Amien Rahardjo: Banyak Klaim Energy Saver Tidak Terbukti

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Banyak klaim fantastis dari produser alat “Energy Saver,” yang gencar dipromosikan di televisi, ternyata tak terbukti. Alat yang diklaim bisa menghemat biaya listrik 10-40% ternyata gagal menurunkan daya aktif (Watt) beban, dan juga tidak bisa menurunkan konsumsi energi beban alat listrik.

Hal itu dibeberkan oleh Ir. Amien Rahardjo, MT., dalam diskusi yang diadakan oleh Keluarga Alumni Teknik Tenaga Listrik Departemen Teknik Elektro-FTUI (Kagatrik UI) di Kampus FTUI Depok (31/7). Amien adalah Kepala Laboratorium Pengukuran Listrik DTE FTUI. Nara sumber lain di diskusi itu adalah Ir. Djiteng Marsudi, mantan dosen DTE FTUI dan mantan Dirut PT PLN.

Amien mengaku sudah membongkar beberapa sampel alat “Energy Saver” yang dijual di pasaran. Alat itu ternyata hanya berupa rangkaian kapasitor (capacitor bank). Kapasitor bersifat kapasitif sebagai kompensir induktif.
Alat ini hanya berfungsi untuk mengoreksi atau memperbaiki faktor daya, dan hanya bisa menurunkan kebutuhan daya semu (VA) beban. Namun alat ini tidak bisa menurunkan daya aktif (Watt) beban.

Dari sisi konsumen rumah tangga, alat ini justru sangat merugikan bila terpasang saat beban jauh lebih rendah dari kapasitas kemampuan alat. Terkait biaya listrik bulanan setelah pemasangan “Energy Saver,” menurut Amien, daya aktif Watt tidak turun. Maka energi kWh juga tidak turun, sehingga biaya listrik bulanan pelanggan rumah tangga tidak turun. Bahkan bisa jadi naik, karena lebih banyak beban yang bisa dioperasikan pelanggan.

Pada kesempatan itu, Amien menyatakan, Indonesia telah jadi pasar tempat pembuangan limbah teknologi. Banyak produk kelistrikan murah yang tak jelas kualitasnya masuk Indonesia, yang di negara asalnya sudah tak dipakai atau tak laku. Masalahnya, konsumen Indonesia cuma asal mengejar harga murah (sa/ab).

Foto: Istimewa 
Share:

Arsip