, Peternak Ayam Diajak Ikuti Pola Kemitraan

Gairahkan Usaha, Peternak Ayam Diajak Ikuti Pola Kemitraan

Posted by INDONESIA MANDIRI on September 14, 2020

Prospek usaha ternak miliki masa depan yang baik dengan strategi kemitraan
Maros/Sulsel (IndonesiaMandiri) – Kementerian Pertanian (Kementan) terus pantau perkembangan  usaha ayam potong, salah satunya dengan cara kemitraan. Jadi, peternak ayam potong diajak mengikuti kemitraan yang sudah terbukti menguntungkan. Mentan Syahrul Yasin Limpo menilai, pola kemitraan usaha ayam potong (broiler) beri perlindungan kepada peternak, karena mendapat jaminan kepastian usaha dan risiko terhadap fluktuasi harga.

"Bahkan dalam kondisi menurunnya harga ayam hidup (livebird/LB) saat ini, pola kemitraan menjadi sandaran peternak mendapatkan penghasilan yang layak," ujar Mentan di sela kunjungannya ke Balai Veteriner Maros, Sulawesi Selatan (13/9). Dalam kemitraan usaha ayam potong, peternak sebagai pihak plasma dapat jaminan pasokan DOC (Day Old Chicken), pakan ternak, obat vaksin desinfektan (OVD) dan pemasaran sesuai harga kontrak mengacu perjanjian tertulis dengan perusahaan sebagai pihak inti.
Peternak plasma hanya menyediakan kandang, sarana peralatan dan tenaga kerja untuk memelihara ayam potong sejak DOC sampai panen. Kemudian perusahaan berkewajiban menyerap seluruh hasil panen peternak dalam bentuk ayam hidup/livebird (LB) dengan harga kontrak. "Bahkan peternak masih mendapatkan tambahan penghasilan berupa insentif atas kinerja pemeliharaan dan bonus pasar jika harga pasar melebihi harga kontrak LB berdasarkan selisih harga dengan besaran sekitar 20% diperhitungkan dengan total ayam terpanen," tambah Syahrul..
Sementara Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH Kementan), Nasrullah menyebut program kemitraan sesuai dengan Permentan No. 13 Tahun 2017 tentang kemitraan usaha peternakan, yaitu kerja sama antar usaha peternakan atas dasar prinsip saling memerlukan, memperkuat, menguntungkan, menghargai, bertanggung jawab dan ketergantungan.
"Kami mengapresiasi perusahaan perunggasan terintegrasi yang telah menggandeng banyak peternak dalam pola kemitraan," puji Nasrullah. Karena, sambung Nasrullah, perusahaan terintegrasi secara langsung melakukan pembinaan teknis kepada peternak mitra. Peternak mendapatkan bimbingan untuk melakukan budidaya ayam potong sesuai target perfoma serta jaminan pemasaran dan harga panen livebird/ayam hidup berdasarkan perjanjian tertulis antara pihak perusahaan sebagai inti dan peternak sebagai plasma. Jadi, selalu seimbang.
Masih kata Nasrullah, di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2020, terdapat potensi daging ayam ras sebanyak  64.211 ton berkontribusi sebesar 1,96% terhadap produksi daging ayam nasional. Sementara kebutuhan konsumsi daging ayam di Provinsi Sulsel sebanyak 50.636 ton sehingga terdapat potensi surplus sebanyak 13.575 ton.
"Kami mencatat dari 24 kabupaten/kota di wilayah Sulsel terdapat 5 kab/kota dengan produksi ayam potong tertinggi yaitu Kota Makassar 16.188 ton (25,21%), Kab. Bone 9.670 ton (15,06%), Kab. Gowa 4.047 ton 6,30%, Kab, Sidrap 3.905 ton (6,08%) dan Kab. Bulukumba 3.786 ton (5,90%)", tambahnya. Jadi, data Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, di Sulsel ada 1.683 peternak ayam potong, terdiri dari 967 peternak mandiri, 244 internal (kandang komersial perusahaan) dan 472 kemitraan dengan pabrikan atau perusahaan perunggasan terintegrasi (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala