Home » » Pelanggaran HAM Berat di Papua : Kita Harus Jeli Melihatnya

Pelanggaran HAM Berat di Papua : Kita Harus Jeli Melihatnya

Posted by INDONESIA MANDIRI on Desember 11, 2019

OPM (Organisasi Papua Merdeka)
Jakarta (IndonesiaMandiri) - Mencermati peringatan hari HAM Internasional, kita harus lebih jeli melihat siapa pelaku Pelanggaran HAM, sebenarnya.

Peninggalan gaya kepemimpinan Orde Baru yang memerintah secara otoriter, membuiat masyarakat selalu memiliki kecurigaan terhadap Pemerintahnya. Mereka cenderung masih trauma, dan terbiasa dengan penindasan fisik maupun non-fisik yang dilakukan pemerintah, sehingga tidak mengherankan jika masyarakat pada umumnya pada masa itu, selalu melihat jika ada pelanggaran HAM pasti saja Pemerintah yang salah.

Setiap tahun, masyarakat dunia selalu memperingati hari hak asasi manusia (HAM) internasional, pada tanggal 10 Desember.

Hal tersebut mengingatkan kita, bahwa pelanggaran HAM adalah kejahatan kemanusiaan yang adi momok, dan musuh masyarakat global, sehingga pelakunya dapat saja individu, kelompok, atau organisasi, bahkan negara, yang kesemuanya pasti akan dibenci, dan dimusuhi oleh masyarakat global.

Dari pengamatan beberapa pengamat, ternyata pelanggaran HAM banyak pula yang dilakukan oleh kelompok-kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM), mauun simpatisannya.

Dapat dicontohkan, antara lain, yang tejadi pada tanggal 1 Desember 2018 di Jalan Trans Papua, Kabupaten Nduga, Papua, terjadi salah satu peristiwa yang sangat mengerikan, yakni pembunuhan terhadap 31 orang pekerja PT Istaka Karya yang dilakukan Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya.

Kerusuhan yang dilatarbelakangi hanya karena ada salah satu pekerja PT Istaka Karya, yang mengambil foto perayaan Hari Ulang Tahun Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (HUT TPN OPM) yang sedang dilakukan KKSB pimpinan Egianus Kogoya tersebut. 

Pasca peristiwa pembunuhan tersebut, KKSB justru semakin garang melakukan penyerangan, baik terhadap masyarakat sipil, maupun TNI/Polri, diantaranya pada tanggal 12 Agustus 2019, di wilayah Kampung Mudidok, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ditemukan jenazah Briptu Heidar yang merupakan anggota Satgas Gakkum Polda Papua wilayah Ilaga, yang sebelumnya diculik KKSB, saat korban sedang melaksanakan tugas penyelidikan di wilayah Kabupaten Puncak. 

Kemudian pada tanggal 16 Agustus 2019 + di Km 39 Jalan Trans Wamena-Habema, Kabupaten Jayawijaya, Papua, terjadi lagi penembakan terhadap konvoi kendaraan pengangkut logistik milik Satgas Pengamanan Daerah Rawan dari Yonif 751/VJS oleh KKSB pimpinan Egianus Kogoya, yang mengakibatkan satu orang prajurit TNI  Pratu Sirwandi M Sahidillah gugur.

Pada tanggal 25 Oktober 2019 di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, terjadi penyerangan terhadap masyarakat sipil oleh KKSB pimpinan Lekagak Talenggen, mengakibatkan sebanyak 3 orang tukang ojek meninggal dunia, yakni; Rizal, Herianto dan La Soni. Dan masih banyak lagi peristiwa memilukan yang dilakukan baik oleh OPM, maupun oleh simpatisannya.

Dalam rangka memperingati hari HAM internasional yang jatuh tanggal 10 Desember 2019, puji syukur, bahwa kini publik internasional, seperti masyarakat Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Selatan, termasuk masyarakat Indonesia sudah mulai sadar dan memahami, bahwa sesungguhnya selama ini OPM lah pelaku utama pelanggaran HAM berat di Papua. 

Namun demikian, OPM dan simpatisannya selalu memutar balikkan fakta, dengan  selalumenempatkan OPM sebagai korban dari drama “playing victims”.

Jadi kini terbuka dengan gamblang, siapa sebenarnya aktor utama dibalik kerusuhan keamanan yang terjadi di Papua selama ini. (EW).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala