Berita Indonesia Mandiri

Gotongroyong Pelihara Terumbu Karang

Kepulauan Seribu (IndonesiaMandiri) – Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menyimpan banyak kekayaan bawah laut yang layak dipelihara. Salah satunya adalah terumbu karang. Berdasarkan hasil pemetaan Badan Informasi Geospasial (BIG), cakupan ekosistem terumbu Karangnya seluas 2.517.858 Ha. Luasan ini menempatkan Indonesia menjadi negara yang memiliki terumbu karang terbesar kedua di dunia. Hingga saat ini telah tercatat 590 jenis karang, 2.057 jenis ikan karang, terdapat di ekosistem terumbu karang Indonesia. Keanekaragaman hayati tersebut memberikan manfaat bagi kesejahteraan bagi masyarakat berupa sumber pangan, obat-obatan dan jasa lingkungan.

Sayangnya, kekayaan terumbu karang yang berlimpah tersebut, kurang dipelihara dengan baik oleh masyarakatnya sendiri.  Menurut penelitan yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kondisi ekosistem terumbu karang Indonesia hanya 5,30 persen saja yang dalam kondisi sangat baik.

Berdasarkan hal itu, belakangan ini banyak kegiatan dari berbagai lembaga pemerintahan dan masyarakat yang mengarah pada pemeliharaan terumbu karang di berbagai lokasi. Seperti halnya yang dilakukan Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi) dengan mengajak sejumlah pihak.

Terangi, yang berdiri sejak 1999, memang sangat gencar melakukan kampanye pemeliharaan di beberapa lokasi yang terdapat banyak terumbu karangnya. Salah satunya di sekitar Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau yang dijadikan contoh dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, lokasinya berada di Pulau Harapan, yang berjarak sekitar 45 kilometer dari Jakarta Utara atau satu jam dengan speedboat.

Tak tanggung-tanggung, Terangi mengajak 24 lembaga pemerintahan dan swasta untuk turut memelihara ekosistem terumbu karang ini.  Lembaga tersebut adalah Kementerian Keuangan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jaringan Monitoring Kepulauan Seribu, PT.Danareksa Sekuritas, PT.Bank OCBC NISP Tbk, PT.Bank Panin Tbk, PT.Bank Permata Tbk, PT.Trimegah Securities Tbk, PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT.Sucorinvest Central Gani, PT.Bank Central Asia Tbk, The Hong Kong and Shanghai Banking Corporation Limited, Standard Chartered Bank, PT.Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT.Bank Internasional Indonesia Tbk, PT.Bank ANZ Indonesia, Reliance Securities Tbk, Citibank Indonesia, PT.Bank Bukopin Tbk, PT.Bank DBS Indonesia, PT.Bank CIMB Niaga Tbk, PT.Bank Danamon Indonesia Tbk, PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Salah satu strategi penyelamatan terumbu karang secara fisik dilakukan melalui pembuatan terumbu karang buatan (artificial reef), yang memang didesain secara struktur oleh manusia dengan fungsi sebagai tempat berlindung, tempat mencari makanan dan tempat pemijahan bagi hewan-hewan laut.  Terumbu karang buatan ini berbentuk segitiga, berstruktur kokoh dengan relung-relung. Struktur ini dapat terbuat dari bahan yang kuat dan tahan lama seperti beton/coran semen, besi bangkai kerangka kapal, badan mobil dan sebagainya.

Keberadaan terumbu karang ini diharapkan kedepan memberikan suatu fungsi ekologis dengan memberikan suatu habitat baru, dapat meningkatkan kelimpahan ikan. Hal ini dapat terjadi karena terumbu buatan menyediakan media tempat menempelnya invertebrata laut dengan demikian terumbu karang ini dapat menarik berbagai organisme laut mulai dari plankton hingga ikan.

Kegiatan gotongroyong pemeliharaan terumbu karang yang berlangsung sejak akhir 2015 hingga kini, juga diharapkan dapat membantu perbaikan ekosistem terumbu karang yang sudah mulai rusak, menyediakan media pembelajaran bersama untuk pelestarian terumbu karang, menyediakan area pemijahan (spawning ground) dan asuhan ikan (nursery ground), mengajak kesadaran masyarakat terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya yang berasosiasi dengan terumbu karang serta menggalang partisipasi dan kerjasama dalam rangka pemulihan ekosistem terumbu karang.

Korps Marinir TNI AL pun, sejak 2015 melakukan hal serupa di banyak pesisir perairan Indonesia. Kegiatan yang diberi nama Save Our Littoral Life ini, terus berkelanjutan dilakukan di mana ada pos Marinir berada. “Pertumbuhan terumbu karang yang telah ditanam di 235 titik sangat baik. Rata-rata perkembangannya 80 hingga 90 persen,” ucap Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana, SE (abri).   
Foto : Istimewa

Share:

Sinetron Bisa Jadi Alat Agitasi

Jakarta (IndonesiaMandiri) Tidak sengaja seminggu yang lalu, saya cuti, sehingga sempat nonton TV saat jam 19an. Sambil cari-cari chanel, saya pun bertanya kepada anak lelaki saya yang kebetulan sedang duduk disamping saya, mengenai sinetron yang ratingnya lagi tinggi?

Anak saya pun menjawab dengan sepontan, "Sinetron ..." yang menceritakan kehidupan anak-anak muda komunitas motor perkotaan. Tertariklah saya untuk mengamatinya. Hari pertama saya nonton dari jam 18.30 sampai jam 20.30 Menurut saya, alur adegannya sungguh memang enak untuk kita tidak beranjak dari tempat duduk kita.

Hari pertama, saya sudah dicengangkan oleh logika berfikir penyelesaian masalah, yang selalu didahului oleh perkelahian yang tidak berujung. Kalau ini sebuah film bioskop yang berdurasi 1 hingga 2 jam, secara psikologis masih dapat dimengerti dari logika sensor - yang dampaknya tidak seperti yang akan dihasilkan oleh sinetron yang setiap hari dapat dilihat oleh jutaan masyarakat kita. Jadi jangan salahkan pemuda kita, jika mereka pun mengambil pola pikir penyelesaian masalah dengan kekerasan.

Hari-hari berikutnya, saya dibuat lebih terperangah lagi, pesan yang diberikan oleh sinetron tersebut. Ada hubungan yang tidak logis mengenai percintaan, dimana seorang pria yang masih duduk di bangku SMA sempat berpacaran dengan Wanita Dewasa (Sudah lulus kuliah, sudah punya jabatan - hitung saja sendiri  berapa tahun jarak mereka), yang saat saya tonton, Wanita tersebut sudah menjadi istri orang.

Ini adalah pesan yang mungkin tidak kita sadari, agitasinya adalah kita disuruh melupakan Budi Pekerti yang seharusnya dikedepankan. Dimana letaknya? Ada adegan dimana sang Istri pengusaha yang juga wanita karir yang notabene Wanita yang saya sebut di atas tersebut, menemui mantan pacarnya yang masih duduk di bangku SMA. Budi Pekerti yang harusnya dikedepankan adalah, seorang mantan kekasih tidak diperkenankan untuk menemui mantan kekasihnya yang sudah berkeluarga. Tapi bungkusan cerita yang dibuat seolah, pria SMA ini diposisikan sebagai pria innocent. Sehingga hubungan pria wanita seperti alur cerita di atas, akan menggrogoti alam bawah sadar anak-anak muda kita, untuk berbuat hal yang sama, yang akhirnya diwajarkan oleh masyarakat kita secara umum.

Dampak yang paling dekat adalah, agitasi terhadap logika berfikir yang membuat pria-pria muda yang tampan dan pemalas akan mengejar Wanita-wanita karir yang kayaraya. Ini adalah gerakan lain dari sisi yang sama, dari penciptaan kaum Alay - yang untungnya saat ini terhenti - entah hingga kapan?, karena ada kasus pelecehan seksual oleh artis SJ.

Ingat!!! Untuk merusak sebuah bangsa hingga titik terendah, cukup dengan merusak nilai-nilai pola pikir budaya para pemudanya.

Kupasan agitasi di atas baru dari dua sisi interaksi saja, belum lagi kalau kita cermati bungkusan-bungkusan alur kejahatan dan kelicikan pola interaksi antar Anak Muda di sinetron tersebut, yang sengaja akan meniadakan Budi Pekerti kita. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa saya tidak menonton dari awal Sinetron ini. Pertanyaan saya, apakan kita wajib menonton Sinetron yang penggalan-penggalannya saja sudah berisi nilai-nilai agitasi yang terselubung? Dimana #LembagaSensorFilm kita?

Pihak Asing (pendana) sangat pintar untuk membungkusnya melalui tangan-tangah sineas kita yang tidak menyadari bahaya tersebut, coba Anda cermati Perfilman Indonesia dan Ronald Reagan

(SSM) Foto : Istimewa
Share:

Hubungan Indonesia China

Secara historis, hubungan antara kedua bangsa ini telah dimulai sejak berabad-abad yang lalu, namun secara resmi hubungan antar negara diakui pada tahun 1950.

Dalam perjalanannya hubungan diplomatik antar kedua negara ini sempat dihentikan pada tahun 1967, dan dilanjutkan lagi pada tahun 1990.


Hubungan diplomatik kedua negara ini ditandai juga oleh, Tiongkok memiliki kedutaan besar di Jakarta dan konsulat di Surabaya dan Medan, sementara Indonesia memiliki kedutaan besar di Beijing dan konsulat di Guangzhou, Shanghai dan Hong Kong.

Dari sisi wilayan dan penduduk, kedua negara ini menempati posisi, Tiongkok adalah negara yang paling padat penduduknya di bumi, sedangkan Indonesia memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia.

Menurut BBC World Service Poll 2013, pendapat tentang Tiongkok di antara orang Indonesia masih sangat positif dan stabil, dengan 55% dari pandangan positif dibandingkan dengan 27% menyatakan pandangan negatif.

Dari sisi Ekonomi, kedua negara adalah anggota APEC dan ekonomi utama dari G-20.
Share:

Juliana Sumampouw, Komandan Pangkalan Bitung

“Bersyukurlah dan Saling Mendoakan”
Jakarta (IndonesiaMandiri) - Indonesia boleh berbangga memiliki banyak perempuan berprestasi di posisi strategis yang umumnya diisi oleh kaum pria. Seperti halnya yang diemban oleh Juliana Sumampouw, Kepala Pangkalan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai ( KPLP ) Kelas II Bitung, Sulawesi Utara. Sebagai Kepala atau Komandan Pangkalan, Juliana membawahi 59 anak buah (diantaranya enam perempuan), serta enam kekuatan kapal patroli dari yang kelas I, II hingga V.

Juliana, kelahiran Manado Juli 1959 dengan empat anak dan empat cucu ini, sejak awal Januari 2013 diberikan kepercayaan dari pimpinannya sebagai Kepala Pangkalan. “Ini kepercayaan dari pimpinan saya dan Tuhan untuk saya menjadi pemimpin. Kita harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” tutur isteri dari Hengkie Paulus ini.

Juliana mengawali karirnya di bidang perhubungan laut sejak 1979 sebagai Bendahara. Ia yang lulusan SMEA, mulanya ingin menjadi prajurit di TNI AD, karena sang ayah juga purnawirawan TNI. Namun salah satunya omnya yang bekerja di KPLP menawarkannya agar bergabung di dunia kelautan. Tawaran pun diterima Juliana.

Boleh jadi pimpinannya melihat sosok Juliana yang memiliki disiplin dan dedikasi tinggi selama mengabdi di KPLP Bitung. Itu sebabnya, ia pun diberi kepercayaan untuk memimpin pangkalan KPLP Bitung, yang tugas utamanya adalah memelihara keselamatan dan keamanan pelayaran di wilayah yang melingkupinya, mulai dari Laut dan Pantai di Sulut, Kalimantan Timur, Sulawesi tengah, Gorontalo, hingga Maluku Utara.

“Saat awal saya memimpin, memang ada yang merasa kurang nyaman. Karena biasa kan, umumnya komandan pangkalan dijabat oleh pria. Tapi saya tetap memberikan yang terbaik, dan setelah hampir setahun semuanya terkendali,” aku Juliana yang 2017 akan pensiun. “Karena kalau saya menolak untuk menjadi komandan di pangkalan, ini sama saja saya menolak kepercayaan yang sudah diberikan kepada pimpinan maupun Tuhan,” jawab Juliana lagi.

Dalam setiap apel pagi jam 08.00, Juliana tak bosan untuk memberikan nasehat kepada semua anak buahnya untuk senantiasa bersyukur, saling mendoakan dan saling membantu. “Apalagi untuk anggota yang sedang patrol di laut, itu kan banyak sekali tantangannya. Kita doakan mereka semua agar dapat menjalankan tugas dengan baik dan kembali dengan selamat,” sambung Juliana.

Diantara enam perempuan yang ada di KPLP Bitung di bawah kepemimpinan Juliana, ada juga sosok yang membanggakan lainnya. Yakni Majumi, Komandan Kapal KN Pasatimpo. Perempuan kelahiran Tataaran, Maret 1975 ini, sejak 2006 di KPLP, dan pada 2013 dipercaya sebagai Komandan Kapal kelas III. Lalu pada 2016 ini naik kelas sebagai Komandan Kapal Kelas II KN Pasatimpo.

“Jadilah Kartini masa kini yang membanggakan dan menjadi teladan yang lain", pesan Juliana menyambut hari Kartini. “Tetaplah menjadi terang meski ditengah kegelapan". Artinya, kita mampu memberi contoh dan teladan yang baik dalam segala keadaan, tambah Majumi, ibu dari tiga anak yang suaminya juga seorang Nahkoda kapal swasta ini (abri).
Foto: Dok Istimewa & abri

Share:

Pamtas Yonif 614/RJP Sergab Pengedar Sabu

Nunukan (IndonesiaMandiri) - Situasi di perbatasan Kalimantan Utara-Malaysia, khususnya di Nunukan, seringkali terjadi kasus pelanggaran yang membuat aparat keamanan melakukan tindakan tegas. Seperti yang terjadi Kamis lalu (14/4), Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) di Pos Bukit Keramat Pulau Sebatik (Kaltara), berhasil menyergap dua pemuda WNI asal Sei Taiwan, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Serka Yulianto, selaku Komandan Pos Bukit Keramat, mulanya mendapat laporan dari warga tentang adanya perilaku mencurigakan dari sejumlah orang yang sering melintas di perbatasan dengan melakukan transaksi barang narkoba berjenis sabu. Atas laporan itu, Yulianto melapor ke atasannya dan segera melakukan pengintaian.

Siang hari selepas laporan warga, langsung pasukan dari Satgas Pamtas yang berasal dari Batalyon Infantri 614 Raja Pandhita/RJP langsung bergerak ke lapangan. Di patok sembilan perbatasan, tengah malam Kamis itu, akhirnya didapat dua pemuda yang baru saja kembali dari Kampung Kongsi wilayah Malaysia menuju Desa Sei Limau di Indonesia.

Sergapan itu berbuah hasil. Didapat barang sabu dari dua pemuda tersebut meski dalam kuantitas kecil. Tetapi dari informasi yang diperoleh bahwa kegiatan terlarang ini akan berlanjut. Lalu pengintaian dilakukan kembali keesokannya (Jumat, 15/4). Namun yang diintai ternyata tahu dan langsung melarikan diri dengan membuang barang terlarangnya yang kemudian diamankan.

Letkol Rudi Setiawan, Komandan Satgas Pamtas Yonif 614/RJP, sangat menghargai sikap kewaspadaan pasukannya mendengar laporan masyarakat. "Kita baru bertugas di sini tiga Minggu. Tetapi sudah berhasil melakukan pengamanan empat kali miras ilegal lebih dari 700 botol," kata Rudi. Sedangkan terkait penangkapan kasus narkoba di atas, Rudi juga akan mengembangkan kasus tersebut agar bisa membongkar jaringan narkoba di perbatasan. "Ini sudah meresahkan masyarakat Sebatik. Dan kita bertanggungjawab beserta aparat terkait lain dan masyarakat untuk memberantasnya," akunya (abri).

Foto: Dok Yonif 614/RJP&abri

Share:

Marijo: Berpretasi Tanpa Kenal Lelah

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Ada yang istimewa ketika kejuaraan Atletik Master Indonesia terbuka keenam awal April lalu di grup usia di atas 75 tahun digelar. Yakni pada lomba Sprin 100 meter, kejuaraan yang berlangsung di stadion Pahoman, Bandar Lampung ini, juara duanya ditempati oleh Tiyo Marijo (78 tahun).

Siapa Pak Tiyo ini? Ternyata ia adalah pensiunan prajurit Marinir atau dulu dikenal KKO dari TNI AL. Pak Tiyo yang saat pensiun berpangkat Kopral Satu (Koptu) ini kelahiran Purwodadi, 19 September 1938. Ia bergabung menjadi prajurit KKO AL pada 1962, dan pensiun dini pada 1980. Kakek yang sudah memiliki tujuh cucu  dari lima anak ini ternyata sangat aktif mengikuti Kejuaraan Atletik Veteran baik di level nasional maupun internasional.

Semenjak pensiun, Pak Tiyo tidak diam begitu saja. Ia sangat kreatif, dengan membuka usaha Pangkas Rambut, dan juga sebagai petugas keamanan (Satpam) di sebuah perusahaan. Usaha Pangkas Rambutnya yang diberi nama “Tiyo” sampai saat kini masih berjalan, dengan memperkerjakan beberapa orang di sekitar Jakarta Timur.

Terkait kegemarannya berlari, ini memang bermula dari latarnya saat masih berdinas di Marinir. Ketika masih berdinas, dari rumah ke kantornya Pak Tiyo sering memilih berlari. Demikian pula ketika pulang kerja dan salah satu putranya menjemputnya, seringkali Pak Tiyo memilih berlari. Terlebih di saat hujan, Pak Tiyo malah lebih menikmati lagi untuk berlari. “Kalau KKO kan biasa berlari di saat hujan”, kenang Pak Tiyo.

Kegemaran berlari ini ternyata berlanjut menjadi bagian tak terpisahkan dari irama hidupnya hingga memasuki usia senja. Sederet penghargaan, piala (trophy), menghiasi ruang tamu di rumahnya. Untuk skala internasional, beberapa lomba lari di sejumlah negara ASEAN sudah pernah diikutinya.

Namun segudang prestasi yang diembannya, saat ia mengikutinya, justru sangat kecil mendapat bantuan dari Pemerintah. Pak Tiyo yang juga dapat julukan “Marijo” atau Marinir KKO Jowo ini lebih banyak dukungan ketika mau mengikuti lomba diluar negeri dari pihak swasta.

Kendati demikian, ia tak pernah merasa menyesali keadaanya. Prinsipnya adalah senantiasa berpikir positif. Jangan terlalu memikirkan masalah yang kita hadapi. Masalah hidup yang ada dihadapi dengan berpikir positif. Atur pola makan, seperti yang rebus-rebusan dan “makanan ndeso” (singkong, talas, pisang yang dimasak dengan direbus), serta hidup harus diisi dengan ibadah dan pasrah kepada Tuhan (abri).

Share:

Hubungan Indonesia Irak

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Irak didirikan pada tahun 1950. Indonesia memiliki kedutaan besar di Baghdad, sementara Irak memiliki kedutaan besar di Jakarta. Kedua negara adalah anggota Gerakan Non-Blok dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).
Sesungguhnya hubungan Indonesia Irak sudah dimulai sejak beberapa abad lalu. Nusantara dan Irak Kuno terhubung ke jalur sutera maritim perdagangan Samudera Hindia.. Kekaisaran Sriwijaya di abad ke-8 telah memiliki kontak kerajaan-kerajaan di Timur Tengah.

Saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, Irak menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1950, dengan ditandai oleh + 15 perjanjian yang telah ditandatangani oleh kedua negara, sehubungan dengan meningkatnya hubungan bilateral.

Hubungan yang cukup baik tersebut dapat pula dilihat, dimana Indonesia tetap mempertahankan keberadaan kedutaannya di Baghdad, meskipun pada masa-masa krisis, seperti perang Irak-Iran pada 1980-an. Namun demikian, pada puncak Perang Irak, Indonesia menutup sementara kedutaannya di Baghdad pada tahun 2003. Sementara situasi keamanan di Irak secara bertahap mulai meningkat, Indonesia membuka kembali kedutaannya pada Juni 2011. Sejak saat itu, hubungan kedua negara berkembang kembali dengan cepat. Saat ini, kedua negara sedang dalam proses menghidupkan kembali hubungan bilateral mereka, yang sempat terhenti karena perang di Irak.
Share:

“Sebuah Tulisan Dapat Menembus Banyak Kepala”

Kiprah Dubes RI di Irak Safzen Noerdin Dibukukan
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Rabu malam (30/3), menjadi hari yang sangat istimewa bagi Letnan Jenderal TNI Marinir (Purnawirawan) Safzen Noerdin. Bertempat di Graha Marinir, Jalan Prajurit KKO Usman&Harun Jakarta Pusat, telah diluncurkan sebuah buku berjudul “Hari-Hari Rawan di irak.” Pantas sekali Safzen memilih tempatnya di sini, karena lebih dari 30 tahun karirnya memang berada di lingkungan marinir.


Buku yang mengkisahkan tugasnya sebagai Duta Besar Indonesia di Irak (2012-2015), memang menjadi sesuatu yang fenomenal. Mengapa? Karena dalam perjalanan karir seorang perwira tinggi marinir, masih sedikit sekali yang dapat merasakan posisi sebagai Duta Besar. Dahulu di masa Presiden Soeharto ada Letnan Jenderal KKO R. Hartono sebagai Duta Besar di Korea Utara. Lalu Letnan Jenderal KKO Moekijat di Finlandia dan Letnan Jenderal KKO Kahpi Suriadiredja di Korea Selatan.


Setelah lebih dua puluh tahun belum ada lagi dari korps Marinir mengisi jabatan Duta Besar , barulah yang keempat ini dipercayakan putra asal Krueng, Aceh Jaya, Safzen Noerdin. Ia  pernah menjabat Komandan Korps Marinir TNI AL sejak 2004-2007, dan dipilih oleh Presiden SBY untuk mengisi pos Duta Besar RI di Irak setelah kosong selama delapan tahun.


Tentunya bukan pekerjaan yang sederhana bagi Safzen untuk dalam waktu singkat merubah pola pikirnya yang selama ini dalam lingkup militer, kemudian harus melakukan banyak misi diplomatik yang dominan dilakukan oleh para diplomat dari Kementerian Luar Negeri.  Inilah justru tantangan tersediri bagi Safzen untuk membuktikan profesionalismenya sebagai tentara, yang siap ditempatkan di mana pun oleh atasannya, yakni Presiden selaku Panglima Tertinggi di Republik ini.


Dalam buku setebal 350 halaman, dan dibagi menjadi tujuh bab oleh penulisnya seorang jurnalis kawakan Dr. Satrio Arismunandar, sangat terlihat bahwa Safzen banyak melakukan terobosan penting untuk menormalisasikan kembali hubungan Indonesia-Irak yang sempat “renggang”.  Dari misi ekonomi dan perdagangan, sangat terlihat bahwa Safzen begitu jeli melihat potensi usaha dari kedua negara.


Hubungan bilateral kedua negara sudah terjalin lama sekali. Irak termasuk yang mendukung gagasan Soekarno untuk Konferensi Asia Afrika (1955), dan kedua negara sejak 1960an telah membuka kantor kedutaannya masing-masing. Namun perang yang berkecamuk dan berkepanjangan di Irak, membuat KBRI di Baghdad ditutup sementara sejak 2003. Dan baru dibuka kembali ketika Safzen menjabat Dubes sejak April 2012.


Masa tiga tahunan Safzen di Irak, betul-betul dimanfaatkan olehnya untuk mengharmonisasikan hubungan bilateral ini. Tak jarang Safzen justru menjadi sangat “sufi”, karena ikut hanyut dalam suasana keagamaan di bumi Irak yang memang kental dengan tradisi Islam Sunni dan Syiah.  “Kita bertugas di Irak menjadi lebih rajin lagi ibadah,” aku Safzen. Bahkan, menurutnya, rajinnya ia beribadah bisa melebihi saat menjalankan ibadah haji ke Mekkah.


“Kita hanya bisa pasrah kepada Tuhan,” lanjut Safzen. Meski ia berlatar seorang tentara, tetapi ancaman bom dan peluru nyaris setiap saat berada disekelilingnya.  Belum lagi sejak 2014 ketika kelompok radikal ISIS mulai memasuki kota-kota penting di Irak, ancaman serangan bom menjadi kian nyata di daerah KBRI Baghdad.


Pengalaman Safzen yang akhirnya dibukukan dan diterbitkan oleh Rajawali Konsultan ini, bisa dikatakan sebagai sebuah pesan kepada para diplomat atau duta besar RI di negara lain, tentang pentingnya melakukan berbagai terobosan meski di daerah konflik atau perang. Wamenlu RI AM. Fachir dalam kesannya saat peluncuran buku, sangat memuji kinerja Safzen. Bahkan, ia katakan, sebenarnya ia sudah menghimbau kepada banyak Dubes untuk merekam masa tugasnya dalam bentuk buku. Dan Safzen sudah mampu melakukan hal tersebut.


Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalanan SE, selaku tuan rumah dalam acara syukuran dan peluncuran buku “Hari-Hari Rawan di Irak”, pun memuji sosok keteladanan Safzen . “Figur beliau adalah salah satu sosok perwira marinir yang dibanggakan oleh korps, sebagai panutan, idola sekaligus memberikan motivasi dan inspirasi bagi kami generasi penerus Korps Marinir TNI AL,” tandas Buyung.


Satu hal yang menarik dalam komentar Buyung tentang terbitnya buku dari seniornya ini, bahwa “satu peluru menembus satu kepala, tetapi sebuah tulisan dapat menembus banyak kepala…” (bekti/abri).
Foto: abri

Share:

Wisata Religi (Paskah) di Larantuka

Larantuka, Flores Timur (IndonesiaMandiri) – Bagi masyarakat Indonesia umumnya, libur saat perayaan Paskah bagi umat Kristiani, hanya jatuh pada hari Jumat (25/3). Di hari ini adalah libur nasional. Sering disebut Jumat Agung (di Larantuka dikenal dengan nama Semata Santa). Sementara bagi masyarakat di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tenggang liburnya sebagian besar kegiatan sekolah atau perkantoran pemerintah daerah, biasanya berlangsung selama sepekan, mulai Senin ((23/1) hingga Senin depannya (28/3).
Susunan acara yang diterbitkan dalam buku saku oleh Bidang Humas, Dokumentasi dan Acara Pemkab Flores Timur, juga menyebutkan Jadwal Umum Perayaan Liturgi dan Devosi Semana Santa berlangsung selama sepekan (20-28/3).  Tak heran, di Larantuka khususnya, sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, selama seminggu sudah siap menyambut siapapun yang ingin berziarah atau mengikuti prosesi Paskah akbar sekali dalam tiap tahun ini.
Tiket pesawat udara dari dan menuju Larantuka, utamanya melalui Kupang, selama sepekan tersebut sulit didapat. “Mereka kebanyakan sudah pesan jauh hari bahkan beberapa bulan sebelum acara paskah ini,” aku Martin A. Sengaji Tokan, staf dari Maskapai Transnusa di Kupang, yang terbang setiap hari ke Bandara Gewayantana, di Larantuka.
Katarina M. Riberu, Kepala bagian Humas dan Protokol Sekda Pemda Flores Timur pun mengakui, bahwa tiket pesawat dan hotel, tempat penginapan seperti homestay, banyak yang memesan sejak lama. “Kita sering kesulitan juga kalau ada tamu yang mendadak datang menjelang Paskah,” sahutnya. Sejumlah tempat penginapan seperti  yang menjadi langganan wisatawan dan peziarah seperti Asa, Lestari, Fortuna, Kartika, Tresna, Pelangi, Geo Permai, sudah pasti selama hampir dua minggu di saat libur Paskah penuh semua.
Belum lagi rombongan atau anggota masyarakat yang datang melalui darat dan laut. “Dari Pulau Flores saja mulai dari Manggarai, Bajawa, Ende, Maumere, banyak sekali yang datang kesini. Belum lagi dari Timor dan Sumba. Itu baru NTT saja, belum lagi dari luar NTT, jelas  Chriswanto, Pelaksana di Bagian Umum Pemkab Flores Timur. Berbagai rombongan yang datang dari luar kota yang tidak kebagian tempat penginapan, biasanya menempati rumah masyarakat, beberapa sarana sekolah setempat.
Perayaan sepekan Paskah di Larantuka memang sudah mentradisi dengan usia panjang lebih dari lima abad. Pengunjungnya beragam tujuan. Tentu yang utama adalah untuk keperluan ibadah. Tetapi banyak pula yang datang untuk kepentingan berwisata, karena ingin melihat langsung keunikan Paskah di Larantuka yang banyak diwarisi oleh tradisi salah satu negara di Eropa, yakni Portugal.
“Kita sudah tandatangani kerjasama dengan Portugal, soal sister city. Kedepan memang ini mau ditata kelola agar even Paskah kedepan di Larantuka berjalan lebih baik lagi. Kita ada beberapa obyek wisata andalan lainnya juga kan yang sedang dikembangkan, seperti  air panas, wisata bahari, diving, dan lain-lain”, ujar Andreas Ratu Kedang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flores Timur.
Beberapa pengunjung dari luar Flores memang berharap bahwa kemasan wisata religi di Larantuka bisa dikelola lebih baik lagi. “Kalau kita sudah menjalankan ibadah Semana Santa di Jumat itu, misalnya, terus kita mau kemana lagi di sini. Ini banyak wisatawan yang belum memahami,” aku Gemala Hanafiah, perempuan pegiat wisata yang aktif berolahraga beselancar di berbagai pantai Indonesia dan sudah keliling Nusa Tenggara Timur puluhan kali.
Paskah akbar di Larantuka menjadi tontotan wisata religi yang memang sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. “Perayaan Semata Santa dalam Paskah ini bila dikaitkan dengan pariwisata berbasis budaya-wisata religi, cukup besar kontribusinya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri,” komentar Bambang Cahyo Murdoko, dari Unit Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, Kementerian Pariwisata.
Suasana khidmat dan tenang begitu terasa menjelang Jumat Agung, di mana beberapa ruas jalan yang akan dilewati konvoi manusia sudah ditutup. Di kiri-kanan jalan juga sudah dipasang bambu berantai untuk tempat dinyalakan lilin serta sebagai pembatas masyarakat yang ingin melihat dari dekat. Sejak rabu (23/3), sepanjang jalan dari Kapela Tuan Ma, Tuan Ana, Rumah Jabatan/Dinas  Bupati Flores Timur hingga Gereja Katedral, sudah ditutup untuk umum.  Masyarakat yang memadati tiga rumah ibadah utama tersebut saat manjalankan prosesi Paskah, mayoritas menggunakan baju atau kaos berwarna hitam. Dan saat Jumat siang, inilah prosesi yang paling ditunggu oleh ribuan masyarakat yang menjalankan ibadah Paskah di Larantuka.
Jumat siang, sekitar pukul 11.00, dari pesisir pantai, persisnya dari Kapela  Tuan Menino, di bawalah “bayi Yesus” melalui  Selat Larantuka dengan perahu kecil dengan dikawal puluhan perahu lain serta perahu motor masyarakat umumnya yang ingin menyaksikan dari dekat.  Kegiatan ini, meski hanya berjarak sekitar tujuh-delapan kilometer lewat selat atau laut, sangat dinanti. Masyarakat di sepanjang pinggir pantai ikut menyaksikan dengan khidmat.
Setelah tiba di Pantai Kuce (Pohon Sirih), kemudian di bawa ke Gereja Katedral, bersamaan dengan Patung Tuan Ma dan Tuan Ana. Hari kian larut malam, dan para peziarah pun larut dalam suasana duka, dengan memasang lilin di beberapa tempat pekuburan. Saat malam tiba, lilin di sepanjang jalan yang akan dilalui iring-iringan Jumat Agung mulai dinyalakan. Kota Larantuka pun gelap sejenak, sekitar pukul 20.00-24.00.
Yang juga menarik, dalam Jumat Agung ini, para remaja Masjid  disekitar Gereja Katedral ikut menjaga jalannya prosesi ibadah ini.  Remaja Masjid  dari Masjid Besar Ash-Shamad dan Masjid Agung Syuhada Ekasapta menggunakan kopiah warna putih, baju putih lengan panjang dan ada selendang warna kuning di badannya.  “Kami sudah lama sekali melakukan hal seperti ini. Toleransi beragama di Larantuka sangat baik,” kata Hasan Sahar, pemuda  muslim yang sejak 1989 selalu rutin ikut menjaga jalannya ibadah Paskah di Larantuka (abri).   
Foto: abri
Share:

Parade Kapal Kemenhub Meriahkan Paskah di Larantuka

Larantuka, Flores Timur (IndonesiaMandiri) – Udara pagi di sekitar Pelabuhan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur,  tampak begitu cerah. Cuaca yang sangat bersahabat ini sepertinya memang turut memeriahkan perayaan akbar Paskah di Larantuka di Jumat Agung (25/3). Kemeriahan ini ditambah pula dengan kehadiran sembilan kapal dari Kementerian Perhubungan (enam kapal patroli dan tiga kapal navigasi).  Kesembilan kapal  yang berlabuh di Larantuka ini didatangkan dari berbagai pelabuhan, seperti Tanjung Priok, Bitung (Sulut), Tual (Maluku), juga Tanjung Perak (Surabaya)
Puluhan anak sekolah dasar dari Pulau Adonara – masih di Kabupaten Flores Timur -  sudah berada di salah satu kapal tersebut untuk bersiap  melihat langsung prosesi Paskah dari Selat Larantuka. “Masyarakat bisa ikut di kapal-kapal itu kalau mau mengikuti prosesi Paskah, termasuk teman-teman wartawan,” kata Capt. Karolus G. Sengaji, Direktur Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai Kemenhub.
Sekitar pukul 09.30. satu demi satu kapal dari Kemhub tersebut mulai meninggalkan Pelabuhan Larantuka untuk turut mengawal acara Paskah yang dikenal dengan nama Semana Santa ini berlangsung.   Dalam tradisi keagamaan yang masuk melalui Portugis ini lebih dari lima abad lalu, ada  kegiatan melalui laut, di mana ada sebuah simbol di bawa dengan perahu kecil tanpa motor dengan didayung langsung oleh sejumlah pemuda dari satu titik ke titik tertentu dengan jarak sekitar delapan kilometer.
Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat luas, baik dari Larantuka khususnya, juga masyarakat dari berbagai daerah dan bahkan luar negeri mengiringinya melalui laut pula dengan berbagai perahu motor. Dua tahun lalu, musibah terjadi saat kegiatan serupa, di mana salah satu perahu yang terlalu penuh diisi oleh masyarakat tenggelam dan menelan korban meninggal dunia. Dan bahkan, ada satu korban jiwa yang hingga kini belum ditemukan.
Itu sebabnya, Kemenhub ikut mengawal acara Paskah di 2016 ini. “Dari Kemenhub juga melakukan kegiatan keselamatan di laut bersama unsur terkait seperti Basarnas, BNPB, TNI, Polri. Mereka sudah tiba sejak selasa (22/3),” jelas Yoseph. L. Herin, Bupati Flores Timur.
Acara Jumat Agung hingga menjelang sore berjalan lumayan tertib, dan kesembilan kapal Kemenhub dari jarak beberapa ratus meter turut mengawalnya. Yang menarik saat menjelang acara usai, di mana ada instruksi untuk terlebih dahulu melakukan parade kapal-kapal Kemenhub yang dipimpin langsung oleh Kapal Patroli bernomor lambung P.114 KN Alugara.
Komandan Kapal KN Alugara, Mu’min SE, MM, segera keluar anjungan Kapal sembari memberi  hormat kepada tamu-tamu VIP yang hadir di Larantuka ini. “Ini kunjungan pertama saya juga KN Alugara P.114 ke Larantuka. Pengalaman yang berharga bisa menyaksikan langsung kegiatan Paskah  di sini,” kata Mu’min (abri).
Foto: abri
Share:

Arsip