Home » » Djiteng Marsudi: Penjualan Alat Energy Saver Adalah Tragedi Nasional

Djiteng Marsudi: Penjualan Alat Energy Saver Adalah Tragedi Nasional

Depok (IndonesiaMandiri) - Maraknya promosi penjualan alat Energy Saver untuk menghemat biaya penggunaan listrik, sebenarnya merupakan penipuan dan bisa menjadi tragedi nasional. Penjualan alat semacam ini, khususnya kepada pelanggan di kalangan industri dan konsumen besar, sejak dulu sudah ada dan diteliti, serta sudah dilaporkan ke PLN.

Hal itu diungkapkan oleh Ir. Djiteng Marsudi, mantan dosen Departemen Teknik Elektro FTUI dan mantan Dirut PT PLN 1995-1998. Itu dinyatakannya dalam diskusi yang diadakan oleh Keluarga Alumni Teknik Tenaga Listrik Departemen Teknik Elektro-FTUI/Kagatrik UI di Kampus FTUI Depok (31/7), bersama pembicara lainnya yang juga mengkritisi hal serupa, seperti Ir. Amien Rahardjo, MT., Kepala Laboratorium Pengukuran Listrik DTE FTUI.

Menurut Djiteng, kepada pihak PLN waktu itu dikatakan bahwa alat yang diklaim bisa menghemat energi itu sebetulnya sebentuk penipuan. Tetapi jawaban pihak PLN, pemasangan alat tersebut ada di instalasi pelanggan. Jadi PLN tak bisa berbuat apa-apa.

Dijelaskan oleh Djiteng, alat yang menggunakan rangkaian elektronika dan memanfaatkan harmonisa itu banyak dipakai di pelanggan industri. Alat ini bisa mengurangi pembayaran listrik dengan syarat ditempatkan di dekat kWh meter. Putaran kWh meter jadi lambat karena diganjal melalui harmonisa. Seumpama PLN menjual beras, maka dengan alat ini timbangan berasnya diganjal, sehingga bisa lebih murah. Maka PLN sebenarnya dirugikan.

Harmonisa itu menyuntiknya dengan memakai program tertentu. Diprogram begitu rupa, kapan masuknya dan kapan tidak. Kalau timing masuknya tidak pas, bagi konsumen, bayaran listrik justru bisa lebih mahal.

Menurut mantan dosen Elektro FTUI ini, ada tiga modus pencurian tenaga listrik. Pertama, mencantol jaringan tenaga rendah PLN. Ini bisa dilakukan oleh bukan pelanggan PLN. Kedua, mem-bypass alat ukur (KWH meter) PLN. Ketiga, mempengaruhi kerjanya KWH meter PLN, agar menunjukkan nilai lebih kecil daripada nilai konsumsi KWH yang sesungguhnya. Modus ini paling banyak dilakukan pelanggan PLN, termasuk pengunaan “Energy Saver” (sa/ab).

Foto: Istimewa 

Thanks for reading & sharing Indonesia Mandiri

Previous
« Prev Post

Menuju Indonesia Mandiri

Populer