Kreasi Kemenpar di Tapal Batas RI-PNG

Skouw, Jayapura (IndonesiaMandiri) - Meski sempat diguyur hujan, acara bertema seni dan budaya di perbatasan RI-PNG/Papua Nugini tetap berjalan semarak (21/6). Adalah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang menggagas acara bernuasa persahabatan antar negara di tapal batas ini dengan sangat apik.
“Kami dari Kemenpar memang ada kebijakan untuk memperhatikan pula dinamika kunjungan wisatawan dari negara tetangga yang berasal dari perbatasan darat. Selama ini catatan intensif kunjungan wisman hanya dari pelabuhan udara dan laut,” kata Ratna Suranti, Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar.
Sejak awal 2016, Kemempar menggelar kegiatan bertajuk pertunjukan seni dan budaya di berbagai perbatasan darat Indonesia, seperti di Kalimantan, Atambua (Timor) dan Papua. “Di Skouw Papua ini merupakan kegiatan kami yang keenam,” sambung Ratna.
Skouw, yang berlokasi di Distrik Muara Tami, Kotamadya Jayapura, adalah salah satu pintu perbatasan terbesar antara Indonesia dan Papua Niugini (PNG). Dan di Skow ini, terdapat pasar yang sangat ramai sekali dikunjungi oleh masyarakat PNG. Konjen RI di Vanimo PNG, bahkan menyebut pasar ini bisa meraup omset sebesar enam miliar rupiah setiap bulannya.
Berbagi kebutuhan pokok dan rumah tangga ada di pasar ini. Lokasinya sangat dekat dengan pos lintas batas negara RI-PNG. Dari ibukota Provinsi Papua, Jayapura, sekitar satu jam setengah jaraknya untuk mencapai Skouw dengan kondisi jalan sangat baik.
Kemenpar, dengan jargon programnya “Wonderful Indonesia” (Pesona Indonesia), memang secara aktif melakukan promosi secara bertahap dan masif baik di dalam dan luar negeri. Salah satu pasar yang diincar adalah, tapal batas darat Indonesia dengan negara-negara sahabat.
Pejabat PNG di Vanimo yang ikut hadir saat acara dari kemenpar ini – Vanimo kota terdekat dengan perbatasan di Skouw – sangat mendukung dan bergembira dengan adanya kegiatan bernuansa budaya ini. “Kami berharap nanti bisa bergantian diselenggarakan di PNG juga. Kita memiliki kesamaan budaya, yakni dari Melanesia,” ucap salah satu delegasi dari PNG.
Sedangkan Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano pun memandang dengan adanya kegiatan seperti ini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan potensi wisata Jayapura. Di sisi lain, Benhur pun menekankan aspek keamanan perbatasan harus tetap kondusif, infrastruktur di perbatasan yang tertata baik sehingga perekonomian masyarakat di sekitarnya bisa berkembang.
Kebijakan Kemenpar berupa promosi seni dan budaya di perbatasan sangat terkait dengan program nawacita Pemerintahan Jokowi yang sejak awal ingin membangun Indonesia dari pinggir atau perbatasan. Karena kawasan perbatasan dengan negara lain adalah halaman depan sekaligus wajah Indonesia yang harus tampil baik.
Dalam acara ini, disamping ada hiburan pentas musik, juga ada lomba menganyam rambut, menyusun buah pinang, pentas tari reog dari Jawa Timur, dan lain-lain. Semangat masyarakat dalam menyaksikan acara ini begitu terasa. Masyarakat Papua, tua dan muda, ikut berdansa dan bernyanyi bersama-sama (abri).
foto: abri
Share:

Karena Adat Kami Ada, Karena Adat Kami Bermartabat

Kalkote, Jayapura (IndonesiaMandiri) – Ungkapan judul di atas diucapkan oleh Bupati Kabupaten Jayapura Mathius Awoitauw, SE, M.Si, saat pembukaan Festival Danau Sentani (FDS) ke-9, di Pantai Kalkote, Kampung Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. FDS yang diikuti oleh dua puluhan kampung yang tersebar di enam kecamatan sekitar Danau Sentani ini, berlangsung dari 19 hingga 23 Juni, dan dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata, yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Multikultur, Hari Untoro Drajad (20/6).
Berbagai tarian dan atraksi budaya dipertontonkan di FDS ini. Dan juga, disamping ada panggung utama, juga berdiri sejumlah tenda dari berbagai daerah di Papua yang mempromosikan aneka produknya. Seperti halnya FDS yang sebelumnya, beragam lomba juga disajikan, seperti lomba nyanyian rakyat, tari tradisional, seni, olahraga, serta kuliner khas setiap daerah.
FDS yang pertama kali digelar pada 19 Juni 2008 dan telah menjadi agenda wisata tahunan secara nasional, memang memiliki daya tarik yang besar. Disamping berdampak dapat menyedot kedatangan wisatawan luar dan dalam negeri ke Papua, FDS memang dikemas juga untuk menjadi pintu investasi siapapun yang berminat di daerah paling timur Indonesia ini.
“Yang paling utama kami gagas saat membuat FDS adalah dengan pendekatan kebudayaan,” kata Habel Melkias Suwae, mantan Bupati Jayapura dua periode (2001-2011) sekaligus penggagas FDS kepada IndonesiaMandiri. Intinya, Habel ingin mengajak semua suku dan adat yang di tanah Papua untuk bersama-sama membangun Papua melalui FDS. “Jadi Danau Sentani hanya menjadi simbol tempat saja. Karena ini danau terbesar dan terindah di Papua. Kita berkumpul di sini, menunjukkan ini lah budaya Papua,” tegas Habel lagi.
Hari Untoro, saat membuka FDS ke-9, pun mengatakan bahwa potensi sektor pariwisata Indonesia 60 persen adalah dari kebudayaannya. Kemudian 35 persen dari alamnya dan sisanya adalah buatan atau kreasi sendiri. Nah, Papua memiliki keanekaragaman budaya yang sangat potensial. Oleh karenanya, Hari sangat memuji FDS yang tetap secara rutin setiap tahun berjalan dan diharapkan bisa meningkat ke level internasional seperti halnya Festival Rio de Jenairo di Brasil.
Melihat potensi yang ada di Papua kini dan kedepan, memang FDS masih memiliki peluang besar untuk ditumbuh kembangkan sebagai sebuah festival nasional dan berlanjut ke level internasional. Apalagi, Papua dan negara tetangga di Pasifik Selatan masih memiliki ikatan budaya dan emosional yang mirip: Persaudaraan Melanesia.
Itu sebabnya, Bupati Kabupaten Jayapura Mathius Awoitauw berharap FDS kedepan terus meningkat dengan mengikutsertakan masyarakat lebih banyak lagi. “Saya berharap setiap masyarakat kampung kampung sudah siap menjadikan kampungnya sebagai kampung wisata dan dapat selalu membuka diri untuk tujuan wisata,” sambung Mathius. FDS ke-9 ini  mengambil tema “Satu Dalam Keberagaman Untuk Kejayaan” (abri)
Share:

Geliat "wisata halal" Terus Dibenahi

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Kementerian Pariwisata/Kemenpar mengeluarkan berbagai strategi guna menarik datangnya wisatawan mancanegara dan dari dalam negeri sendiri. Salah satunya adalah dengan mempromosikan "wisata halal". Dengan potensi masyarakat Indonesia yang dihuni sekitar 80an persen beragama Islam, Kemenpar mulanya sejak 2013 menawarkan paket dengan sebutan "wisata syariah".
Kemudian sejak 2014, sebutan "syariah" digantikan dengan "halal". Nafasnya sama, yakni memberikan promosi di sejumlah kota Indonesia yang memiliki daya tarik kuat keagamaan, khususnya Islam. Menteri Pariwisata Arief Yahya memperlihatkan keseriusannya menggarap sektor ini. Komitmen, acuan dengan standar internasional (global muslim travel index/GMTI), serta manajemen yang terarah, adalah beberapa titik perhatian sang menteri.
Secara global, wisatawan muslim di dunia pada 2014 hanya 10 persen dari total jumlah wisatawan. Namun, nilai total pembelanjaan wisatawan muslim mencapai 145 miliar dolar Amerika dari sekitar 108 juta orang. Hingga 2020, diperkirakan wisatawan muslim mencapai 150 juta orang dengan nilai pembelanjaan menembus angka 200 miliar dolar Amerika. Fantastis.
Baru-baru ini, Kemenpar juga melakukan kerjasama dengan kotamadya Malang dan Universitas Brawijaya Malang guna menjadikan kota sejuk di Jawa Timur ini berkembang ke arah "wisata halal". Di sini, Kemenpar "melalui program-programnya berkomitmen untuk membantu pengembangan kota Malang sebagai destinasi wisata halal, melalui kegiatan pengembangan di bidang pemasaran, destinasi, industri dan kelembagaan berupa sosialisasi, workshop dan bimbingan teknis," kata Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kemenpar.
Sedangkan pihak pemkot Malang turut membenahi sarana dan prasarana Pariwisata yang sesuai dengan syariah Islam melalui kegiatan sertifikasi di sejumlah usaha wisata (hotel, restoran, biro perjalanan, spa, karaoke), serta memperhatikan kebutuhan wisatawan muslim berwisata ke kota Malang. Dan Universitas Brawijaya memantau sekaligus membuat kajian ilmiah guna mendukung sertifikasi untuk mempercepat terwujudnya kota Malang sebagai destinasi  wisata halal.
Tahun lalu (2015), Lombok telah terpilih sebagai salah satu daerah (pulau) dengan predikat World's Best Halal Tourism Destination di Abudhabi. Ini sebuah tantangan tersendiri untuk pengembangan kedepan di wilayah lainnya (abri).
Foto: abri
Share:

Dengan TJ Lebih Nyaman Ke Jakfair

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Bingung mau ke Jakarta Fair di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat  naik apa dari rumah? Tenang saja. Kini, Busway atau Tranjakarta (TJ) sudah membuka layanan kepada masyarakat untuk ke dan dari lokasi Jakarta Fair di Kemayoran kemana saja selama ada lintasan TJ.
Caranya? Manajemen TJ telah menyiapkan 10 unit bus yang melayani rute dari koridor ke halte di JIEXPO Kemayoran serta beroperasi setiap hari mulai pukul 09:00 sampai dengan pukul 24:00. “Jumlah ini bisa bertambah, tergantung animo masyarakat yang menggunakan layanan kami. Kalau nyatanya banyak, ya jumlah bis akan kita tambah juga,” jelas Prasetia Budi, Pejabat Humas TJ kepada Indonesiamandiri.
Jakarta Fair, yang merupakan sarana rekreasi dan promosi aneka produksi dalam dan luar negeri dan terbesar di Asia Tenggara, berlangsung sejak 10 Juni hingga 17 Juli. Layanan rute TJ ini terintegrasi langsung dengan koridor yang sudah ada, seperti 1, 3, 5, 6A dan rute PIK – Balaikota. Halte-halte yang disinggahi antara lain : Monumen Nasional (Monas), Balai Kota, Gambir 2, Gambir 1, Masjid Istiqlal, Pasar Baru, Pasar Baru Timur dan berakhir di halte JIEXPO Kemayoran. Arah sebaliknya, dari halte JIEXPO Kemayoran, kemudian menuju Pasar Baru Timur, Juanda, Pecenongan, dan Monumen Nasional (Monas). Bagi pengguna TJ yang akan menuju Jakarta Fair, bisa menyesuaikan jadwal perjalanannya dan memilih halte transit terdekat dengan halte keberangkatannya.
Selama bulan suci puasa/Ramadhan ini, manajemen TJ juga menyediakan minuman mineral gratis bagi masyarakat yang sedang berada dalam bis saat waktu buka puasa tiba. Di luar Ramadhan, memang tidak dibolehkan bagi masyarajat untuk makan dan minum di dalam bis. Khusus saat R
amadhan saja dan di waktu buka puasa saja, dibagikan secara gratis air mineral. “Tapi jangan lupa, selesai minum, bekas gelas plastiknya dibuang ke kotak sampah yang telah disediakan. Kita harus sama-sama memelihara kebersihan di dalam bis,” tambah Prabu, panggilan akrab Humas TJ ini.
Siang tadi (17/6), TJ juga memperoleh hibah dari Yayasan Tahir sebanyak lima buah bis tingkat. Yang ini lebih untuk tujuan wisata dengan rute tertentu. Kini, di bawah naungan TJ, sudah ada 13 bis tingkat (abri).
Foto: abri
Share: