PSSI VS KTT Asia Afrika

Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan.
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah dari total jumlah penduduk dunia pada saat itu, merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan negara-negara tersebut dijajah oleh keputusan-keputusan Barat yang mempengaruhi Asia pada masa Perang Dingin.
Berangkat dari pemikiran di atas, jadi saatnya Pemerintah juga melihat kekuasaan FIFA pada persepakbolaan Tanah Air perlu ditinjau kembali. Singkat kata, mengapa Indonesia tidak menggalang negara-negara yang mungkin mengalami hal yang sama seperti yang kita alami pada saat ini. Dimana seolah kita harus tunduk pada pola mereka, yang pada akhirnya kita hanya seperti kerbau dicucuk hidungnya.
Sehingga kita pun perlu memiliki wadah lain selain FIFA, jadi persepakbolaan Nasional akan tetap dapat tumbuh dengan bisnis persepakbolaannya sendiri, yang berdampak pada kesejahterakan para pemain sepak bola Nasional, dan tentunya termasuk negara-negara yang tergabung di dalamnya.
Saya tidak ingin berpanjag lebar, saya yakin Anda semua paham apa yang saya maksud.
Ayo Mandiri!!!
Sapto Satrio Mulyo
Share:

Pesona Pasola Menggeliat Lagi

Tambulaka (IndonesiaMandiri) – Bandara Tambulaka di Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, siang itu baru saja diguyur hujan deras. Pesawat Garuda dengan rute Denpasar-Tambulaka-Kupang pulang pergi ini, meski terkena keterlambatan sedikit karena alasan cuaca, toh tak menyurutkan semangat sebagian besar penumpangnya yang ingin menghadiri acara Pasola yang hanya bisa disaksikan setahun sekali ini (ditiap minggu terakhir Februari atau Maret), baik yang terbang hampir satu jam dari Denpasar maupun Kupang.
Di Bandara Tambolaka sendiri, simbol atau patung orang berkuda sudah tampak.  Simbol itu adalah pertanda Pasola, sebuah tradisi adat yang sudah berumur sangat tua sejak zaman nenek moyang masyarakat Sumba, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.
Yang kami saksikan adalah di Sumba Barat Daya, di mana terdapat di Kampung Kodi. Di 2016 ini tepatnya Pasola diselenggarakan pada tanggal 24, 26 dan 27 Februari serta tanggal 26, 28 dan 29 Maret. Sepintas kalau kita lihat, hanya sekedar adu ketangkasan sejumlah pria dengan menunggang kuda sambil melempar kayu atau tombak.  Tetapi sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dalam tradisi Pasola ini sangat mendalam.
Tradisi ini memiliki makna bagi para sesepuh adat atau dikenal dengan Rato, memanggil roh leluhur, nenek moyangnya dahulu, agar kehidupan yang dilalui oleh masyarakat setempat dapat berlangsung aman dan sejahtera, hasil panen dari kebunnya bisa untuk kehidupan sehari-hari, serta masyarakat kian rukun.  Tradisi menghormati nenek moyang ini juga disebut Marapu. “Ini semacam kepercayaan atau agama di sini yang sudah ada ratusan tahun. Bisa dikatakan animisme,” kata Jhon  L. Dangga, Kepala Pramuwisata di Sumba Barat Daya.
Sehingga, Pasola sendiri adalah rentetan kegiatan dari menghormati sekaligus memeriahkan kehadiran Sang Leluhur, Nenek Moyangnya,  dimulai sejak pagi hari sekitar jam 05.00 dipinggir pantai dengan melakukan ritual menangkap cacing, yang  kemudian disebut Nyale. Setelah Nyale ini, barulah para Rato pun melakukan ritual lanjutan di rumah adatnya sambil berkeliling dan memanggil para leluhur (lihat tulisan sebelumnya, Pasola Belum Menjadi Andalan Wisata).
“Karena semuanya diatur oleh Rato, jadi acara Pasola ini sangat sulit di jauh hari sudah ditentukan tanggal pastinya. Karena harus menunggu para Rato melakukan kesepakatan dalam ritual. Biasanya kami hanya memberikan perkiraan kepada para tamu bahwa Pasola diselenggarakan di setiap minggu terakhir Februari dan Maret,” ucap Yohanes Bora, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Setelah ritual itu selesai, barulah menjelang siang atau sore hari, acara Pasola digelar disebuah lapangan luas. Semua warga memenuhi lapangan ini di saat Pasola berlangsung. Tak terkecuali para wisatawan dari dalan dan luar negeri. Para petarung di Pasola pun jumlahnya nyaris tidak terbatas. Saat kami menyaksikan pun, sedang turun hujan meski tidak deras. Penonton yang jumlahnya lebih dari lima ribuan ini tak bergeming meninggalkan lapangan untuk menyaksikan para jagoannya bertarung. Uniknya, saat “pertarungan” berjalan, dan ada korban luka atau lebih parah lagi hingga meninggal dunia misalnya, tak ada sanksi hukum di sini. “Yang berjalan adalah hukum adat di Pasola. Semua pihak sudah mengetahui. Sehingga apabila ada sengketa karena akibat adu ketangkasan ini, ya diselesaikan secara adat di kampungnya masing-masing,” sambung Yohanes.
Yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya kini, adalah bagaimana mengemas atraksi Pasola serta tradisi ritual turunannya itu menjadi sebuah tontonan wisata yang apik. Karena bagaimanapun juga, Pasola telah menjadi daya tarik tersendiri. Para pedagang makanan-minuman ikut menyemarakkan acara tahunan ini. Hotel dari berbagai tipe ikut penuh, penerbangan menuju Sumba pun ikut meningkat.
“Kamar kami penuh semua oleh para tamu yang mau menyaksikan Pasola,” aku Markus Tamo Ama, Manajer Hotel Sinar Tambulaka, salah satu hotel terbesar di Sumba Barat Daya. Philip, pemilik travel biro Sumba Adventure, juga mengakui bahwa daya tarik Pasola sangat besar. “Saya kedatangan beberapa tamu dari Eropa untuk melihat Pasola dan obyek wisata lainnya di Sumba Barat Daya,” tambah Philip.
Tantangan Pemkab Sumba Barat Daya memang menjadi besar untuk kedepannya. Arena Pasola masih terlihat sangat tradisional. Belum ada tribun permanen yang baik, lengkap dengan atap untuk supaya tidak kepanasan atau kehujanan bagi para penontonnya. Sarana toilet yang memadai bagi para wisatawan juga sulit didapat. Belum lagi sarana parkir bagi kendaraan roda empat dan dua tidak tertata rapih, sehingga kendaraan bisa mendekat sembarangan mendekati arena. Pengamanan untuk penonton pun masih sembarangan, sehingga rentan terjadi benturan apabila penunggang kuda hilang kendali atau kesasar kena tombaknya.
“Kami memang sedang membenahinya secara bertahap. Kami harapkan bantuan semua pihak, juga dari Pusat tentunya,” ujar Yohanes. Karena menurut Yohanes, mulai dari pembenahan infrastruktur di Pasola dan obyek wisata menarik lainnya, juga paket promosinya akan dibenahi lebih serius lagi untuk 2017 dan seterusnya.
Dari Kementerian Pariwisata, khususnya di bidang Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, juga mengirim tim untuk melihat langsung acara Pasola dan obyek wisata lainnya di Sumba Barat Daya. “Pasola ini memang sangat bagus dikembangkan dan ditata lagi agar wisatawan bertambah ramai kesini,” aku Drs. Yohanes Wagiyo, dari Unit Wisata Senit Budaya Kementerian Pariwisata yang mengikuti sejak dari Kampung Adat hingga Pasola dimulai.
Kini, berpulang kembali memang kepada masyarakat di Sumba Barat Daya sendiri untuk turut memelihara keindahan dan keunikan kearifan lokal yang dimilikinya agar menjadi sebuah daya tarik yang ujungnya bisa menambah kesejahteraan masyarakat melalui pemasukan dari kedatangan para wisatawan. Karena di Sumba Barat Daya khususnya, disamping Pasola, pesona rumah adatnya yang atapnya menjulang tinggi begitu banyak tersebar. Lalu ada keindahan Danau Weekuri, Pantai Manga Adha, Pero, dan lain-lain, adalah sisi menarik lain yang bisa dinikmati oleh para wisatawan.
November 2015 lalu, pimpinan dari Dinas Pariwisata se Sumba (ada empat kabupaten: Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur), telah sepakat untuk mengembangkan pesona wisata Sumba secara keseluruhan. Ini langkah awal yang baik, dan perlu ditindakanjuti dengan langkah nyata di lapangan (abri).
Foto: abri
Share: