Home » » QUO VADIS? 69 Tahun TNI AU

QUO VADIS? 69 Tahun TNI AU

Posted by INDONESIA MANDIRI on Januari 05, 2015

 “To deter in peacetime and should not fail to win a swift and decisive victory”, RSAF mission statement ; Lt.Gen Bey Soo Khiang.
Membangun air power matra angkatan udara merupakan problematika sekaligus tantangan tersendiri bagi segenap anggota dan pimpinan suatu angkatan udara, terlebih di negara berkembang seperti Indonesia. Karena untuk membangun Air Power dibutuhkan effort (dibaca: modal) yang besar, disamping modal-modal yang sifatnya material juga dibutuhkan modal-modal yang sifatnya immaterial, bahkan seringkali modal-modal immaterial lebih meng encourage dikarenakan dapat menjadi pendorong terbentuknya : dasar-dasar/doktrin-doktrin/strategi-strategi yang khas membedakan suatu air force dengan air force lainnya.

Diantara modal-modal immaterial yang paling penting adalah Modal Manusia (Human Capital) dan Modal Sejarah (Historical Gain), kedua modal ini menjadi modal dasar yang sangat penting bagi pembangunan Air Power Matra Angkatan Udara suatu negara. Kemampuan mengelaborasi kedua modal dasar ini mempengaruhi keberhasilan suatu angkatan udara membangun air powernya.

Untuk bisa mengukur pencapaian dari suatu angkatan udara perlu kiranya kita memperbandingkan dengan sesama angkatan udara agar kita dapat mengambil pelajaran-pelajaran dari pengalaman-pengalaman mereka, meskipun belum tentu dapat ditiru sepenuhnya dikarenakan setiap negara/angkatan udara memiliki faktor-faktor pendorong dan faktor-faktor penghambat yang spesifik tersendiri.  
Indian Air Force (IAF) Peringkat ke 4 (2013) didirikan 8 Oktober 1932

Indian Air Force Bharatiya Vayu Sena The Crest of the Indian Air Force
Peringkat No. 4. India, Point : 571.4
170 Su-30MKI, 63 MiG-29, 51 Mirage-2000, 264 MiG-21; 90 MiG-27, 149 Jaguar; 16+4 MiG-29K, 12 Harrier, 9 Ka-31AEW, 22+5 Sea King, 6 SH-3H, 7 Ka-25, 13 Ka-28; 3 Il-76 Phalcon, 7 Il-78; 3 C-17, 17 Il-76, 6 C-130, 109 An-32; 27 Mi-35, 4+20 Rudra; 150+9 Mi-8/17, 3 Mi-26, 47+8+45+9 Dhruv, 34+48 SA-315, 55+60+18 SA-316, 12 Lance

Angkatan Udara India adalah salah satu contoh angkatan udara yang berhasil membangun air powernya secara signifikan terbukti dengan bertengger di nomor 4, ini tidak terlepas dari faktor-faktor pendorong yang spesifik antara lain : Pertama adanya “Konflik Abadi” dengan Pakistan yang mendorong Pemerintah India banyak menggelontorkan milyaran dolar untuk belanja alut sista, Kedua meskipun India bukan negara komunis namun mendapatkan banyak pasokan persenjataan yang terbaik dari Rusia dahulu Uni Soviet,nampaknya ini buah dari kesetiaan mereka terhadap produk-produk Rusia meskipun demikian mereka tetap bisa “smart shopping”  Faktor Ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah peran Industri Dirgantara Hindustan  Aeronautics Limited (HAL) yang diawal berdirinya Oktober tahun 1964  diberi modal US$ 72 Juta dan di tahun 2014 Revenuenya menjadi:  US$ 2.8 Milyar, Net income: US$ 420 Juta, Total equity: US$ 2.4 milyar dan memperkerjakan: 32.108 orang dan sudah berhasil melakukan rancang bangun mandiri pesawat fighter yakni HAL Tejas Light Combat Aircraft.

HAL Tejas Light Combat Aircraft diproyeksikan untuk mengganti sekitar dua ratusan pesawat MiG 21 Fishbed.


Republic Singapore Air Force (RSAF} Peringkat ke 23 (Th 2013) Didirikan 1 September 1968

RSAF Crest
Peringkat No. 23. Singapore, Point : 130.2
24 F-15E, 74 F-16, 41+8 F-5; 4 E-2, 4 KC-135, 5 KC-130; 5 C-130; 20 AH-64, 12 CH-47, 6 S-70, 22+12 AS-332

Republic Singapore Air Force adalah contoh keberhasilan lain, berbeda dengan Angkatan Udara India yang menjadi faktor terpentingnya adalah kemampuan dan keberhasilan mereka mengelola sumber daya manusianya tidak saja terbatas dilingkungan angkatan bersenjatanya bahkan lebih jauh secara nasional., hal ini menjadikan Negara Singapura menjadi negara termaju.secara ekonomi di Asia Tenggara, RSAF menjadi angkatan udara yang efisien yang fokus pada beberapa jenis pesawat saja, bahkan lebih jauh RSAF sudah bersiap-siap mengoperasikan jet tempur generasi ke 5 yakni F-35 Lighning II.

Saat ini yang menjadi Back Bone RSAF adalah F-16D Block 52+ Fighting Falcon dan F-15SG Eagle



Vietnam People’s Air Force Peringkat ke 29 (Th 2013)

Không Quân Nhân Dân Việt Nam
Peringkat No. 29. Vietnam, Point : 99.6
24 Su-30, 10 Su-27, 200 MiG-21; 145 Su-22, 8 Yak-130; 45 An-26, 11 M-28; 36 Mi-24, 69+67 Mi-8/17, 8 SA-330/332, 15 UH-1, 6 AS-365, 7 Ka-27

Angkatan Udara Rakyat Vietnam juga merupakan salah satu contoh peningkatan air power yang cukup signifikan dan mempunyai latar belakang sejarah yang mirip dengan TNI AU yakni sebagai angkatan udara yang lahir dan dibesarkan dalam kancah revolusi. Adapun pencapaian dari AU Vietnam adalah banyak menghasilkan Aces saat Konflik Indochina, penerbang-penerbang AU Vietnam dengan menggunakan pesawat MiG-17 (teknologi tahun 50an) bisa menembak jatuh pesawat F-4 Phantom II (teknologi tahun 60an), ini membuktikan bahwa faktor manusia sangat penting dalam air power suatu angkatan udara,


Luu Huy Chao dan Le Hai, Pilot NVAF MiG 17, masing-masing diberi penghargaan untuk 6 kemenangan di udara melawan pesawat-pesawat Amerika diatas ruang udara Vietnam Utara.


Tentara Nasional  Angkatan Udara TNI AU Peringkat tidak diketahui (Th 2013), Didirikan 9 April 1946
 Bhuawana Paksa
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
Peringkat tidak diketahui. Indonesia, Point : 38.3
11 Su-30, 5 Su-27, 10 F-16, 11 F-5; 25 BAE Hawk; 10 C-130, 6 L-100, 18+3 CN-235; 11 AS-330, 8 Be-412, 4 Be-204, 9 AS-332, 20 EC-120, 20 Be-412

Dalam perjalanannya TNI AU mengalami masa-masa pasang surut, idealnya airpower suatu angkatan udara tidak boleh menurun atau setidak-tidaknya dapat terus dipertahankan,,dimasa lalu TNI AU sempat disegani karena air powernya diperkuat pesawat-pesawat maju dijamannya seperti MiG-21 Fishbed dan Pembom Tu-16 Badger.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara sebenarnya memiliki dua modal dasar yang tidak kalah dengan air force negara lain bahkan secara historical gain cukup menonjol dan membedakan dengan air force lainnya sebagai air force yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kancah revolusi tidak semua air force memiliki background seperti ini, dan berikut pencapaian secara historis.

Peristiwa 29 Juli 1947
Peristiwa heroik 29 Juli 1947 sejatinya merupakan perlambang Bhakti Tertinggi TNI AU terhadap Bangsa dan Negara Republik Indonesia disaat Bangsa dan Negara sedang berjuang mempertahankan Kemerdekaan (menghadapi agresi militer Belanda). Pada saat itu TRI AU baru berumur kurang dari 15 bulan akan tetapi Pimpinan dan segenap Anggota TRI AU tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk segera memenuhi Panggilan Tugas.

Bermodal pesawat rongsokan peninggalan Jepang, Pimpinan TRI AU saat itu Komodor Udara Rd. Soerjadi Soerjadarma beserta staf merencanakan Air Strike pertama dalam sejarah TNI AU terhadap posisi-posisi militer Belanda, dengan mensiasati keterbatasan-keterbatasan maka dirancang serangan udara dilakukan pada dini hari untuk menghindari kejaran Kitty Hawk Belanda (ini merupakan taktik gerilya di udara) dan selanjutnya rencana air strike tersebut dilaksanakan dengan gagah berani oleh Penerbang-Penerbang TRI AU dengan dibantu Kru, meskipun menjelang senja harinya militer Belanda melakukan pembalasan dengan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA sehingga menyebabkan gugurnya para Pahlawan.
Menembak jatuh Allen Pope

P 51 Mustang Ign Dewanto menyergap B 26 Invaders Allen Pope

Satu momen bersejarah lainnya adalah  saat AURI menumpas pemberontakan Permesta adalah ketika seorang penerbang AURI dapat menembak jatuh sebuah pesawat B 26 Invander AUREV.  Pagi itu, pada tanggal 18 Mei 1958 di Pangkalan Udara Liang, Kapten Udara Ignatius Dewanto tengah bersiap di kockpit P-51 Mustang. Dia ditugaskan menyerang pangkalan udara AUREV di Sulawesi Utara. Hanya beberapa saat sebelum Dewanto take off menuju Manado, dia menerima sebuah berita yang memaksanya membatalkan serangan ke Manado dan harus mengarahkan pesawat ke Ambon karena kota tersebut dibom oleh B-26 Invader AUREV. Ketika berada di atas udara Ambon, Dewanto melihat  asap mengepul di mana-mana. Puing-puing berserakan, menandakan baru saja terjadi serangan udara terhadap Ambon. Pesawat kemudian dibawa untuk berputar-putar sejenak, B-26 Invader AUREV tidak terlihat. Kemudian pesawatnya diarahkan ke barat. Ferry tank dilepas untuk menambah kelincahan pesawat.


Dewanto terbang rendah, saat pandangannya tertuju ke konvoi kapal ALRI, sekelebat dilihatnya pesawat B-26 Invader AUREV. Pesawat tersebut ternyata tengah melaju ke arah konvoi kapal ALRI tersebut. Dewanto terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26 tersebut. Walau sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan dia, Kapten Dewanto segera menembak dengan roketnya, tapi meleset yang kemudian disusul dengan tembakan 12,7 mm, karena tembakan rentetan dan jaraknya sudah lebih dekat kemungkinan kena lebih besar. Alhasil, B-26 yang diterbangkan seorang serdadu bayaran bernama Allen Lawrence Pope beserta juru radio Hary Rantung (bekas AURI), terbakar dan tercebur ke laut. Posisi  jatuhnya pesawat B-26 tersebut pada koordinat 03.40 LS dan 127.51 BT. Dewanto yakin peluru 12,7 mm nya mengenai sasaran, hal ini dikuatkan dengan adanya asap yang mengepul keluar dari badan pesawat. Sementara dua awak pesawat B-26 kelihatan meloncat menggunakan parasut. Sewaktu berusaha mendarat payung Allen Pope menyangkut di pohon kelapa di Pulau Tiga, ketika hendak turun dari pohon kelapa ia terhempas ke batu karang sehingga kakinya patah dan badannya luka-luka. Sementara yang seorang lagi operator Radio Harry Rantung bekas anggota AURI juga jatuh ke laut kemudian dapat berenang ke tepi, akhirnya keduanya dapat ditangkap. (meskipun epic yang sama diklaim juga oleh TNI AL tetapi penulis lebih meyakini versi TNI AU nya}

Pencapaian historically TNI AU secara kwantitatif relatif berada dibawah AU Vietnam tetapi dampak historically justru lebih besar karena meskipun AU Vietnam banyak menghasilkan aces tetapi itu tidak terlepas dari situasi kondisi saat itu yang diwarnai tarik menarik blok barat dan blok timur, sedangkan Negara Indonesia saat itu berada diluar tarik menarik antar blok tersebut dengan kata lain TNI AU melakukan segalanya tanpa bantuan asing sehingga lebih “origin” dan “authentic”.

Program KFX-IFX
Saat ini Pemerintah Indonesia sedang berupaya melakukan riset pembuatan pesawat fighter generasi 4.5 setelah di tawarkan kerjasama oleh Pemerintah Korea Selatan untuk ikut serta dalam proyek kerjasama KFX-IFX, Pihak Indonesia berharap Program KFX-IFX ini menjadi jembatan untuk bisa berswasembada fighters.

Program kerjasama ini membutuhkan biaya total US$ 5 Milyar, dimana Indonesia dikenakan kontribusi sebesar 20% dari total biaya atau sebesar US$ 1 Milyar untuk jangka waktu 2011-2020, program ini dimulai pada Agustus 2011, dengan tahapan kerjasama :
•    Tahap Technology Development (TD), 2011-2013
•    Tahap Engineering and Manufacturing Development (EMD), 2013-2019
•    Tahap Production, 2019-2024

Adapun dari segi pelaksanaan anggaran, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan anggaran untuk pelaksanaan program kerjasama ini sebesar US$ 10 Juta dengan rincian TA. 2011 sebesar US$ 2,7 Juta dan TA 2012 sebesar US$ 7,3 Juta, adapun DIPA TA 2013 pagu yang telah dialokasikan sebesar Rp. 1,! Trilyun

Namun demikian Pihak Korsel secara sepihak melalui DAPA (Defense Acquisition Programme Administration), lembaga ristek yang bernaung dibawah Kemhan Korsel menyatakan menunda tahap EMD, dengan alasan belum ada persetujuan anggaran dari Parlemen Korsel. Seharusnya Pihak Indonesia dapat mengantisipasi kemungkinan ini dikarenakan sudah cukup banyak mengeluarkan anggaran bahkan lebih jauh hal ini dapat mendorong rancang bangun secara mandiri seperti yang dilakukan Pemerintah India dengan HAL Tejas LCA nya.


KFX-IFX
http://fc00.deviantart.net/fs70/f/2014/221/2/8/kfx___ifx_01__c103__6_view_international_color_by_haryopanji-d7twncw.jpg
Archipelago Power
Sudah saatnya ke Tiga Matra TNI duduk bersama merumuskan powernya masing-masing melalui perumusan Doktrin Pengembangan (Developing Doctrine) dan Rencana Pengembangan (Developing Plan) untuk menghindari tumpang tindih tugas atau peran, misalnya untuk peran counter insurgent (coin) jika sudah “diambil” oleh TNI AD (Penerbad) dengan Mi-35 nya, maka TNI AU tidak perlu ikut mengambil peran sama dengan Skuadron Taktis nya (Super Tucano dahulu OV-10 Bronco). Sehingga TNI AU bisa lebih fokus dalam perannya menjaga Ruang Udara Nasional antara lain dengan lebih banyak pesawat fighternya, karena penggunaan budget menjadi lebih efisien, meskipun ini tidak mudah karena “ego sektoral” harus dihapuskan di tiga Matra TNI.
Berikutnya Program IFX harus terus dilanjutkan dengan atau tanpa Pihak Korsel karena sudah cukup banyak menyedot anggaran, pengalaman India mengembangkan National Fighter HAL Tejas LCA dapat dijadikan benchmark.
Sehingga didapat Air Power TNI AU + Sea Power TNI AL + Land Power TNI AD = Archipelago Power
Archipelago Power didefinisikan sebagai Kemampuan Pertahanan Negara Kepulauan yang bertumpu pada Sinergitas Kekuatan Udara, Kekuatan Laut dan Kekuatan Darat dari Tentara Nasional Indonesia.
Dirgahayu 69 Tahun TNI AU Swa Bhuawana Paksa !

Penulis : Moh. Abriayanto
Sumber-sumber :
•    Wikipedia
•    http://fc00.deviantart.net/fs70/f/2014/221/2/8/kfx___ifx_01__c103__6_view_international_color_by_haryopanji-d7twncw.jpg
•    http://www.mindef.gov.sg/imindef/mindef_websites/atozlistings/air_force/index.html
•    http://www.hal-india.com/
•    http://www.quocphonganninh.edu.vn/tabid/89/catid/404/item/2850/nhung-buc-ky-hoa-nuoc-ngoai-di-vao-mai-mai.aspx
•    http://forums.military.com/eve/forums/a/tpc/f/8001934822/m/7140064703001

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala