Nursjafdini Thamrin: Hidup Semata-Mata Tentang Berbuat Baik....


Jakarta (IndonesiaMandiri) - Namanya Hj Nursjahdini Thamrin SE. Ia adalah seorang ibu rumah tangga, dengan berbagai aktifitas sosial yang banyak. Diusianya yang kian senja - ia biasa dipanggil Dini - namun tetap ingin tampil “muda” terus, baru saja meluncurkan buku biografinya yant berjudul “Melati Tegar Di Tengah Karang, di Gedung Smesco, Jakarta (1/10).

Dini yang berdarah minang kelahiran 28 Juni 1953, menapak karir muda layaknya seorang anak gadis yang bermimpi ingin menggapai langit. Langkah itu diraihya dengan tepat dan disiplin sejak muda.

Sebagai anak tertua dari enam bersaudara, Dini sudah ditanamkan sejak remaja bahwa menjadi perempuan harus mandiri. Ia yang menjaga adik-adiknya, pun dipesankan orangtuanya, bahwa kelak jika sudah berkeluarga, tetap tidak boleh menggantungkan kepada suami.
“Menggantungkan suami setiap saat, itu sungguh kurang bagus,” pesan ibunya. “Setinggi apapun wanita bersekolah, kita tetap harus bisa menguasai dapur sambil mencari nafkah sendiri,” sambung ibunya.

Itulah yang memacu Dini saat bisa bergabung di maskapai nasional Garuda Indonesia sebagai pramugari, ia menggelutinya dengan tekun. Bukan sekedar “pelayan” di udara. Tapi ilmu melayani publik secara luas, ditekuninya. Tak heran, ia pun ditunjuk sebagai guru dalam pendidikan pramugari Garudaa Indonesia di masa berikutnya. Ilmu itu pula yang membuat berbagai maskapai penerbangan lainnya meminta Dini untuk mengajar.

Keluwesan dan kecerdasan Dini dalam berkarya, juga membuat dirinya banyak dipercaya untuk mengisi posisi penting lain di Garuda Indonesia maupun anak perusahaannya, Gapura Angkasa.

Yang menarik dalam kisah bukunya setebal 145 halaman ini, Dini seperti tidak pernah lelah dalam berbuat kebaikan untuk berbagi ilmu. Ia aktif mengurus dan mendanai Pondok Pesantren Nur Hidayatullah di Tanjung Lesung, Banten dengan mengasuh 239 santri yatim. Hasil penjualan bukunya yang disunting oleh Pipiet Senja ini, akan disumbangkan semuanya untuk kelanjutan pengembangan pesantrennya.

“Menurut saya, hidup semata-mata tentang berbuat baik dan membentuk koneksi atau jaringan. Karena dari sanalah selalu datang rezki,” ungkap Dini dengan jujur (mab).

Foto: abri
Share:

Arsip