Berita Indonesia Mandiri

Giliran Metromini Melebur ke Transjakarta

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Setelah akhir 2015 bis berukuran sedang dengan warna hijau bertuliskan Kopaja dikelola bersama oleh manajemen Transjakarta (TJ), kini Metromini sedang menghitung hari untuk melebur ke dalam TJ juga.

Kamis lalu (18/2), 40an pemilik Metromini bertatap muka dengan manajemen TJ di Balaikota Pemrprov DKI Jakarta. Intinya, bis Metromini yang jumlahnya lebih 1.000 unit ini dan kepemilikannya beragam (bisa perorangan, paguyuban atau PT), akan ditata lebih rapi, aman dan bertanggungjawab dalam melayani masyarakat ibukota negara ini.

Tingginya tingkat kecelakaan dan berbagai keluhan masyarakat atas layanan dari Kopaja maupun Metromini, memang sudah lama membuat Gubernur DKI Jakarta beserta jajarannya geram. Kini, Basuki T. Purnama atau Ahok, selaku Gubernur DKI Jakarta berusaha lebih tegas lagi dalam menata angkutan kota berbasis bis ini.

Dengan kian maju dan profesionalnya pengelolaan manajemen TJ dari tahun ke tahun, dan masyarakat juga kian merasakan kenyamanan layanannya, maka Pemprov DKI Jakarta melihat perlunya penataan lebih terpadu lagi dengan bis pendukung jurusan lintasan yang belum dilewati oleh TJ. Nah, sasaran utamanya adalah dengan meningkatkan layanan bis seperti Kopaja dan Metromini. 

“Transjakarta adalah satu-satunya BUMD yang ditugaskan Pemprov DKI Jakarta untuk menata seluruh layanan transportasi yang ada di Jakarta. Membuat struktur  paling baik yang kira-kira sesuai dengan kemauan pemilik dan pengurus metromini tanpa mengurangi standar layanan Transjakarta”, ungkap Dirut Transjakarta Budi Kaliwono, saat bertemu dengan awak media setelah bertatap muka dengan pemilik Metromini.

Pertemuan dengan pemilik dan pengurus metromini ini  sebagai langkah awal integrasi metromini ke dalam manajemen TJ. Hal ini  penting dilakukan  untuk menyamakan persepsi  semua pemilik metromini . Pihak TJ mencari akan tahu terlebih dahulu apa saja yang menjadi harapan para pemilik kendaraan medium ini. Karena diasumsikan pemilik bis memiliki kepentingan berbeda beda satu sama lain. Mulai dari kepentingan investasi, keinginan menjadi pengemudi atau tidak menutup kemungkinan ada juga  berkeinginan memiliki armada bis sendiri. Jika sudah satu persepsi untuk bergabung dalam wadah di bawah manajemen TJ, maka akan lebih mudah merestrukturisasi Metromini melebur ke dalam TJ.

Untuk itu TJ akan segera membentuk wadah guna mengurus banyak, seperti membantu memberi advis mengenai skema pinjaman kepada pihak leasing, proses LKPP, APM bus hingga karoseri terbaik yang akan ditunjuk oleh TJ dan lain lain. Ketua Forum Komunikasi Pemilik Metromini, Rimhot Siagian dalam  kapasitasnya mewakili pemilik bus metromini, menyambut baik dan antusias untuk bergabung di bawah manajemen TJ. “Pada prinsipnya seluruh pemilik metromini ini setuju dan mendukung program pemerintah untuk terintegrasi dengan busway. Hal ini sudah kami nyatakan juga kepada Kepala Dinas Perhubungan, PTSP dan DPRD DKI Jakarta”,  sambungnya (abri).
Foto: abri

Share:

Alfamart Sumbang Bis Wisata

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Bis tingkat dengan logo biru warna khas Transjakarta (TJ) serta ada logo Alfamart, diluncurkan Januari 2016 sebagai bukti bakti manajemen PT Sumber Alfatia Trijaya Tbk kepada masyarakat DKI Jakarta. Penyerahan ini disaksikan dan dilepas langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama dari halaman Balaikota dengan membawa anak-anak penderita kanker serta penyandang disabilitas (cacat tubuh) berwisata ke Kota Tua dan Monumen Nasional.
“Kami ingin membagi keceriaan sekaligus memperkenalkan wisata kota Jakarta kepada masyarakat luas, khususnya wisatawan yang datang ke ibukota,” ujar Solihin, Corporate Affairs Director Alfamart. Bis tingkat bermerek Mercedes Benz OC-500 RF 2542 seharga hampir empat miliar rupiah ini didatangkan langsung dari pabriknya di Jerman.
“Bis didesain spesifik sesuai dengan standar bus city tour yang telah beroperasi, mulai dari kapasitas hingga fasilitasnya. Bis ini juga ramah bagi penyandang disabilitas karena dilengkapi dengan lantai dan jok lipat,” tambah Solihin.
Manajemen Alfamart menyumbangkan bis tingkat wisata ini merupakan bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan kepada masyarakat luas. Setelah diberikan kepada Pemprov DKI Jakarta, untuk pengelolaan operasional dan perawatan setiap harinya diserahkan kepada TJ.
Sebelumnya, bis tingkat wisata juga pernah disumbangkan oleh perusahaan lainnya. “Sekarang jumlahnya masih terbatas. Nanti kalau sudah bertambah banyak, rute yang dilewati akan kita perluas lagi,” kata Budi Kaliwono, Dirut TJ.
Rato Simo, penyandang disabilitas sekaligus Ketua Yayasan Daksa Kreatif, sangat menyambut baik adanya bis tingkat wisata dengan juga memberikan layanan untuk masyarakat berkebutuhan khusus ini. Namun ia juga mengkritisi bahwa penyediaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas pada sarana TJ belum memadai. “Khusus bagi pengguna kursi roda, arti penunjang sarana untuk mencapai bis TJ masih mengalami kesulitan, yakni pada ram (jembatan) menuju bis,” tegas Rato.
Harus diakui memang hanya ada beberapa sedikit halte saja dari TJ yang memudahkan bagi pengguna kursi roda untuk mencapainya. Ini bisa menjadi catatan tersendiri bagi manajemen TJ kedepan, agar memberikan ruang atau halte khusus bagi pengguna kursa roda. Karena di dalam bis TJ, sudah ada ruang untuk pengguna kursi roda (abri).
Foto: abri
Share:

Alfamart Sumbang Bis Wisata

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Bis tingkat dengan logo biru warna khas Transjakarta (TJ) serta ada logo Alfamart, diluncurkan Januari 2016 sebagai bukti bakti manajemen PT Sumber Alfatia Trijaya Tbk kepada masyarakat DKI Jakarta. Penyerahan ini disaksikan dan dilepas langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama dari halaman Balaikota dengan membawa anak-anak penderita kanker serta penyandang disabilitas (cacat tubuh) berwisata ke Kota Tua dan Monumen Nasional.

“Kami ingin membagi keceriaan sekaligus memperkenalkan wisata kota Jakarta kepada masyarakat luas, khususnya wisatawan yang datang ke ibukota,” ujar Solihin, Corporate Affairs Director Alfamart. Bis tingkat bermerek Mercedes Benz OC-500 RF 2542 seharga hampir empat miliar rupiah ini didatangkan langsung dari pabriknya di Jerman.

“Bis didesain spesifik sesuai dengan standar bus city tour yang telah beroperasi, mulai dari kapasitas hingga fasilitasnya. Bis ini juga ramah bagi penyandang disabilitas karena dilengkapi dengan lantai dan jok lipat,” tambah Solihin.

Manajemen Alfamart menyumbangkan bis tingkat wisata ini merupakan bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan kepada masyarakat luas. Setelah diberikan kepada Pemprov DKI Jakarta, untuk pengelolaan operasional dan perawatan setiap harinya diserahkan kepada TJ.

Sebelumnya, bis tingkat wisata juga pernah disumbangkan oleh perusahaan lainnya. “Sekarang jumlahnya masih terbatas. Nanti kalau sudah bertambah banyak, rute yang dilewati akan kita perluas lagi,” kata Budi Kaliwono, Dirut TJ.

Rato Simo, penyandang disabilitas sekaligus Ketua Yayasan Daksa Kreatif, sangat menyambut baik adanya bis tingkat wisata dengan juga memberikan layanan untuk masyarakat berkebutuhan khusus ini. Namun ia juga mengkritisi bahwa penyediaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas pada sarana TJ belum memadai. “Khusus bagi pengguna kursi roda, arti penunjang sarana untuk mencapai bis TJ masih mengalami kesulitan, yakni pada ram (jembatan) menuju bis,” tegas Rato.

Harus diakui memang hanya ada beberapa sedikit halte saja dari TJ yang memudahkan bagi pengguna kursi roda untuk mencapainya. Ini bisa menjadi catatan tersendiri bagi manajemen TJ kedepan, agar memberikan ruang atau halte khusus bagi pengguna kursa roda. Karena di dalam bis TJ, sudah ada ruang untuk pengguna kursi roda (abri).
Foto: abri

Share:

Taring Dirjen PSDKP Kian Tajam

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus secara serius menangkapi kapal-kapal yang menjarah sumber daya laut nusantara. Salah satu unit KKP yang super sibuk setahun terakhir ini adalah Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).

Di awal 2016, dalam laporannya ke media, Dirjen PSDKP Asep Burhanudin beserta jajarannya mengungkapkan bahwa pelaksanaan pengawasan sepanjang 2015 dengan 27 armada yang dimilikinya, telah berhasil melakukan pemeriksaan terhadap 5.206 kapal perikanan di laut. Dari jumlah itu, telah dilakukan proses hukum kepada 157 kapal yang melakukan illegal fishing, di mana terdiri dari 84 kapal ikan asing (KIA) dan 73 kapal ikan Indonesia (KII).

Lebih konkritnya lagi, menurut Asep, yang menangkap semua itu merupakan gabungan kerja antar beberapa unit yang ada. Misalnya, 118 kapal ditangkap dari hasil operasi mandiri PSDKP, satu kapal limpahan dari TNI AL, 18 kapal dari Polisi Air, tujuh kapal dari Bakamla (Badan Keamanan Laut), delapan dari Dinas Kelautan dan Perikanan, empat dari Bea dan Cukai serta satu dari Polisi Kehutanan.

Memasuki 2016, Dirjen PSDKP memperkuat lagi jajarannya dengan menambah Kapal Pengawas berukuran 60 meter sebanyak empat unit melalui program Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia (SKIPI), dan rencananya April ini sudah dapat beroperasi. Selain itu, juga akan diperkuat pembangunan speedboat pengawasan sebanyak lima unit serta satu kapal pengawas berukuran 140 meter.

Disamping itu, Dirjen PSDKP di 2016 juga akan membantu memelihara pengelolaan sumber dsaya kelautan dan perikanan.  Soal penambangan pasir laut, pasit timah serta benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) juga diawasi secara ketat.  “Kami juga sangat menaruh perhatian khusus untuk soal pasir laut, pasir timah, dan BMKT ini,” sambung Aedisyahmeta, Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan, yang juga berada di bawah jajaran Dirjen PSDKP.

Belum lama ini, Menteri KKP, Susi Pudjiastuti, pun member perhatian khusus agar kedaulatan perairan nusantara dijaga bersama, baik oleh Kementeriannya, TNI AL, Kepolisian, Bakamla, Bea Cukai dan juga tentunya nelayan. Bahkan pada akhir Februari ini, rencananya akan menenggelamkan lagi 23 kapal pencuri ikan illegal.

“Kita membuat ekonomi perikanan dari Thiland turun 3,1 persen dan Cina turun 4,5 persen,” tegas Susi saat acara Forum Bisnis Perikanan baru-baru ini di Jakarta (abri)

Share:

Aksi Bakamla Amankan Perairan Nusantara

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Dalam waktu sepekan dengan waktu yang sama pada 4 Februari 2016 dan tempat yang berbeda, Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI telah menangkap dua kapal di wilayah tugas Kantor Kamla Zona Maritim Barat dan Kantor Kamla Zona Maritim Tengah yang berpotensi melakukan pelanggaran. Di masing-masing pelanggaran terdapat indikasi penyalahgunaan dokumen manifest, alat tangkap, dan hasil tangkapan.

Kapal KM. VERPAT dengan jumlah ABK (anak buah kapal) tujuh orang, ditangkap di wilayah Kantor Kamla Zona Maritim Barat, 00.44.58 U – 103.40.96 T, di Perairan Kepulauan Riau dengan pelanggaran menyalahgunakan dokumen manifest dan sekarang posisinya sedang diproses oleh Kanwil Bea & Cukai Tanjung Balai Karimun (TBK). Sedangkan Kapal yang ditangkap di wilayah Kantor Kamla Zona Maritim Tengah, diperairan Sulawesi Selatan, di mana pelaku menggunakan perahu Jolor dengan ABK tiga orang.

Kantor Kamla Zona Maritim Tengah bekerja sama dengan Direktorat Polisi
Air Badan Pemelihara Keamanan Polri, menangkap tiga nelayan di perairan Karang Batu Pase, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (4/2), serta ditemukan barang bukti sekitar 17 ekor hiu termasuk ada satu hiu koboi yang dilindungi dan juga sirip hiu yang telah dikeringkan. Ketiganya dituding telah merusak terumbu karang.

Kasubdit. Penyelenggara Operasi Laut, Kolonel Maritim Joko Triwanto, menjelaskan ketiga nelayan yang berasal dari Desa Maralek adalah Ansar bin Sabaruddin (31), Arham bin Sabaruddin (30) dan Syamsudin bin Sanudin (26). Ketiga ABK tersebut telah melanggar pasal 21 ayat 3 huruf B Sub Pasal 98 ayat 1 UU RI Nomor: 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pasal 73 UU RI Nomor: 27 Tahun 2007 tentang Pesisir dan Pulau-pulau Terpencil Kawasan Konservasi, serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 59/PERMEN-KP/2014 tentang larangan pengeluaran ikan hiu koboi (Carcharhinus longimanus) dan hiu martil (Sphyrna spp.) dari wilayah Negara Republik Indonesia ke luar Wilayah Negara Republik Indonesia (taruna).

Foto: Dok Humas Bakamla

Share:

Dari Anti Pembajak Udara Sampai Pasukan Elit Serba Bisa

Kelapa Dua, Depok (IndonesiaMandiri) – Bermula dari keinginan Polri, terutama Polda Metro Jaya (Jakarta) untuk memiliki satuan khusus polisi untuk tanggulangi pembajakan udara di era 70an, maka dibentuklah ATBARA (Anti Pembajakan Udara) pada 27 November 1974. .  Dalam perkembangannya, ATBARA kemudian ditingkatkan kualitas kemampuannya seiring dengan tantangan dan ancaman, sehingg pada 1976 dirubah namanya menjadi Satuan Gegana dan masih dibawah Polda Metro Jaya. Lalu di 1984 menjadi Detasemen Gegana tetapi sudah di bawah kendali Brimob  Mabes Polri. Dan saat Polri berpisah dengan TNI (2000), Gegana pun mengalami perkembangan yang cukup pesat serta kemudian pada Tahun 2000 menjadi Resimen 1 Gegana Korps Brimob Polri yang memiliki  lima Detasemen yakni  Res Intel, JiBom, WanTeror, Anti Aanarkis dan KBR (Kimia, Biologi & Radio Aktif).

Markasnya pun yang semula sekitar Petamburan, Slipi, kemudian sejak 1987 berpindah ke Kelapa Dua, Depok, bergabung dengan Markas Brimob. Ketika masih sekelas Detasemen, pimpinannya berpangkat Letnan Kolonel dan kini setelah menjadi Resimen, Gegana dipimpin berpangkat Kolonel atau Komisaris Besar. Kini, Kombes Drs. Imam Widodo yang menjabat sebagai Kasat Gegana.

Soal kemampuan pasukan Gegana, tentunya turut diasah terus sesuai dengan tantangan dan ancaman yang ada di muka bumi ini. Tak berlebihan bila Gegana disebut sebagai “Pasukan Pamungkas” nya Polri.  Pasukan elit yang serba bisa ini, memang kaya dengan pengalaman dan ketrampilan (baca juga: wawancara dengan Kasat Gegana). “Selesai tugas, kita langsung menghilang. Kenapa kita ada tapi dianggap tidak ada. Faktor keamanan dan kerahasiaan yang menjadi pertimbangannya. Itu doktrin awal. Benderanya terserah. Kesatuan ini didesain memang begitu. Ini andalannya Polri,” tegas Imam.

Tak heran, pasukan Gegana menyebar di semua sektor-sektor strategis guna mengamankan aset negara dan bangsa. Karena pasukan elit, jumlahnya juga terbatas. Keterbatasan ini menjadi kunci efektif dalam strategi bertempur melawan musuh negara, karena kemampuan intelegensia seorang pasukan Gegana dinilai di atas rata-rata pasukan Polri umumnya (disamping kesehatan fisik yang prima).  Terbatas juga bukan berarti anti pemekaran. Tetapi tetap disesuaikan dengan jumlah pasukan Polri yang ada secara keseluruhan di Tanah Air ini.

“Karena setiap seorang Gegana harus dapat mengambil tindakan yang bijak dan cepat. Jadi harus di atas rata-rata. Inteligensia di bawah dari lahir. Ini yang sulit. Saringan utama ada di situ. Setelah itu baru fisik. Semua harus di atas rata-rata,” sambung Imam. Setelah enam bulan digodok dalam proses kualifikasi yang ekstra ketat, baru ditentukan apakah seorang bisa dipilih. Lalu ada tradisi pemasangan pin atau tanda khusus Gegana. Memang ada anggota tapi belum berhak mendapatkan pin. Saringan untuk masuk menjadi Gegana bisa secara regular, lalu dari Akademi Kepolisian, atau sumber sarjana (sesuai dengan kebutuhan kita), misalnya ahli bahan kimia atau nuklir.  Untuk yang terakhir itu, di Gegana juga sudah  ada keahlian khusus tersebut.

Di setiap Brimob yang menyebar di seantero Indonesia, ada satu detasemen Gegana. “Kita tidak perlu nama besar karena kita sudah besar. Kita tidak perlu dikenal karena sudah dikenal. Kita masuk di semua lini. Yang penting republik ini aman,” ujar Imam lagi.

Dengan model seperti itu, pasukan Gegana memang layak dikatakan serba bisa. “ Kalau kita sudah turun, tidak ada yang tidak bisa. Harus bisa,” begitu kira-kira membaca kemampuan Gegana. Berbagai operasi penting sudah dilalui oleh Gegana di Ibu Pertiwi ini. Dan ada pula yang kembali ke rumah tinggal namanya saja karena gugur saat bertugas untuk negara dan bangsa.

Personel Gegana yang gugur diantaranya adalah: Di Aceh saat diberlakukan Daerah Operasi Militer Sertu Anumerta Eko Handru, Sertu Anumerta Heri Santoso, Sertu Anumerta Heriyadi, Bharatu Anumerta Joko Suryono, Sertu Anumerta Novel Pangaribuan, Bharatu Anumerta Joko Pitoyo, Brigadir Anumerta Boas Woisiri (saat penggebrekan pelaku teroris di Pegunungan Janto, Aceh); Di Solo, Briptu Anumerta Suherman; Di Papua, Briptu Anumerta Ferianto M. Kaluku

“meskipun Kami dihadapi kendala-kendala keterbatasan Kami tetap semangat!” tegas sang Kasat Gegana kembali menekankan. Karena, motto pasukan adalah: SETIA, TABAH, WASPADA (anries/abri).

Foto: abri

Share:

“Kita Pasukan Pamungkas Polri…Benteng Terakhir”

Kelapa Dua (IndonesiaMandiri) – Bila berkunjung ke Satuan Gegana Korps Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Republik Indonesia, janganlah terkejut dengan suara ledakan atau senjata yang menyalak secara tiba-tiba. Karena lokasi Sat Gegana di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok (Jawa Barat), memang paling belakang dan bersebelahan dengan tempat latihan menembak serta uji bahan peledak.

Saat IM mendapat kesempatan langka untuk liputan sekaligus wawancara eksklusif dengan orang nomor satu  di Satuan Gegana, Kombes Drs. Imam Widodo, ternyata beliau baru saja selesai olahraga rutin. “Maaf saya baru selesai berolahraga…masih berkeringat”  ujar Kepala Satuan (Kasat) Gegana ini membuka sesi wawancara.

Imam Widodo, pria asal Malang kelahiran 1967 ini, sekilas tak terkesan “angker” sebagai pimpinan satuan paling elit dan pamungkas di Polri. Bisa dikatakan sangat santun, ramah dan penuh canda saat kami berdiskusi.  Ia baru saja kembali tugas dari  daerah konflik  di Sulawesi Barat (Poso ).

Berikut jalannya wawancara IM dengan orang nomor satu di Satuan Gegana:

IndonesiaMandiri (IM) : Apa Tugas Pokok dan Fungsi dari Satuan Gegana?
Kepala Satuan Gegana (Kasat) : Satuan Gegana adalah salah satu unsur pelaksana utama di jajaran Korbrimob Polri yang memiliki tugas pokok membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi. Khususnya kejahatan terorganisir yang menggunakan senjata api, bahan peledak dan bom serta kejahatan yang menggunakan bahan kimia, biologi dab radiologi baik dalam skala nasional maupun internasional.

IM : Dalam ”War Against Terrorism” di Indonesia posisi  Satuan Gegana berada dimana?
Kasat : Satuan I Gegana dalam hal peperangan melawan terorisme (war against terrorism) berperan sebagai tim penindak (striking force) serta dalam penanganan bahan peledak/bom serta bahan kimia, biologi dan radiologi.

IM : Bilamana  Satuan Gegana diturunkan? Komando (perintah) dari mana?
Kasat :  Pada saat satuan wilayah membutuhkan back up sesuai dengan ancaman atau kejadian yang terkait dengan tugas pokok satuan Gegana. Sedangkan komando perintah dari Kepala Korbrimob Polri kepada Kasat I Gegana.

IM : Seberapa besar kekuatan  Sat Gegana? Bagaimana struktur Sat Gegana dan Tupoksi masing-masing?
Kasat : Sat I Gegana terdiri dari lima Detasemen yang memiliki kemampuan seperti Resintelmob (Reserse Intelijen Mobil), Jibom (Penjinak Bom), Wanteror (Lawan Teror), Anti Anarkis dan KBR (Kimia, Bilogo, Radiologi).

IM : Bila dibandingkan dengan di Negara lain (misalnya Singapura dan Malaysia)Sat Gegana memiliki Counter Part serupa apa?
Kasat :  Untuk kemampuan Sat I Gegana setara dengan kemampuan STAR (Special Tactic and Rescue) Singapura atau VAT (Very Able Troopers) 69 Malaysia

IM : Dari mula berdirinya Sat Gegana 27 November 1974, palagan operasi apa saja yang sudah dilaksanakan?
Kasat :  Untuk lingkungan internasional, pernah terlibat di Kamboja (UNTAC), Bosnia Herzegovina, Sudan (UNAMID), Timor Leste saat penangkapan pelaku penembakan Perdana Menteri Ramos Horta. Sedangkan di dalam negeri, ikut dalam berbagai operasi penting di Aceh, Pulau Galang (Batam), Timor Timur, Poso, Ambon, Papua, Sampit (Kalimantan), serta penanggulangan terorisme.

IM : Jika disejajarkan dengan pasukan pasukan TNI Sat Gegana sejajar dengan satuan apa?
Kasat : sama dengan Sat 81 (Angkatan Darat), Den Jaka (Angkatan Laut) dan Den Bravo (Angkatan Udara)

IM : Bagaimana proses rekrutmen dan pendidikan pembentukan personil Sat Gegana?
Kasat : Melalui seleksi kesehatan, psikotes dan jasmani serta ketrampilan khusus perorangan. Juga melalui pembinaan dan latihan selama enam bulan yang diberikan oleh personil senior Satuan I Gegana.

IM : Apakah Sat Gegana pernah atau sering mengikuti latihan bersama dengan counterpart dari negara lain? kalau ya dengan siapa? dan bagaimana?
Kasat :  Ada latihan bersama dengan GSG 9 (GrenzSchultzGruppe) Jerman pada 2003/2004 bertempat di Jakarta dan sekitarnya. Kita melakukan dengan materi latihan bersama pembebasan sandera di dalam gedung dan semua alat transportasi (kendaraan bis, kereta, pesawat terbang dan kapal laut).
Foto: abri

Share:

Hubungan Indonesia Kuwait

Hubungan Indonesia Kuwait resmi dimulai pada 28 Februari 1968. Hubungan yang lebih cenderung ke arah sektor ekonomi dan perdagangan, terutama pada energi (minyak) dan Sumber Daya Manusia (buruh migran).

Untuk memfasilitasi hubungan tersebut, Kuwait memiliki kedutaan besar di Jakarta, sementara Indonesia memiliki kedutaan besar di Kuwait City.
Kedua negara adalah anggota dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Kuwait pada 29-30 April 2006, kemudian Perdana Menteri Kuwait, Sheikh Nasser Mohammed Al-Ahmed Al-Sabah  mengadakan kunjungan balasan ke Indonesia pada 30 Mei - 1 Juni 2007.

Perdagangan dan Investasi
Kuwait mengimpor dari Indonesia, antara lain; kertas, semen, kayu lapis, karet, arang, makanan, furniture, keramik, elektronik, bahan bangunan, peralatan dapur dan peralatan rumah. Sedangkan Indonesia mengimpor dari Kuwait, antara lain; minyak dan produk minyak seperti etilena dan polimer, juga mengimpor karung dan tas, dan produk kulit kambing. Adapun volume perdagangan bilateral mencapai US$1,47 milyar pada tahun 2010. Kuwait juga menyatakan minat mereka untuk membangun kilang minyak bernilai US$7 milyar di Indonesia.
Share:

Siapakah Indonesia ?

Purwakarta (IndonesiaMandiri) Saat mampir makan di salah satu warteg, tanpa sengaja saya melihat iklan di salah satu stasiun televisi, sederhana sekali kalimatnya “Siapakah Indonesia” yang ditambahi dengan slideshow beberapa suku, sangat menggelitik & dari situ saya berfikir siapakah Indonesia ini, apakah Jawa, Sulawesi, Papua, Sumatera, atau memang kita hanya mendiami Indonesia, tapi sejatinya bukan lagi orang Indonesia.

Apakah sedemikian besarnya dampak dari luar, sehingga kita menjadi gengsi dengan nilai-nilai Indonesia kita, atau memang kurangnya info dan pengetahuan, tentang Indonesia itu sendiri, atau memang ada agenda untuk meng 'amnesia' kan kita.

Sejatinya, warga Indonesia ini cukup banyak yang masuk dalam kategori 'Lapisan Terdidik', akan tetapi sangat kecil dari lapisan tersebut, yang Indonesia, padahal seharusnya lapisan terdidiklah yang menjadi garda terdepan, dalam mengembalikan kesadaran tentang Indonesia, agar semua sadar, kita adalah Indonesia, kita sudah memiliki Nilai Adiluhung Warisan pendahulu kita, tidak peduli sejauh mana kita terpisah dengan Tanah ini, tapi hati dan perbuatan kita, tetap berdasarkan Nilai Adiluhung Indonesia itulah sejatinya orang Indonesia.

Imam-Choerul

Share:

Pasola Belum Menjadi Andalan Wisata Sumba

Jakarta (IndonesiaMandiri) BAGI masyarakat Sumba umumnya, tradisi menyaksikan dan menyelenggarakan atraksi budaya sekaligus wisata Pasola adalah sebuah acara yang sangat dinanti. Karena, Pasola yang menampilkan “perang terbuka” para lelaki dengan menunggang kuda, memiliki latar sejarah panjang dan tak sekedar menjadi tontotan adu otot belaka.
“Pasola sendiri merupakan suatu permainan saling melempar lembing dari atas kuda yang sedang dipacu kencang dan dilakukan oleh kedua kubu yang saling berlawanan. Dalam permainan Pasola tidak menganut aturan hukum namun hanya aturan adat setempat yang berlaku,” kata Drs. Yohanes Bora, M.Pd, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya.
Acara yang sudah berjalan puluhan tahun dan mengakar kuat dari kearifan lokal masyarakat Sumba ini, bahkan sudah dikenal juga oleh para wisatawan mancanegara. Sehingga, menjelang Februari dan Maret, selalu ditunggu Pasola ini. Namun sayangnya, acara ini masih minim “sentuhan” pengelolaan dengan baik dan profesional sehingga belum tampak menjadi andalan pendapatan daerah, khususnya di sektor pariwisata.
Lokasi untuk acara Pasola, pun belum dilengkapi sebuah gelanggang atau bangunan yang layak bagi penontonnya, dengan fasilitas seperti bangku yangt memadai, pagar pembatas, fasilitas toilet, dan lain-lain. Di bawah ini ada wawancara Indonesiamandiri dengan Yohanes Bora tentang persiapan Pasola pada akhir Februari dan Maret 2016.
IndonesiaMandiri (IM). Sejak kapan pertama kali Pasola diselenggarakan untuk even wisata?
Yohanes Bora (YB). Upacara adat pasola sebenarnya terdapat di dua kabupaten di Pulau Sumba yakni Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Sejak ± 50 tahun yang lalu ketika terbentuknya Kabupaten Sumba Barat pada tahun 1958, Pasola sudah dipromosikan sebagai even pariwisata. Namun ketika terjadi pemekaran Kabupaten pada tahun 2007 dan terbentuk kabupaten Sumba Barat Daya, maka wilayah Pasola ikut terbagi sesuai dengan wilayah administratif kabupaten, sehingga untuk Pasola Wanokaka dan Pasola Lamboya berada di Kabupaten Sumba Barat sedangkan Pasola Kodi berada di kabupaten Sumba Barat Daya. Ketika terjadi pemekaran kabupaten ini pada tahun 2007 dan terbentuknya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya pada tahun 2009, maka Pasola Kodi gencar dipromosikan sebagai even pariwisata.
IM.  Bisa jelaskan sekilas tentang sejarah Pasola?
YB. Tradisi adat Pasola yang terdapat di dua kabupaten ini memiliki versi yang berbeda namun ada keterkaitan yang erat. Menurut sejarah yang sering dipromosikan oleh kabupaten Sumba Barat lebih mengarah pada sejarah Pasola di wilayah Wanokaka dengan versi Skandal janda catik antar suku Wanokaka dan Suku Kodi. Namun berdasarkan ceritera masyarakat dari wilayah Kodi bahwa Pasola Kodi sudah ada lebih awal dimana sejarahnya pada waktu dahulu kala di wilayah Kodi ada seorang Dewi yang sedang diperebutkan oleh dua lelaki kakak - beradik. Kejadian tersebut terjadi di pinggir pantai dengan saling membalas pantun.
Sang Dewi tidak dapat memilih salah satu dari dua lelaki tersebut sehingga mereka saling beradu fisik. Melihat pertarungan fisik yang terjadi antara dua lelaki, sang Dewi kemudian mengambil tindakan untuk mendamaikan keduanya dengan cara menyampaikan bahwa dia tidak memilih salah satu dari keduanya karena dia menyukai kedua – duanya, dan sang dewi pun berpesan bahwa jika kalian berdua bersama keturunan - keturunanya ingin terus hidup berdamai dan hidup makmur maka pada bulan depan atau bulan mati (menurut perhitungan tanda alam), datang membawa persembahan di pantai ini ada sesuatu yang akan dilihat dipantai ini dan itulah saya (sang Dewi), namun siapa yang tidak datang maka hidupnya tidak akan makmur dan damai.
Kedua lelaki tersebut pulang ke kampung dan menyampaikan ke seluruh warga kampung mengenai pesan dari sang Dewi. Dan pada waktu yang dijanjikan kedua lelaki dan warga kampung pergi ke pantai dan mereka mendapati banyak cacing laut (disebut NYALE). Akhirnya mereka meyakini bahwa Nyale itu adalah sang Dewi yang memberikan kedamaian dan kemakmuran sehingga mereka melakukan setiap tahun pada bulan tersebut untuk memperingati sang Dewi.
Kemudian sebagai ungkapan kegembiraan dari adanya kemakmuran dan kedamaian dari sang Dewi, maka mereka melakukan sebuah permaian ketangkasan yang disebut dengan PAHOLONG (permainan saling melempar lembing dari atas kuda yang dipacu kencang) antara dua kubu, dan kedua kubu yang saling berlawanan melambangkan dua orang lelaki tersebut. Kata Paholong kemudian mengalami perubahan dialeg seiring dengan perkembangan jaman menjadi PASOLA yang kemudian dikenal dan dipakai sampai sekarang. Berdasarkan kejadian ini, maka setiap tahun sebelum acara Pasola dimulai, awalnya akan ditentukan jadwal Pasola yang dilakukan oleh Rato Nyale dengan cara mengamati tanda alam berupa bulan mati atau munculnya purnama raya dan diikuti dengan acara berbalas pantun di pantai (disebut Kawoking) sambil menunggu pagi untuk memungut Nyale atau cacing laut yang muncul di pinggir pantai setiap bulan februari dan setelah itu baru dilakukan acara adat Pasola sebagai puncak dari urutan acara adat.
Dalam permainan Pasola tidak menganut aturan hukum namun hanya aturan adat setempat yang berlaku, ketika terjadi kecelakaan atau ada peserta yang terluka maka orang tersebut dianggap telah melanggar aturan-aturan adat yang telah ditetapkan dan penyelesaiannyapun dilakukan secara adat. Kepercayaan masyarakat bahwa darah yang tertumpah dalam arena Pasola ini merupakan tanda kesuburan dan panen yang berlimpah. Reven ini berlangsung setiap bulan Februari dan Maret.
IM. Kini Pasola sudah dikenal luas baik secara nasional maupun internasional. Apa yang pemda harapkan agar even ini menjadi unggulan wisata di Sumba?
YB. Harapan pemerintah daerah agar even ini menjadi unggulan wisata di Sumba, seperti:
  • Tersedianya fasilitas pendukung di lokasi – lokasi Pasola seperti: Tribun Penonton, MCK, Kios Cindera Mata, Tempat Parkir, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan  juga dapat melayani berbagai kebutuhan wisatawan.
  • Dukungan dari pemerintah pusat untuk menjadikan Pasola sebagai salah satu icon kebudayaan nasional warisan nenek moyang yang memiliki keunikan dan hanya terdapat di indonesia khusunya di pulau Sumba.
  • Dukungan dari berbagai pihak untuk mempromosikan Pasola lebih giat dan lebih luas ke berbagai penjuru dunia.
IM. Terkait dukungan dana, apakah setiap even Pasola Pemda dengan mudah mendapatkan sponsor, baik dari pemerintah Pusat atau Swasta?
YB. Pemerintah pusat dan swasta belum pernah memberikan dukungan dana dalam setiap pelaksanaan even Pasola di Kabupaten Sumba Barat Daya
IM. Bagaimana strategi promosi Pemda agar even ini tetap menjadi menarik, baik untuk skala nasional maupun internasional?
YB. Strategi yang dilakukan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya dalam mempromosikan Pasola, yakni:
  • Penyebaran brosur kepada wisatawan yang datang berkunjung ke Sumba.
  • Menyediakan Pusat informasi pariwisata di pintu masuk Bandar Udara Tambolaka.
  • Menggadeng para stakeholder pariwisata seperti hotel, tour and travel, para guide, dan instansi – instansi pemerintah lainnya untuk bersama – sama menginformasikan kepada siapa saja yang ingin mengetahui mengenai Pasola dan jadawal pelaksanaannya.
IM. Apa target yang mau dicapai di even Pasola pada 2016 dan mendatang?
YB. Target tahun 2016, yaitu: meningkatnya kunjungan wisatawan sehingga dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya bisnis–bisnis pariwisata. Sedangkan untuk target yang akan datang, Pasola dapat menjadi sumber pendapatan dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat disekitar lokasi pelaksanaan Pasola dan masyarakat Sumba Barat Daya pada umumnya (abri).
Share:

Hubungan Indonesia Gambia

Hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Gambia dimulai pada 30 Mei 1982. Dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan, Pemerintah Indonesia pada 1996 telah membangun Pusat Pelatihan Petani Pedesaan (ARFTC) di Gambia, untuk membantu penguatan kapasitas petani Gambia dan petani negara-negara lain di kawasan Afrika Barat.
Menlu Gambia, Y.M. Aboubacar Abdoullah Senghore, melakukan kunjungan kerja resmi ke Indonesia, pada tanggal 12-13 Maret, sehubungan dengan pembahasan penguatan kerjasama bilateral dengan Indonesia.

Kedatangan Menlu Gambia yang didampingi delegasi yang terdiri dari Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Y.M. Omar Sey, dan sejumlah pejabat tinggi dari berbagai kementerian teknis Gambia, diantaranya Kementerian Perdagangan, Pertanian, Pendidikan, dan Perminyakan. Disambut langsung oleh Menlu RI, Marty Natalegawa, selanjutnya kedua menteri tersebut melakukan pertemuan untuk membahas hubungan kedua negara dalam berbagai bidang.

Selama di Indonesia, Menlu Senghore akan melakukan penandatangan MoU pembentukan Sidang Komisi Bersama (SKB) RI-Gambia, sekaligus memimpin bersama SKB I RI-Gambia di Kemlu RI, Kamis (13/3/2014).
Share:

Kasus Kopi Sianida

Jakarta (IndonesiaMandiri) Mencermati pemberitaan Pers yang katanya Independen, justru mengarah pada Pers yang tidak memiliki landasan. Pers Independen seyogyanya benar-benar menggali fakta-fata bukan menggali gosip.

Dengan melakukan Pers Independen berdasarkan Pancasila, saya yakin pemberitaan mengenai "Kasus Kopi Sianida" tidak membuat masyarakat bingung. Lagi-lagi pers banyak menjadi corong tanpa menganlisis dampak yang akan terjadi.

Memang dalam pemberitaan dunia gosip, the bad news is goog news adalah langkah yang jitu, tapi ini khan menyangkut nyawa orang. Jadi hendaknya jika ingin menyajikan berita investigasi, lakukanlah investigasi yang memenuhi 5 W 1 H. Bukan sekedar orang yang kira-kira bisa menjawab, lalu diwawancarai. 

Siapapun yang angkat bicara menganalisis kasus ini, langsung dipublikasikan tanpa sensor sedikit pun. Memang tidak seluruh insan pers yang melakukan itu, tetapi dapat dikatakan mayoritas.

Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, maka sangat mudah bagi orang yang berbuat jahat, justru yang santer membangun Opini, hingga orang yang belum tentu bersalah, jadi langsung bersalah. Akhirnya pemilik modal akan selalu tampak seperti malaikat.

Trial by the press sudah terjadi, asas praduga tak bersalah tidak lagi dihiraukan. Masyarakat yang tidak mau berfikir dua kali, jadi sasaran empuk pendukung opini mayoritas.

Waspadalah bagi kita semua, ketika para koruptor masih tersenyum ketika digiring ke KPK, dan kita pun melihat kejadian tersebut adalah wajar, maka berarti pola pikir dari pengaruh Duo AS masih berkecamuk di benak kita.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Kasus Kopi Sianida

Jakarta (IndonesiaMandiri) Mencermati pemberitaan Pers yang katanya Independen, justru mengarah pada Pers yang tidak memiliki landasan. Pers Independen seyogyanya benar-benar menggali fakta-fata bukan menggali gosip.

Dengan melakukan Pers Independen berdasarkan Pancasila, saya yakin pemberitaan mengenai "Kasus Kopi Sianida" tidak membuat masyarakat bingung. Lagi-lagi pers banyak menjadi corong tanpa menganlisis dampak yang akan terjadi.

Memang dalam pemberitaan dunia gosip, the bad news is goog news adalah langkah yang jitu, tapi ini khan menyangkut nyawa orang. Jadi hendaknya jika ingin menyajikan berita investigasi, lakukanlah investigasi yang memenuhi 5 W 1 H. Bukan sekedar orang yang kira-kira bisa menjawab, lalu diwawancarai. 

Siapapun yang angkat bicara menganalisis kasus ini, langsung dipublikasikan tanpa sensor sedikit pun. Memang tidak seluruh insan pers yang melakukan itu, tetapi dapat dikatakan mayoritas.

Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, maka sangat mudah bagi orang yang berbuat jahat, justru yang santer membangun Opini, hingga orang yang belum tentu bersalah, jadi langsung bersalah. Akhirnya pemilik modal akan selalu tampak seperti malaikat.

Trial by the press sudah terjadi, asas praduga tak bersalah tidak lagi dihiraukan. Masyarakat yang tidak mau berfikir dua kali, jadi sasaran empuk pendukung opini mayoritas.

Waspadalah bagi kita semua, ketika para koruptor masih tersenyum ketika digiring ke KPK, dan kita pun melihat kejadian tersebut adalah wajar, maka berarti pola pikir dari pengaruh Duo AS masih berkecamuk di benak kita.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Jelajah Flores Lewat Lomba Sepeda

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Delapan kabupaten di Nusa Tenggara Timur bakal dilalui perhelatan bergengsi lomba sepeda bernuansa wisata pada Mei nanti. Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Flores Timur, Nagekeo, dan Ngada, sepanjang 600an kilometer, adalah rute yang akan dikunjungi lomba yang diberi nama Tour de Flores (TdF).
Lomba ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Balairung Soesilo Sudirman Gedung Sapta Pesona (28/1) Jakarta, dengan dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT dan tujuh Bupati dari daerah yang dilalui TdF. Pada 2015 lalu, NTT juga sudah menggelar acara serupa dengan nama Tour de Timor dengan rute mulai Atambua hingga Kupang dengan jarak tempuh 300an kilometer.
Kini, TdF tampak lebih besar lagi, di mana pesertanya saja yang sudah mendaftar sekitar 200an dari empat benua disamping peserta dari dalam negeri. Yang menjadi menarik adalah, TdF juga akan menjadi sarana promosi Flores secara keseluruhan khususnya dan NTT umumnya.
“TdF ini kan sport tourism, jadi direct impact nya tidak terlalu besar. Tetapi yang lebih penting adalah media value-nya. Even ini untuk ajang promosi destinasi yang dilewati agar memiliki brand value,” tegas Arief Yahya. Sebagai orang nomor satu di Kementerian Pariwisata, Arief sangat sadar bahwa promosi wisata Indonesia sebelumnya sangat minim. Itu sebabnya, saat ia menjadi menteri – dan kebetulan sangat didukung oleh Presiden Jokowi – maka sektor promosi di media sangat diberi penekanan begitu besar.
Makanya Arief begitu berharap even TdF bisa kian menambah promosi wisata keindahan alam NTT umumnya dan Flores khususnya ke mancanegara. Senada dengan Airef, Wakil Bupati NTT Benny Alexander Litelnoni, juga mengakui bahwa potensi wisata di NTT sangat besar dan banyak yang belum dikenal luas oleh umum, baik di dalam dan luar negeri. “Mari kita bergandengan tangan untuk mensukseskan TdF,” ajak Benny (abri).
Foto: abri
Share:

Arsip