Home » » Upaya Angkatan Darat Amerika Mencari Tank Ringan

Upaya Angkatan Darat Amerika Mencari Tank Ringan

Posted by Indonesia Mandiri on Mei 08, 2020

Singapura bikin terobosan membuat prototip Tank Ringan
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Angkatan Darat Amerika Serikat/US ARMY tengah berupaya mencari tank kelas ringan untuk mengisi kebutuhan kendaraan tempur yang juga untuk mengangkut personil di daerah operasi. Sebelumnya, US ARMY juga berupaya mendapatkan konsep pengganti armada M2 Bradley (medium) yang hingga kini belum juga mendapat hasil. Merancang sebuah kendaraan tempur memang tak mudah. Diawali dengan filosofi dari rencana penggunaannya, apakah untuk kebutuhan unit Kavaleri, pasukan infanteri mekanis, atau kombinasi keduanya.  Dari situ akan didapat operational requirements yang selanjutnya diterjemahkan kedalam technical requirements.

Pihak Pentagon sudah beberapa tahun terakhir ini berupaya mendapat konsep kendaraan tempur, baik yang disebut sebagai kategori kelas ringan atau light tank, maupun untuk pengganti medium tank M2 Bradley. Upaya tersebut dilakukan oleh Pentagon, US Army, bersama dengan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), sebuah agensi Kementwrian Pertahanan yang bertanggung jawab untuk pengembangan teknologi untuk peralatan yang akan digunakan oleh jajaran Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS).

Setelah beberapa tahun melakukan berbagai kegiatan, termasuk penelitian dan pengembangan, pra-rancang-bangun, sampai pembuatan purwa-rupa, masih belum didapat sebuah contoh yang tepat dan memenuhi technical requirement seperti diinginkan. Untuk mengisi kebutuhan tersebut, akhirnya dilakukan lelang terbuka menawarkan pembuatan prototype light tank dengan membuka kesempatan, tak saja bagi industri dalam negeri AS, tetapi juga dari industri pertahanan luar negeri.

Setelah dilakukan serangkaian kegiatan lelang terbuka sesuai peraturan berlaku, akhirnya untuk sementara diputuskan memilih konsep demonstrator pihak BAE Syatems dari Inggris.  Saingan terberat BAE Systems saat itu adalah prototip diajukan Grup ST Technology, Singapura.  Siapapun yang menjadi pemenang nantinya harus bekerjasama dengan pihak industri pertahanan AS.

Singapura yang melibatkan Kontraktor Pertahanan Singapura SAIC turut dalam kompetisi untuk menawarkan tank ringan hasil rancang bangun industri Singapura kepada AS, tak saja untuk kebutuhan Angkatan Darat tetapi juga bagi Korps Marinir.  Delam program tersebut, tinggal dua kelompok industri yang bersaing, Singapura berpasangan dengan Cockeriel dari Belgia, sementara saingannya adalah BAE Systems dari Inggris sinergi dengan industri Aperika General Dynamics Land Systems (GDLS). Baru pertama dalam sejarahm sebuah industri dari Singapura bersaing dengan salah satu industri pertahanan raksasa BAE Systems dari Inggris yang berpasangan dengan Industri kesohor asal AS, GDLS.

Singapura mengejutkan industri pertahanan dunia, termasuk AS, karena berani bersaing dalam pembuatan tank
Dapat diperhitungkan kesulitan yang akan dihadapi oleh panitia pengadaan Kementerian Pertahanan AS.  Apakah mereka akan memilih produk Singapura (walaupun secara spesifikasi lebih unggul), atau memilih industri yang sudah populer?  Apabila produk Singapura yang dipilih, ini sama juga dengan menyisihkan industri pertahanan dunia yang kesohor.

SAIC yang juga memiliki basis di Virginia bersama Singapore Technologies Kinetics (STK) secara resmi mengikuti kegiatan penawaran untuk mengikuti program kompetisi Marines' Amphibious Combat Vehicle untuk USMC, dan program Army's Mobile Protected Firepower untuk US ARMY.  Keikut sertaan SAIC Defence Systems diumumkan empat hari sebelum pembukaan acara besar konferensi Association of the US Army (AUSA) 2019 di Washington DC.  SAIC juga mendatangkan unit tank ringan yang mereka tawarkan untuk dipamerkan dan demonstrasi kemampuannya pada acara tersebut.

Program US ARMY adalah untuk pengadaan tank ringan guna mendukung pasukan infanteri saat tank berat M1 Abrams tidak dapat dikerahkan dalam suatu operasi tempur. Yang ditawarkan SAIC adalah tank ringan yang kendaraan platform-nya beroda rantai, hasil pengembangan terbaru industri Singapura yang disebut sebagai Next Generation Armored Fighting Vehicle (NGAFV), menggunakan kubah dan kanon Cockerill kaliber 105mm type C3105 produksi CMI, Belgia.

Apa yang ditempuh oleh SAIC-STK membuat kalangan industri pertahanan cukup terkejut, karena mereka berani berkompetisi head-to-head dengan dua raksasa industri pertahanan BAE Syatems dan GDLS.  BAE Systems sangat dikenal karena meraka terlibat dalam program modernisasi tank M2 Bradley, kendaraan utility AMPV, dan Howitzer GS M109 Paladin.  BAE juga telah memenangkan pengadaan M8 Buford Armored Gun System (AGS), dimana BAE mengupgrade MPF dengan perangkat elektronik baru, mesin baru dan peningkatan sistem proteksi.  namun proyek M8 ini kemudian dibatalkan.

Sebuah pelajaran menarik untuk negara berkembang lain untuk dapat produksi kendaraan tempur mandiri
Sementara itu, GDLS adalah pabrikan yang memproduksi tank berat M1 Abrams serta panser beroda ban 8x8 Stryker. Dibandingkan dengan SAIC-STK yang menawarkan produk yang sama sekali baru, BAE Systems-GDLS sudah memiliki persiapan bahan baku berupa chassis Ajax scout vehicle, serta beberapa rancangan kubah senjata yang meniru sistem kubah M1 Abrams.

Produk Singapura

Perkembangan industri pertahanan di Singapura sangat maju semenjak dibentuknya sebuah badan penelitian dan pengembangan peralatan pertahanan DSTA (Defence Science and Technology Agency) sebuah badan yang merupakan pusat penelitian dan pengadaan kebutuhan Kementrian Pertahanan dan Angkatan Bersenjata Republik Singapura.  DSTA melibatkan juga semua laboratorim universitas-universitas terkemuka di Singapura. Hasil kerjanya sangat mengagumkan, diantaranya sistem Pangkalan Kapal Selam dan Fasilitas Penyimpanan Amunisi yang keduanya sudah menjadi standar NATO.

ST Kinetics bersama Science Applications International Corp. bekerjasama untuk secara cepat mengembangkan  protottip kendaraan tempur untuk kebutuhan program US Army, sehubungan dengan program Mobile Protected Firepower. Sasarannya untuk mengembangkan kendaraan tempur yang terintegrasi untuk memberikan solusi inovatif bagi pasukan infanteri dalam mengakses medan tempur pada operasi tempur abad ke-21.

Pada tahap ini kompetisi yang dilakukan baru untuk sebatas produk prototip untuk kontrak pengembangan enjinering dan manufakturing. Singapura memperlihatkan konsep tank ringan berbasis chassis ST Kinetics’ Next Generation Armored Fighting Vehicle dari ST Kinetics dan kubah CMI Defence’s Cockerill Seri 3105. SAIC akan bersaing untuk mengedepankan prototip berkemampuan enjinering dan manufacturing kendaraan tempur kelas ringan yang dapat memberikan mobilitas serta tingkat perlindungan tinggi untuk unit pasukan yang didukungnya. Sehingga kendaraann tempur lapis baja tersebut dapat beroperasi secara mandiri didaerah berbahaya, diperkotaan maupun dikawasan hutan sempit, dengan rancangan yang memenuhi segala spektrum daerah pertempuran.

Dalam tahap pengembangan purwa-rupa the next-generation armored Fighting vehicle (NGAFV) ini SAIC menindak-lanjuti program modernisasi kendaraan tempur yang sudah di gagas sebelumnya, termasuk dengan kerja sama yang sudah dijalin dengan Detroit Automotive Technologies Consortium dan US Army Tank Automotive Research, Development and Engineering Center, untuk membantu asistensi dalam tahap pengembangan.

Seperti diutarakan SAIC senior vice president and general manager of the Defence Systems Customer Group, Jim Scanlon: “SAIC has developed a superior solution that integrates mature, currently produced offerings from our industry partners, ST Kinetics and CMI Defence. By marrying ST Kinetics’ chassis with CMI Defence’s turret, SAIC can deliver a reliable vehicle that gives soldiers a new capability in combat environments,”

Lalu ditambahkan oleh Dr. Lee Shiang Long, selaku President dari ST Kinetics: “Our NGAFV is an advanced system that is fully digitalized, highly mobile and developed to support networked knowledge-based warfighting. A fleet of seven prototypes had been developed and robustly tested over several years. As the NGAFV will be in production soon, this platform brings minimal technical risk and a robust supply chain to the MPF program."

Terobosan Dari Singapura

ST Kinetics yang bermitra dengan SAIC dan CMI Defence, dalam kegiatan lelang di AS telah memperlihatkan contoh jadi dari kendaraan tempur lapis baja beroda rantai yang di Singapura disebut sebagai NGAFV, lengkap dengan kubah buatan Cockerill, berupa kubah modular Seri 3105. Berbagai kegiatan uji turut dijalani termasuk uji kemampuan penembakan yang dilakukan di Nevada Automotive Test Center, Nevada. NGAFV sendiri sudah mendapat pesanan dari Angkatan Bersenjata Singapura dan mulai diproduksi pada 2019.

Kubah senjata modular Seri 3015 dari CMI dapat digunakan untuk berbagai jenis kaliber senjata, dari kanon kaliber 30mm hingga meriam kaliber 105mm. Kubah senjata ini sama dengan kubah yang digunakan pada kendaraan tempur beroda ban (8x8) Pandur II yang dibeli oleh pihak Angkatan Darat Indonesia.

Angkatan Bersenjata Singapura telah memesan berbagai konfigurasi NGAFV, termasuk pengangkut personil yang dilengkapi dengan stasiun senjata dengan sistem remote control, dipersenjatai dengan kanon Orbital ATK Bushmaster 30mm dan senapan mesin co-axial.

Menurut pihak ST Kinetics, bobot NGAFV dengan kubah Cockerill akan berkisar seberat 32,5 ton, sedikit lebih berat dibandingkan dengan kendaraan lapos baja pengangkut personil Singapura yang berbobot 29 ton. NGAFV dilengkapi dengan kamera untuk siang dan malam hari dengan jangkauan liput 360 derajat yang memungkinkan awak kendaraan bertempur dalam keadaan pintu kubah tertutup (ali haroen/ma).

 Foto: Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala