Orientasi Pola Pikir Yang Terbalik Perlu Perhatian KPI

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mencoba mencermati Pola Komunikasi di Media Masa di Indonesia pada umumnya, terlihat jelas kita membiarkan untuk pikiran kita dijajah oleh Pihak Asing. Di sini diperlukan kejelian Pihak-pihak terkait, untuk mengawasi kalimat-kalimat yang dapat membawa kita ke pola pikir yang Inferior.

Tidak sengaja menonton acara di salah sebuah stasiun Televisi Swasta, yang menyiarkan Reality Show, yang disponsori oleh sebuah perusahaan minuman. Di sela-sela acara si pembawa acara tidak henti-hentinya menanyakan apakah tamunya yang dari India senang dengan Teh tersebut, setelah mendapatkan jawaban "Senang". Sang pembawa acara memberikan kalimat perbandingann "Dia saja (yang notabene orang Asing) senang dengan Teh tersebut"

Secara implisit si pembawa acara mengatakan, kamu kaum interior jangan sok mengada-ada selera kamu.... Dengan demikian jelas, bahwa pikiran si Pembawa Acara tersebut sudah sejak kecil terkooptasi oleh pikiran inferior, yang membiarkan pola pikir dirinya dijajah oleh pola pikir asing.

Ada dua contoh belakangan ini yang saya tidak sengaja menontonya; Ketika acara Najwa Shihab di Metro TV "Sepak Bola Gajah", sang Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mengatakan bahwa Sepak Bola ini milik Viva. Untungnya pas Najwa Shihab menanyakan kepada pak Menteri, pak Menteri menjawab Sepak Bola milik Rakyat Indonesia. Dari kalimat Ketua Komisi Disiplin, terlihat jelas banyak orang yang sudah terkooptasi pola pikirnya dengan semua sistem yang dibuat untuk membuat pikiran kita menjadi satu ke arah mereka.

Bukan tanpa alasan, kalau mereka sedang menggiring kita untuk menuju satu norma yang mereka kuasai.

Dari sisi AgiPro, mereka sudah melempar jargon, Satu Hati, Satu Dunia, dan entah apalagi, hingga nantinya Satu Sistem yang mereka kuasai.

Dari kalimat Ketua Komdis tadi, terlihat sangat takutnya dituduh keluar dari rel mereka. Hingga yang lucu, Kita takut untuk diembargo, dlsb.

Hingga persis seperti; Pemilik Sawah dan Lumbung Padi, yang takut dengan tengkulak.

Sapto Satrio Mulyo
Foto : Istimewa
Share:

Perfilman Indonesia dan Ronald Reagan

Hamburg (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman saya membaca buku-buku di sebuah perpustakaan di Hamburg, kala itu masih Jerman Barat. Dimana saya sempat membaca buku Laporan (Kebijakan setelah 25 Tahun Laporan Intelijen AS dapat dipublikasikan) yang menyatakan bahwa Ronald Reagan adalah agen CIA sejak muda, dan sengaja dimasukan ke Hollywood dalam rangka mengawasi aliran dana Rusia dalam pembuatan Film-film di Hollywood.

Singkat kata logika yang saya dapat, Film adalah alat untuk mengubah logika berfikir yang efektif. Artinya dalam rangka  "Revolusi Mental" yang dicanangkan oleh Bapak Joko Widodo, salah satu bahkan yang paling Esensial adalah memperketat Perfileman di Indonesia yang harus mengikuti Rel yang sejalan dengan Cita-cita Founding Father kita.

Gambarannya begini, kalau saja Pemerintah Amerika tidak jeli mengawasi, maka konsep Hak Azasi Amerika bisa-bisa didalamnya justru menerapkan nilai-nilai "Hak Azasi Rusia", yang mana Rusia kala itu, menerapkan Hak Azasi ala Rusia itu sendiri.

Film-film yang mayoritas ada di Indonesia saat ini, dapat dikatakan, mengarah pada pembelajaran nilai-nilai Asing, ketimbang Nilai-nilai Leluhur kita sendiri. Oleh karenanya kata-kata Gus Dur yang Pemikirannya sangat kita hormati, terpampang di pojok kanan Laman ini, hal ini untuk selalu mengingatkan kita, apa yang benar dan apa yang salah.

Jadi kita jangan disibukan oleh masuknya nilai-nilai asing dari Barat saja, tetapi menyitir kata-kata Gus Dur, maka kita juga harus mewaspadai nilai-nilai dari Arab, yang selalu menempatkan Kesalahan di Luar Dirinya, ditambah lagi dengan Standar Ganda-nya.

Makanya tidak heran sekarang banyak maling teriak maling.... "Karena logika kesalahan bukan pada saya", tidak heran juga ketika ditangkap KPK malah berakting bak Selebriti, senyum2 dan melambaikan tangan... (SSM) | Foto : Istimewa
Share:

Menteri Susi Kaulah Dambaan Nelayan NKRI

Bengkalis (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman singgah di Bengkalis sekitar tahun 2010-an, saya melihat betapa sedihnya ketika penguasa berpihak kepada Nelayan Asing, ketimbang Nelayan NKRI.

Padahal Nelayan di sana, sudah menggunakan Kearifan Lokal untuk mempertahankan kelangsungan rantai kehidupan ikan-ikan Kurau itu sendiri.

Mereka bahkan tidak serakah, memancing hanya dengan pancing rawai, pancing tradisional yang mereka gunakan hingga saat ini, karena patuh pada pesan Leluhur mereka, bahwa pola memancing dengan pancing rawai ini dapat menjaga kelestarian ikan-ikan kurau itu sendiri.

Mereka pun hanya berharap mendapat ikan yang beratnya tertentu, demi mempertahankan kelangsungan hidup ikan-ikan Kurau tersebut.

Tetapi apa yang dilakukan Negara tetangga dengan pukat harimau, hingga berdampak merusak karang-karang laut. Hal tersebut meski diketahui pemerintah setempat, mereka tidak bergeming untuk menghalaunya.

Singkat kata, semoga Menteri Susi juga tidak hanya melihat lautan yang luas, tetapi juga memperhatikan Nelayan-nelayan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Saya yakin, kalau mereka diberi haknya sebagai warga negara, mereka pun akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, hingga tercipta, nelayan membantu Aparat. Tidak seperti dahulu.... Nelayan takut kepada Aparat yang berpihak kepada???

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Menteri Susi Kaulah Dambaan Nelayan NKRI

Bengkalis (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman singgah di Bengkalis sekitar tahun 2010-an, saya melihat betapa sedihnya ketika penguasa berpihak kepada Nelayan Asing, ketimbang Nelayan NKRI.

Padahal Nelayan di sana, sudah menggunakan Kearifan Lokal untuk mempertahankan kelangsungan rantai kehidupan ikan-ikan Kurau itu sendiri.

Mereka bahkan tidak serakah, memancing hanya dengan pancing rawai, pancing tradisional yang mereka gunakan hingga saat ini, karena patuh pada pesan Leluhur mereka, bahwa pola memancing dengan pancing rawai ini dapat menjaga kelestarian ikan-ikan kurau itu sendiri.

Mereka pun hanya berharap mendapat ikan yang beratnya tertentu, demi mempertahankan kelangsungan hidup ikan-ikan Kurau tersebut.

Tetapi apa yang dilakukan Negara tetangga dengan pukat harimau, hingga berdampak merusak karang-karang laut. Hal tersebut meski diketahui pemerintah setempat, mereka tidak bergeming untuk menghalaunya.

Singkat kata, semoga Menteri Susi juga tidak hanya melihat lautan yang luas, tetapi juga memperhatikan Nelayan-nelayan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Saya yakin, kalau mereka diberi haknya sebagai warga negara, mereka pun akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, hingga tercipta, nelayan membantu Aparat. Tidak seperti dahulu.... Nelayan takut kepada Aparat yang berpihak kepada???

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Mensana in Corpore Sano Pembodohan Sistematis

Berlin (Indonesia Mandiri) - Didalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang kuat. itulah yang ada di catatan SD saya pada saat itu. Filosofi itu kita percaya, dan jalankan bertahun-tahun.

Sejenak harusnya kita berfikir, bahwa banyaknya Orang Gila yang badannya sehat, maka seharusnya filosofi tersebut harusnya sudah usang. Dan cenderung dapat kita katakan sebagai konspirasi marketing pabrik-pabrik VItamin besar dunia.

Pembodohan di atas, menyumbang konsep pemasaran vitamin yang notabene pabrik-pabriknya kala itu dimiliki asing, dapat dengan mudah menjual Vitamin produksinya.

Dilain pihak, anehnya hingga besar kita berfikir, beli Vitamin buatan pabrik asing, biar memiliki Jiwa yang sehat. Sadar tidak sadar,  kita terbuai dengan filofosi tersebut.

Mengapa mereka melakukan itu? Hal ini dikarenakan, bagi kita yang hidup di Indonesia ini, tidaklah susah untuk menjadi sehat. Hanya dengan mengkonsumi sayuran, buah-buahan, dan hewani yang ditanam atau dipelihara secara Kearifan Lokal, maka dapat dipastikan kita semua akan sehat.
Sapto Satrio Mulyo
Foto : Istimewa
Share: