Tur di Timor Bawa Pesan Pesona Wisata Timor

Kupang (IndonesiaMandiri) – Keberanian penyelenggara wisata olahraga bersepeda melewati jalur darat sejauh 366 kilometer dari perbatasan Timor Leste (Kabupaten Belu) hingga ke ibukota Provinsi Nusa Tengara Timur, Kupang, sejak 16 hingga 19 Desember, mampu menyedot banyak perhatian masyarakat. Meski baru diikuti belasan peserta dari berbagai kota Indonesia, tetapi kegiatan yang diberi nama Tour de Timor ini, sangat didukung oleh beberapa Kabupaten yang dilaluinya (Atambua, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kupang).

Tour de Timor yang baru pertama kali digelar ini, menurut ketua penyelenggara, Dewi Agustiati dari DHXplore bekerjasama dengan Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia (ISSI), sudah dirancang sejak awal 2015. Namun dalam perjalanannya, memang sempat terganjal karena masalah perizinan dari pemda setempat sehingga masalah promosi pun tertunda. Baru di September, semuanya menjadi lebih jelas dan upaya mengundang peserta diumumkan lebih luas.

Meski agak mepet waktu, toh tidak mengurungkan niat sejumlah peserta yang ingin mencoba jalur lintasan Timor yang sangat menantang ini. Acara yang disudahi bersamaan dengan Hut 57 tahun Provinsi NTT dan Hari Kesetiakawanan Sosial di Kota Kupang ini, disambut meriah dengan pawai keliling kota hingga diterima oleh Walikota Kupang Jonas Salean beserta jajarannya. Lalu disemarakkan pula di halaman Walikota Kupang dengan menari bersama.
Pihak penyelenggara juga membuat even tambahan khusus di kota Kupang, dengan nama Kupang City Criterium atau Baputar Kota Kupang, yang sangat antusias diikuti oleh masyarakat mulai dari pelajar sekolah dasar hingga profesional serta didukung penuh oleh Kapolda Kupang Brigjen Pol Endang SUnjaya. “Tahun 2016 kita bikin lebih meriah lagi dan jalanan sekitar Pemda bisa dipakai untuk latihan bersepeda kepada masyarakat yang berminat di hari sabtu-minggu,” ajak Kapolda yang menjadi Pembina olahraga bersepeda.

Plt Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Welly Rohimone, juga mengatakan bahwa pada 2016 nama even dirubah menjadi Tur di Timor, dan akan dimulai dari Dili serta berakhir di Kupang. “rencana pesertanya sudah mulai banyak yang mendaftar. Karena ini akan diperkaya juga dengan atraksi wisata daerah di setiap lintasannya nanti,” tegas Welly. Dengan demikian, Tur di Timor tentunya kelak akan lebih menarik lagi karena melintas negara tetangga, Timor Leste.

Denny L. Wuwungan, General Manager Pelindo III Cabang Tenau Kupang, sebagai salah satu sponsor Tour de Timor ini, pun menyambut positif adanya kegiatan wisata olahraga bersepeda ini.  “Ini dampaknya sangat besar baik bagi industri wisata maupun investasi lainnya di NTT. Karena ini berskala internasional dan media menyorotinya,” aku Denny.

Dari Kementerian Pariwisata sendiri, juga sudah memasukkan Tour de Timor sebagai even tahunan yang didukung secara penuh. “Kita akan tingkatkan dukungan bagi Tur di Timor ini untuk yang 2016 juga, karena skalanya akan lebih luas lagi,” tegas Tazbir, Asisten Deputi  Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (abri).
Foto: abri
      

Share:

Cara Mudah Mengusir Teroris dari Indonesia

Jakarta (IndonesiaMandiri) Teroris merupakan ancaman semua negara di penjuru Dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Mengenai kedahsyatan akibatnya, sudah tidak perlu diragukan lagi. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana cara menghalaunya.
Dari kacamata saya, Teroris adalah warga "Baru Dunia" dimana mereka tidak mengenal kewarganegaraan dan wilayah teritorial. Ibarat perang Grilya, mereka bergrilya tidak di satu tempat, tetapi di seluruh Dunia.
Setiap negara memiliki caranya sendiri untuk menghalaunya, Tetapi negara-negara besar memberikan gaya dan sistemnya sendiri untuk menghalaunya, yang pada akhirnya jadi jualan Security Consultant beserta pernak-pernik senjata yang dibutuhkan. Alhasil akhirnya, hanyalah jualan jasa dan produk keamanan.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara efektif yang dapat diterapkan di Indonesia?
Jawabannya sangatlah mudah... Kita punya Kearifan Lokal, dan kita punya Adat Istiadat Lokal yang jauh dari budaya berfikir radikal. Teori grilya adalah, mereka yang bergrilya harus hidup sesuai, atau menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat. Di lain pihak, masyarakat sebagai tempat penyemaian grilya teroris tersebut, akan menolak hal-hal/nilai-nilai prilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai setempat. Maka, dengan singkat mereka yang bergrilya akan terlihat jelas, seperti pepatah "Musang terjun, lantai terjungkat" (sudah terlihat tanda-tanda tentang kejahatan yang dilakukan oleh seseorang)
Jadi jelas, untuk menghalau mereka - Teroris, kita semua harus kembali "Sadar Budaya Leluhur", dan mengimplementasikannya.
Dengan menerapkan adat istiadat Leluhur, pada setiap daerah dan wilayah Adat Istiadat tersebut tumbuh dan berkembang, maka dapat dikatakan tidak akan ada satupun nilai-nilai radikal yang dapat menyusup pada Hati Sanubari Bangsa Indonesia.
Masalahnya, karena saat ini banyak "Kelompok Buatan" yang memaksakan kehendaknya, untuk mengimplementasikan sebuah Agama, tetapi bukan nilai-nilai baik dari Agama tersebut, malah justru memperkenalkan dan memaksakan asal nilai-nilai Budaya Bangsa, dimana Agama tersebut dilahirkan.
Kesalahkaprahan ini terlihat, Bangsa kita kini tidak lagi mengenal "Kata Malu" - seperti Koruptor yang berprilaku bak seorang Artis ketika ditangkap KPK, karena Bangsa tersebut (yang nilai-nilainya sudah menyusup di pola pikir Bangsa Indonesia saat ini) mempunyai Budaya yang menempatkan Kesalahan di Luar dirinya, yang justru sangat bertolak belakang jika dibanding nilai-nilai Leluhur kita yang selalu mengutamakan intropeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Sekali lagi, intinya #AyoBerubah kembali ke nilai-nilai Adat Istiadat setempat yang Berkearifan Lokal. (IM)
Share:

Oposisi Loyal

Jakarta (IndonesiaMandiri) Mendengar ada istilah "Oposisi Loyal" saya langsung bertanya-tanya, produk politik busuk apalagi, yang akan diluncurkan?, karena pernyataan tersebut menurut saya sangat ambigu.
Bicara Politik di Indonesia, sudah seharusnya semua Politisi dan Partai di Indonesia loyal kepada Pancasila dan UUD 45, bukan lainnya. Sehingga tidak perlu satu per satu Politisi atau Partai menyatakan hal tersebut sebagai Pencitraan. Tetapi lebih pada implementasinya, sehingga rakyat pun "Merasakan tanpa harus Berfikir", untuk mengetahui Jujur tidaknya Politisi atau Partai.
Kita baru saja dikejutkan oleh sidang MKD, sebagai orang awam politik lagi-lagi saya pikir kita hanya perlu "Merasakan tanpa harus Berfikir" untuk mengetahui Jujur tidaknya Politisi atau Partai.
Mungkin ada yang berkilah, di lapangan politik khan sudah ada aturannya!!! Pertanyaan saya, apakah aturan di lapangan politik kita sudah dibuat dengan Hati Nurani, atau dengan niat-niat penghianatan terhadap bangsanya sendiri???. Kalau aturan di lapangan politik kita sudah diatur dengan sepenuh hati demi Bangsa dan Negara, maka kita tidak akan pernah melihat sidang MKD seperti yang kita saksikan baru-baru ini.
Kembali lagi pada "Oposisi Loyal," jangan-jangan loyal kepada Negara Pendana mereka???, dan justru bukan Loyal kepada NKRI.
Selebihnya silahkan Anda berfikir sendiri, dan silahkan berkontemplasi untuk lebih peka "Merasakan tanpa harus Berfikir"
Sapto Satrio Mulyo
Share:

70th TNI AD Meriah Di Kodam XII Tanjungpura

Kubu Raya (IndonesiaMandiri) – Hari Juang Kartika atau sering disebut Hari TNI AD ke 70 tahun ini, di Kodam XII Tanjungpura diadakan sangat meriah. Bertempat di komplek Makodam XII Jalan Arteri  Ali Anyang No. 1 Sungai Raya, Kubu Raya, digelar pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dibuka untuk umum selama empat hari (13-16/12).

Memang pengunjung lebih banyak datang dari kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya yang berdekatan  dengan lokasi pameran. Namun demikian, meski kadang ada turun hujan, pengunjung terus bertambah berdatangan dari beberapa daerah. Tampak pelajar mulai dari Pramuka, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi memadati lokasi pameran.

Kapendam XII/Tanjungpura, Kolonel Inf Mukhlis mengatakan,  pameran diadakan dalam rangka memeriahkan hari Juang Kartika ke-70 dan untuk lebih mendekatkan jalinan TNI - Rakyat bertajuk  “Melalui Hari Juang Kartika Kita Mantapkan Jati Diri TNI AD Dan Kemanunggalan TNI-Rakyat Guna Mewujudkan Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri Dan Berkepribadian”.

Selain itu pameran tersebut digelar sebagai wujud tanggung jawab TNI-AD kepada rakyat. Sebab, anggaran untuk membeli alutsista TNI-AD diambil dari uang negara dan milik rakyat. "Dengan pameran ini, masyarakat semakin merasa cinta dengan TNI dan masyarakat semakin memiliki kebanggaan terhadap TNI," ungkap Kapendam.

Selain pameran tersebut, juga diadakan pengobatan masal, donor darah serta operasi sumbing  bibir dan langit-langit. Untuk pengobatan masal bertempat di Kantor Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya (16/12), sedangkan donor darah dan operasi sumbing bibir dan langit-langit akan dilaksanakan tiga hari (17-19/12) di Rumah Sakit TK. II Kartika Husada Jl. Adi Sucipto Sungai Raya.

”Pengobatan masal ini merupakan bentuk pengabdian  TNI AD (Kodam XII/Tanjungpura) kepada masyarakat yang jauh dari Rumah Sakit maupun dari sarana kesehatan lainnya, untuk mendapatkan pengobatan secara gratis guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat”, tambah Kapendam. Untuk operasi sumbing bibir dan langit-langit Kodam XII/Tpr bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia (Perapi), dan Smile Train Indonesia.

Disamping itu juga, Kodam XII/Tanjungpura, masih kaitannya dengan Hari Juang Kartika, telah dilakukan karya bhakti dan beberapa lomba satuan, Lomba Pembinaan Satuan, Peleton Tangkas dan lain-lain (abri).
Foto: Dok. Kodam Tanjungpura

Share:

Bandara Kualanamu Dukung Wisata Sumut

Deli  Serdang (IndonesiaMandiri) – Bandara hampir seluas 1400 hektar ini. Juli 2013 sudah mulai beroperasi, meski diresmikan oleh Presiden SBY setahun kemudian. Dani Indra Irawan, Kepala Bandara Kualanamu yang baru menjabat  dua bulan ini – sebelumnya memegang Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru -  mengakui kemegahannya. “Bandara ini cantik, dan sudah sama dengan bandara internasional lainnya di manca negara,” katanya.

Bandara yang menjadi perintis di Tanah Air dengan sistem terpadu dengan transportasi kereta (railink) menuju stasiun kota Medan ini, juga mampun menampung arus penumpang hingga Sembilan juta per tahunnya.  Dengan luas apron mencapai 200.000 meter persegi, luas terminal 118.930 meter persegi, juga kawasan pergudangan kargo seluas 13.000 meter pesegi,pada 2014 pernah dianugerahi sertifikasi Bintang Empat dari Lembaga Survey Bandara dan Penerbangan Skytrax asal London. Bandara Soekarno-Hatta saja hanya sampai Bintang Tiga saat dinilai oleh Skytrax.
Nah, dengan kecantikannya itu, Dani sebagai orang nomor satu yang bertanggungjawab memelihara Bandara Kualanamu, mengharapkan juga bisa dimanfaatkan secara optimal oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten yang ada di dalamnya, untuk mendongkrak kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

“Bandara ini luar biasa megahnya. Dengan kekayaan seni dan budaya di Sumatera Utara, ayo ditampilkan di sini. Kita ada ruangnya. Misalnya, bisa ada pentas Tari Tor-Tor. Kan bisa ajak penumpang/pengunjung menari bersama. Indah sekali,” papar Dani.

Di salah satu sudut strategis tempat keberangkatan yang mempertemukan penumpang untuk penerbangan domestik dan internasional, memang ada panggung berukuran sedang yang dapat dipakai untuk pementasan. Di tempat kedatangan pun masih banyak ruang yang bisa dikemas untuk hal serupa.
Ajakan Dani ini sangat menarik dan perlu disambut positif oleh pihak Pemda setempat. Baru saja misalnya, ada Festival Danau Toba di Berastagi. Memang sayang sekali, promosi tentang even wisata tahunan ini kurang dikemas dengan baik sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahuinya.
“Pemda bisa manfaatkan bandara ini untuk promosi even wisatanya. Pasti ada paket wisata dengan kerjasama ke pihak airlines dan pintu gerbangnya adalah Bandara Kualanamu ini,” sambung Dani.

Bandara Kualanamu juga sudah memakai sistem terpadu untuk bagasi (integrated baggage handling screening system-IBHSS) dengan akurasi deteksi keamanan yang baik. Aneka kuliner dan cindermata tentunya ada dijual di dalam bandara ini seperti halnya bandara internasional lainnya.

“Kita inginkan masyarakat setempat juga ikut memelihara bandara berkelas internasional ini. Misalnya saja soal kebersihan. Yang ada sekarang sudah baik, dan mari ditingkatkan lagi dan dirawat bersama,” ajak Dani. Bandara Kualanamu yang setiap harinya disinggahi lebih dari dua ratus penerbangan yang datang dan pergi ini, juga menyediakan fasiliras Media Centre lengkap dengan perangkat komputer, printer, serta tentunya wifi. Karena memang semua area di dalam bandara ini juga sudah wifi. Fasilitas Media Centre ini sepertinya juga yang pertama ada di dalam bandara yang ada selama ini di nusantara.

Bandara Kualanamu termasuk dalam lingkup operasi dan pengawasan dari Angkasa Pura II (BUMN pengelola bandara), yang membawahi belasan Bandara mulai dari Indonesia Barat  hingga ke Tengah. Sedangkan Angkasa Pura I mulai dari sebaagian Indonesia Tengah hingga Indonesia Timur (abri).
Foto: abri

Share:

Kodim Sanggau Ajak Rakyat Swasembada Pangan

Sanggau/Kalbar (IndonesiaMandiri) - Apa yang dilakukan Komando Distrik Militer 1204/Sanggau melalui jajaran Koramil bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sanggau dan Sekadau serta para petani melaksanakan penanaman padi secara serentak guna mendukung program swasembada pangan. Program yang dicanangkan Pemerintah ini memang sudah dijalankan beberapa kali di lokasi berbeda oleh Kodam XII Tanjungpura yang meliputi wilayah di Kalimantan Barat&Tengah. Penanaman padi secara serentak tersebut dilakukan pada 7 Desember serentak dilakukan oleh sebanyak 21 koramil jajaran Kodim 1204/Sanggau yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau.

Komandan Kodim 1204/Sanggau Letkol Inf Heri Budi Purnomo, S.I.P mengatakan gerakan tanam padi itu merupakan bagian dari pencanangan Gerakan Tanam Serentak menuju Swasembada Pangan. Penanaman padi bersama melibatkan elemen masyarakat dengan tujuan meningkatkan kebersamaan antara rakyat dan TNI AD, yang harus terus dipupuk, karena TNI memiliki motto `Bersama Rakyat TNI Kuat`. Jadi kegiatan seperti ini perlu digalakkan lagi agar antara rakyat dengan TNI bisa menjalin kebersamaan,

Gerakan menanam padi juga dimaksudkan untuk memberi pendampingan kepada masyarakat agar lahan sawah yang ada di desa terus dijaga. Sehingga kebutuhan padi di wilayah bisa terus ditingkatkan. "Seperti yang kita ketahui bahwa banyak masyarakat yang tidak tertarik mengolah lahan sawah dan lebih memilih menanam karet ataupun sawit. Hal ini membuat beberapa lahan persawahan di desa/kampung menjadi tak terurus lagi. Untuk itu, dengan adanya kegiatan seperti ini bisa mendorong warga pedesaan untuk melakukan penanaman padi dan tetap menjaga persawahan", paparnya (abri)
Foto: Pendam XII Tpr

Share:

Sektor Pariwisata Unggulan Lembata

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Iringan lagu dengan alat musik daerah Rote, NTT , yaitu Sasando, yang dimainkan pelajar cantik Vivian Evelyn membuka acara peluncuran buku “Lembata Underwater” di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata (3/12).

Buku hasil karya para pegiat wisata alam yang berjumlah 12 orang ini (fotografer, wartawan, blogger, humas, dan lain-lain, merupakan karya monumental karena mayoritas adalah anak bangsa. “Seringkali kita melihat buku-buku pariwisata dengan foto menarik tetapi ditulis oleh orang asing. Nah Lembata Underwater ini dibikin oleh nayoritas anak bangsa,” puji Tazbir, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Pariwisata Nusantara – mewakili Menteri Pariwisata yang sedang dinas keluar negeri – sekaligus meluncurkan buku.
Buku ini sudah dirancang sejak awal 2015, kemudian pada Mei, dilakukan riset ke Lembata untuk persiapan pengambilan gambar.  Pada saat bersamaan (23-25/8), diadakan Festival Lembata dan Nuhanera, suatu even wisata setiap tahun yang memperkenalkan berbagai keunggulan wisata alam, sejarah dan kearifan lokal (tari, musik dan kuliner).

Di saat Festival Lembata itulah petualangan untuk mengambil gambar di dalam laut dilakukan oleh ke 12 anak bangsa ini secara profesional. Mereka itu adalah Muljadi Pinneng Sulungbudi (team leader photographer), Nadine Candrawinata (conservationist), Gemala Hanafiah (travel blogger), Marischka Prudence (travel blogger), Edward Suhadi (photographer), Dewi Wilaisono (photographer), Malindo Wilaisono (photographer), Fery Rusli (photographer), Chikuyama (creative director), Anto Motulz (sketcher), Rahung Nasution (food anthropologist) dan Christie Wagner (PR Specialist).

Lembata, sebagai salah satu kabupaten di NTT dengan lokasi didekat Pulau Flores dan Alor, merupakan wilayah daratan tinggi yang dikelilingi laut dengan pemandangan alam sangat menakjubkan. Bukit Doa, Gunung Ipe Apek Lewelotok, Desa Tabolangu, adalah sebagian kecil pesona Lembata yang akan membuat pengunjung berdecak kagum. Ditambah  lagi, di Lembata, setiap tahun, juga ada tradisi sejarah menangkap ikan paus karena di perairannya selalu  menjadi lintasan ikan ini.

Hadirnya buku Lembata Underwater, tentunya akan merangsang banyak pengunjung dari dalam dan luar negeri untuk menjelajah bumi Lembata khususnya dan NTT umumnya. “Kita memang sudah bertekad menjadikan sektor pariwisata sebagai unggulan pendapatan daerah,” tegas Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur (abri).
Foto: abri

Share:

Difabel Dilatih BNPB

Surakarta (IndonesiaMandiri) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyelenggarakan pelatihan kepada masyarakat berkebutuhan khusus atau difabel di Solo (Jawa Tengah), selama empat hari. Sebanyak 100 orang difabel dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta mendapatkan pelatihan tanggap bencana, dan ini merupakan pelatihan pertama kalinya diadakan oleh BNPB.
 
Kemarin Rabu (3/12), kebetulan bersamaan dengan Hari Difabel Internasional, sehingga, acara pelatihan di Solo ini menjadi sangat bermakna. Tema hari Difabel 2015 mengambil tema “Wujudkan Masyarakat Inklusif Melalui UU Disabilitas dan Strategi Multi Sektoral”.

Staf Subdit Peran Masyarakat BNPB, Pangarso Suryo, menggarisbawahi bahwa masyarakat difabel memperoleh materi pokok mengenai pelatihan penanggulangan bencana.
 
Nantinya, para difabel setelah dilatih, bisa ditempatkan di bagian antara lain evakuasi, posko kesehatan, logistik, komunikasi, pendampingan psikososial, dapur umum, jiwa korsa, dan lain sebagainya.  
Langkah tepat yang dilakukan BNPB ini patut diapresiasi. Karena kuantitas masyarakat difabel juga terus bertambah di berbagai kota nusantara. Dan Indonesia, karena termasuk dalam lintasan cincin gunung api (ring of fire), begitu rentan dengan gempa. Disamping itu tentunya, pengalaman untuk mengantisipasi hal terburuk dalam menghadapi bencana umumnya, begitu penting diajarkan kepada masyarakat difabel.

Dengan pelatihan ini, diharapkan bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, disamping masyarakat difabel menjadi lebih terlatih, juga bisa bergotong royong dengan masyarakat umumnya (abri).
foto: abri

Share:

Indonesia Layak Belajar Energi Terbarukan Ke Swedia

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Setelah Mei lalu rombongan dari Swedia berdiskusi serius soal energi terbarukan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia di Bali, maka pertengahan November kemarin giliran  Menteri Pembangunan Strategis dan Kerjasama Nordik Swedia, Kristina Persson berkunjung ke Indonesia lagi.
Kristina datang bersama rombongannya, yaitu sejumlah pemilik perusahaan di Swedia yang bergerak di bidang energi terbarukan (Swedish Exergy AB, FOV Biogas, Absolicon Solar Collector AB, Energotek AB, Accellrate Mobile Infrastructure AB, Nordic Water). Minat serius Swedia kepada potensi energi di Indonesia begitu besar. Bahkan, banyak pelajar Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan tentang panas bumi (geothermal) di Universitas Luhn, Swedia.
"Indonesia memiliki potensi yang sangat baik mengenai energi terbarukan, karena lokasi Indonesia yang dilalui matahari setiap tahun,” kata Kristina, di depan para undangan saat berdiskusi dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta Indonesia yang juga memiliki kepedulian sama tentang hal ini.

Kristina selama di Jakarta juga berjumpa dengan Sofyan Jalill, Kepala Bappenas. Swedia menaruh banyak perhatian pula di bidang pelestarian lingkungan, yang tentunya dipadukan dengan adanya energi terbarukan seperti dari panas bumi, matahari, angin, dan lain sebagainya.
Swedia yang justru di negaranya “sangat minim” dilalui matahari, tetapi dalam inovasi industri teknologinya, mampu membangun perusahaan di bidang energi terbarukan, justru ingin berbagi pengalaman kepada Indonesia.
“Kita sangat terbuka untuk menjalin kerjasama di bidang energi terbarukan,” tambah Duta Besar Kerajaan Swedia untuk Indonesia dan negara Timor Timur, Johanna Brismar Skoog, yang mendampingi Kristina selama di Jakarta. Wickberg.
Tampaknya, kesempatan kerjasama ini bisa dimanfaatkan oleh Indonesia dalam hal pelestarian lingkungan serta penguasaan teknologi yang ramah lingkungan dari Swedia. Pihak Swedia rencananya pada 2016 juga akan mengirim sejumlah penelitinya untuk membantu Indonesia dalam memelihara pelestarian lingkungan. Dan tentunya, sangat diharapkan pelajar Indonesia juga diberikan kesempatan yang lebih banyak lagi untuk belajar di Swedia di bidang serupa sehingga alih ilmu dan teknologi bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan (abri).
Foto: abri

Share:

Suminto Yuliarso, Kepala Monumen Pers Nasional Surakarta : “Monumen Pers Bukan Rumah Hantu”

Surakarta (IndonesiaMandiri) – Masih banyak yang belum tahu insan pers khususnya dan masyarakat awam umumnya, bahwa di Solo ada Monumen Pers Nasional (MPN). Mengapa di Solo? Karena setelah beberapa bulan Indonesia merdeka, di tempat inilah mulanya para wartawan berkumpul dan bersepakat untuk membentuk organisasi profesi wartawan – kemudian dikenal dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia - pada 9 Februari 1946.

Gedung yang tampak dari muka seperti candi ini, awalnya milik kerabat Mangkunegaran. Cikal bakal berdirinya diprakarsai oleh KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada  Desember 1918 sebagai tempat pertemuan. Kemudian dalam perjalanan sejarahnya, gedung ini sempat dipakai sebagai markas Palang Merah Indonesia.

Gedung yang berada di jantung kota Solo di Jalan Gajah Mada 59, dibangun oleh arsitek putra bangsa asal Semarang, R. Atmodirono.  Dengan luas 2.998 meter persegi, saat ini terdiri dari empat unit bangunan.  Di Gedung Induk, ada ruang besar yang biasa digunakan untuk seminar dan sejenisnya. Kemudian ada satu gedung untuk ruang pameran benda-benda terkait pers serta perpustakaan, satu gedung lainnya sebagai pengurus MPN yang sering disebut Gedung Wisma.

MPN sejak 2010 telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah Pusat.  Disamping bangunannya yang memiliki nilai sejarah, juga aset yang tersimpan di dalamnya banyak barang terkait perkembangan pers masa lalu yang tak ternilai.

Ada alat pemancar  radio “RRI Kambing”, yang pada 1933 didirikan oleh RM Ir. Sarsito Mangunkusumo sebagai radio pribumi pertama diberi nama Solosche Radio Vereeninging (SRV); mesin tik kuno milik Bakrie Soeraatmadja pemimpin redaksi Harian Sipatahoenan;  berbagai radio kuno hibah dari kolektor sekaligus pemilik Perusahaan Tekstil Sritex; peralatan terjun payung wartawan TVRI; peralatan wartawan “perang’ Hendro Subroto; kumpulan pers jaman pra-masa kemerdekaan-hingga kini.

Belum lagi koleksi berita-berita yang dikumpulkan dalam mikro film juga ada. Sehingga, bagi para peneliti, mahasiswa atau masyarakat umum yang ingin melihat perjalanan sejarah Indonesia melalui lembaran pers, silahkan mengunjungi MPN yang dibuka untuk umum secara gratis sejak 09.00 pagi hingga 17.00 sore.

“Kita sedang melakukan banyak perubahan agar museum ini kian digemari oleh masyarakat Indonesia umumnya, dan insan pers khususnya,” kata Suminto Yuliarso, Kepala MPN.

Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, pun sangat mendukung agar MPN kedepan bisa dipoles lebih cantik lagi. “Kita bisa masukkan dalam even tahunan wisata kota Solo kan, kalau ada kegiatan di museum ini,” sambut Rudy, panggilan akrab Walikota Solo ini.

Harus diakui memang, tampilan maupun kegiatan di MPN kini kurang mengundang orang untuk berkunjung.  Dengan adanya dukungan kuat dari Pemkot Solo, diharapkan kedepan MPN bisa banyak menyedot pengunjung dan menjadi salah satu andalan wisata sejarah kota Solo.  Betul pula yang dipesankan oleh Kepala MPN, bahwa monumen pers ini bukanlah rumah hantu. Melainkan suatu aset bangsa yang menyimpan banyak nilai pendidikan untuk pencerahan masyarakat Indonesia (abri).
Foto: abri

Share:

Ngawi Bakal Jadi Perhatian Dunia

Ngawi (IndonesiaMandiri) – Kota yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, sebenarnya tak terlalu banyak dilirik. Terlebih, Ngawi yang lebih tepat berada di sisi Baratnya Jawa Timur, hanya merupakan lintasan bagi siapapun yang ingin menuju Solo, Surabaya, atau sebaliknya, maka Ngawi pasti akan dilaluinya.
Tetapi, lima tahun terakhir ini, di bawah kepemimpinan Bupati Ir. H. Budi Sulistyono (2010-2015) atau lebih akrab di masyarakat Ngawi dipanggil Mbah Kung,  perlahan tapi pasti, kota yang di zaman Belanda sempat menjadi wilayah strategis untuk menghadang perjalanan Pangeran Diponegoro, mulai bersolek.
Alun-alun di tengah kota Ngawi, disamping dipenuhi kuliner, juga dilengkapi sarana berselancar di dunia maya (wifi). Tak pelak, setiap malam ramai remaja dan masyarakat umumnya bercengkerama di sini sekedar untuk menghabiskan waktu.
Tetapi yang tak kalah menariknya, di Ngawi ternyata menyimpan sebuah potensi wisata sejarah dan alam menakjubkan. Salah satunya adalah peninggalan warisan temuan sejarawan asing tentang cikal bakal mulanya manusia nusantara. Fosil yang diketahui berusia sekitar satu juta tahun lalu ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah museum mini  dengan nama Trinil.
Museum Trinil ini lokasinya di pinggiran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, yang berjarak 15 kilometer di sebelah barat Kota Ngawi. Fosil tua ini jika kelak dikemas lebih rapih dan baik, sudah pasti akan menjadi incaran masyarakat dunia yang gemar mempelajari asal-usul manusia khususnya dan masyarakat lain yang gemar wisata alam umumnya.
Mbah Kung, yang kini sedang mencalonkan kembali untuk periode lima tahun kedua memimpin Ngawi, sudah bertekad akan mengangkat potensi wisata Museum Trinil ini untuk lebih mengemuka lagi. “Disamping Trinil ini, jejak benteng Van Den Bosch atau sering disebut Benteng Pendem yang waktu tahun 1800an dipakai untuk mengepung Pangeran Diponegoro juga sangat baik untuk diangkat sebagai potensi wisata,” sambung Mbah Kung.
Dengan tidak mendahului hasil Pemilukada pada 9 Desember nanti, peluang menang Mbang Kung sudah ditangan karena semua kekuatan parpol mendukungnya. “Calon bupati yang besok ini hanya satu sebenarnya kok. Tapi karena ada aturannya harus dua calon, ya dimunculkanlah lawan dari non parpol atau independen,” kata Satrio, warga Ngawi.
Apapun hasilnya nanti, Ngawi memang sudah waktunya tak dilihat sebelah mata oleh siapapun juga. Sebagian potensi yang ada seperti disebutkan di atas, meski sudah masuk dalam kawasan cagar budaya, tak ada salahnya juga didaftarkan ke lembaga warisan dunia seperti UNESCO. “Masyarakat Ngawi harus bangga bahwa daerahnya dikenal dengan potensinya yang ada,” tegas Mbah Kung kepada Indonesiamandiri (abri)
Foto: abri
Share:

Arsip