Tugas Strategis Pushidrosal Dan Semangat Dharma Samudera

Produksi peta laut Pushidrosal sangat mendukung keselamatan pelayaran di perairan Indonesia
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Ada yang menarik dari pelantikan Komandan Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) Laksamana Muda TNI Dr. Agung Prasetiawan, MAP, oleh Kepala Staf Angkatan Laut/Kasal Laksamana TNI Yudo Margono pada 1 Maret 2021 lalu.

Dalam upacara pelantikan didasarkan pada Surat Keputusan KSAL Nomor 613 dan 615/III/2021 tentang Peresmian Kodiklatal dan Pushidrosal yang telah divalidasi, kini dijabat Perwira Tinggi/Pati Berbintang Tiga atau Laksamana Madya. Pangkat Agung Prasetiawan pun dinaikkan setingkat menjadi Laksamana Madya.  

Artinya, Pushidrosal sebagai organisasi non-tempur kini telah relatif setara dengan lembaga pemerintah non-kementerian yang dipimpin oleh perwira tinggi aktif berbintang tiga seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Keamanan Laut (Bakamla) atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sejak berdirinya pada 14 Juli 1960 dengan nama Djawatan Hidrografi Angkatan Laut (Djanhidral), organisasi ini memang sungguh istimewa. Kepala Janhidral pertama, Drs. Wardiman, pada waktu itu telah berpangkat komodor laut (kini setara dengan laksamana pertama). Sedangkan pangkat Kepala Staf Angkatan Laut, yang pada waktu itu dijabat Raden Eddy Martadinata, baru Laksamana Muda! Hanya selisih satu bintang antara KSAL dengan Kepala Janhidral.

Wajar memang, mengingat tugas satuan ini yang tak ringan dan sangat strategis bagi sebuah negara maritim besar seperti Indonesia. Ia mengemban fungsi survei, penelitian, pemetaan laut, publikasi, penerapan lingkungan laut dan keselamatan navigasi pelayaran baik bagi kepentingan TNI maupun umum. Serta menyiapkan data/informasi wilayah pertahanan di laut guna mendukung tugas pokok TNI AL.

Laksdya TNI Agung Prasetiawan, Komandan Pushidrosal dengan Laksamana Bintang Tiga
Kurang lebih sama tugasnya dengan United Kingdom Hydrographic Office (UKHO) yang menerbitkan British Admiralty Nautical Chart yang dipakai oleh pelaut sejagad raya hingga hari ini.

Apakah pengembangan organisasi ini hanya salah satu cara pemerintah untuk mengatasi lonjakan jumlah perwira tinggi TNI? Dalam kaitannya dengan Pushidrosal, jawabannya tidak. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, wajib rasanya memberdayakan segenap potensi maritim beserta sarana-prasarana dan pemangku kebijakannya.

Perkembangan dunia kelautan Indonesia makin menemukan tantangannya, baik dari luar maupun dalam negeri. Dan sebagai salah satu organisasi pengemban tugas utama TNI-AL yang banyak berhubungan dengan aparatur sipil maritim dan maritime stakeholders, bukan tak mungkin apabila kelak Pushidrosal berganti nama menjadi Badan Hidro-Oseanografi Nasional.

Peran Pushidrosal yang sangat strategis dan menjadi representasi negara dalam hal kegiatan Hidro-Oseanografi di International Hydrographic Organization (IHO) sejak  1960. Pada 2017 Pushidrosal telah duduk sebagai anggota Dewan IHO, menjadikan lembaga ini ikut andil dalam berbagai forum internasional saat membahas kemaritiman.

Berbagai perlengkapan alat utama sistem senjata/alutsista pendukung riset Hidro-Oseanografinya, terus ditingkatkan. Baru saja Pushidrosal menambah satu Kapal Perang RI atau KRI Pollux-935, produksi dalam negeri, serta terus mengasah kemampuan prajuritnya/sumber daya manusia guna mendukung tugas utamanya.

KRI Pollux-935 kini memperkuat alutsista Pushidrosal
Dalam peringatan Hari Dharma Samudera oleh keluarga besar TNI AL pada Januari 2022 ini, peran Pushidrosal kian bertambah besar dan berat, dalam semangat mengisi perjuangan menegakkan kedaulatan perairan NKRI baik di dalam dan luar negeri. Jalesveva Jayamahe! Jala Citra Praja Yodha! (Abriyanto & Samuel Priambodo, wartawan indonesiamandiri).

Foto: Istimewa

أحدث أقدم