Home » » Pilkada DKI 2017, Sebuah Kemunduran Kedewasaan Politik

Pilkada DKI 2017, Sebuah Kemunduran Kedewasaan Politik

Posted by Indonesia Mandiri on April 18, 2017

Jakarta (IndonesiaMandiri) Sejak merdeka 17 Agustus 1945, kita punya Pancasila dan UUD'45. Oleh Presiden RI yang ke 2, niat awalnya memang untuk mengenal lebih dalam mengenai Pancasila dan UUD'45 sebagai Dasar Negara kita yang utama. Dengan perjalanan waktu, Presiden RI ke 2 tersebut, justru meredifinisi Demokrasi Pancasila, sehingga seolah masih dalam bingkai Pancasila dan UUD'45, yang pada intinya kita digiring untuk tidak diperbolehkan membantah Penguasa.
Meskiupun ada rekayasa dalam Penataran P4, demi melegitimasi Penguasa, paling tidak akhirnya kita tahu bahwa adanya Pancasila itu hasil dari penggkajian yang lama, terhadap nilai-nilai yang sudah ada sejak dahulu kala, sejak Leluhur kita ada di Dunia ini. Jadi nilai-nilai tersebut adalah hasil daripada penggalian,  bukan nilai-nilai yang diciptakan, lalu didoktrinasi seperti Ideologi di Dunia pada umumnya. 
Beberapa kali Pancasila akan digusur oleh masyarakat Asing, dengan berbagai dalih. Mengapa begitu ? Penggusur-penggusur tersebut tentunya tidak mengerti betul mengenai makna dari nilai-nilai yang digali, dengan nilai-nilai yang diciptakan dan didoktrinasi. Mereka terus mencoba dengan berbagai cara, hingga akhirnya seperti sekarang ini, terjadi pembusukan yang struktural.
Sejak lama, sebelum konon pengaruh Paman Sam dan sekutunya masuk ke Indonesia. ACI (Arab, Cina, dan India) sudah lebih lama bercokol dan mencoba mempengaruhi atau bahkan merubah nilai-nilai tersebut dengan nilai-nilai mereka, baik sengaja maupun tidak secara sengaja, karena mereka memang membawa budayanya secara inheren dalam diri mereka orang-orang keturunan. Sementara mereka (ACI) merasa sebagai tongkat estafet dari kolonial Belanda kepada mereka, yang pada masa kolonial sebagai Masyarakat Kelas Dua, di atas pribumi yang menjadi Masyarakat Kelas Tiga
Di pihak lain, mereka para orang-orang Asing dan Keturunan yang berkolaborasi untuk merancang sebuah perubahan untuk menguasai Indonesia ini. Memulainya dengan mengubah UUD'45. Hasilnya Anda dapat melihat sendiri sekarang ini. Agus Yudhoyono (Pribumi) dikalahkan oleh dua Kandidat Keturunan Arab dan Keturunan Cina. Apakah pernyataan ini rasis?
Rasis itu, kalau kita tidak memberi kesempatan hak hidup orang lain karena hanya pertimbangan ras. Tetapi tidak scara politik. Lihat saja bagaimana tidak rasisnya Donald Trump pada Pemilihan Presiden yang lalu. Itu karena dia ingin menyelamatkan Bangsa Amerika dari infiltran politik bangsa lain. Ternyata hal ini bukan baru dilakukan oleh Donald Trump, tetapi negara-negara maju lainnya sudah melakukan ini sejak lama. Sebut saja Jepang, Jerman, dlsb. Coba Anda tengok petinggi-petinggi di sana.
Coba saya analogikan seperti rumah tangga. Apakah anak tetangga Anda boleh makan seenaknya di rumah Anda, sementara anak Anda sendiri belum makan? Analgi itu pun tidak cukup untuk menggambarkan Pemahaman Politik di Indonesia. Bahkan anak tetangga Anda kini sudah masuk ke kamar Anda dengan seenak-enaknya saja.
Jadi dengan Pilkada DKI, kita diingatkan, bahwa ini merupakan babak baru, kalau kita tidak kembali lagi ke UUD'45. Kita hanya menjadi penumpang di negeri sendiri. Sekarang saja kita sudah dipertontonkan, mereka saling menyerang antara kedua keturunan tersebut, dengan memfitnah satu sama lainnya. Sementara kita memilih menjadi suporter.
Yang juga perlu diingat, setelah mereka berhasil mengubah UUD'45, FPI mencoba mengubah Pancasila, dengan melempar perkataan-perkataan penghinaan, atau ingin mengetahui seberapa besar respon dari penghinaannya kepada Pancasila. Kalau ini kita tidak waspadai, maka menambah lengkaplah langkah mereka untuk menguasai Indonesia, agar dapat segera memeras semua kekayaannya. Dengan benar-benar mengganti Pancasila.
Inilah Proxy War yang sudah lama tumbuh di Indonesia. Kalau dulu masih ibarat Api Dalam Sekam, tapi kini api itu sudah tidak lagi dalam sekam, tapi kita pun secara kasat mata sudah dapat melihat bara api tersebut. Berdewasalah berpolitik dengan ingat anak cucu Bangsa ini. 
Kedewasaan Politik bukan berarti kita tampak bijak dengan Anak Tetangga, sementara anak-anak kita keleleran. (SSM)

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala