Home » » Upaya Atasi Masalah Bicara Anak Sejak Dini

Upaya Atasi Masalah Bicara Anak Sejak Dini

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 22, 2020

Para orangtua perlu mengetahui masa usia keemasan anak untuk mudahkan masa pertumbuhannya
Depok (IndonesiaMandiri) – Masalah kesulitan berbicara bagi anak sejak balita, sering dialami oleh banyak keluarga. Para orang tua memang mestinya memahami, tumbuh kembang anaknya telah dimulai sejak masih dalam kandungan. Terdapat periode emas pertumbuhan (windows of opportunity), yaitu sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun, yang dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK).

Jadi, di masa emas ini, perlunya diperhatikan stimulasi dan nutrisi bagi si anak terhadap kualitas hidupnya kedepan. Salah satu hal yang perlu diketahui, yaitu mengenai tanda bahaya keterlambatan tumbuh kembang pada anak. Dengan mengenal tanda bahaya sejak dini, orangtua dapat lebih mudah mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang, salah satunya terkait keterlambatan bicara anak.
Masalah ini, bertepatan dengan perayaan Hut Kemerdekaan RI, yang dibahas Rumah Sakit Universitas Indonesia/RSUI dalam seminar rutin Ke-23 bertema, Kapan Terapi Wicara pada Anak perlu dilakukan? (19/08). 
Pembicara pertama, dr. Achmad Rafli, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di RSUI menjelaskan, 1000 hari pertama kehidupan pada anak sangat penting. “Aspek nutrisi, imunisasi, kasih sayang, dan stimulasi selama 1000 Hari Pertama Kehidupan sangatlah penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk di dalamnya untuk perkembangan otak dan sistem saraf. “ujar Rafli.
Rafli juga menuturkan bagi para orangtua agar selalu aktif memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. “Terdapat aplikasi dari IDAI (Ikatan Dokter Indonesia), yaitu PRIMAKU yang dapat digunakan para orang tua di rumah untuk menskrining sendiri terkait pertumbuhan dan perkembangan anak. Para orangtua diharapkan juga untuk tidak memberikan gadget bagi anak yang masih berusia di bawah 2 tahun, karena dapat mengganggu perkembangan bahasa anak terkait persepsi dan ekspresi anak,” tambahnya.
Pembicara kedua, dr. Amien Suharti, Sp.KFR, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di RSUI. Menurut  Amien, “dalam perkembangan bicara bahasa anak dikenal istilah plastisitas otak, yaitu kemampuan otak untuk memperbaiki dan mengembangkan dari neuron-neuronnya. Periode kritis dari perkembangan neuron-neuron ini terjadi dari usia 0-4 tahun, sehingga pada masa kritis ini para orang tua diharapkan dapat memberikan sebanyak-banyaknya stimulasi pada anak. Semakin sering anak disentuh, didengarkan cerita, diperdengarkan suara, diperlihatkan gambar dapat menstimulasi perkembangan neuron-neuron anak.”
Terdapat tiga jenis gangguan bicara bahasa yaitu (1) Gangguan bahasa ekspresif (tidak bisa mengeluarkan kata-kata); (2) Gangguan bahasa reseptif (kurang pemahaman), serta (3) Gangguan bahasa ekspresif dan reseptif (gabungan keduanya). Amien mengatakan, orangtua perlu mengenali red flag (indikator tanda bahaya) saat anak berusia 12-24 bulan sebagai salah satu bentuk pencegahan keterlambatan bicara anak. “Orangtua sebaiknya tidak menunggu hingga anak berusia 2 tahun jika mengalami gangguan bicara, namun semakin cepat mendeteksi semakin baik. Peran orangtua di rumah sangatlah besar bagi kemampuan bahasa anak,” ungkapnya.
Sementara pembicara ketiga dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL, Dokter Spesialis THT RSUI, memaparkan mengenai metode implan koklea untuk anak dengan gangguan pendengaran. Menurutnya, kemampuan bahasa anak juga dipengaruhi oleh kesehatan panca inderanya, salah satunya terkait kemampuan pendengaran. “Jika pendengaran terganggu, kemampuan bahasa anak pun juga akan terganggu. Diagnosis kemampuan mendengar anak dapat diketahui sejak anak baru lahir,” ujarnya.
Fikri menjelaskan, saat seseorang tidak bisa mendengar, biasanya dapat dibantu dengan alat bantu dengar. Alat bantu dengar pada prinsipnya hanyalah melakukan amplifikasi atau penguatan, sehingga energi suara yang masuk dari luar karena jumlah sarafnya terbatas maka harus dikuatkan agar sampai ke otak. Namun saat jumlah saraf pada rumah siput terbatas, sekuat apapun alat bantu dengar dari luar tidak mampu untuk menstimulasi rumah siput, sehingga alat bantu dengar tersebut tidak efektif. Implan koklea dapat menjadi salah satu penanganan dalam masalah ini (setelah memenuhi kondisi yang disyaratkan).
“Meski ada  metode implant koklea, prinsipnya tetap jangan jadikan Anak Anda mendengar tidak, tuli tidak. Implan koklea tentunya memiliki risiko, namun risiko ini dapat diatasi dengan persiapan, peralatan dan tim yang memadai. Setelah melakukan implan koklea, tidak serta-merta anak dapat langsung mendengar, perlu ada terapi lanjutan. Implan koklea ini hanyalah sebagai jendela pembuka, orangtua harus tetap merangsang kemampuan bahasa anak. Interaksi orang tua dan anak merupakan faktor penting dalam perkembangan bahasa, bahkan mengalahkan faktor sosial ekonomi. Orangtua yang bekerjasama menyelesaikan masalah anak dan aktif berkomunikasi dapat mempengaruhi perkembangan IQ anak pasca habilitasi yang lebih tinggi, “ bahas Fikri (dh).
Foto: Pensatgas Yonif 125/Simbisa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala