Home » , » Situasi Di Laut Cina Selatan, Akan Menjurus Ke Konflik Terbuka?

Situasi Di Laut Cina Selatan, Akan Menjurus Ke Konflik Terbuka?

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 31, 2020

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Kabar mengenai gelar kekuatan antara Cina dan Amerika Serikat/AS dikawasan Laut Cina Selatan (LCS) kian ramai dan banyak pengamat berspekulasi akan semakin memanas. Namun bila diperhitungkan secara strategis, kedua belah pihak tak mungkin melakukan peperangan terbuka.

Faktor Cina

Bila Cina memaksakan perang terhadap AS, mereka juga harus memperhitungkan kekuatan grup sekutunya di kawasan Asia ini yang tergabung FPDA (Five Power Defence Arrangement), terdiri dari Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.  Sedangkan Cina sangat memerlukan Selat Malaka sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan logistiknya. Atau mengharapkan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Selain FPDA, Cina akan juga menghadapi Taiwan dan sekutu Amerika lainnya.

Penggunaan persenjataan berkekuatan daya hancur tinggi juga akan membawa Cina kepada situasi yang sulit.  Hal tersebut akan memicu kekuatan lawan yang semakin besar dan justru akan menuju kepada kehancuran yang lebih besar di kawasan. Gangguan jalur laut perdagangan dan logistik Cina akan berpengaruh kepada situasi ekonomi.

Cina harus berkonsentrasi juga kepada jalur laut dari daratan selatan Cina, memasuki Selat Malaka atau ALKI lainnya, hingga ke kawasan Afrika Barat menuju daratan Eropa. Dengan demikian perkuatan satuan Armada Selatan harus mampu menjangkau sepanjang jalur laut tersebut agar kapal-kapal niaga Cina dapat terjamin keamanannya. Selain itu dukungan biaya perang akan meningkat drastis.

Memang, dimasa damai ini Cina telah menunjukkan kemampuannya untuk pembuatan kapal laut secara cepat seperti yang telah dilakukan dalam pembuatan kapal pendarat ampibi baru-baru ini yang hanya dalam hitungan bulan sudah mampu memproduksi hinga uji laik-laut. Cina juga sudah mampu memproduksi pesawat-pesawat tempur canggih seperti J-20 Chengdu, dan sebagainya.

Angkatan Laut Cina didukung dengan sekitar 540an kapal perang serta 600an pesawat tempur seperti J-7, J-8, J-10, J-11, Su-30MK2, J-15, dll. (tidak termasuk kekuatan pendukung).  Konsentrasi dan proyeksi kekuatan laut dari satuan Armada Timur dan Armada Selatan akan menjadi tumpuan kekuatan Cina di kawasan LCS sampai pada pengamanan jalur laut perdagangan ke selatan, dan seterusnya menuju dan dari Negara tujuan ekspor-impor.

Cina memiliki program perkuatan Angkatan Lautnya dengan akan dibentuknya beberapa Grup Tempur Kapal Induk.  Saat ini Cina hanya memiliki dua Kapal Induk yaitu; Liaoning dan Shandong yang merupakan modifikasi dari Kapal Induk kelas Kuznetsov, Rusia. Didukung dengan perlindungan serangan udara berupa Kapal Destroyer Type 052C atau 052D, frigate Type 054A untuk peperangan anti-kapal selam dan anti-kapal permukaan, kapal selam nuklir Type 093, dan kapal logistic Type 901. 

Saat ini sedang dibangun kapal induk ke-3 serta yang ke-4 (yang ke-4 ini merupakan kapal induk bertenaga nuklir) yang menurut rencananya akan selesai pembuatannya pada tahun ini dan dapat diaktifkan pada tahun 2023, demikian juga dengan persiapan masuknya kapal perang jenis destroyer Type 055.

Faktor AS

Sejak era Presiden Bill Clinton, banyak kegiatan perdagangan AS dengan Cina yang terus meningkat, juga manufakturing Amerika ber-relokasi ke Cina. Dari yang sederhana seperti peralatan kebutuhan rumah tangga, hingga produk industri cukup strategis.

Bila sampai terjadi krisis perang dengan Cina, pihak AS harus berkalkulasi secara cermat, terlebih lagi keadaan keuangan di dalam negerinya sendiri juga sudah masuk kedalam posisi sulit.

Hingga saat ini untuk menuju rencana pembangunan kekuatan US Navy menjadi 335 Kapal Perang, masih menghadapi berbagai kendala yang serius.  Pembahasan ditingkat Markas Besar US Navy, Pentagon hingga Kongres masih belum menemui titik cerah untuk mencapai obyektif kekuatan tersebut.

Pembangunan kekuatan satuan Korps Marinir di Hawaii yang sudah berjalan hampir tiga tahun juga masih belum mencapai jadwal yang direncanakan. Belum lagi pola perang yang dalam dua dasawarsa ini dikembangkan oleh pihak Pemerintah Pusat di Washington DC, dimana dalam dua dekade dalam peperangan yang dilakukan oleh AS umumnya, mengandalkan kekuatan pasukan tempur Kontraktor yang nota-bene biayanya sangat tinggi dibandingkan dengan pengerahan kekuatan regular.

Kekuatan regular  terutama US Navy dan US Air Force  digunakan dalam tahap awal konflik, selanjutnya dilaksanakan oleh pihak Kontraktor.  Bila situasi meningkat baru kembali ditangani oleh pasukan regular (contoh: situasi di Irak, Libia, Afghanistan, dan lain-lain).

Gelar Kekuatan Di LCS

Berita beberapa minggu terakhir ini di LCS telah hadir tiga Armada Kapal Induk Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai US Carrier Battle Group (CVBG atau CARBATGRU). Ini baru pertama kali sepanjang sejarah gelar kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy).  Gugus tempur USS Nimitz (CVN-68), USS Ronald Reagan (CVN-76), dan USS Theodore Roosevelt (CVN-71), hadir dengan segenap Grup Tempur-nya. Setiap Kapal Induk merupakan capital ship bagi grup tempur kapal induk.
Kehadiran Grup USS Nimitz dan USS Ronald Reagan diberitakan seebagai kegiatan latihan tempur di kawasan LCS. Tapi dapat diterjemahkan juga, sebagai unjuk kekuatan sebagai reaksi olah gerak pihak Cina di kawasan tersebut yang disebut sebagai operasi berwajah damai, yaitu menyebarkan kapal-kapal nelayan yang dikawal kapal-kapal Coast Guard Cina diberbagai wilayah sekitar LCS.

USS Theodore Roosevelt bergabung setelah istirahat di Guam karena adanya indikasi menyebarnya wabah covid-19 dalam jajaran mereka.

Pengaruh ke Sekitar Kawasan

Bila terjadi konflik di LCS, pasti akan berpengaruh kepada situasi kawasan, terutama Asia Tenggara yang juga merupakan pusat perdagangan dunia. Selat Malaka akan menjadi salah satu titik pusat perebutan bagi kedua pihak yang berseteru karena jalur perdagangan dan logistiknya sangat strategis. Pihak-pihak yang berkepentingan dengan keamanan kawasan Selat Malaka seperti Indonesia, Singapura dan Malaysia niscaya harus memerkuat kekuatan laut dan pertahanan udara disekitar kawasan tersebut.

Terlebih lagi bagi Indonesia, tidak saja berkonsentrasi pada Selat Malaka, tetapi juga gerbang utara dua ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) lainnya, yang akan memasuki jalur selat Makasar dan kawasan laut Maluku, Laut Seram dan sekitarnya sampai ke Samudera Hindia.

Untuk menjaga keamanan di tiga wilayah ALKI, sesai dengan kesepakatan United Nation Convention on the Law of the Sea Desember 1982 (UNCLOS III) serta kesepatan Internatinal Maritime Organisation (IMO), diperlukan suatu upaya yang komprehensif. Karena ALKI merupakan alur laut yang dapat dilalui oleh kapal-kapal laut dan pesawat udara internasional dengan cara normal serta terjamin keamanannya.

Dapat dibayangkan seberapa kekuatan Armada TNI AL yang harus dipersiapkan dalam mengantisipasi keamanan kawasan perairan Nasional.

Skenario Pengerahan Kekuatan US Navy

Dalam situasi krisis, satuan Grup Armada Kapal Induk diperkuat dengan beberapa kapal perang yang dikelompokkan sebagai Battleship Battle Group (BBBG), atau alternatifnya berupa Surface Action Group (SAG), antara lain berupa kapal perang kelas Iowa, kapal penjelajah kelas Ticonderoga, destroyer kelas Kidd atau kelas Arleigh Burke, deatroyer kelas Spruance, dan riga frigate kelas Oliver Hazard Perry, serta satu kapal pendukung seperti pembekalan bahan bakar minyak (replenishment oiler).

Sedangkan Grup Aksi Kapal Permukaan (SAG - Surface Action Group) dibentuk dalam situasi perang sebagai temporary or standing organization of combatant ship. Diluar kapal induk, dibentuk untuk misi taktis yang spesifik. US Navy akan melakukan total combat strategy mereka untuk membatasi durasi pertempuran agar tidak menyeret sampai terjadinya perang di darat, kecuali bila mereka akan merebut Pulau Xisha dan Nansha (Pulau Paracel dan Spratley).

Untuk tujuan strategi tersebut, tak mustahil akan menyeret Negara netral kedalam kancah konflik dikarenakan mereka akan memerlukan pangkalan acu (staging base) guna penyegarak kekauatan armadanya. Semoga saja unjuk kekuatan besar di LCS  tak menjelma menjadi perang terbuka yang dapat merugikan negara disekitar kawasan tersebut.

M. Ali Haroen&Abriyanto

Foto: Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala