Jangan Sampai Pesona Toba Redup

Berastagi (IndonesiaMandiri) – Daya tarik Danau Toba, di Sumatera Utara, sudah tak diragukan lagi, baik di mata masyarakat Indonesia maupun mancanegara.  Bahkan, baru-baru inio, Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli ingin menjadikan kawasan Toba sebagai “Monaco’nya Asia.  Tak berlebihan, rasanya.

Kecantikan alam yang dibalut dengan kekayaan tradisi, seni dan budaya  Batak plus tujuh kabupaten yang mengelilinginya, membuat Toba memiliki banyak keunggulan dibanding danau lainnya di muka bumi ini.

Itu sebabnya pula, setiap tahunnya, ada acara akbar yang diberi nama Festival Danau Toba. Berbagai atraksi seni dan budaya dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara dipentaskan.  Tahun ini, tuan rumahnya ada di Berastagi, Kabupaten Karo, daerah dataran tinggi yang bisa ditempuh dari kota Medan dengan kendaraan sekitar dua setengah jam atau sekitar 80an kilometer.

Uniknya, festival tahun ini diselenggarakan justru tidak berdekatan dengan Danau Toba.  Kabupaten Karo yang beribukota di Kabanjahe, ditunjuk menjadi tuan rumah. Persisnya di Berastagi, sebuah kota berudara sejuk karena merupakan daratan tinggi  sekitar 1.300 meter dari permukaan laut dengan suhu sekitar 15-20 derajat celcius.

Seperti diketahui, Danau Toba berada diantara tujuh Kabupaten di Sumuatera Utara, seperti:  Samosir, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasudutan, Dairi dan Karo.  “Mulanya memang tahun lalu sudah ditunjuk yang menjadi tuan rumah di Kabupaten Samosir. Tetapi di Agustus 2015 kemarin, Kabupaten Samosir tiba-tiba membatalkannya. Akhirnya setelah kita mencari lagi, dipilihlah Karo yang bersedia,” ujar  Elisa Marbun, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara kepada IndonesiaMandiri.

Tak dipungkiri memang, dengan dibatalkannya secara mendadak  oleh Pemkab Samosir tentang rencana penyelenggaran Festival Danau Toba ini , menjadikan segala persiapan menjadi ikut berubah. Tetapi karena sudah tekad, kesepakatan dan komitmen dari pihak Provinsi, Kabupaten-kabupaten maupun Kementerian Pariwisata sejak semula bahwa perhelatan rutin tahunan harus tetap terselenggara, maka dalam waktu yang singkat Festival Danau Toba harus berjalan.

Singkat cerita, kamis lalu (19/11), Festival Danau Toba dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, di Lapangan Mejuah-Juah, Berastagi.  Festival yang berjalan empat hari ini, diselingi oleh berbagai acara atau pentas seni dan budaya, seperti lomba vokal solo, lomba sepeda jelajah ke sekitar Gunung Sinabung (tour d’Sinabung), lomba solo bolon, lomba binaraga, serta  pameran industri pariwisata, ekonomi kreatif dan aneka hiburan rakyat.

Dari rangkaian kegiaan tersebut, juga diselenggarakan diskusi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dengan tema “Fasilitasi Pengembangan Destinasi Wisata Tradisi dan Seni Budaya.” Diskusi yang berlangsung dua hari ini (20-21/11) di Hotel Sibayak, Berastagi ini, berlangsung cukup seru. Karena dari acara ini, banyak disoroti sangat tajam tentang berbagai masalah atau kendala yang terjadi di Sumatera Utara umumnya dan kawasan Toba khususnya dalam hal pengembangan pariwisatanya. Termasuk dalam hal ini mengkritisi tentang jadwal Festival Danau Toba yang sempat simpang siur sehingga berdampak bagi para tamu atau wisatawan yang ingin menikmatinya.

Para pembicara dalam diskusi ini adalah Prof. Dr. Robert Sibarani (Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara), Made Adhi Gunadi (Pengajar di Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Jakarta), Muhammad Takari bin Jilil Syahrial (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara), dan Henky Hermantoro (Kemenpar). Pesertanya banyak dari kabupaten yang ada di Sumatera Utara.

Seperti dikatakan Robert Sibarani, mestinya masing-masing kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba untuk menanggalkan egonya dan harus bergotongroyong mengembangkan wilayah ini sebaik-baiknya. “Pengelolaan Danau Toba harus transparan dan ditangani ke Provinsi saja. Sehingga ketujuh kabupaten mendukung secara bersama. Ini sudah gagasan lama, tetapi dalam pelaksanaannya kurang berjalan,” kata Sibarani.

Untuk pengelolaan Danau Toba kedepan, memang sudah ada pemikiran ingin dibuat semacam badan otoritas otonom. “Jadi semacam Badan Pengelolaan Kawasan Wisata Toba, yang nantinya membuat perencanaan sekaligus pengembangan secara terpadu,” kata Lokot Endah Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kemenpar. “Karena berbicara wisata Danau Toba”, sambung Lokot, “ sangat kental dengan nuansa tradisi seni dan budaya yang ada.”

Kemenpar memang sudah memberikan kail dan dukungan penuh kepada semua daerah yang memiliki potensi wisatanya untuk maksimal memberi lima even wisatanya yang setiap tahun bisa ditampilkan. Dengan demikian, kalender kegiatan pariwisata nasional akan lebih semarak. Dan ujungnya, akan mendongkrak pendapatan daerah-daerah karena mengundang banyak wisatawan dalam dan luar negeri untuk berkunjung

Lagi pula, Danau Toba juga sedang diusahakan untuk masuk dalam daftar Geopark Network dunia yang dikelola UNESCO . Potensi Geopark Kaldera Toba begitu besar, karena bisa menopang banyak pelestarian lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Itu sebabnya, pesona Danau Toba mesti dipelihara dengan baik agar tidak redup (abri).
Foto: Ahmad Fauzan 
   
 

Share:

Kapal Cepat Rudal

PT – 105 in actionLatar Belakang
Kapal Cepat Rudal (KCR) atau Fast Missile Boat adalah jenis kapal perang yang berdimensi relatif kecil (panjang ≤60 meter) dan berbobot ≤ 400 ton merupakan evolusi dari Kapal Serang Cepat / Fast Attack Craft (sebutan sering berbeda di tiap negara) salah satu pendahulunya adalah yang digunakan AL AS / US Navy di front Pacific saat PD II yang dikenal sebagai PT Boat (Patrol Torpedo Boat), pada masa itu AL AS (USN) banyak sekali mengoperasikan (deploy) PT Boat dalam bentuk Gugus-Gugus Tugas (Task Forces) Skuadron MTB (Motor Torpedo Boat), ini dimaksudkan sebagai salah satu strategi yang diterapkan USN untuk mengantisipasi superioritas Armada AL Jepang yang unggul dalam jumlah Battle Ship-nya, dan strategi ini dinilai cukup berhasil dikarenakan di perairan Pacific banyak terdapat pulau-pulau kecil tak berpenduduk sehingga dapat dijadikan sebagai tempat persembunyian kapal-kapal kecil bahkan saat Jenderal Douglas Mac Arthur dan keluarganya  dievakuasi keluar Filipina menggunakan PT Boat (PT-41).

Pasca PD II Kapal Serang Cepat (FAC) mulai berevolusi terlebih dengan berkembangnya teknologi peluru kendali permukaan ke permukaan / anti Ship guided missile / surface to surface missile membuat Fast Attack Craft menjadi lebilh mematikan (Lethal) dan tentunya juga lebih efektif terlebih saat Perang Arab Israel, 21 Oktober 1967   sewaktu dua Komar Klas AL Mesir berhasil menenggelamkan Kapal Perusak (Destroyer) Israel INS Eilat dengan menembakkan Rudal SSN-2 Styx (fire and forget) nya membuat Kapal Cepat Rudal naik pamornya dan AL dunia seakan berlomba memakai KCR.


Perkembangan KCR
Dalam perkembangannya desai KCR di bedakan berdasarkan rancang bangunnya sebagai berikut:
  • Desain Konvensional, antara lain seperti KCR 60 buatan PT PAL
     
  • Desain moderen
    Seperti Attack Hydrofoil Pegasus Class buatan Amerika, Jerman Barat dan Italia meskipun program ini tidak berkelanjutan, Rusia dahulu Uni Soviet dan Tiongkok juga ikut mengembangkan teknologi Hydrofoil.
Saat bergerak cepat lambung kapal terangkat karena pancaran water jet melalui sirip (fin) sehingga kapal dapat berkecepatan tinggi dan bermanuver lincah ini dimungkinkan karena lambung kapal tidak lagi bersentuhan dengan permukaan air.

Disamping desain tersebut juga dikenal desain-desain Catamaran dan Trimaran Antara lain seperti Skjold Class buatan Norwegia yang mempunyai teknologi Air Cushion Catamaran.
Sehingga mempunyai kecepatan yang sangat tinggi > 60 Knot dan lebih tahan terhadap segala kondisi laut juga berkemampuan stealth (sulit ditangkap radar).

Prospek KCR di Indonesia
Prospek KCR di Indonesia sangat potensial dikarenakan sebagai Negara Kepulauan (Archipelago State) menuntut Angkatan Laut yang mampu melakukan tugasnya sebagai pengawal Lautan Nusantara, kemampuan Industri Nasional salah satunya PT PAL sudah membuktikan bahwa teknologi pembuatan  KCR sudah bisa dikuasai  tinggal penyesuaian terhadap teknologi yang paling baru seperti : Desain Catamaran / Trimaran, Stealth dan sebagainya, ini untuk mengantisipasi ancaman perang laut masa kini dan masa mendatang.
Agar dapat berhasil-guna dalam men-deploy KCR maka penugasan harus dalam bentuk gugus-gugus tugas (task Forces), 20 - 30 KCR dikawal 5-7 Korvet dan didukung 5-8 Kapal Supply juga diperkuat Kapal Selam maka dapat memberikan kekuatan penggentar (deterrent power) yang sangat signigikan.

Sumber-sumber :
1.    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/42/USS_PT-105.jpg
2.    http://harpgamer.com/harpforum/index.php?app=downloads&module=display&section=screenshot&record=1711&id=792&full=1
3.    https://www.idfblog.com/wp-content/uploads/2012/10/EILAT_2.jpg
4.    https://indonesiaproud.files.wordpress.com/2013/12/kcr601-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg?w=600
5.    http://www.warboats.org/images/jpg/phm/LR-PHM%20drawing.jpg
6.    http://kiwimodeller.com/~kmodel/media/kunena/attachments/385/PegasusClasspatrolcombatatanthydrofoilmissileUSA.jpeg
7.    http://steelnavy.com/images/wem_pegasus/phm1a.jpg
8.    http://www.foils.org/gallery/phm1m.jpg
9.    http://i.imgur.com/GLcRfb7.jpg
Share:

Railink Kualanamu Bisa Ditiru

Deli Serdang/Sumut  (IndonesiaMandiri) – Bandara Internasional Kualanamu, di Deli Serdang, Sumatera Utara, memiliki koneksi dengan rel kereta yang diberi nama Raillink menuju Stasiun Kereta di kota Medan.  Model ini sangat tepat, bermanfaat dan efisien. Ini menjadi contoh yang baik bagi bandara lain untuk menirunya.

Railink yang memakan waktu perjalanan 45 menit menuju kota Medan (sebaliknya 30 menit menuju bandara) dengan ongkos seratus ribu rupiah,  sangat nyaman dengan kursi mewah, tempat menaruh barang yang lapang, dan tentu dilengkapi dengan ruang pendingin (ac).

Di Stasiun Kereta Medan, juga disediakan sarana city check-in untuk berbagai perusahaan penerbangan sehingga masyarakat pengguna jasa transportasi udara dapat melakukan check in lebih awal. Di stasiun ini pun telah tersedia hotel transit (Hotel Prima), sehingga penumpang yang terkendala waktu perjalanan, bisa dengan mudah mencari penginapan tanpa harus kesulitan keluar dari halaman stasiun.

Masyarakat yang memanfaatkan jasa Railink menuju Bandara Kualanamu, saat tiba sudah langsung dihantarkan menuju lantai berjalan (travellator) ke tempat keberangkatan bandara. Dengan demikian, Bandara Internasional Kualanamu membuat terobosan baru yang sangat menarik, perpaduan kerjasama antara pengelola bandara (Angkasa Pura II) dengan kereta (Kereta Api Indonesia).

Dengan ketepatan waktu yang sangat terukur baik, Railink akan lebih tepat digunakan oleh masyarakat di kota Medan khususnya yang ingin bepergian dengan transportasi udara ke Kualanamu. Hal ini juga tentunya bisa menjadi percontohan yang baik bagi bandara internasional lainnya di Indonesia.

Seperti diketahui, Bandara Internasional Soekarno Hatta kini sedang membangun Terminal 3 Ultimate yang sangat besar untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas manusia di terminal 1,2 dan 3. Nah, Konsep Railink rasanya akan menjadi tepat digunakan untuk menyambungkan lintas transportasi darat antar terminal menuju satu stasiun di kota Jakarta.

Konon, konsep jasa kereta yang akan menghubungkan kota Jakarta ke Bandara Soekarno-Hatta sudah lebih sepuluh tahun digagas. Tapi realisasinya sampai saat ini belum terlihat dengan jelasm meski d halaman belakang Bandara Soekarno-Hatta kini sudah mulai dibebaskan tanahnya untuk pembangunan terminal kereta bandara. Kita tunggu (abri).

Foto: abri  

Share:

Kerupuk Basah Yang Menggiurkan

Putussibau (IndonesiaMandiri) – Kalau sedang melintas di Kalimantan Barat, terutama di kota Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, jangan lupa mencicipi jajanan yang satu ini. Namanya kerupuk basah. Tentunya, yang ada dalam benak kita kalau jajanan kerupuk terbayang yang garing-garing. Namun berbeda dengan yang satu ini.

Sungai Kapuas dengan anak sungai yang menyebar ke berbagai kabupaten di Kalbar ini, memang ada satu jenis ikan yang menghuni dinamakan ikan Toman. Dari ikan inilah kemudian diolah, dimasak dengan campuran tepung terigu, direbus, lalu dihangatkan dalam satu tungku. Bila sudah siap, wujudnya menjadi semacam empek-empek yang lonjong atau memanjang dengan warna putih.

Saat disajikan, satu buah kerupuk basah yang harganya sepuluh ribu rupiah ini dipotong-potong menjadi kecil dan siap disantap dengan ditemani sambal kacang.  Renyah, terasa sekali ikannya, dan sangat tepat untuk dimakan santai baik untuk sarapan pagi, siang atau pun malam.

Tak heran di kota Putussibau, jajanan ini sudah mudah dijumpai sejak pagi hari sekitar jam 6an hingga larut malam.  Masyarakat dari luar Kalbar, seperti ibu Ida dari Jakarta yang sedang berdinas ke Putussibau, misalnya, langsung tertarik saat menjajal kerupuk basah ini. “Enak sekali rasanya. Saya langsung pesan untuk oleh-oleh keluarga di Jakarta,” aku Ibu ini yang bekerja di salah satu kementerian.

Selintas bila kita lihat, fisiknya mirip memang dengan jajanan khas Sumatera empek-empek.  Disamping warnanya sama putihnya, juga bahannya pun dari ikan. Hanya jenis ikannya berbeda dan olahannya tentu juga berbeda.

Kota Putussibau, kini kian ramai dikunjungi pendatang karena sudah ada penerbangan rutin setiap hari dari Pontianak. Maskapai Kalstar dan Garuda Indonesia dengan pesawat ATR satu kali setiap hari singgah di Putussibau. Dan, ada baiknya pihak Pemda bisa membantu para penjual kerupuk basah ini untuk berjualan di Bandara Pangsamu, Putussibau, dengan kotak menarik yang siap dijinjing bagi siapapun yang membelinya (abri).
foto: abri

Share:

Badai Belum Berlalu di Nangabadau

Nanga Badau/Kalbar (IndonesiaMandiri) – Suasana di perbatasan darat Kecamatan Nangabadau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar, sudah banyak perubahan dibanding tahun sebelumnya.  Karena saat ini sudah ada Pos Lintas Batas (PLB) dengan bangunan yang lumayan besar setelah Entikong untuk Provinsi Kalimantan Barat.


Tetapi, masyarakat di desa Badau, tetap masih banyak memanfaatkan barang-barang dari negara tetangga Malaysia. Maklum saja, karena jarak tempuh yang lumayan pendek, hanya 30 menit jalan darat sudah tiba di kota Lubuk Hantu, Serawak, yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga.


Di Kecamatan Nangabadau sendiri, bukannya tidak ada pasar. Tetapi tetap saja barang yang membanjiri adalah produk Malaysia. Mau ke ibukota provinsi Kalbar, Pontianak, mesti menguras waktu hampir dua hari perjalanan darat dengan kondisi jalan yang masih banyak rusak. Terdekat,  pusat keramaian di ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu kota Putussibau, dengan jarak tempuh perjalanan darat tiga setengah hingga empat jam.


Layaknya di perbatasan darat lainnya, posTNI juga tersedia di Nangabadau. Hanya saja, PLB di Kalimantan ini banyak yang belum terpadu, di mana semua unsur yang terkait dengan urusan perbatasan dengan negara asing seperti Bea Cukai, Karantina, TNI, Polri, tidak menyatu.  Di Nangabadu misalnya, pos terdepan dari titik nol kilometer diisi bagian keimigrasian (Bea Cukai), kemudian jarak tiga ratus meter baru bertemu pos TNI dan karantina.  Kabarnya memang, di 2016 ini PLB yang besar akan dijadikan terpadu dalam satu atap.


Dan yang lebih penting kalau berbicara soal perbatasan negara, harus tak bisa dilepaskan dari soal kesejahteraan masyarakatnya. “Kita ini serba sulit ya. Mau sekolah yang baik, paling dekat di negara sebelah. Belanja keseharian dan kesehatan juga demikian,” tutur Ahmad, yang tinggal di Badau. Belum lagi soal air bersih dan listrik, sulit sekali untuk masyarakat memperolehnya. Saat menjelang Magrib, listrik seringkali mati.


Di Badau, ada perusahaan sawit yang lumayan besar dan maju. Perusahaan ini juga sering memberikan bantuan sekedarnya seperti penyediaan air bersih, pendidikan sekolah lengkap dengan antar jemputnya. Tapi, ini sangat terbatas yang dapat memanfaatkannya.


Lalu pertanyaan sederhana muncul: di mana negara? Aparat keamanan seperti TNI dan Polri sudah pasti ada disekitar perbatasan. Tapi, tugas mereka juga sudah pasti bukan menyentuh hal-hal mendasar seperti menjalankan roda perekonomian masyarakat.


Baru-baru ini, TNI bersama Kementerian Pertahanan mulai lagi dengan berbagai kegiatan sosialnya, seperti pengobatan cuma-cuma untuk  penyakit umum, gigi, serta alat keluarga berencana.  Tak lupa para tentara ini juga memberikan penyuluhan hukum, batas-batas negara, serta ikut membantu membangun berbagai fasilitas umum seperti jalan, rumah ibadah, dan lain-lain.


Sekali lagi, upaya dari TNI dan Kementerian Pertahanan ini juga sangat terbatas. Bukan berarti kerja sosial mereka tidak ada artinya. Justru sangat besar manfaatnya. Hanya saja, perlu penanganan dengan manajemen yang lebih profesional untuk menghidupkan perekonomian di tengah masyarakat.  Misalnya, bagaimana ada semacam terminal pasar pengumpul  (dry port) yang menyediakan berbagai kebutuhan  pokok.


Sarana transportasi pun mesti mudah dijangkau. Bis yang tersedia, jangan hanya lewat satu-dua kali saja dalam sehari yang menghubungkan daerah perbatasan seperti Badau dengan kota besar sekitarnya.  Daerah yang dialiri sungai pun demikian, mesti ada sarana kapal sesuai ukuran aliran sungai yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam beraktifitas.  Belum lagi sarana komunikasi seperti handphone, seringkali terkena roaming ke negara sebelah. Serta, masih banyak daerah  yang masih tak terjangkau sinyalnya dengan jaringan penyedia jasa telekomunikasi, seperti Telkomsel, Indosat, XL, dan lain-lain.


Presiden Jokowi dalam beberapa kunjungannya ke perbatasan, sudah mengingatkan untuk melakukan pembangunan secepatnya.  Salah satu program Nawacita Pemerintah adalah turut membangun Indonesia dari pinggir. Yang dimaksud “pinggir” ini diantaranya adalah perbatasan, seperti halnya di Nangabadau.


Kini, setahun sudah Pemerintahan Jokowi berjalan. Realisasi nawacita tentunya sangat dinanti, agar masyarakat di perbatasan tak lagi nasibnya dipinggirkan (taruna).
foto: abri

Share: