Home » » Mayor Udara Corinus Krey, Pahlawan Papua Yang Nyaris Terlupakan

Mayor Udara Corinus Krey, Pahlawan Papua Yang Nyaris Terlupakan

Posted by Indonesia Mandiri on Februari 15, 2021

Mayor TNI AU Corinus Krey, putra Papua pencetus nama Irian (Ikut Republik Indonesia Anti Netherland) pada 1945
Jayapura
 (IndonesiaMandiri) – Sejarah tentang tanah Papua kembali terkuak. Kini, munculnya nama  Corinus Marselus Koreri Krey dalam pergulatan perjuangan di Papua, dimana beliau adalah prajurit TNI AU. Adalah Komandan Pangkalan Udara TNI AU (Danlanud) Silas Papare, Marsma TNI Budhi Achmadi, yang berkunjung ke rumah pahlawan nasional asal Papua, Marthen Indey, dan memperoleh banyak cerita sejarah menarik (14/2). 

Marsma TNI Budhi bertemu dengan Ibu Aca, salah satu cucu Marthen Indey, yang bertugas merawatnya hingga akhir hayat, dan menyampaikan amanahnya. “Jasa Corinus Krey kepada bangsa Indonesia dan Papua sangatlah besar. Apapun bentuk penghargaan negara kepada saya, maka Corinus Krey juga pantas untuk mendapatkannya. Dan kami mohon agar Corinus dapat diurus menjadi pahlawan seperti bapak kami dan komandan bisa menemui Ibu Corinus karena beliau masih ada,” ucap Aca.

Corinus Krey bergabung bersama TNI AU berstatus sebagai Mayor Kehormatan sejak 1967-1975. Namun perlu diketahui, saat itu, pangkat Mayor AU sudah menjadi pangkat militer tertinggi yang disandang putra asli Papua, seeperti pejuang lain yang mendapatkan pangkat kehormatan, yaitu Marthen Indey dan Abraham Dimara sebagai Mayor AD. Pangkat militer itu diberikan kepada tokoh asli Papua yang telah berjasa besar memperjuangkan pembebasan Papua dari kolonialisme Belanda.

Kisah perjuangan Corinus berawal dari  gerakan pemuda yang dirintis Kepala Sekolah Beestur (Pamong Praja) Jayapura, Soegoro Atmoprasodjo, yang melibatkan Frans Kaisiepo (siswa sekolah Beestur) dan Corinus Krey (ajudan Soegoro). Soegoro adalah salah satu penggerak nasionalisme di Papua dan pada t1 April 1945 mencetuskan ide mengubah nama Papua, berasal dari kata PAPA HUA, yang sering dipakai oleh Kerajaan Tidore dan memiliki arti TIADA BAPAK. Hal itu terjadi karena Kerajaan Tidore menganggap sejarah Papua tidak diketahui asal usulnya sehingga disebut demikian. 

Dalam rangka mengangkat  harkat dan martabat Papua, maka para pemuda Papua berpikir mencari nama lain yang juga berasal dari sejarahnya  (Hikayat Koreri). Maka, diskusi Corinus Krey dan Frans Kaisiepo yang terjadi di Jayapura pada 1 Mei 1945, melahirkan nama IRIAN sebagai ganti kata PAPUA. Corinus Krey berulang-ulang menceritakan kepada anak cucunya, IRIAN memiliki arti "Ikut Republik  Indonesia Anti Netherland". 

Ketika itu pejabat Belanda ingin membungkam gerakan nasionalisme Indonesia di Papua. Frans Kaisiepo dan Corinus Krey mengambil kata IRIAN dari bahasa Biak yang artinya PANAS, karena tanah Papua adalah tempat matahari terbit. Promosi nama dilakukan kepada kepala-kepala suku dan dititipkan kepada Frans Kaisiepo yang mewakili pemuda Papua dalam Konferensi Malino, 18 Juli 1946.

Pada 1947, Krey bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) sebagai Sekretaris II dibawah pimpinan Dr. Gerungan. Organisasi ini adalah motor pergerakan politik menentang Belanda dan disinilah Krey mulai berjuang bersama Marthen Indey yang menjabat Komisaris 1 KIM. Ketika Belanda mengendus KIM, Dr Gerungan dipulangkan ke Ambon dan KIM akhirnya digerakkan oleh Marthen Indey dan Corinus Krey.

Sepanjang hidupnya, Corinus Krey empat kali merasakan kejamnya penjara Belanda di Papua, yaitu penjara Kota Nica Jayapura (1-7 Desember 1945), Abepura  Jayapura (7-3-1947 hingga 7-8-1947), Biak (7-12-1949 hingga 7-6-1950), dan terlama tujuh tahun di Digul (7-6-1950 hingga 7-8-1957).  

Kepada putranya Max Krey, Corinus pernah bercerita, Belanda telah menanam bagian perutnya ke bawah dalam kubangan dan diplester dengan semen hingga mengeras, sehingga menyisakan bagian perut ke bawah membiru dalam waktu lama. Dokumen kesaksian Corinus pernah dipenjara empat kali ditandatangani oleh Marthen Indey karena kebetulan juga "rekan di penjara yang sama".

"Sekelumit tentang kisah mendiang Mayor AU Corinus Krey ini didapatkan dari dokumen yang ditinggalkan Almarhum, serta dialog dengan Ibu Martina Krey beserta putra-putra," jelas Marsma TNI Budhi Achmadi.

Yang menarik, jelas Danalud Silas Papare, beberapa dokumen dan kesaksian diparaf langsung oleh rekan seperjuangannya, Marthen Indey. Sepertinya, Marthen Indey yang jauh lebih senior dari Krey sudah mengantisipasi, saat dirinya berpulang maka akan semakin sedikit akan bisa menjadi saksi perjuangan sahabatnya tersebut. 

Ditambahkannya, selain pernah berdinas di Lanud Jayapura sebagai perwira TNI AU, almarhum adalah anggota MPRS Tahun 1964-1968 dan pemegang bintang veteran RI. “Terima kasih Bapak, dan bangsa Indonesia berhutang besar padamu, Corinus Marselus Koreri Krey," tegas Marsma TNI Budhi Achmadi (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

About me

Indonesia Mandiri

Facebook

Cakrawala

About us

NeoMag is a blogging Blogger theme featuring a sleek, stylish and modern design suitable for everyone who loves to share their stuff online.