Berita Indonesia Mandiri

Rumput Sendiri Lebih Baik dari Rumput Tetangga

Manila (Indonesia Mandiri) - Kita selalu memakai pepatah "Rumput Tetangga lebih Baik dari Rumput sendiri" ini karena kita sebagai katak dalam tempurung.

Muingkin Anda semua bingung dengan judul di atas, karena tidak umum.

Ya memang, saya mengungkapkan itu berdasarkan pengalaman pribadi. Secara psikologis, orang-orang yang dari kecilnya tidak memiliki krisis eksistensi, karena hal apapun, akan tumbuh lebih positif berfikirnya.

Banyak teman-teman saya yang lama tinggal di manca negara, dan sangat menghayati bagaimana orang harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Mereka tidak bisa dan tidak mau membohongi dirinya sendiri, karena mereka berasal dari keluarga bahagia yang tidak kurang satu apapun, dan tidak mengalami krisis eksistensi sejak di Indonesia.

Mereka selalu mengatakan; "di Indonesia lebih baik daripada di sini". Itulah makanya saya terinspirasi membalik pepatah tersebut. Karena mereka orang-orang yang berasal dari keluarga bahagia dan tidak mengalami gangguan krisis eksistensi, selalu berfikir positif terhadap Bangsanya sendiri.

Lain halnya, orang-orang yang krisis eksistensi dan dari keluarga yang kurang bahagia, selalu melihat tetangganya lebih bahagia.

Karena rumput kita lebih bagus dari tetangga, maka tidak heran, kalau para tetangga dekat maupun jauh, atau bahkan di seberang kali, akan mencoba mencuri rumput kita.

Sudah seharusnya kita memakai  pepatah kita sendiri "Rumput Sendiri Lebih Baik dari Rumput Tetangga"

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Meracuni Budaya Bangsa Indonesia Melalui Makanan

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Kalau kita perhatikan acara-acara TV yang ada saat ini, banyak sekali yang sengaja mempropagandakan Budaya-budaya Asing, melalui makanan.

Contoh yang paling gampang adalah, di salah satu TV swasta ada acara Perlombaan Koki Anak-anak, yang kalau kita tonton sangat menakjubkan, karena dengan umur yang sangat muda belia, mereka sudah memiliki kemampuan masak yang luar biasa.

Disisi lain kita tau, bahwa kemajuan Sejarah Manusia yang cukup signifikan dilihat dari Pola Makan mereka. Ingat jika para peneliti Sejarah menemukan tembikar atau apapun yang berhubungan dengan alat makan, maka mereka sudah dapat menyimpulkan kepandaian masyarakatnya kala itu.

Pintarnya penghianat merusak Pola Pikir Bangsanya Sendiri, dengan memulai dari yang paling esensial, dimana makanan yang dilombakan, kalau tidak mau disebut semua adalah adalah makanan Asing, maka kita sebut saja makanan Indonesia asli hanya sebagai pelengkap basa basi saja.

Dari sini jelas, melalui anak-anak yang muda tersebut mereka sudah menjadi agen penyebaran budaya makanan asing. Yang pada akhirnya budayanya turut bergeser.

Meungkin Anda menilai saya berlebihan, atau paranoid. Tetapi Anda perlu ingat bagaimana sulitnya Amerika menembus Budaya Cina daratan kala itu, yang pada akhirnya Cina daratan pun kebobolan. Dimana Amerika menegoosiasikan masuknya Minuman Khas Amerika (sengaja saya tidak sebutkan merekanya) ke Negeri Cina Daratan.

Begini pola pikirnya, ketika Minuman tersebut bisa masuk ke  Cina, penyemaian yang dinanti-nanti akhirnya tiba, dimana masyarakat Cina sangat menyukai minuman tersebut, dan menjadi Trend Minuman anak-anak mudanya. Saat inilah, masuk Rock n Roll, dan pada akhirnya konser Band barat dapat diselenggarakan di Cina Daratan.

Nah selanjutnya, saya coba analogikan, jika kita nonton Rock n Roll apakah lumrah jika kita memakai Blankon dan Kebaya, yang pasti kita menyesuaikan dengan Celana Jeans, dan baju ala Barat. Ini berlaku juga pada pengaruh Timur Tengah dan Asia Timur, yang membuat kita kehilangan akar budaya kita..

Setelah Makanan atau Minuman, tergantung mana yang lebih dahulu bisa mempengaruhi kita, maka pakaian, setelah itu gaya hidup secara koprehensif yang pada akhirnya mengubah Pola Pikir kita,

Melanjutkan lomba Koki anak-anak,  gayung bersambut dengan lomba koki orang dewasa.

Kalau pada lomba koki anak-anak, para penghianat dapat berkilah, makanan Indonesia sangat sulit bumbu-bumbunya. Sepertinya masuk akal.

Nah kalau Lomba Koki orang dewasa? Ya si penghianat punya alasan logis lainnuya. Supaya para orang dewasa ini bisa menyesuaikan ke pergaulan Internasional... HAHAHAH ketipu lagi kita.

Padahal selama 7 tahun saya tinggal di manca negara, justru mereka yang ingin belajar masakan Indonesia, yang mereka hargai sebagai "The real Food and Healthy"

Silahkan dicamkan.....

Sapto Satrio Mulyo

Foto : Istimewa
Share:

Sinetron Korea Mengapa Lebih Membumi dari Sinetron Lokal ???

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Sudah 3 bulan ini, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton Sinetron Drama Korea. Dan saya pun dapat menikmatinya dengan suka cita. Saya pun pada awalnya tidak engeh, mengapa begitu?


Mencermati Sinetron Lokal dengan Sinetron Korea, akhirnya saya bersyukur koq banyak yang tidak menyenangi Sinetron Lokal, sekali lagi saya sangat bersyukur, dengan banyaknya orang Indonesia yang tidak senang dengan Sinetron Lokal.


Di lain pihak, bukan berarti saya menjadi nge-fans pada Sinetron Korea, dan menghimbau untuk menonton SInetron Korea. Intinya bukan di situ. Kita harus tetap mencintai Sinetron Lokal, tetapi dengan catatan.


Ibarat kita jatuh cinta mati sama seseorang, tetapi seseorang yang kita cintai, tidak mau sedikit pun mengerti kita, ya buat apa?


Begini, beda yang esensial dari SInetron Korea dan Sinetron Lokal adalah pada filosofi yang digunakan.


Sinetron Korea mengangkat nilai-nilai Human Culture setempat dengan Jujur. Sementara Sinetron Lokal, entah mungkin yang membiayai pihak asing yang berkepentingan? Lebih pada rekayasa budaya, yang pada akhirnya membingunkan alam bawah sadar kita semua.


Sebagai contoh, ada nilai-nilai budaya yang sengaja direkayasa, salah satunya mindset yang menurut saya sengaja dibuat di dalam adegan-adegan Sinetron Lokal adalah, Orang Miskin yang jahat, sehingga dianggap wajar jika Orang Kaya menaruh Curiga kepada Orang Miskin. Ini adalah untuk membuat dikotomi antara Miskin dan Kaya.


Sampai-sampai ada acara TV yang cukup baik, dengan konsep kamera terselebung, dimana orang-orang yang kesusahan di jalanan, justru ditolong oleh orang miskin yang masih mempunyai Mata Hati, bukan oleh Orang kaya. Sampai di sini, mungkin sudah lebih mudah dimengerti, dimana beberapa investor besar pembuatan Sinetron, menginginkan rusaknya pola Gotong Royong yang memiliki nilai yang Luhur. Yang untungnya akar dari Budi Pekerti orang-orang Indonesia masih cukup tebal. Sehingga kita kini hanya pada situasi yang gamang akan nilai-nilai interaksi semasa manusia yang diwariskan oleh Leluhur Nusantara.


Situasi gamang tersebut, tentunya belum telat untuk dikembalikan ke rel yang benar sesuai warisan nilai-nilai Leluhur Nusantara itu sendiri.


Jadi untuk membuat Sinetron yang banyak penggemarnya, syaratnya antara lain:




  • Jangan jadi Penghianat Pola Pikir

  • Gali Human Culture Bangsa mu sendiri

  • Sajikan dengan jujur


Karena Sinetron Korea menjadi bukti dari penyajian yang jujur terhadap apa yang ada di dalam Human Culture Bangsanya sendiri. (SSM) Foto : Istimewa

Share:

"Saya Ingin Berterimakasih Kepada Pak Jokowi"

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Kalimat itu tersusun secara implisit yang terdengar di telinga saya, saat saya melayat adik salah satu Sahabat saya yang berinisial AT, yang meninggal pada tanggal 19/01/15. Adik Sahabat saya ternyata meninggal karena Narkoba.

Cerita yang mengharukan, yang diceritakan oleh Sahabat saya adalah, almarhum sudah berusaha keras untuk keluar dari lingkaran setan tersebut, tetapi namanya pedagang - "yang diperbolehkan berkeliaran", pasti dapat merayu mantan pelanggannya dengan berbagai daya tipu muslihat untuk kembali lagi menjadi pelanggannya.

Dari cerita Sahabat saya tersebut, tidak jauh berbeda dengan penggambaran, yang saya tuangkan dalam sebuah lagu yang berjudul "Ruang Hampa "

Termenung saya sejenak, karena tadinya saya dan Sahabat saya pun anti terhadap "Hukuman Mati", tetapi saat saya dihadapkan pada situasi empati yang seperti ini, maka saya dan Sahabat saya pun akhirnnya mengerti akan "Kebijakan Jokowi", selain mempertahankan Kedaulatan Hukum NKRI, yang juga tidak kalah penting, hilangnya 40 nyawa usia produktif setiap harinya (Catatan BNN), yang diakibatkan oleh Narkoba.

Dari sisi lain, kebetulan saya pernah melihat sendiri, bagaimana penanganan pemakai Narkoba di negara maju. Mereka (pemakai Narkoba) diperlakukan sebagai "Korban", kalau mereka kedapatan sedang memakai Narkoba, maka mereka diamankan (bukan ditangkap atau digelandang ke penjara) untuk dikirim ke rehabilitasi.

Dahulu kala, yang sekarang sudah disebut sebagai negara-negara maju, juga memulainya dengan "Hukuman Mati" kepada "Pelaku Kejahatan Luar Biasa", ketika fenomena  masyarakatnya masih seperti di Indonesia saat ini. Jadi mungkin, Indonesia perlu pula melewati tahap ini.

Perlu juga diingat kita tidak melewati masa-masa seperti situasi saat penggambaran dari "The True Story of The Untouchables" (yang sama sekali tidak menghiraukan hak azasi manusia). Jadi kita harus meletakan semuanya secara jeli.

Efek jera ini kelihatannya tidak hanya ditujukan kepada Pelaku yang kasat mata, tetapi juga pada pelaku yang tidak kasat mata???

Setelah Kejahatan Luar Biasa relatif hilang dari bumi Indonesia, barulah mungkin muncul pertanyaan, siapa yang salah? Di negara maju, aparat melindungi Warga Negara-nya, sehingga aparat justru merasa bersalah, jika masih kedapatan pengedar Narkoba yang masih berkeliaran.

Tidak ada satu pun, orang tua yang ingin anaknya mengkomsumsi Narkoba. Ketika orang tua mengawasi di rumah dan lingkungan terdekatnya, alangkah baiknya Negara melindungi warganya di Kota yang Sehat.

Berfikir empati, sebagai Keluarga Korban Narkotika, maka munkin kita dapat mengerti tindakan Pak Jokowi...

Terimakasih Pak Jokowi, Salam Hormat dari Sahabat saya....

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Saat Ekstrim Kanan menikahi Ekstrim Kiri lahirlah "Ideologi Semangka"

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Konsep Dua Kutub Ekstrim ini, seolah kita sudah nyaman menggunakannya dalam telaahan ilmiah, yang berhubungan dengan infiltrasi nilai-nilai asing untuk mengecoh Pancasila, sebagai satu-satunya ideologi yang memiliki nilai-nilai hasil penggalian nilai-nilai Leluhur kita sendiri. Dibanding ideologi manapun yang dibuat berdasarkan hasil pemikiran segelintir manusia.

Kalau kita analogikan Ektrim Kanan misalnya Mesin Mobil, sedangkan Ekstrim kiri itu misalnya Pintu Mobil, sekilas mereka memang berhubungan, tetapi secara esensial mereka tidak dapat dibandingkan. Keduanya tidak memiliki fungsi yang sama dalam penerapannya, mereka adalah bagian dari Mobil itu sendiri. Bahkan ada yang yang menjadi bagian vital, dan ada yang hanya sebagai bagian pelengkap saja.

Pertanyaannya mengapa kita tidak memperbandingkan Agama dengan Agama saja, dan Ideologi dengan Ideologi saja. Hal ini sudah terjadi sejak perang dingin, dimana kaum Kapitalis / Liberal mencuri start untuk lepas dari perseteruan, dan menjadi penonton perseteruan negara-negara musuhnya.

Di lain pihak, Soekarno yang Jenius sebenarnnya juga ingin menghalau start tersebut, dengan NasAKom vs Kapitalis/Lieberal, tetapi karena konsep tersebut mungkin beliau pikirkan hanya seorang diri tanpa bantuan pemikiran orang lain - yang mungkin kelak dapat menjadi second opinion, sehingga secara taktis kalah dalam menembus pasar.

Di sisi lain Kapitalis/Liberal lebih jeli melihat "Sensitifitas Produk Politik" yang laku dipasaran, dimana Komunis dihadapkan dengan Agama, selanjutnya Komunis diopinikan sebagai idelogi yang anti Tuhan, Maka, produk Soekarno kalah laris dengan produk Agitasi Propaganda Kapitallis/Lieberal, yang pada akhirnya membuat keterpurukan Soekarno Sang Proklamator Bangsa Indonesia yang anti Kapitalis/Lieberal tersebut.

Perkawinan Ekstrim Kanan dan Ekstrim kiri yang menumbuh kembangkan Semangka (Kulitnya Hijau dalamnya Merah), tidak serta merta dapat dianalisa secara runut dalam kosa kata, tetapi dapat lebih jeli lagi melihatnya siapa menggunakan siapa?

Terlalu njelimet kalau harus diterangkan dalam tulisan, tetapi singkat kata, dalam politik selalu ada terminologi yang diciptakan untuk membuat dua sisi mata uang yang berbeda, untuk kepentingan Agitasi Propaganda. Menjawab pertanyaan di atas, ternyata yang dahulu Ekstrim Kanan vs Ekstrim Kiri atau saling bermusuhan, kini mereka menikah dan menghasilkan anak yang lebih radikal dibanding kedua orang tuanya.

Di lain pihak, ternyata salah satu orang tua yang fanatik buta terhadap agamanya, kini bisa meng-absorbsi nilai-nilai pasangannya yang anti Tuhan, dan begitu pula sebaliknya, yang kini dapat hidup rukun di dalam sebuah rumah tangganya, tetapi akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi Bangsa Indonesia.

Patahnya thesis di atas, sebenarnya sudah diantisipasi oleh lagi-lagi Bung Karno Bapak Bangsa Indonesia. Yang akan menimbulkan pembicaraan panjang mengenai Radikalisme Agama dan Radikalisme Komunisme.

Sementara Agama Kapitalis sudah lahir jauh lebih dahulu, yang sayangnya tidak kita sadari. :)

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Psikologi Kosa Kata

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Memang, untuk kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa Indonesia yang Luhur, bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali variabel yang harus dikembalikan lagi ke Nilai-nilai itu sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba melihatnya dari sisi Bahasa sehari-hari saja. Dari sisi sini, salah satunya yang paling kita tidak sadari adalah penggunaan Bahasa Asing.

Mengapa koq "Bahasa," karena bahasa itu merupakan pola pikir dasar sebuah Bangsa atau masyarakat. Contoh yang gampang, konon bahasa Tetun (Bahasa Asli Timor Timur) itu tidak memiliki kosa kata "Terimakasih." Kata terimakasih diambilnya dari bahasa Portugis.

Dari sepenggal kata "Terimakasih" tersebut, saya rasa kita sudah bisa mendapat gambaran, bagaimana mereka berinteraksi untuk mengatakan Terimakasih? Apakah perbuatan orang baik kepada dirinya sebuah kewajiban, hingga tidak perlu ada kata Terimakasih, atau memang orang di sana hidup begitu individualnya, sehingga tidak perlu ada kata terimakasih.

Lagi-lagi dari sepenggal kata, masyarakat dapat membentuk atau dibentuk pola pikirnya. Untuk itulah, saya mencoba untuk sedikit mengkritisi dan mengajak seluruh orang yang tinggal di Bumi Nusantara ini, untuk mencoba kembali menggunakan Bahasa dan Kosa Kata Indonesia saja.

Jika di Bahasa Indonesia tidak ada kosa kata yang dibutuhkan oleh kemajuan pergaulan Bangsa ini, coba cari padanannya pada Bahasa Daerah kita sendiri yang memiliki jumlah kurang lebih 746 Bahasa Daerah. Seperti Download menjadi Unduh, dan Upload menjadi Unggah.

Penyimpangan penggunaan kosa kata Bahasa Asing ini, banyak orang yang hanya melihat atau meng-kritisinya pada penggunaan Bahasa Inggris saja. Sementara, banyak juga penggunaan Bahasa Arab di dalam komunikasi masyarakat.

Kalau itu kosa kata yang tidak berhubungan dengan Pola Pikir, syah-syah saja untuk digunakan. Tetapi, jika kosa kata tersebut menyangkut atau mempunyai makna "Pola Pikir dan Pola Gerak," hal inilah yang tidak boleh terjadi.

Untuk mengkritisi sebuah makna bahasa, kita tidak perlu menjadi ahli Bahasa, karena bahasa adalah alat yang inheren dalam diri kita, untuk kita berkomunikasi. Jadi, dengan menggunakan perasaan saja, kita sudah dapat merasa, adanya kekuatan bahasa, dalam merubah "Pola Pikir dan Pola Gerak" Bangsa ini, jika kita biarkan saja.

Dalam keseharian, banyak orang atau media yang memperkenalkan kata "passion / gairah," padahal konsep kosa kata tersebut ada, dan sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Tetapi karena media turut menyebarkan, sebagai "Gaya Hidup", maka banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Passion" tapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Di lain pihak, ada juga kata "Suudzon / Prasangka" padahal konsep kosa kata ini pun sudah ada dalam Bahasa Indonesia, tetapi lagi-lagi media turut menyebarkan melalui penyiar-penyiar yang sadar atau tidak, bahwa mereka telah menggunakan Bahasa Asing. Lagi-lagi, banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Suudzon" tetapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Dari dua contoh kosa kata tersebut, jelas bahwa kekuatan Asing akan dengan mudah me-redefinisi kata-kata milik mereka yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat luas demi kepentingannya.

Kita kadang tidak sadar bagaimana peran bahasa dapat mengombang-ambingkan atau mencuri perhatian masyarakat luas, untuk menjadi sesuatu.

Kalau kita tidak mengerti kata "Galau", maka kita tidak perlu "Galau", tetapi karena "Galau" dibuat menjadi trend maka pada saat itu pula banyak ABG yang "Mencari Perhatian" dengan menerapkan konsep "Galau" atau berpura-pura Galau untuk mendapat perhatian teman-temannya.

Akhirnya secara psikologis, ini adalah legitimasi untuk diri seseorang menempatkan eksistensinya, yang sebenarnya merupakan pembenaran pemecahan krisis eksistensi yang salah.

Silahkan Anda renungkan.....

Sapto Satrio Mulyo

Foto : Istimewa
Share:

QUO VADIS? 69 Tahun TNI AU

 “To deter in peacetime and should not fail to win a swift and decisive victory”, RSAF mission statement ; Lt.Gen Bey Soo Khiang.
Membangun air power matra angkatan udara merupakan problematika sekaligus tantangan tersendiri bagi segenap anggota dan pimpinan suatu angkatan udara, terlebih di negara berkembang seperti Indonesia. Karena untuk membangun Air Power dibutuhkan effort (dibaca: modal) yang besar, disamping modal-modal yang sifatnya material juga dibutuhkan modal-modal yang sifatnya immaterial, bahkan seringkali modal-modal immaterial lebih meng encourage dikarenakan dapat menjadi pendorong terbentuknya : dasar-dasar/doktrin-doktrin/strategi-strategi yang khas membedakan suatu air force dengan air force lainnya.

Diantara modal-modal immaterial yang paling penting adalah Modal Manusia (Human Capital) dan Modal Sejarah (Historical Gain), kedua modal ini menjadi modal dasar yang sangat penting bagi pembangunan Air Power Matra Angkatan Udara suatu negara. Kemampuan mengelaborasi kedua modal dasar ini mempengaruhi keberhasilan suatu angkatan udara membangun air powernya.

Untuk bisa mengukur pencapaian dari suatu angkatan udara perlu kiranya kita memperbandingkan dengan sesama angkatan udara agar kita dapat mengambil pelajaran-pelajaran dari pengalaman-pengalaman mereka, meskipun belum tentu dapat ditiru sepenuhnya dikarenakan setiap negara/angkatan udara memiliki faktor-faktor pendorong dan faktor-faktor penghambat yang spesifik tersendiri.  
Indian Air Force (IAF) Peringkat ke 4 (2013) didirikan 8 Oktober 1932

Indian Air Force Bharatiya Vayu Sena The Crest of the Indian Air Force
Peringkat No. 4. India, Point : 571.4
170 Su-30MKI, 63 MiG-29, 51 Mirage-2000, 264 MiG-21; 90 MiG-27, 149 Jaguar; 16+4 MiG-29K, 12 Harrier, 9 Ka-31AEW, 22+5 Sea King, 6 SH-3H, 7 Ka-25, 13 Ka-28; 3 Il-76 Phalcon, 7 Il-78; 3 C-17, 17 Il-76, 6 C-130, 109 An-32; 27 Mi-35, 4+20 Rudra; 150+9 Mi-8/17, 3 Mi-26, 47+8+45+9 Dhruv, 34+48 SA-315, 55+60+18 SA-316, 12 Lance

Angkatan Udara India adalah salah satu contoh angkatan udara yang berhasil membangun air powernya secara signifikan terbukti dengan bertengger di nomor 4, ini tidak terlepas dari faktor-faktor pendorong yang spesifik antara lain : Pertama adanya “Konflik Abadi” dengan Pakistan yang mendorong Pemerintah India banyak menggelontorkan milyaran dolar untuk belanja alut sista, Kedua meskipun India bukan negara komunis namun mendapatkan banyak pasokan persenjataan yang terbaik dari Rusia dahulu Uni Soviet,nampaknya ini buah dari kesetiaan mereka terhadap produk-produk Rusia meskipun demikian mereka tetap bisa “smart shopping”  Faktor Ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah peran Industri Dirgantara Hindustan  Aeronautics Limited (HAL) yang diawal berdirinya Oktober tahun 1964  diberi modal US$ 72 Juta dan di tahun 2014 Revenuenya menjadi:  US$ 2.8 Milyar, Net income: US$ 420 Juta, Total equity: US$ 2.4 milyar dan memperkerjakan: 32.108 orang dan sudah berhasil melakukan rancang bangun mandiri pesawat fighter yakni HAL Tejas Light Combat Aircraft.

HAL Tejas Light Combat Aircraft diproyeksikan untuk mengganti sekitar dua ratusan pesawat MiG 21 Fishbed.


Republic Singapore Air Force (RSAF} Peringkat ke 23 (Th 2013) Didirikan 1 September 1968

RSAF Crest
Peringkat No. 23. Singapore, Point : 130.2
24 F-15E, 74 F-16, 41+8 F-5; 4 E-2, 4 KC-135, 5 KC-130; 5 C-130; 20 AH-64, 12 CH-47, 6 S-70, 22+12 AS-332

Republic Singapore Air Force adalah contoh keberhasilan lain, berbeda dengan Angkatan Udara India yang menjadi faktor terpentingnya adalah kemampuan dan keberhasilan mereka mengelola sumber daya manusianya tidak saja terbatas dilingkungan angkatan bersenjatanya bahkan lebih jauh secara nasional., hal ini menjadikan Negara Singapura menjadi negara termaju.secara ekonomi di Asia Tenggara, RSAF menjadi angkatan udara yang efisien yang fokus pada beberapa jenis pesawat saja, bahkan lebih jauh RSAF sudah bersiap-siap mengoperasikan jet tempur generasi ke 5 yakni F-35 Lighning II.

Saat ini yang menjadi Back Bone RSAF adalah F-16D Block 52+ Fighting Falcon dan F-15SG Eagle



Vietnam People’s Air Force Peringkat ke 29 (Th 2013)

Không Quân Nhân Dân Việt Nam
Peringkat No. 29. Vietnam, Point : 99.6
24 Su-30, 10 Su-27, 200 MiG-21; 145 Su-22, 8 Yak-130; 45 An-26, 11 M-28; 36 Mi-24, 69+67 Mi-8/17, 8 SA-330/332, 15 UH-1, 6 AS-365, 7 Ka-27

Angkatan Udara Rakyat Vietnam juga merupakan salah satu contoh peningkatan air power yang cukup signifikan dan mempunyai latar belakang sejarah yang mirip dengan TNI AU yakni sebagai angkatan udara yang lahir dan dibesarkan dalam kancah revolusi. Adapun pencapaian dari AU Vietnam adalah banyak menghasilkan Aces saat Konflik Indochina, penerbang-penerbang AU Vietnam dengan menggunakan pesawat MiG-17 (teknologi tahun 50an) bisa menembak jatuh pesawat F-4 Phantom II (teknologi tahun 60an), ini membuktikan bahwa faktor manusia sangat penting dalam air power suatu angkatan udara,


Luu Huy Chao dan Le Hai, Pilot NVAF MiG 17, masing-masing diberi penghargaan untuk 6 kemenangan di udara melawan pesawat-pesawat Amerika diatas ruang udara Vietnam Utara.


Tentara Nasional  Angkatan Udara TNI AU Peringkat tidak diketahui (Th 2013), Didirikan 9 April 1946
 Bhuawana Paksa
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
Peringkat tidak diketahui. Indonesia, Point : 38.3
11 Su-30, 5 Su-27, 10 F-16, 11 F-5; 25 BAE Hawk; 10 C-130, 6 L-100, 18+3 CN-235; 11 AS-330, 8 Be-412, 4 Be-204, 9 AS-332, 20 EC-120, 20 Be-412

Dalam perjalanannya TNI AU mengalami masa-masa pasang surut, idealnya airpower suatu angkatan udara tidak boleh menurun atau setidak-tidaknya dapat terus dipertahankan,,dimasa lalu TNI AU sempat disegani karena air powernya diperkuat pesawat-pesawat maju dijamannya seperti MiG-21 Fishbed dan Pembom Tu-16 Badger.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara sebenarnya memiliki dua modal dasar yang tidak kalah dengan air force negara lain bahkan secara historical gain cukup menonjol dan membedakan dengan air force lainnya sebagai air force yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kancah revolusi tidak semua air force memiliki background seperti ini, dan berikut pencapaian secara historis.

Peristiwa 29 Juli 1947
Peristiwa heroik 29 Juli 1947 sejatinya merupakan perlambang Bhakti Tertinggi TNI AU terhadap Bangsa dan Negara Republik Indonesia disaat Bangsa dan Negara sedang berjuang mempertahankan Kemerdekaan (menghadapi agresi militer Belanda). Pada saat itu TRI AU baru berumur kurang dari 15 bulan akan tetapi Pimpinan dan segenap Anggota TRI AU tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk segera memenuhi Panggilan Tugas.

Bermodal pesawat rongsokan peninggalan Jepang, Pimpinan TRI AU saat itu Komodor Udara Rd. Soerjadi Soerjadarma beserta staf merencanakan Air Strike pertama dalam sejarah TNI AU terhadap posisi-posisi militer Belanda, dengan mensiasati keterbatasan-keterbatasan maka dirancang serangan udara dilakukan pada dini hari untuk menghindari kejaran Kitty Hawk Belanda (ini merupakan taktik gerilya di udara) dan selanjutnya rencana air strike tersebut dilaksanakan dengan gagah berani oleh Penerbang-Penerbang TRI AU dengan dibantu Kru, meskipun menjelang senja harinya militer Belanda melakukan pembalasan dengan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA sehingga menyebabkan gugurnya para Pahlawan.
Menembak jatuh Allen Pope

P 51 Mustang Ign Dewanto menyergap B 26 Invaders Allen Pope

Satu momen bersejarah lainnya adalah  saat AURI menumpas pemberontakan Permesta adalah ketika seorang penerbang AURI dapat menembak jatuh sebuah pesawat B 26 Invander AUREV.  Pagi itu, pada tanggal 18 Mei 1958 di Pangkalan Udara Liang, Kapten Udara Ignatius Dewanto tengah bersiap di kockpit P-51 Mustang. Dia ditugaskan menyerang pangkalan udara AUREV di Sulawesi Utara. Hanya beberapa saat sebelum Dewanto take off menuju Manado, dia menerima sebuah berita yang memaksanya membatalkan serangan ke Manado dan harus mengarahkan pesawat ke Ambon karena kota tersebut dibom oleh B-26 Invader AUREV. Ketika berada di atas udara Ambon, Dewanto melihat  asap mengepul di mana-mana. Puing-puing berserakan, menandakan baru saja terjadi serangan udara terhadap Ambon. Pesawat kemudian dibawa untuk berputar-putar sejenak, B-26 Invader AUREV tidak terlihat. Kemudian pesawatnya diarahkan ke barat. Ferry tank dilepas untuk menambah kelincahan pesawat.


Dewanto terbang rendah, saat pandangannya tertuju ke konvoi kapal ALRI, sekelebat dilihatnya pesawat B-26 Invader AUREV. Pesawat tersebut ternyata tengah melaju ke arah konvoi kapal ALRI tersebut. Dewanto terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26 tersebut. Walau sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan dia, Kapten Dewanto segera menembak dengan roketnya, tapi meleset yang kemudian disusul dengan tembakan 12,7 mm, karena tembakan rentetan dan jaraknya sudah lebih dekat kemungkinan kena lebih besar. Alhasil, B-26 yang diterbangkan seorang serdadu bayaran bernama Allen Lawrence Pope beserta juru radio Hary Rantung (bekas AURI), terbakar dan tercebur ke laut. Posisi  jatuhnya pesawat B-26 tersebut pada koordinat 03.40 LS dan 127.51 BT. Dewanto yakin peluru 12,7 mm nya mengenai sasaran, hal ini dikuatkan dengan adanya asap yang mengepul keluar dari badan pesawat. Sementara dua awak pesawat B-26 kelihatan meloncat menggunakan parasut. Sewaktu berusaha mendarat payung Allen Pope menyangkut di pohon kelapa di Pulau Tiga, ketika hendak turun dari pohon kelapa ia terhempas ke batu karang sehingga kakinya patah dan badannya luka-luka. Sementara yang seorang lagi operator Radio Harry Rantung bekas anggota AURI juga jatuh ke laut kemudian dapat berenang ke tepi, akhirnya keduanya dapat ditangkap. (meskipun epic yang sama diklaim juga oleh TNI AL tetapi penulis lebih meyakini versi TNI AU nya}

Pencapaian historically TNI AU secara kwantitatif relatif berada dibawah AU Vietnam tetapi dampak historically justru lebih besar karena meskipun AU Vietnam banyak menghasilkan aces tetapi itu tidak terlepas dari situasi kondisi saat itu yang diwarnai tarik menarik blok barat dan blok timur, sedangkan Negara Indonesia saat itu berada diluar tarik menarik antar blok tersebut dengan kata lain TNI AU melakukan segalanya tanpa bantuan asing sehingga lebih “origin” dan “authentic”.

Program KFX-IFX
Saat ini Pemerintah Indonesia sedang berupaya melakukan riset pembuatan pesawat fighter generasi 4.5 setelah di tawarkan kerjasama oleh Pemerintah Korea Selatan untuk ikut serta dalam proyek kerjasama KFX-IFX, Pihak Indonesia berharap Program KFX-IFX ini menjadi jembatan untuk bisa berswasembada fighters.

Program kerjasama ini membutuhkan biaya total US$ 5 Milyar, dimana Indonesia dikenakan kontribusi sebesar 20% dari total biaya atau sebesar US$ 1 Milyar untuk jangka waktu 2011-2020, program ini dimulai pada Agustus 2011, dengan tahapan kerjasama :
•    Tahap Technology Development (TD), 2011-2013
•    Tahap Engineering and Manufacturing Development (EMD), 2013-2019
•    Tahap Production, 2019-2024

Adapun dari segi pelaksanaan anggaran, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan anggaran untuk pelaksanaan program kerjasama ini sebesar US$ 10 Juta dengan rincian TA. 2011 sebesar US$ 2,7 Juta dan TA 2012 sebesar US$ 7,3 Juta, adapun DIPA TA 2013 pagu yang telah dialokasikan sebesar Rp. 1,! Trilyun

Namun demikian Pihak Korsel secara sepihak melalui DAPA (Defense Acquisition Programme Administration), lembaga ristek yang bernaung dibawah Kemhan Korsel menyatakan menunda tahap EMD, dengan alasan belum ada persetujuan anggaran dari Parlemen Korsel. Seharusnya Pihak Indonesia dapat mengantisipasi kemungkinan ini dikarenakan sudah cukup banyak mengeluarkan anggaran bahkan lebih jauh hal ini dapat mendorong rancang bangun secara mandiri seperti yang dilakukan Pemerintah India dengan HAL Tejas LCA nya.


KFX-IFX
http://fc00.deviantart.net/fs70/f/2014/221/2/8/kfx___ifx_01__c103__6_view_international_color_by_haryopanji-d7twncw.jpg
Archipelago Power
Sudah saatnya ke Tiga Matra TNI duduk bersama merumuskan powernya masing-masing melalui perumusan Doktrin Pengembangan (Developing Doctrine) dan Rencana Pengembangan (Developing Plan) untuk menghindari tumpang tindih tugas atau peran, misalnya untuk peran counter insurgent (coin) jika sudah “diambil” oleh TNI AD (Penerbad) dengan Mi-35 nya, maka TNI AU tidak perlu ikut mengambil peran sama dengan Skuadron Taktis nya (Super Tucano dahulu OV-10 Bronco). Sehingga TNI AU bisa lebih fokus dalam perannya menjaga Ruang Udara Nasional antara lain dengan lebih banyak pesawat fighternya, karena penggunaan budget menjadi lebih efisien, meskipun ini tidak mudah karena “ego sektoral” harus dihapuskan di tiga Matra TNI.
Berikutnya Program IFX harus terus dilanjutkan dengan atau tanpa Pihak Korsel karena sudah cukup banyak menyedot anggaran, pengalaman India mengembangkan National Fighter HAL Tejas LCA dapat dijadikan benchmark.
Sehingga didapat Air Power TNI AU + Sea Power TNI AL + Land Power TNI AD = Archipelago Power
Archipelago Power didefinisikan sebagai Kemampuan Pertahanan Negara Kepulauan yang bertumpu pada Sinergitas Kekuatan Udara, Kekuatan Laut dan Kekuatan Darat dari Tentara Nasional Indonesia.
Dirgahayu 69 Tahun TNI AU Swa Bhuawana Paksa !

Penulis : Moh. Abriayanto
Sumber-sumber :
•    Wikipedia
•    http://fc00.deviantart.net/fs70/f/2014/221/2/8/kfx___ifx_01__c103__6_view_international_color_by_haryopanji-d7twncw.jpg
•    http://www.mindef.gov.sg/imindef/mindef_websites/atozlistings/air_force/index.html
•    http://www.hal-india.com/
•    http://www.quocphonganninh.edu.vn/tabid/89/catid/404/item/2850/nhung-buc-ky-hoa-nuoc-ngoai-di-vao-mai-mai.aspx
•    http://forums.military.com/eve/forums/a/tpc/f/8001934822/m/7140064703001
Share: