Home » » Optimis Hadapi Covid-19, Sektor Pariwisata Perlu Strategi Alternatif

Optimis Hadapi Covid-19, Sektor Pariwisata Perlu Strategi Alternatif

Posted by Indonesia Mandiri on April 26, 2020

Wisatawan mancanegara saat menikmati pesona alam di Indonesia
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Presiden Jokowi pernah mengatakan, salah satu sektor terdampak paling berat dari pandemi Covid-19 adalah pariwisata (16/4). Oleh karenanya, Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kemenparekraf melakukan berbagai strategi alternatif guna menanggulangi pelaku industri parekraf yang terdampak Covid-19, sekaligus antisipasi perubahan tren berwisata.

Saat diskusi virtual bertema Industry Roundtable Tourism and Hospitality Industry Perspective, Jumat (24/4), Sekretaris Kemenparekraf Ni Wayan Giri Adnyani mejelaskan, pihaknya terus mempersiapkan perubahan tren baru berwisata saat pandemi Covid-19 usai. “Kami akan menyiapkan destinasi sesuai dengan kondisi new normal. Destinasi itu disiapkan dengan mengedepankan prinsip sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) termasuk di dalamnya soal kesehatan, dan keamanan,” ucap Giri.

Giri juga menjelaskan, pemerintah membagi tiga tahapan dalam penanganan Covid-19, yakni masa tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. Pemerintah juga telah merealokasi anggaran dan menerapkan program khusus selama masa tanggap darurat.

Model pariwisata berkelanjutan perlu dikedepankan antisipasi usai krisis covid-19
“Realokasi akan diarahkan untuk berbagai macam program yang sifatnya pendukungan masa tanggap darurat untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Di forum ini juga kami meminta untuk bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi situasi saat ini," jelas Giri.

Dalam diskusi virtual juga menghadirkan pembicara seperti Founder & Chairman MarkPlus, Inc, Hermawan Kartajaya, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, serta Ketua GIPI Bali Ida Bagus Okanentru Agung Partha. Menurut Hemawan, sektor pariwisata adalah sektor paling terdampak pandemi dan memiliki imbas kepada sektor lain.

"Sekarang semua sadar ketika pariwisata stop, ekonomi juga stop. Semua baru sadar bahwa pariwisata adalah tulang punggung ekonomi. COVID-19 ini menarik, karena pariwisata tak akan pernah sama lagi,” papar Hermawan.

Ia menilai, walau diterpa Covid-19, Bali contoh bagus dengan mengkombinasikan “God, people, nature” dalam sektor pariwisata. Karenanya, ia memprediksi setelah Covid-19 berlalu, akan semakin banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tidak hanya dari segi harga, tetapi juga keberlangsungan lingkungan di destinasi tujuan. Mereka menginginkan destinasi berkualitas dengan alam dan keamanan lebih baik, sistem mitigasi, di mana bisa terjadi dengan menggabungkan ketiga unsur tersebut seperti di Bali.

"Kalau bicara bertahan atau surviving itu sudah pasti. Sekarang tinggal bicara preparing atau mempersiapkan ketika wisatawan kembali setelah Covid-19. Bali jadi contoh dan punya ketahanan. Nusa Tenggara Barat juga sekarang sedang preparing karena melihat potensi di masa depan. Seperti yang sudah saya katakan, daerah-daerah tersebut sadar bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi," tandas Hermawan (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala