Kurikulum Kita Terus Memakan Korban

Sapto Satrio Mulyo
Bekasi (IndonesiaMandiri) - Pada tingkat SD, mata pelajaran Pendidikan "Budi Pekerti" pertama kali diperkenalkan dalam kurikulum 1947 sebagai salah satu dari 16 mata pelajaran yang berdiri sendiri, dan terpisah dari Pendidikan Agama.

Sedangkan pada tingkat SMP, pendidikan budi pekerti muncul dalam kurikulum 1962, dan terpisah dari mata pelajaran Agama. Namun materi pendidikan budi pekerti tidak diperlakukan sebagai suatu mata pelajaran khusus melainkan disisipkan dalam semua mata pelajaran SMP dan kegiatan sekolah.

Di bangku Sekolah Dasar, pendidikan Budi Pekerti, berisi semua karakter-karakter Budaya Indonesia, yakni; Tenggang Rasa, Jujur, Saling Peduli, Gotong Royong, dlsb.

Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti pernah diberikan di sekolah-sekolah hingga tahun 1970-an. Selanjutnya pelajaran itu dihilangkan dan disisipkan dengan mata pelajaran lain. Dengan disisipkannya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti, maka materi budi pekerti tidak menjadi kurikulum utama dalam kurikulum pendidikan.

Tujuan dari Pendidikan Budi Pekerti, bertujuan untuk membina, dan membangun kejiwaan seorang anak, agar anak-anak tidak akan terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang buruk, di sisi lain mereka sudah dapat berfikir secara bertanggung jawab, dengan fondasi moral yang kokoh sesuai nilai-nilai Luhur warisan Leluhur Bangsa ini.

Singkat kata, kita dapat lihat, di era 70an ini, saat Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dihilangkan, ya kurang lebih setelah alumni SD dan SMP yang masih mendapatkan Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti lulus dari SMA, maka masuklah murid SMP yang sudah tidak lagi dibekali dengan Mata Pelajaran Budi Pekerti menguasai semua SMA di Indonesia.

Tidak mengherankan jika di era yang sama (era 70an), ada tiga SMA sekolah “Anak Kebayoran” yang notabene berasal dari kalangan anak pejabat pemerintah, perwira tinggi kepolisian dan militer, serta kalangan selebritis remaja, yang dikenal sebagai SMA Bulungan (SMA 6 dan SMA 70), yang menjadi trend setter anak-anak muda Jakarta saat itu.

Pada akhir tahun 70-an, trend tradisi brutal, seperti coret-mencoret baju seragam usai lulus sekolah, konon berawal dari SMA Bulungan ini. Kenapa saya bilang brutal, karena sebelumnya belum ada budaya seperti itu. Perkembangan kebrutalan, tidak sampai di situ saja, tetapi yang lebih menyedihkan adalah lahirnya budaya brutal lainnya yang lebih menyedihkan paska dihilangkannya "Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti", adalah trend tawuran yang dipelopori oleh SMA Bulungan ini.

Melihat akibat di-hilangkan-nya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dari Kurikulum Sekolah, dan melihat dampaknya, akhirnya muncul tuntutan perlunya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dikembalikan kedalam sistem pendidikan kita.

Dalam draf kurikulum 2001 telah keluar kurikulum Pendidikan Budi Pekerti, akan tetapi Pendidikan Budi Pekerti tampaknya tidak muncul dalam bentuk mata pelajaran tersendiri, tetapi terintegrasi dalam semua mata pelajaran, serta melalui diintegrasikannya pada kegiatan-kegiatan di sekolah.

Kembalinya Pelajaran Budi Pekerti yang setengah hati, bertujuan untuk menyudutkan Pelajaran Budi Pekerti itu sendiri, yang seolah tidak berdampak apapun hingga kini. Inilah cara-cara penghianat Bangsa untuk menghambat Kemandirian Berfikir Bangsa Besar ini. Padahal jelas, kalau kita menengok sejenak ke era 70-an, disitulah pokok pangkalnya.

Bahkan ada yang berkilah, khan sudah digantikan dengan Mata Pelajaran Agama, yang notabene Departemennya (Departemen Agama) menduduki peringkat terkorup di Indonesia (Kompas.com Selasa, 29 November 2011, http://nasional.kompas.com/read/2011/11/29/02410859/Kementerian.Agama.Terkorup).
Adapun peristiwa di SD Jakarta Selatan baru-baru ini, yang memukul temannya di depan guru mereka hingga tewas, adalah bukti, bahwa Guru dimata siswa-siswi hanyalah seorang "Pengajar" hal-hal ilmiah yang dibayar dengan uang oleh orang tua mereka. Sehingga guru saat ini kehilangan Profesi Mulia-nya sebagai seorang "Pendidik". Anak bangsa kita semakin jauh dari nilai-nilai Luhur Bangsa ini.

Singkat kata, kita harus mengembalikan Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti, sebagai satu mata pelajaran yang berdiri sendiri, (dan tentunya terpisah dari Pendidikan Agama) untuk mengembalikan nilai-nilai Luhur Bangsa yang semakin punah, karena pengaruh nilai-nilai Barat, Timur Tengah dan Asia Timur.

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Arsip