Home » » Pelajaran Menarik Dari Kota Depok Tangani Pandemi Covid-19

Pelajaran Menarik Dari Kota Depok Tangani Pandemi Covid-19

Posted by INDONESIA MANDIRI on Juli 01, 2020

Kehadiran RSUI juga sangat mendukung Pemkot Depok dalam penanganan pasien Covid-19
Depok (IndonesiaMandiri) – Wabah Covid-19 yang menyerang seantero dunia, termasuk Indonesia, menjadi pelajaran menarik bagi kita semua. Tak hanya dari sisi medis, yang terdampak. Tapi juga sosial-ekonomi masyarakat ikut terkena karena adanya pembatasan kegiatan diluar rumah.

dr. Rakhmad Hidayat, Sp.S (K), Manajer Pelayanan Medik Rumah Sakit Universotas Indonesia (RSUI), dalam kajiannya melihat, banyak hal menarik yang bisa dijadikan pelajaran dari upaya Pemerintah Kota Depok beserta lembaga terkait yang ada, menangani kasus Covid-19. Saat awal masa pandemi, respon Indonesia sangat lambat sehingga pada Maret, Indonesia hanya memiliki dua rumah sakit rujukan yang dapat menangani pasien Covid (RS Umum Persahabatan dan RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso) dan hanya memiliki satu laboratorium pemeriksaan PCR Covid-19 di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), sehingga terjadi penumpukan pemeriksaan dan pasien serta keterlambatan pengumuman hasil pemeriksaan dari setiap pasien. Kemudian, pada 16 Maret 2020, Kementerian Kesehatan memperbolehkan laboratorium lain untuk melakukan pemeriksaan Covid-19.
Di bawah ini, adalah analisa dr Rakhmad, yang juga Mahasiswa S2 Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat/FKM UI. Depok merupakan salah satu kota yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di Jawa Barat/Jabar. Lokasi kota Depok yang berdekatan dengan DKI Jakarta sebagai pusat episentrum wabah disertai dengan tingginya mobilisasi warga Depok ke kota lain dapat meningkatkan risiko penyebaran kasus Covid-19 di Kota Depok. Hal tersebut terlihat dari adanya peningkatan jumlah kasus pasien dalam pengawasan (PDP) pada 2 minggu sejak kasus pertama, yaitu 29 orang tersebar di 8 kecamatan di Kota Depok. Secara kumulatif, pada 16 Juni 2020, terdapat 612 kasus terkonfirmasi positif di Kota Depok, yang menjadikan Depok Sebagai kota dengan kasus Covid-19 tertinggi di Provinsi Jabar.
Seiring dengan peningkatan kasus di Kota Depok, Pemerintah Depok/Pemkot memerlukan strategi baru dalam penanggulangan wabah. Sistem desentralisasi di Indonesia memungkinkan Pemkot Depok mengambil kebijakan khusus dalam menanggulangi wabah Covid-19. Dalam situasi normal, Depok mungkin bisa terbantu oleh lengkapnya fasilitas ibukota Jakarta, yaitu rumah sakit dan laboratorium rujukan nasional untuk Covid-19.
Namun, dengan peningkatan jumlah kasus di DKI Jakarta dan Depok, berakibat penumpukan pasien di rumah sakit dan laboratorium rujukan nasional. Sehingga Kota Depok harus mandiri dalam memenuhi fasilitas khusus dalam penanganan dan perawatan pasien Covid-19 di Depok untuk menghindari ledakan jumlah pasiennya. Pembangunan fasilitas kesehatan baru akan memakan waktu lama dan biaya yang cukup besar, sehingga Pemerintah Kota Depok memilih untuk melakukan optimalisasi rumah sakit dan sumber daya yang ada di Depok.
Pemkot Depok menetapkan beberapa langkah strategi dalam penatalaksanaan Covid-19 secara komprehensif, yang dilakukan melalui 3 langkah yaitu to prevent, to detect, dan to response. Pemkot Depok menetapkan gerakan kampung siaga Covid-19, yang terdiri atas sterilisasi fasilitas sosial dan umum, pengaktifan sistem informasi kesehatan warga, dan penyaluran bantuan logistik bagi warga yang menjalani karantina. Gerakan ini mulai diterapkan pada 2 April 2020 untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap Covid-19 dan sebagai sarana monitoring kasus Covid-19. Kemudian,  15 April,  ditetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama 14 hari sesuai hasil koordinasi dengan Pemprov Jabar. Penerapan PSBB ini dilakukan secara terintegrasi dengan daerah-daerah di kawasan Jabodetabek. Beberapa langkah PSBB yang diterapkan di Depok, seperti penghentian kegiatan di sekolah, institusi pendidikan, tempat kerja, dan tempat ibadah; penutupan tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat wisata; pelarangan kegiatan yang melibatkan banyak orang; dan pembatasan berkendara.
Dalam upaya mendeteksi pandemi, Pemkot berencana membangun fasilitas laboratorium guna menunjang pemeriksaan Covid-19 di Depok. Namun hal tersebut membutuhkan waktu lama dan dana cukup besar. Oleh sebab itu, di awal masa pandemi, Pemkot bekerja sama dengan RSUI sebagai satu-satunya rumah sakit yang memiliki laboratorium PCR dengan standar keamanan BSL-2. Layanan laboratorium di RSUI bukan hanya untuk pasien yang datang langsung, tapi pihak luar bisa mengirim sampelnya ke RSUI untuk dilakukan pemeriksaan PCR. Layanan biomolekular di RSUI sangat membantu dalam meningkatkan kapasitas deteksi kasus COVID 19 di Indonesia, khususnya di wilayah depok dan sekitarnya.
Pemkot juga terus memperluas jaringan laboratorium secara bertahap, seperti bekerja sama dengan RS Bhayangkara Brimob dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Depok dalam membangun fasilitas laboratorium PCR untuk diagnosis Covid-19. Dengan adanya tiga tempat pemeriksaan, penemuan kasus di Depok diharapkan lebih cepat dan akurat. Lalu ada skrining masal di beberapa kecamatan zona merah Kota Depok. Pada Mei lalu, telah diadakan swab masal di beberapa stasiun
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus positif Covid-19, Pemkot melakukan penguatan kapasitas dan jejaring pelayanan medis. Rumah sakit rujukan Covid-19 di Depok dibedakan 2 kategori, yaitu untuk pasien dengan gejala sedang-berat dan ringan atau tanpa gejala. Untuk penanganan pasien dengan gejala sedang-berat, Pemkot awalnya menetapkan 2 rumah sakit dedikasi penanganan Covid-19 di Kota Depok, yaitu RSUI dan Rumah Sakit Bhayangkara Brimob. Pemilihan rumah sakit tersebut didasarkan pada potensi fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Misalnya, RSUI memiliki ruangan perawatan bertekanan negatif dan ICU, dokter spesialis yang kompeten dibidangnya, serta fasilitas laboratorium yang dapat digunakan untuk PCR. Setelah itu, ditambah RSUD Kota Depok. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jabar, Walikota Depok menetapkan 7 rumah sakit tambahan sebagai rumah sakit rujukan Covid-19, yaitu RS Puri Cinere, RS Hermina, RS Sentra Medika, RS Melia, RS Bunda Margonda, RS Tugu Ibu, dan RS Mitra Keluarga.
Sementara itu, bagi warga dengan status orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) ringan yang tidak dapat melakukan isolasi mandisi di rumah, Pemerintah Kota Depok mengalokasikan dua rumah sakit swasta, yaitu Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah (HGA) dan Rumah Sakit Citra sebagai rumah sakit untuk isolasi. Warga yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, dapat dirujuk melalui Puskesmas ke dua Rumah Sakit tersebut agar dapat terkendali.
Dari strategi itu, terlihat pentingnya peran Pemda mengidentifikasi kemampuan dan potensi yang dimilikinya serta bekerja sama dengan pihak pemerintah pusat, daerah serta swasta yang dapat mendukung untuk mempersiapkan diri enghadapi pandemi. Langkah Pemkot Depok dalam memitigasi risiko menghadapi Covid-19 dari sudut pandang analisis kebijakan dinilai efektif. Penerapan PSBB pada fase pertama, ditemukan mampu menurunkan angka peningkatan ODP dan PDP di Kota Depok, dari 32-34 orang per hari, dan 27-28 menjadi 26-27 pasien per hari. Selain itu,  kapasitas tes juga meningkatkan temuan kasus positif di Kota Depok menjadi 762 kasus per 29 Juni 2020. Dengan demikian, strategi Kota Depok dapat dijadikan panduan bagi daerah lain untuk membuat kebijakan baru sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya (ma).
Foto: Humas RSUI

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala