Home » » Perlunya Etika Pemberitaan Bencana

Perlunya Etika Pemberitaan Bencana

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Kementerian Pariwisata memandang penting bersinergi dengan Pentahelix (yang terdiri dari akademisi, bisnis/industri, masyarakat, media, dan pemerintah) khususnya media, terkait pemberitaan soal bencana di tanah air belakangan ini. Karena dampak dari pemberitaan yang “berlebihan” terhadap sebuah bencana yang terjadi, akan mengakibatkan industri pariwisata terpuruk. Padahal, sektor pariwisata nasional empat tahun terakhir ini sedang menggeliat maju datangkan banyak keuntungan.

Hal ini yang ditegaskan Menteri Pariwisata Arief Yahya menggelar Forum Group Discussion (FGD) Pencanangan Gerakan Jurnalisme Ramah Pariwisata di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta (24/10). Para pembicara dalam FGD sangat kompeten, seperti Ahmad Johar Wakil Ketua Dewan Pers, Atal S. Depari Ketua PWI Pusat, Priyambodo Lembaga Pers De Soetomo, Sutopo Purwo Nugroho/BNPB, Agus Sudibyo/SMSI serta Don Kardono Stafsus Menteri Pariwisata.

MenprArief Yahya menekankan karena industri pariwisata sangat rentan terhadap bencana, maka perlu pengelolaan yang baik dan bijak dalam pemberitaan ke publik. Ia mencontohkan di Jepang dan Thailand dimana medianya bersatu saat memberitakan sebuah bencana dinegerinya, sehingga wisatawan tetap aman berkunjung. Media di Jepang dan Thailand lebih banyak ekspose proses mitigasi atau penanganan bencananya.

Ini yang diharapkan terjadi di Indonesia, agar peran media yang begitu penting juga dapat berperan strategis dalam memberitakan bencana, seperti baru-baru ini di Bali, Lombok dan Sulawesi Tengah. FGD memang fokus untuk adanya pencanangan gerakan jurnalisme ramah pariwisata, tanpa harus mengurangi fakta pemberitaan yang asa secara berimbang (mab).

Foto: Dok. Kemenpar 

Thanks for reading & sharing Indonesia Mandiri

Previous
« Prev Post

Menuju Indonesia Mandiri

Populer