Home » » Jangan Sampai Pesona Toba Redup

Jangan Sampai Pesona Toba Redup

Posted by INDONESIA MANDIRI on November 25, 2015

Berastagi (IndonesiaMandiri) – Daya tarik Danau Toba, di Sumatera Utara, sudah tak diragukan lagi, baik di mata masyarakat Indonesia maupun mancanegara.  Bahkan, baru-baru inio, Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli ingin menjadikan kawasan Toba sebagai “Monaco’nya Asia.  Tak berlebihan, rasanya.

Kecantikan alam yang dibalut dengan kekayaan tradisi, seni dan budaya  Batak plus tujuh kabupaten yang mengelilinginya, membuat Toba memiliki banyak keunggulan dibanding danau lainnya di muka bumi ini.

Itu sebabnya pula, setiap tahunnya, ada acara akbar yang diberi nama Festival Danau Toba. Berbagai atraksi seni dan budaya dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara dipentaskan.  Tahun ini, tuan rumahnya ada di Berastagi, Kabupaten Karo, daerah dataran tinggi yang bisa ditempuh dari kota Medan dengan kendaraan sekitar dua setengah jam atau sekitar 80an kilometer.

Uniknya, festival tahun ini diselenggarakan justru tidak berdekatan dengan Danau Toba.  Kabupaten Karo yang beribukota di Kabanjahe, ditunjuk menjadi tuan rumah. Persisnya di Berastagi, sebuah kota berudara sejuk karena merupakan daratan tinggi  sekitar 1.300 meter dari permukaan laut dengan suhu sekitar 15-20 derajat celcius.

Seperti diketahui, Danau Toba berada diantara tujuh Kabupaten di Sumuatera Utara, seperti:  Samosir, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasudutan, Dairi dan Karo.  “Mulanya memang tahun lalu sudah ditunjuk yang menjadi tuan rumah di Kabupaten Samosir. Tetapi di Agustus 2015 kemarin, Kabupaten Samosir tiba-tiba membatalkannya. Akhirnya setelah kita mencari lagi, dipilihlah Karo yang bersedia,” ujar  Elisa Marbun, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara kepada IndonesiaMandiri.

Tak dipungkiri memang, dengan dibatalkannya secara mendadak  oleh Pemkab Samosir tentang rencana penyelenggaran Festival Danau Toba ini , menjadikan segala persiapan menjadi ikut berubah. Tetapi karena sudah tekad, kesepakatan dan komitmen dari pihak Provinsi, Kabupaten-kabupaten maupun Kementerian Pariwisata sejak semula bahwa perhelatan rutin tahunan harus tetap terselenggara, maka dalam waktu yang singkat Festival Danau Toba harus berjalan.

Singkat cerita, kamis lalu (19/11), Festival Danau Toba dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, di Lapangan Mejuah-Juah, Berastagi.  Festival yang berjalan empat hari ini, diselingi oleh berbagai acara atau pentas seni dan budaya, seperti lomba vokal solo, lomba sepeda jelajah ke sekitar Gunung Sinabung (tour d’Sinabung), lomba solo bolon, lomba binaraga, serta  pameran industri pariwisata, ekonomi kreatif dan aneka hiburan rakyat.

Dari rangkaian kegiaan tersebut, juga diselenggarakan diskusi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dengan tema “Fasilitasi Pengembangan Destinasi Wisata Tradisi dan Seni Budaya.” Diskusi yang berlangsung dua hari ini (20-21/11) di Hotel Sibayak, Berastagi ini, berlangsung cukup seru. Karena dari acara ini, banyak disoroti sangat tajam tentang berbagai masalah atau kendala yang terjadi di Sumatera Utara umumnya dan kawasan Toba khususnya dalam hal pengembangan pariwisatanya. Termasuk dalam hal ini mengkritisi tentang jadwal Festival Danau Toba yang sempat simpang siur sehingga berdampak bagi para tamu atau wisatawan yang ingin menikmatinya.

Para pembicara dalam diskusi ini adalah Prof. Dr. Robert Sibarani (Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara), Made Adhi Gunadi (Pengajar di Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Jakarta), Muhammad Takari bin Jilil Syahrial (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara), dan Henky Hermantoro (Kemenpar). Pesertanya banyak dari kabupaten yang ada di Sumatera Utara.

Seperti dikatakan Robert Sibarani, mestinya masing-masing kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba untuk menanggalkan egonya dan harus bergotongroyong mengembangkan wilayah ini sebaik-baiknya. “Pengelolaan Danau Toba harus transparan dan ditangani ke Provinsi saja. Sehingga ketujuh kabupaten mendukung secara bersama. Ini sudah gagasan lama, tetapi dalam pelaksanaannya kurang berjalan,” kata Sibarani.

Untuk pengelolaan Danau Toba kedepan, memang sudah ada pemikiran ingin dibuat semacam badan otoritas otonom. “Jadi semacam Badan Pengelolaan Kawasan Wisata Toba, yang nantinya membuat perencanaan sekaligus pengembangan secara terpadu,” kata Lokot Endah Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kemenpar. “Karena berbicara wisata Danau Toba”, sambung Lokot, “ sangat kental dengan nuansa tradisi seni dan budaya yang ada.”

Kemenpar memang sudah memberikan kail dan dukungan penuh kepada semua daerah yang memiliki potensi wisatanya untuk maksimal memberi lima even wisatanya yang setiap tahun bisa ditampilkan. Dengan demikian, kalender kegiatan pariwisata nasional akan lebih semarak. Dan ujungnya, akan mendongkrak pendapatan daerah-daerah karena mengundang banyak wisatawan dalam dan luar negeri untuk berkunjung

Lagi pula, Danau Toba juga sedang diusahakan untuk masuk dalam daftar Geopark Network dunia yang dikelola UNESCO . Potensi Geopark Kaldera Toba begitu besar, karena bisa menopang banyak pelestarian lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Itu sebabnya, pesona Danau Toba mesti dipelihara dengan baik agar tidak redup (abri).
Foto: Ahmad Fauzan 
   
 

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala