Berita Indonesia Mandiri

Bangka Bakal Miliki Bandara Baru

Pangkalpinang (IndonesiaMandiri) – Kesibukan Bandara udara utama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Depati Amir, begitu tinggi. Pengelola bandara untuk wilayah Indonesia tengah dan Barat, Angkasa Pura II, sudah membangun bandara baru untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di Kepulauan Bangka ini.

Berlokasi hanya berseberangan dengan yang lama, Bandara Depati Amir (PKG), kalau tidak ada hambatan berarti, di penghujung 2015 akan segera dibuka untuk umum. Eko Prihadi, General Manager Bandara Depati Amir kepada Indonesiamandiri mengemukakan, bahwa semua persiapan sudah rampung untuk operasional bandara baru tersebut.

Kapasitas Bandara Depati Amir sekarang hanya dapat menampung sekitar 350 ribuan penumpang pertahun sementara yang terjadi di lapangan arus penumpang sudah mencapai 1,4 juta. Sekedar merenovasinya saja sudah tidak mungkin. Ini yang menyebabkan perlunya dibangun bandara baru. Bandara lama hanya memiliki luas 3.500 meter persegi, sedangkan  tahap I yang baru mencapai 11.500 meter persegi.

Untuk maskapai penerbangan yang singgah di Depati Amir, bisa dikatakan semuanya ada, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, Citilink dan Susi Air. Jam operasi bandara, kini mulai 06.00 pagi hingga 19.00 malam. Dengan banyaknya frekuensi penerbangan setiap harinya, membuat kapasitas gedung untuk menampung lalu lintas penumpang terasa menjadi padat. Apalagi, di saat jam sibuk setiap harinya antara jam 11.00-12.00 dan 17.00-18.00, terutama penumpang yang diangkut oleh maskapai Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air dan Lion Air.

Pangkalpinang, sebagai ibukota Provinsi Bangka Belitung, memang banyak menjadi tumpuan utama bagi para pebisnis atau wisatawan yang ingin menikmati panorama di daerah dengan semboyan Serumpun Sebalai (artinya, sebuah keluarga besar yang mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam kegiatan keseharian) dengan nuansa khas budaya melayu.

Di pulau sebelahnya yang masih dalam satu provinsi, Belitung atau Tanjungpandan, juga ada Bandara dengan nama HAS Hanandjoeddin. Namun bandara tersebut belum terlalu lama dioperasikan. Sehingga, arus penumpang lebih banyak tertuju ke Depati Amir. Dan, ibukota Provinsi juga berada di Pangkalapinang, sehingga dinamika kegiatan lebih ramai berada di Bangka.

Menurut Eko, melalui Depati Amir yang strategis ini, rute penerbangan, berfungsi menjadi pendorong dan penunjang kegiatan industri, perdagangan dan/atau pariwisata dalam menggerakkan dinamika pembangunan nasional, serta keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya dan berperan langsung dalam pertumbuhan ekonomi (abri). Foto : Istimewa

 

Share:

Hadiah Putin Saat Hari Raya Idul Adha

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan sebuah masjid besar di kota Moskow, tepat sehari sebelum hari Raya Idul Adha (23/9). Masjid yang kabarnya terbesar se jagad Eropa dan dapat menampung jamaah sekitar 10 ribuan ini, berdiri sejak 1904 dan direnovasi secara besar-besaran sejak 2005.

Peresmian masjid kolosal yang diberi nama Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet ini juga dihadiri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Duta Besar Indonesia untuk Rusia Djauhari, tokoh muslim dan pejabat tinggi di Rusia.

Masjid mewah ini juga dilengkapi dengan tujuh lift, pendingin udara, dan fasilitas bagi penyandang cacat. Biaya renovasinya US$ 170 juta atau sekitar Rp 2,43 triliun. Pembangunan gedung baru masjid ini dibiayai sepenuhnya oleh jemaahnya. Dari awal pekerjaan rekonstruksi, orang-orang muslim yang ingin berkontribusi dalam pembangunan masjid dapat ikut menyumbangkan dana. Donatur utama adalah anggota Dewan Federasi dari Dagestan Suleiman Kerimov yang menyumbangan lebih dari seratus juta dolar AS yang mencakup sebagian besar dari total biaya rekonstruksi, seperti ditulis di siaran berita milik Pemerintah Rusia  RBTH.

Pemerintah Turki juga turut  memberikan bantuan berupa mimbar dan mihrab. Palestina, terutama dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas memberikan sumbangan US$ 25 ribu atas nama anak-anak Palestina, dan juga sumbangan dari umat dari berbagai agama.

Secara garis besar, Putin sangat gembira dengan diresmikannya masjid ini setahun lebih cepat dari yang diperkirakan. Dan diharapkan keberadaan masjid ini bisa menjadi sumber inspirasi dalam hal penyebaran nilai-nilai  keagamaan dan pengetahuan bagi para pemeluk agama Islam, baik di Rusia maupun seluruh dunia.

“Rusia saat ini berdiri tegak sebagai sebuah jembatan antara Timur dan Barat yang berperan menjaga perdamaian di Timur Tengah,”  kata Rushan Abbyasov Wakil Ketua Dewan Mufti kepada RBTH. “Rusia secara aktif mengembangkan hubungan dengan negara-negara Muslim dan kami berharap bahwa dengan dibangunnya masjid baru ini akan membantu mengembangkan dan mempererat hubungan ini,” tambahnya lagi

Dalam perjalanan sejarahnya, kota Moskow memang banyak pula dihuni oleh masyarakat muslim. Kini, ada sekitar 2 jutaan warga muslim di Moskow dan bercokol enam masjid. Sedangkan untuk ukuran Rusia secara keseluruhan, masjid terbesar ada tiga, yakni disamping yang baru diresmiskan di Moskow, juga ada di Republik Chechnya dan Dagestan (abri).

Share:

Hubungan Indonesia Rusia

Nama ”Indonesia” sudah dikenal di Uni Soviet lama sebelum Indonesia merdeka. Dalam buku Prof Guber yang ditulis pada 1933, Indonesia masih bernama Hindia Belanda, namun dalam buku itu telah tercantum nama ”Indonesia”.

Kami menyebut negara ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh pejuang Indonesia. Pada 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dan melancarkan perang melawan kolonialisme. Kemenangan perang dan kemerdekaan menjadi hak rakyat Indonesia, namun pengakuan dari komunitas internasional sangat penting.
Uni Soviet, Ukraina, Belarus, dan sekutu-sekutu Rusia di PBB mengecam keras agresi Belanda terhadap Indonesia. Pada 1948, Uni Soviet berupaya membuka hubungan diplomatik pertama dengan pemerintah Republik Indonesia. Bahkan, pernah perwakilan dari Indonesia dan Uni Soviet menandatangani kesepakatan di Praha, namun kesepakatan tersebut dibatalkan karena Indonesia mendapat tekanan kuat dari Belanda.

Tepatnya pada 24 Desember 1949, Uni Soviet menerima pesan resmi mengenai kesepakatan hubungan antara Belanda dan Indonesia. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky mengirimkan telegram kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr Mohammad Hatta.

Telegram ini berbunyi: ”Atas nama pemerintah Uni Soviet, saya dengan hormat menginformasikan kepada Anda, sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda, pemerintah Uni Soviet memutuskan mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia dan akan membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia.”

Dari situlah hubungan Rusia-Indonesia dimulai. Namun, pertukaran duta besar belum terjadi hingga 1954. Keadaan berlangsung lambat saat itu. Meskipun ada rentang waktu tiga tahun tidak ada pertukaran duta besar antara kedua negara, namun sebenarnya kita telah membangun hubungan diplomatik. Hingga akhirnya pada 1956, Presiden RI Soekarno untuk kali pertama berkunjung ke Uni Soviet.

Tahun 1956 merupakan tonggak kesepakatan perdagangan pertama kedua negara. Sejak itu, hubungan kedua negara terus berkembang pesat. Awalnya memang tidak mudah. Ini disebabkan adanya perbedaan politik, terutama perbedaan sistem ekonomi kedua negara. Namun, perbedaan tersebut tidak dapat menghalangi kuatnya keinginan kedua negara untuk memperkuat hubungannya.

Pada 1957, Ketua Dewan Tertinggi Uni Soviet (USSR Supreme Soviet) Klim Voroshilov berkunjung ke Indonesia. Jakarta menyambut hangat kedatangannya. Pada akhir 1950-an, Indonesia berupaya meningkatkan perekonomian dan melakukan reformasi dan modernisasi angkatan bersenjatanya. Saat itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal AH Nasution datang ke Amerika Serikat (AS) membawa proposal agar mendapat bantuan mereformasi angkatan bersenjata Indonesia.

Namun, AS menolaknya karena masih ada konflik yang belum terselesaikan antara Indonesia dan Belanda, terkait masalah Irian Barat. AS menolak memberi bantuan persenjataan bagi Indonesia karena khawatir akan dipergunakan untuk berperang melawan sekutu AS di Organisasi Traktat Atlantik Utara (NATO), yaitu Belanda.

Mendapat penolakan dari AS, Indonesia kemudian berpaling ke Uni Soviet. Indonesia tidak hanya mendapatkan apa yang dibutuhkan, namun dengan dukungan Uni Soviet, Indonesia mampu mengembangkan teknologi dan pengetahuannya. Angkatan bersenjata Indonesia saat itu hanya dilengkapi persenjataan dari Perang Dunia II.

Tidak hanya dari segi kuantitas, dari segi kualitas pun kekuatan persenjataan Indonesia tidak memenuhi persyaratan untuk melindungi ribuan pulau yang tersebar seluas 2 juta km persegi di wilayahnya. Saat itulah, Uni Soviet banyak memasok peralatan militer kepada Indonesia. Mulai tank, kapal perang, dan pesawat tempur dari berbagai jenis. Tentu saja semua ini tidak cuma-cuma.

Ini merupakan bagian dari kredit sebesar USD1 miliar dan Indonesia telah membayar lunas semuanya pada pertengahan 1990-an. Tidak hanya memasok peralatan militer, Uni Soviet juga memberikan pelatihan teknis kepada tentara dan jenderal asal Indonesia di akademi militer di Moskow dan Leningrad (Saint Petersburg). Selain itu, Rusia juga mengirim 1.000 instruktur ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Madiun.

Indonesia percaya penuh atas bantuan Rusia ini, begitu pula Rusia, karena hubungan kedua negara didasarkan pada ketulusan dan kejujuran. Jika ada sesuatu yang tidak beres, kedua pihak akan saling mengingatkan. Kami sadar Indonesia merupakan negara yang masih kurang pengalaman militernya, terutama pengalaman teknis. Belanda tidak mewarisi Indonesia budaya berkaitan kemampuan teknis, yang sebenarnya membutuhkan beberapa generasi untuk dapat menguasainya.

Beberapa dekade terakhir, Indonesia telah berkembang pesat dan ini berkat kerja sama militer Indonesia-Uni Soviet yang berpengaruh secara signifikan. Namun, bukan berarti hubungan baik kedua negara hanya terkait hubungan militer semata. Uni Soviet juga banyak bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun infrastruktur sipil seperti Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta, stadion dan reaktor nuklir percobaan di Serpong.

Sayangnya, kondisi luar negeri dan domestik Indonesia tidak dapat memberi dukungan pada proyek-proyek ini. Karena ketiadaan dana, beberapa proyek ini ditinggalkan. Pada 1966–1967, ketika kondisi politik di Indonesia yang berada dalam kekuasaan Orde Baru berubah drastis, namun hubungan kedua negara masih tetap terjaga. Kedua negara sadar akan perbedaan ideologinya, akan tetapi tetap menjaga hubungan dalam batas-batas yang wajar.

Selama 30 tahun kekuasaan Orde Baru, yang berakhir pada 1998 lalu, hubungan kedua negara masih tetap terjaga. Dan sekarang kedua negara memasuki tahapan baru hubungan yang didasarkan pada saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Uni Soviet, yang sekarang berubah menjadi Federasi Rusia, tengah menanti kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia akan menjadi presiden keempat yang pernah berkunjung ke Rusia, setelah Soekarno, Soeharto, dan Megawati Sukarnoputri.

Masih banyak hal yang luput dari perhatian dan pemikiran kita. Namun, di atas semua itu, di dunia yang kompleks ini, kita perlu memikirkan soal format globalisasi. Pada 2000, MPR mengindikasikan bahwa globalisasi merupakan proses yang penting, namun bisa pula menjadi ancaman bagi Indonesia pada bidang-bidang tertentu. Dalam kerangka ini, kita berharap supaya pemerintahan SBY dapat menemukan format dalam proses globalisasi ini.

Penting bagi Indonesia mencari format baru dalam hubungan internasional. Dan kerja sama Rusia-Indonesia sebagai bagian dari pencarian format baru ini, sangat penting. Hubungan Indonesia-Rusia tidak hanya terbatas pada hubungan antar politikus dan pejabat negara, namun juga pada tataran hubungan dengan masyarakat sipil. Banyak warga negara Indonesia yang belajar di universitas-universitas Rusia. Dan seluruh hubungan baik ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia menjadi fokus perhatian di Rusia.(*)

ALEXEI YU. DRUGOV
Doktor Ilmu Politik, Kepala Riset The Oriental Studies University
(Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia).
Disalin dari : http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=7006&coid=4&caid=33&gid=2
Share:

" God Father atau Good Father "

Cianjur (IndonesiaMandiri) - Mungkin kata-kata diatas lebih tepat disematkan, kepada para politikus yang sudah menempati posisi strategis di gedung rakyat yang terhormat. Kenapa, karena mereka telah melakukan manuver politik yang luar biasa tidak terhormat sampai detik ini. Tapi kita boleh berbangga hati dengan kepemimpinan Presiden kita saat ini, walaupun begitu banyak cemoohan dari berbagai kalangan dalam serta luar negeri, tetapi dia menampilkan figur sederhana dari awal menjabat sebagai walikota, sampai menjadi kepala negara republik ini.

Bagi kelompok tertentu gaya sederhananya, mungkin saja sebuah rekayasa politik atau hanya pencitraan semata. Tetapi sebagai orang awam justru saya melihat itu sebagai kesederhanaan dalam sebuah kotak Pandora negeri ini.
Dan satu-satunya yang tersisa dalam kotak Pandora negeri ialah "Harapan", bahwa kelak negeri ini bisa kembali berdaulat dalam Frame Kesaktian Pancasila.

Banyak kalangan menilai politik bangsa ini sudah terjerambab politik asing, yang sementara mereka juga bermain dalam lingkaran yang sama. Kenyataannya  mereka hanya berteriak dalam ruangan kosong melompong, kemudian hanya mendengar suara mereka sendiri. Dan terus menerus mereka lakukan secara Terstruktur, Sistematis serta Massive.

Seandainya para politikus mau belajar tentang, bagaimana para Leluhur membangun Citra Bangsa ini, mungkin saja tidak akan banyak yang bergaya ala "GodFather", yang semestinya menjadi "GoodFather", bagi anak-anaknya sendiri.  Toh solusi akhir pun tidak pernah mereka gulurkan untuk negeri ini, hanya celotehan yang hanya membuat semua menjadi lebih kotor seperti halnya kali ciliwung.
Sepatutnya para politikus yang senang berkicau seperti layaknyab"Love Bird", mulai berfikir bagaimana mencari solusi terbaik bagi negeri ini kedepannya, yang tentunya menggunakan cara-cara yang baik pula. Karena hasil yang baik, tentunya dilakukan dengan cara yang baik pula.

Seyogyanya kita mulai mengedepankan azas moral Pancasila, dalam rangka "Revolusi Mental", yang sedang digadang-gadang pemimpin bangsa saat ini, sehingga kita pantas menyandang "Pusat Peradaban Dunia", bukan malah menjadi "Pusat Azab Dunia" (Firmansyah Mawero)
Salam Nusantara

Share:

Kurikulum Kita Terus Memakan Korban

Bandung (IndonesiaMandiri) - Pada tingkat SD, mata pelajaran Pendidikan "Budi Pekerti" pertama kali diperkenalkan dalam kurikulum 1947 sebagai salah satu dari 16 mata pelajaran yang berdiri sendiri, dan terpisah dari Pendidikan Agama.

Sedangkan pada tingkat SMP, pendidikan budi pekerti muncul dalam kurikulum 1962, dan terpisah dari mata pelajaran Agama. Namun materi pendidikan budi pekerti tidak diperlakukan sebagai suatu mata pelajaran khusus melainkan disisipkan dalam semua mata pelajaran SMP dan kegiatan sekolah.

Di bangku Sekolah Dasar, pendidikan Budi Pekerti, berisi semua karakter-karakter Budaya Indonesia, yakni; Tenggang Rasa, Jujur, Saling Peduli, Gotong Royong, dlsb.

Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti pernah diberikan di sekolah-sekolah hingga tahun 1970-an. Selanjutnya pelajaran itu dihilangkan dan disisipkan dengan mata pelajaran lain. Dengan disisipkannya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti, maka materi budi pekerti tidak menjadi kurikulum utama dalam kurikulum pendidikan.

Tujuan dari Pendidikan Budi Pekerti, bertujuan untuk membina, dan membangun kejiwaan seorang anak, agar anak-anak tidak akan terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang buruk, di sisi lain mereka sudah dapat berfikir secara bertanggung jawab, dengan fondasi moral yang kokoh sesuai nilai-nilai Luhur warisan Leluhur Bangsa ini.

Singkat kata, kita dapat lihat, di era 70an ini, saat Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dihilangkan, ya kurang lebih setelah alumni SD dan SMP yang masih mendapatkan Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti lulus dari SMA, maka masuklah murid SMP yang sudah tidak lagi dibekali dengan Mata Pelajaran Budi Pekerti menguasai semua SMA di Indonesia.

Tidak mengherankan jika di era yang sama (era 70an), ada tiga SMA sekolah “Anak Kebayoran” yang notabene berasal dari kalangan anak pejabat pemerintah, perwira tinggi kepolisian dan militer, serta kalangan selebritis remaja, yang dikenal sebagai SMA Bulungan (SMA 6 dan SMA 70), yang menjadi trend setter anak-anak muda Jakarta saat itu.

Pada akhir tahun 70-an, trend tradisi brutal, seperti coret-mencoret baju seragam usai lulus sekolah, konon berawal dari SMA Bulungan ini. Kenapa saya bilang brutal, karena sebelumnya belum ada budaya seperti itu. Perkembangan kebrutalan, tidak sampai di situ saja, tetapi yang lebih menyedihkan adalah lahirnya budaya brutal lainnya yang lebih menyedihkan paska dihilangkannya "Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti", adalah trend tawuran yang dipelopori oleh SMA Bulungan ini.

Melihat akibat di-hilangkan-nya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dari Kurikulum Sekolah, dan melihat dampaknya, akhirnya muncul tuntutan perlunya Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti dikembalikan kedalam sistem pendidikan kita.

Dalam draf kurikulum 2001 telah keluar kurikulum Pendidikan Budi Pekerti, akan tetapi Pendidikan Budi Pekerti tampaknya tidak muncul dalam bentuk mata pelajaran tersendiri, tetapi terintegrasi dalam semua mata pelajaran, serta melalui diintegrasikannya pada kegiatan-kegiatan di sekolah.

Kembalinya Pelajaran Budi Pekerti yang setengah hati, bertujuan untuk menyudutkan Pelajaran Budi Pekerti itu sendiri, yang seolah tidak berdampak apapun hingga kini. Inilah cara-cara penghianat Bangsa untuk menghambat Kemandirian Berfikir Bangsa Besar ini. Padahal jelas, kalau kita menengok sejenak ke era 70-an, disitulah pokok pangkalnya.

Bahkan ada yang berkilah, khan sudah digantikan dengan Mata Pelajaran Agama, yang notabene Departemennya (Departemen Agama) menduduki peringkat terkorup di Indonesia (Kompas.com Selasa, 29 November 2011, http://nasional.kompas.com/read/2011/11/29/02410859/Kementerian.Agama.Terkorup).

Adapun peristiwa di SD Jakarta Selatan baru-baru ini, yang memukul temannya di depan guru mereka hingga tewas, adalah bukti, bahwa Guru dimata siswa-siswi hanyalah seorang "Pengajar" hal-hal ilmiah yang dibayar dengan uang oleh orang tua mereka. Sehingga guru saat ini kehilangan Profesi Mulia-nya sebagai seorang "Pendidik". Anak bangsa kita semakin jauh dari nilai-nilai Luhur Bangsa ini.

Singkat kata, kita harus mengembalikan Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti, sebagai satu mata pelajaran yang berdiri sendiri, (dan tentunya terpisah dari Pendidikan Agama) untuk mengembalikan nilai-nilai Luhur Bangsa yang semakin punah, karena pengaruh nilai-nilai Barat, Timur Tengah dan Asia Timur.

Raindy Muljo

Share:

Simposium PPI Amerika - Eropa 2015

Pada tanggal 06 sampai 09 Mei 2015 telah diselenggarakan Simposium PPI kawasan Amerika dan Eropa (Ameropa) yang merupakan kegiatan rutin tahunan PPI Dunia. Simposium ini telah diikuti oleh Delegasi-delegasi PPI dari 13 negara, diantaranya: Austria, Belanda, Belgia,  Rep. Ceko, Denmark, Estonia, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Perancis, Portugal dan Rusia.

Pada periode 2014 – 2015, melalui Dewan Presidium Dunia dan kesepakatan PPI kawasan Ameropa, tertunjuklah PPI Rusia atau yang di sebut sebagai PERMIRA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) sebagai tuan rumah untuk kegiatan simposium ke dua ini setelah sebelumnya diadakan di Turki pada tahun 2013 lalu.

Simposium kali ini mengangkat tema “Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam menghadapi ASEAN Community 2015”. Seperti yang telah diketahui bahwa berdasarkan hasil dari deklarasi Bali Concord II tahun 2003 negara-negara ASEAN  telah menyepakati dan berkomitment untuk menyatukan Visi, mimpi dan Identitas menuju negara-negara yang makmur dan sejahtera.

“One Vision, One Identity, One Community” sebuah Motto yang sejatinya bermaksud untuk meningkatkan kerjasama dan solidaritas antar negara-negara ASEAN ini berbasis pada 3 pilar, yakni; Kommunitas politik dan keamanan, Kommunitas ekonomi dan kommunitas sosial budaya. Tujuan dari ketiga pilar tersebut adalah meningkatkan stabilitas keamanan, ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia baik itu dari sisi budaya, ilmu pengetahuan dan juga  kesehatan.

Indonesia sebagai founding fathers ASEAN tentunya harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan dari terbentuknya ASEAN Community ini khususnya dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN (AEC). Misalnya dari sisi sumber daya manusia dan regulasi pemerintah terkait dalam melindungi dan menjaga daya saing masyarakatnya.  Atas hal-hal tersebutlah Simposium PPI Amerika-Eropa diadakan, yaitu sebagai bentuk kepedulian putra-putri bangsa yang ingin berkontribusi terhadap Indonesia.

Kegiatan yang diadakan di MGIMO University of International Programms - Moscow ini mengundang pembicara-pembicara baik dari kalangan politik seperti Menteri Luar Negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi, kalangan Akademisi seperti Executive Director Institute of Defence and Security Studies - Ibu Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan juga kalangan Pengusaha seperti Executive Director The Indonesian Palm Oil Producers Association – Bapak Fadhil Hasan, PhD.

Setelah mendapatkan kuliah umum dari para Pembicara tersebut diatas, dibahaslah berbagai gagasan-gagasan generasi muda dalam Sidang Paripurna Simposium terkait persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Community 2015 . Kemudian hasil  yang telah disepakati dalam sidang tersebut ini diramu menjadi sebuah rekomendasi yang disebut dengan ‘Manifesto Moskow’ dan akan disampaikan langsung kepada Pemerintah RI (dalam hal ini adalah Bapak President kita Ir. Joko Widodo).

Rekomendasi tersebut  diantaranya adalah tuntutan kepada pemerintah untuk lebih memajukan good governance, menghilangkan ego sektoral, meningkatkan mutu SDM melalui reformasi Pendidikan serta mempercepat pembangunan Infrastruktur.

Selain menghasilkan rekomendasi tersebut, dalam Simposium ini telah dibahas juga mengenai Action Plan para pemuda yang tersebar di berbagai negara di Amerika-Eropa yang tergabung dalam PPI Amerika-Eropa untuk terjun langsung ke masyarakat. Yang disebut sebagai Action Plan ini adalah berbagai kegiatan-kegiatan masing-masing PPI di seluruh kawasan Ameropa untuk mengangkat tema ASEAN Community beserta mensosialisasikan dampak, tantangan dan kesempatan bagi Indonesia kepada masyarakat, baik itu di dalam ataupun luar negeri.

umber dan Foto : http://ppiaustria.blogspot.co.id/2015/05/simposium-ppi-amerika-eropa-2015.html

Share:

Sidang Perwakilan Anggota V.2 PPI Jerman

Sidang Perwakilan Anggota (SPA) merupakan kegiatan rutin yang diadakan minimal satu kali dalam satu periode kepengurusan PPI Jerman. SPA merupakan wadah bagi anggota PPI Jerman dalam penyaluran aspirasi kepada PPI pusat. Oleh karena itu kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat penting bagi organisasi PPI Jerman. Tanpa adanya SPA, maka dapat dikatakan bahwa anggota PPI Jerman tidak memiliki wadah dalam partisipasi aktif di organisasi PPI Jerman.

Dalam penyelenggaraan SPA yang ketiga setelah revitalisasi PPI Jerman pada tahun 2007, berdasarkan keputusan rapat PPI cabang bersama Steering Committee, SPA diselenggarakan di dua tempat dan waktu berbeda. Dimana agenda utama dalam SPAV.1 adalah Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Kepengurusan PPI Jerman Periode 2010-2012 dan Pergantian Kepegurusan. Sedangkan SPA.V.2 memiliki agenda membahas revisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Penentuan Garis Besar Haluan Program PPI Jerman.

SPA V.2 diadakan di Bochum pada tenggal 5-6 Oktober 2013. Dengan agenda utama revisi AD/ART dan penetapan program kerja PPI Jerman 2013-2015. Tema penyelenggaraan SPA kali ini adalah “PPI Jerman Bersinergi”

Sumber dan Foto : http://ppi-jerman.de/2014/01/sidang-perwakilan-anggota-v-2/

Share:

Poros Maritim Indonesia Semarakkan IMSS

Jakarta (Indonesia Mandiri) – Untuk yang kedua kalinya TNI Angkatan Laut menyelenggarakan 2nd Internasional Maritime Security Symposium 2015 di Hotel Borobudur, selama dua hari (15-17/9), yang dihadiri oleh puluhan negara-negara sahabat. Simposium dibuka oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, serta dihadiri pula Menkopolhukam Luhut Panjaitan, Menko Bidang Kemaritiman & Sumber Daya Rizal Ramli, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia Laksdya Maritim Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc.

Lebih dari 42 Jendral hadir untuk mengikuti simposium internasional dengan tema simposium adalah Maritime Confidence Building and Mutual Cooperartion for Peace and Prosperity (membangun kepercayaan dan kerjasama di bidang maritim guna mencapai perdamaian dan kemakmuran bersama)

Sebagai pembicara utamanya adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut B Pandjaitan. Dalam pidatonya, Luhut Panjaitan membahas seputar kerjasama bidang kemaritiman tingkat internasional.dan penanggulangan keamanan maritim. Simposium juga berkaitan dengan program Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

"Kita bangga sekali. IMSS kedua ini dihadiri oleh perwakilan dari 40 negara," kata Luhut dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Namun, yang paling utama ditunjukkan di Internasional Maritime Security Symposium 2015 ialah keinginan untuk menunjukkan peran Indonesia pada dunia internasional bahwa kapasitas negeri ini sebagai negara maritim yang besar sekaligus menegaskan posisi sebagai poros maritim. "Kita ingin negara-negara lain melihat potensi besar Indonesia sebagai kawasan maritim terbesar," sambung Luhut.

Sementara Rizal Ramli menyampaikan simposium ini penting karena beberapa alasan. Pertama, keamanan maritim merupakan elemen penting dalam menciptakan kedaulatan bangsa dan mengembangkan ekonomi. "Tanpa kemampuan mengontrol perairan laut kita, akan sangat sulit untuk mengelola negara, mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya secara berkelanjutan," kata Rizal.

Alasan kedua, tambah Rizal, ketahanan sebuah negara membutuhkan dukungan ketahanan regional, yang berarti wilayah perairan Indonesia yang demikian luas, perlu dikelola dengan baik.

Alasan ketiga, kawasan Asia Pasifik mempunyai tantangan sekaligus kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan dan menghormati antar negara.

Lebih dari itu, simposium ini juga digelar dalam menciptakan perdamaian di perairan laut sesuai dengan UNCLOS 1982. Rizal juga menyampaikan, semua negara harus menaruh perhatian pada tantangan di kemaritiman, termasuk bila terjadi sengketa perairan dan penangkapan ikan ilegal.

"Jika wilayah laut tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi ironi di kawasan Asia Pacifik, dimana pertumbuhan ekonomi diikuti dengan ketidakpercayaan dan konflik," kata dia.

Terkait isu Konflik Laut Cina Selatan, dalam konferensi pers, Luhut menegaskan, pemerintah sudah mengambil sikap tegas soal tersebut. Menurutnya, TNI AL tidak akan ikut campur apabila konflik tersebut sudah menyangkut urusan politis.

"Saya kira TNI AL tidak akan bicara soal politik. Biarkan itu diselesaikan pemerintah. Sikap pemerintah sudah clear, kita ingin menyelesaikan masalah itu lewat jalur diplomatik," kata Luhut.

Pada symposium ini pula, Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) Laksdya Maritim Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc. menyampaikan sebagai poros maritim dunia, Bakamla RI memiliki tugas melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

Dalam melaksanakan tugasnya, Bakamla RI menyelenggarakan fungsi di antaranya:  melaksanakan penjagaan, pengawasan, pencegahan, dan penindakan pelanggaran hukum di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia; menyinergikan dan memonitor pelaksanaan patroli perairan oleh instansi terkait; serta memberikan bantuan pencarian dan pertolongan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

Bakamla RI juga berwenang untuk melakukan pengejaran seketika; memberhentikan, memeriksa, menangkap, membawa, dan menyerahkan kapal ke instansi terkait yang berwenang untuk pelaksanaan proses hukum lebih lanjut; dan menyinergikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia (Taruna). Foto : Taruna

Share:

Sosialisasi Sistem Pendataan Ulang PNS 2015 Di Bakamla RI

JAKARTA (Indonesia Mandiri) – Badan Keamanan Laut atau Bakamla melalui Badan Kepegawaian Negara baru saja melaksanakan sosialisasi sistem pendataan ulang untuk karyawannya selaku pegawai negeri sipil secara Elektronik.

Sri Padniyati, S.Kom, M.M.Si. Kepala Seksi Penyelesaian Permasalahan Data Kepegawaian PNS dan Ibu Dwi Pratiwi K., S. Kom Pranata Komputer dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) memberikan bimbingan langsung mengenai registrasi online untuk Updating data bagi pegawai Bakamla RI.

Berdasarkan Peraturan Kepala BKN Nomor 19 tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara elektronik (e_PUPNS) bagi PNS, maka seluruh PNS berkewajiban melakukan pendataan ulang PNS secara Online. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara ini bertujuan sebagai pedoman bagi pejabat yang bertanggung jawab di bidang informasi kepegawaian untuk memperoleh data yang akurat, terpercaya dan terintegrasi.

Hal ini dilakukan sebagai dasar kebutuhan dalam mengembangkan sistem informasi kepegawaian Aparatur Sipil Negara (ASN) guna mendukung pengelolaan manajemen ASN sebagai sumber daya aparatur negara. Untuk mendukung penyelenggaraan manajemen, penyimpanan, pengelolaan dan pengembangan sistem informasi Aparatur Sipil Negara berbasisi kompetensi, maka diperlukan database ASN yang akurat, dan terpercaya.

Pelaksanaan e_PUNPS 2015 dilatar belakangi dengan, pertama, untuk Pendataan e_PUPNS terakhir kali dilakukan pada tahun 2003,  perlu dilakukan Pendataan Ulang bagi PNS secara periodik paling sedikit  setiap 10 tahun sekali; kedua, membangun fungsi monitoring (pemantauan) dan evaluasi terhadap data kepegawaian untuk meningkatan serta menjaga akurasi data. Ketiga, membangun sikap kepedulian dan kepemilikan (sense of awareness/ownership) para PNS terhadap data kepegawaian yang dimilikinya.

Kemudian keempat, untuk ditata  ulang sistem informasi kepegawaian yang berdasarkan amanat dalam UU No. 5 Thn 2014 tentang ASN; Kelima, sebagai dinamika perubahan suatu organisasi dan pemekaran suatu wilayah, dan adanya perubahan dalam tubuh manajemen kepegawaian termasuk didalamnya yaitu manajemen ASN; dan keenam, sebagai kebutuhan akan spesifik data (data welfare PNS seperti Perumahan, Kesehatan, Asuransi, Pendidikan dan sebagainya. (Abri) Foto : Abri

Share:

Akademikus: Negara Mesti Mengakui Agama Lokal

Kliping Tanggal 12 Novermber 2014

TEMPO.CO, Yogyakarta - Negara mestinya segera memberikan pengakuan administratif dan sosial terhadap agama nonresmi atau beragam aliran penghayat kepercayaan dan agama lokal. “Pengakuan negara bisa dalam bentuk memperbolehkan penganut aliran kepercayaan dan agama lokal mengisi kolom agama di KTP sesuai identitas keyakinannya,” ujar Koordinator Divisi Pendidikan Publik Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Iqbal Ahnaf, Rabu, 12 November 2014. (Baca juga: Soal Kolom Agama di KTP Menteri Tjahjo Ikut Tokoh Agama)

Secara praktek, kolom agama di KTP bisa diberi keterangan penghayat kepercayaan tapi ada penjelasan detailnya, seperti kaharingan, Sunda wiwitan, dan kejawen. "Agar kedudukan antara penganut agama resmi dan nonresmi setara," katanya. (Baca juga: Kontras Mendukung Kolom Agama di KTP Dihapus)

Iqbal berpendapat bahwa rencana pemerintah untuk mengosongkan kolom agama di kartu tanda penduduk berpotensi besar susah terlaksana. Kebijakan ini bisa memancing penolakan luas dari banyak tokoh agama resmi. "Tokoh NU (Nahdlatul Ulama) yang moderat saja, seperti Hasyim Muzadi, menolak ide itu," kata Iqbal. (Baca juga: Kata Kejawen Soal Kolom Agama di KTP)

Dia mengkritik pernyataan terbaru dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang mengatakan pengosongan kolom agama di KTP hanya akan diberlakukan bagi warga selain penganut enam agama resmi. Alasannya, kebijakan seperti ini justru semakin melanggengkan diskriminasi terhadap banyak komunitas penghayat kepercayaan dan penganut beragam agama lokal di Indonesia. "Malah memperkuat stigma perbedaan kasta antara penganut agama dan yang bukan agama," kata Iqbal.

Menurut Iqbal, berdasar kajian akademis, aliran penghayat kepercayaan maupun agama lokal (indigenous religion) bisa masuk kategori agama sebagaimana Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Namun, sampai sekarang, belum ada pengakuan negara secara administratif dan birokratis yang menganggapnya setara dengan agama resmi. "Padahal jumlahnya banyak dan tersebar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Pada masa pemerintahan sebelum era Joko Widodo dan Jusuf Kalla, direktorat jenderal (dirjen) yang menangani komunitas penghayat kepercayaan ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan dirjen yang menangani enam agama resmi ada di Kementerian Agama. "Seharusnya ditangani Kementerian Agama saja agar stigma bahwa aliran penghayat kepercayaan bukan agama bisa hilang (di kehidupan sosial dan perspektif kebijakan pemerintah)," katanya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul Fenty Yusdawati mengaku belum pernah menemukan kasus penolakan pengisian kolom agama dari warga di daerahnya. Meskipun ada banyak komunitas penghayat kepercayaan di Bantul, dia belum menemukan ada kasus penolakan seperti itu. "Selama ini (pendataan kependudukan) sudah dilaksanakan sesuai UU Nomor 23 Tahun 2006, di lapangan tidak ada masalah," kata Fenty.

Sumber : http://nasional.tempo.co/read/news/2014/11/12/058621574/akademikus-negara-mesti-mengakui-agama-lokal
Disimpan sebagai Kliping

Share:

Bahasa Alay vs Bahasa Prokem

Depok (Indonesia Mandiri) - Menyimak penggunaan Bahasa Alay, banyak orang yang menganggapnya biasa saja, atau baik-baik saja. Bahkan ada seorang Menteri dalam sebuah acara terkenal, yang justru melihatnya sebagai pengayaan bahasa itu sendiri. Mungkin Menteri tadi tidak mau, atau memang sengaja mengecohkan kita untuk tidak mengerti makna "Bahasa dalam Pembentukan Karakter sebuah Bangsa". Yang intinya, menganalisa sebuah bahasa bukan saja dilihat dari banyak tidaknya kosa katanya semata, apakah bahasa tersebut dapat disebut sebagai Bahasa yang baik dan lengkap.

Kalau kita mau berfikir sedikit saja, maka penggunaan Bahasa Alay bukanlah seolah mereka (Kelompok Kepentingan) hanya mengubah-ubah kosa kata menurut zamannya saja. Tetapi Bahasa Alay memiliki dampak psikologis bagi yang menggunakan Bahasa Alay tersebut, maupun bagi yang mendengarnya. Saya ingin mengajak Anda sejenak, ketika Anda mendengar kalimat "Cius Mi Apa?" (Serius demi apa?) Apakah yang berpengaruh pada otak Anda?

Sadar atau tidak, Anda pasti memposisikan yang bicara adalah, kalau tidak anak kecil, pasti seorang wanita muda. Nah inilah yang saya maksud dengan kedasyatan Bahasa dalam Pembentukan Karakter sebuah Bangsa. Kalau Bahasa Alay ini diteruskan, maka tak ayal, Pria-pria berotot sekalipun -  lama-kelamaan akan menjadi feminin juga.

Apalagi banyak stasiun TV Swasta Nasional yang sengaja mempekerjakan laki-laki Alay untuk menjadi penonton yang meramaikan acara TV ybs. Disinilah TV-TV Swasta tersebut berhasil "Mencetak Pria-pria Feminin", sehingga muncul pula (Alm) Tokoh Alay yang laku keras. Sebenarnya ini termasuk tugas para ahli Psikologi Bahasa dari KPI, untuk melarang tayangan-tayangan yang merusak nilai-nilai Leluhur kita.

Yang lebih parahnya lagi, di Indonesia ini wanita diposisikan, atau sengaja memposisikan dirinya sebagai kaum yang tidak perlu berusaha. Untuk lebih jelasnya mungkin Anda dapat membaca E-Book Susu Kaleng.

Baiklah kita coba tengok sedikit kebelakang, saat saya masih kecil - sekitar tahun 1978-an berkembang "Bahasa Prokem", kakak saya atau bahkan om saya suka mengakatan kata "Ogut" untuk arti kata "Gue" dlsb yang saya sudah lupa. Sebagai perempuan kecil saja saya masih merasa "Bahasa Prokem" justru memiliki nuansa maskulin, memang saat itu pun yang banyak memakainya kaum lelaki juga. Jadi Bahasa Prokem sangatlah beda dengan Bahasa Alay. Sama-sama kebanyakan lelaki yang menggunakan, tetapi dampaknya sangat beda.

Menilik dua masa penggunaan "Bahasa Buatan" tersebut di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa pihak-pihak berkepentingan menghembuskan angin perubahan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Saya sengaja tidak ingin menggambarkannya secara gamblang, agar bagi Anda yang memang cinta dengan Bangsa ini, mencoba mencari tahu ada apa dalam dua masa tersebut, dan apakah benar ada dampak dari Bahasa dalam Pembentukan Karakter sebuah Bangsa... (Nahwiyatun)

Share:

Wawancara Permadi : Tuhan tidak menghendaki Prabowo jadi presiden

Kliping Tanggal 11 September 2015

Merdeka.com - Ketika pemilihan presiden tahun lalu banyak yang menyamakan Calon Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sebagai titisan Soekarno. Bahkan ramalan mitos Notonegoro diyakini jika akhiran nama tidak sesuai dengan mitos tersebut.

Lalu bagaimana dengan ramalan Jongko Joyoboyo? Menurut Permadi SH, orang yang sering dimintai pendapat soal hasil terawangannya, masa jabatan Presiden Joko Widodo paling lama sampai awal 2016. Hal itu bukan tanpa sebab, menurut Permadi sebelum Jokowi jatuh akan ada goro-goro lebih besar dari tahun 1965.

Lalu bagaimana ramalannya jika kursi Presiden saat ini di duduki oleh Prabowo Subianto? Kepada Laurel Benny Sharon Silalahi dan Arbi Sumandoyo dari merdeka.com, Permadi mengatakan jika Prabowo belum mendapat restu menjadi presiden. Apalagi jika dia maju dalam Pemilihan Presiden 2019 nanti, Prabowo diyakini juga bakal kalah.

Peluang Prabowo menjadi presiden hanya pada 2016, dimana setelah Jokowi lengser oleh rakyat, bekas Danjen Kopassus itu bisa duduk sebagai presiden. "Tidak akan bisa, tidak bisa Prabowo menang, Tuhan tidak menghendaki itu," kata Permadi saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Jumat pekan lalu.

Berikut kutipan Wawancara Permadi SH soal ramalannya yang dia percaya akan terjadi.

Ada yang menyebut Prabowo dan Jokowi itu titisan Soekarno?

Prabowo dan Jokowi kita hitung, seharusnya Prabowo menang, karena Prabowo lebih terkenal terlebih dahulu juga banyak yang suka dan banyak yang membenci Prabowo. Apalagi Amerika pada saat itu Prabowo harus kalah, karena dia dituding pelanggar HAM. China juga mengatakan prabowo harus kalah karena dituding dalang pembunuhan orang China 98. Nah itu sebenarnya kalau mau jujur Prabowo itu menang tipis tapi di balik angkanya sedemikian rupa. Apa yang diproteskan oleh Prabowo tidak ada yang menang.

Bagaimana Jokowi belum dikenal bisa menang, orang Ambon, Papua, Sulawesi, belum tahu Jokowi. Bagaimana bisa? Saya merasa ada kecurangan yang disponsori oleh China dan Amerika. Karena China dan Amerika itu sekarang ini rebutan rizki di Indonesia, mereka bagi dua. China bagian timur, Amerika bagian barat perdagangan kita sekarang ini betul-betul dikuasai China dan Amerika. Kembali neolib berkuasa, nah kalau neolib berkuasa arwah tanah leluhur termasuk Bung Karno tidak mengikhlaskan mendorong rakyat untuk berontak karena Bung Karno mengatakan revolusi belum selesai.

Kalau misalkan pemilihan presiden kemarin Prabowo yang menang, ramalan anda seperti apa?

Tidak akan bisa, tidak bisa Prabowo menang, Tuhan tidak menghendaki itu. kalau Prabowo menang masih akan lama Indonesia rusak porak porandanya, karena dia punya ketegasan. Oleh karena itu harus dipimpin oleh orang yang memble, yang gak ngerti apa-apa, yang kalau membuat keputusan belum dijalankan sudah dicabut.

Ada kepercayaan bahwa pemimpin Indonesia harus dari orang Jawa?

Saya sebenarnya menyatakan kalau toh presiden itu orang jawa, itu bisa dimengerti karena orang jawa itu tinggal di pulau dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Tetapi kalau kita pikir Pak Harto, Bung Karno itu benar. Tetapi Pak Habibie sendiri bukan orang Jawa, beliau orang Makassar orangtuanya. Jadi sulit yah mengatakan apakah Bung Karno itu orang Jawa Asli, Pak Harto juga tidak menyebut nama ayahnya. Kalau lihat kulitnya kuning cakep, Pak Harto itu bukan orang desa.

Jadi ramalan Notonegoro itu menurut bapak seperti apa?

Notonegoro itu bukan ramalan Jongko Joyoboyo. Itu ramalan Profesor Doktor, guru besar di Yogyakarta. Dia mengatakan lihat saja nanti presiden di Indonesia itu mengikuti nama saya Notonegoro. Itu akal-akalan profesor saja. Joyoboyo akan mengatakan satrio piningit.

Apakah satria piningit ini masih masuk keturunan raja Majapahit?

Memang ada kaitannya, dan inilah saat kebangkitan kerajaan Majapahit, Majapahit kan jatuh di tangan Brawijaya Pamungkas, lalu dijatuhkan oleh anaknya setelah itu Brawijaya bersumpah memang saat ini jatuhnya Majapahit tetapi ingat sekian ratusan tahun yang akan datang akan saya tagih kembali. Nah pada saat Majapahit jatuh akhirnya itu sirno ilang lentani bumi, hilang lah kesejahteraan dan kemakmuran di Nusantara. Nah sekarang ini tidak hanya sirno ilang lertani bumi hilang lah angkara murka kemudian akan muncul kejayaan bumi kembali, kembalilah kejayaan Majapahit .

Jadi memang satria piningit keturunan Majapahit?

Betul, tapikan sudah ribuan tahun bisa jadi orang Batak, Makassar, bisa juga di luar Jawa.

Bagaimana jika Prabowo maju 2019 apakah akan menang?

Saya menyatakan pada Prabowo, kalau kamu maju lagi 2019 habis kamu. Tak ada kesisa. Kamu tunggu saja Jokowi jatuh paling lama tahun 2016, kalau berani kamu lakukan revolusi sekarang, kalau gak tidak ada lagi nama kamu.

Menurut anda Prabowo bisa maju mengambil alih kursi kepresidenan tahun 2016?

Terserah dia berani atau tidak? Tinggal nunggu berjuangnya saja. Kalau tidak akan terlambat, buat apa nunggu pemilu akan datang.

Anda mengatakan bahwa anda penyambung lidah Bung Karno, bisa dijelaskan?

Kalau itu saya sadar. saya sangat bangga dibilang penyambung lidah Bung Karno. Mengapa? Bung Karno bagi saya adalah manusia dewa pikirannya tak bisa dicerna cemerlang sekali 100 tahun baru bisa dijangkau. Dia menjonkokan merdekakan tahun 45. Dari tahun 20 dia sudah mengatakan, kalau kita dijajah Jepang nanti kita pasti merdeka. Dia menjalankan trisakti itu benar semua, Pancasila itu benar semua, undang-undang dasar itu benar semua.

Ketika dia dijatuhkan Pak Harto, di mana-mana terjadi Desoekarnoisasi. Kalau ada orang yang memasang gambar Pak Karno ditangkap dipenjara. Saya tidak takut, malah memasang gambar banyak foto Bung Karno di rumah saya dan ketika Bung Karno meninggal pada saat gawat-gawatnya 1970 saya menyatakan saya penyambung lidah Bung Karno, saya bangga dengan itu. Itu saya sumpah di makam Bung Karno.

Resikonya tidak kecil saat saya mengatakan itu. Pada saat itu Pak Harto memburu saya, tahun 70-an saya dikejar-kejar saya dipenjara saya ditangkap polisi belasan kali. Dipenjara satu kali, dihukum mati dalam BAP dua kali. Itu pada saat peristiwa 27 Juli dan pada saat peristiwa Semanggi. Saya ketangkep di lapangan, saya di BAP polisi hukuman mati, tapi saya lolos yang menyelamatkan saya Pak Harto, Pak Harto sayang sama saya, sekalipun dia tahu saya penyambung lidah Bung Karno.

Ketika saya tahu saya mau dihukum mati Pak Harto panggil Pak Benny Moerdani, Permadi dalam kesulitan kamu urus. Benny yang mengambil BAP di kantor polisi. Ketika saya dihukum di Yogya Pak Benny memasukkan 11 militer melindungi saya karena saya mau dibunuh, dan itu bukti. Nah pada waktu saya di Gerindra, Prabowo berpidato kepada kader Gerindra semua, dia bilang saya pernah mendapat perintah membunuh Permadi, tapi saya hormat sama dia karena dia tidak melakukannya, karena yang memerintah bukan Pak Harto, waktu itu yang memerintah Pangab.

Bung Karno pernah berkata "kutitipkan negeri ini". Lalu ada yang memahaminya bahwa Bung Karno akan balik lagi. Apakah anda percaya?

Bukan. Bukan itu, itukan hanya menjadi pendamping. Bung Karno menurut keyakinan saya tidak meninggal tapi mukso, seperti yesus kristus, di salib mati, tiga hari hidup lagi. Karena itu banyak orang yang melihat Bung Karno di Bogor, di Blitar di pantai selatan yah bisa saja, penglihatan beda-beda. Kalau saya ikut yakin Bung Karno tidak mati.

Bagaimana anda melihat UUD 45 yang anda percayai sudah dibuat oleh Bung Karno diubah oleh Megawati?

Bung karno adalah arsitek undang-undang dasar. Banyak sekali masterpiece buatan Bung Karno, dan kalau kita lihat sebenarnya undang-undang dasar itu mencerminkan Indonesia sebagai negara kerajaan. Raja yang harus berkuasa karena itu presiden sangat berkuasa menjadi mandataris MPR. itu bisa menjadikan dia diktator tapi Bung Karno tidak mau seperti itu. Rakyat yang dipentingkan.

Kemudian diamandemenkan, saya anggota MPR waktu itu. Saya menolak, sekalipun Megawati tidak terima, Permadi menolak catatan amandemen undang-undang. Karena menurut saya itu ada pengkhianatan terhadap undang-undang dasar yang asli, terhadap Pancasila yang asli, termasuk SBY saya beritahu anda mengkhianati Pancasila sehingga iya tidak mau bergaul dengan saya.

Bayangkan sila ke-4, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Jadi kalau mau memutuskan yang penting harus melalui permusyawaratan perwakilan itu penting, pemilihan presiden pemilihan kepala daerah itu harus permusyawaratan perwakilan tidak boleh langsung itu pengkhianatan dalam Pancasila.

Jadi Bung Karno itu ada sejarahnya mengapa dia merumuskan pancasila, pada waktu itu rakyat Indonesia sekitar 100 juta di 17.000 pulau masih telanjang, masih nomaden tidak ada televisi tidak ada BH, jadi bagaimana mereka bisa kenal siapa Bung Hatta, siapa Syahrir, oleh karena itu harus ada perwakilan, perwakilannya kan ada di antara mereka yang sekolah sarjana itulah yang diangkat sebagai DPR MPR, itu permusyawaratan perwakilan jadi tidak ada pemilah langsung. Nah alasan zaman SBY waktu itu DPR bisa disuap, jadi ini harus kembali ke UUD 45. makanya itu saya itu keluar dari PDI.

Sumber : http://www.merdeka.com/khas/tuhan-tidak-menghendaki-prabowo-jadi-presiden-wawancara-permadi.html

Disimpan sebagai Kliping

Share:

Muntok, Daya Tarik Baru di Babel

Muntok (IndonesiaMandiri) - Erina Loo, salah satu pembicara dalam workshop sehari tentang "Pengembangan Kota Tua & Pameran Rumah Singgah" di Muntok, Kabupaten Bangka Barat (12/9) sangat terkejut saat menginap di Hotel Yasmin ada petunjuk tripadvisor. "Ini tanda bagi para turis ke berbagai negara di dunia dalam mencari tempat penginapan. Nah, Muntok sudah ditandai, berarti lebih dikenal secara internasional," kata Erina dari Southeast Asia Tourist Guide Association yang tinggal di Malaysia.

Workshop ini sudah dirancang sejak lama oleh Pemkab Bangka Barat dalam rangka memberdayakan masyarakatnya untuk lebih mencintai dan memelihara kekayaan daerah. Intinya, dengan masyarakat memahami dan mencintai daerahnya, maka pengunjung atau wisatawan akan datang dengan sendirinya.

Muntok, sebagai ibukota Kabupaten Bangka Barat, memang memiliki banyak potensi wisata budaya dan sejarah yang bisa ditawarkan. Belum lagi keindahan beberapa pantainya kian menambah pesonanya. Namun, yang terpenting diingat untuk Muntok adalah adanya tambang Timah di bumi Muntok sekian abad lalu.

Banyak sekali peninggalan bangunan bersejarah perusahaan Timah yang dahulu dibangun oleh Belanda, seperti perkantoran, perumahan, dan lain-lain. Juga budaya Cina turut mewarnai Muntok, di mana kehadiran Klenteng Tua Kung Fuk Miaw yang sudah ada sejak 1800an.

Menariknya, Klenteng tersebut bersebelahan dengan Masjid Jami yang usianya sama tua dengan kelenteng. Pengaruh Melayu juga sangat kental di Muntok khususnya dan Bangka umumnya. Itu sebabnya lagam bahasa Indonesia-Melayu lebih terdengar dalam percakapan masyarakat sehari-hari.

Untuk mempertahankan nuansa tempo dulu ini, maka Muntok ditetapkan sebagai Kota Pusaka dengan kekayaan wisata budaya dan sejarahnya. Itu pula titik berat workshop yang melibatkan banyak peserta dari negara ASEAN di Muntok.

Tadjuddin, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bangka Belitung, pun mengakui bahwa Muntok sudah ditetapkan dalam kluster wisata sejarah, seperti aset kota tuanya. "Rumah singgah (home stay) juga diperbanyak untuk menjadi daya tarik wisatawan yang ke Muntok," kata Tadjuddin.

Kini, target capaian wisatawan lokal dan mancanegara ke Provinsi Bangka Belitung terus meningkat. "Kalau dari luar negeri yang banyak dari Singapura, Malaysia, jepang, Austtalia dan Korea. Bila dari dalam negeri, wisatawan dari Jakarta, Bandung dan Palembang paling dominan kesini," sambung Tadjuddin. Ini akan bertambah lagi kunjungan wisatawan bila bandara di Pangkal Pinang dan Belitung nantinya menjadi berkelas internasional.

Menurut Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya dari Kementerian Pariwisata, prospek untuk Muntok sebagai ikon wisata budaya dan sejarah di Bangka sangat baik. "Kita di Kementerian Pariwisata sangat mendukung. Tinggal sekarang masyarakat Muntok di Kabupaten Bangka Barat juga harus siap menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisata," tegas Lokot yang begitu terkesan melihat perkembangan Muntok dalam merawat aset kota tuanya (Abri) Foto : Abri

Share:

Muntok, Daya Tarik Baru di Babel

Muntok (IndonesiaMandiri) - Erina Loo, salah satu pembicara dalam workshop sehari tentang "Pengembangan Kota Tua & Pameran Rumah Singgah" di Muntok, Kabupaten Bangka Barat (12/9) sangat terkejut saat menginap di Hotel Yasmin ada petunjuk tripadvisor. "Ini tanda bagi para turis ke berbagai negara di dunia dalam mencari tempat penginapan. Nah, Muntok sudah ditandai, berarti lebih dikenal secara internasional," kata Erina dari Southeast Asia Tourist Guide Association yang tinggal di Malaysia.

Workshop ini sudah dirancang sejak lama oleh Pemkab Bangka Barat dalam rangka memberdayakan masyarakatnya untuk lebih mencintai dan memelihara kekayaan daerah. Intinya, dengan masyarakat memahami dan mencintai daerahnya, maka pengunjung atau wisatawan akan datang dengan sendirinya.

Muntok, sebagai ibukota Kabupaten Bangka Barat, memang memiliki banyak potensi wisata budaya dan sejarah yang bisa ditawarkan. Belum lagi keindahan beberapa pantainya kian menambah pesonanya. Namun, yang terpenting diingat untuk Muntok adalah adanya tambang Timah di bumi Muntok sekian abad lalu.

Banyak sekali peninggalan bangunan bersejarah perusahaan Timah yang dahulu dibangun oleh Belanda, seperti perkantoran, perumahan, dan lain-lain. Juga budaya Cina turut mewarnai Muntok, di mana kehadiran Klenteng Tua Kung Fuk Miaw yang sudah ada sejak 1800an.

Menariknya, Klenteng tersebut bersebelahan dengan Masjid Jami yang usianya sama tua dengan kelenteng. Pengaruh Melayu juga sangat kental di Muntok khususnya dan Bangka umumnya. Itu sebabnya lagam bahasa Indonesia-Melayu lebih terdengar dalam percakapan masyarakat sehari-hari.

Untuk mempertahankan nuansa tempo dulu ini, maka Muntok ditetapkan sebagai Kota Pusaka dengan kekayaan wisata budaya dan sejarahnya. Itu pula titik berat workshop yang melibatkan banyak peserta dari negara ASEAN di Muntok.

Tadjuddin, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bangka Belitung, pun mengakui bahwa Muntok sudah ditetapkan dalam kluster wisata sejarah, seperti aset kota tuanya. "Rumah singgah (home stay) juga diperbanyak untuk menjadi daya tarik wisatawan yang ke Muntok," kata Tadjuddin.

Kini, target capaian wisatawan lokal dan mancanegara ke Provinsi Bangka Belitung terus meningkat. "Kalau dari luar negeri yang banyak dari Singapura, Malaysia, jepang, Austtalia dan Korea. Bila dari dalam negeri, wisatawan dari Jakarta, Bandung dan Palembang paling dominan kesini," sambung Tadjuddin. Ini akan bertambah lagi kunjungan wisatawan bila bandara di Pangkal Pinang dan Belitung nantinya menjadi berkelas internasional.

Menurut Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya dari Kementerian Pariwisata, prospek untuk Muntok sebagai ikon wisata budaya dan sejarah di Bangka sangat baik. "Kita di Kementerian Pariwisata sangat mendukung. Tinggal sekarang masyarakat Muntok di Kabupaten Bangka Barat juga harus siap menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisata," tegas Lokot yang begitu terkesan melihat perkembangan Muntok dalam merawat aset kota tuanya (Abri) Foto : Abri

Share:

Mengintip Pesona Kota Tua Muntok

MUNTOK (Indonesia Mandiri) - Semangat Bupati Bangka Barat ust. Zuhri M. Syazali, Lc. MA, menjadikan wilayahnya sebagai kawasan wisata sejarah dan pusaka nasional patut di acungkan jempol.

Pasalnya, Zuhri langsung menangkap peluang untuk kembangkan wilayahnya dikenal luas dengan menjadi tuan rumah The International Homestay Promotional Fair & Old Town Workshop 2015 di Muntok (ibukota Kabupaten Bangka Barat), pada 11-12 September.

Acara ini merupakan rangkaian kerjasama yang dijalankan sejak lama oleh tiga negara ASEAN dalam forum IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand growth triangle). Dan sektor Pariwisata adalah salah satu pilar yang memang dikerjasamakan.

Seperti diketahui, kota Muntok sejak abad 18 sudah dikenal dunia - utamanya Belanda dan Inggris - yang memanfaatkan tambang timah dan hasil lada putih untuk komoditi penting di negaranya. Itu sebabnya, Muntok yang dahulu dikenal dengan nama Mentok, dijadikan basis penting produksi Timah.

Museum timah yang berada di jantung kota Muntuk, mulanya adalah kantor Penambangan Timah sekaligus Pemerintahan milik Belanda dengan nama Hoofdbureau Bangka Tin Winning pada 1915. Semenjak itu banyak bangunan penting milik perusahaan Timah di Muntok.

Kemudian dalam perkembangannya, bangsa Cina dan Melayu juga banyak hadir di sini. Itu sebabnya peninggalan Cina dan Melayu juga sangat kentara di Muntok, seperti Gudang Mayor Cina, Komplek Makam Kampung Patemun, dan lain-lain.

Berbagai titik temu warisan budaya lintas bangsa ini kemudian yang dikemas dengan baik oleh Zuhri untuk ditawarkan kepada masyarakat luas, baik di dalam dan luar negeri, untuk dinikmati.

Acara dua hari seminar dan pameran kota tua serta rumah tinggal (Homestay) untuk wisata di Muntok ini memang sengaja dibuat bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Pesertanya lebih dari 100 orang perwakilan dari berbagai latar belakang yang memiliki keinginan sama untuk memelihara kota tua.

"Kami sangat berharap dengan kegiatan ini menjadi tonggak sejarah Bangka Barat untuk bangkit di bidang wisata," tegas Zuhri. Homestay yang disediakan oleh masyarakat begitu beragam, mulai dari model tradisional hingga yang berarsitektur modern. Intinya, Zuhri mengajak seluas-luasnya masyarakat untuk terlibat aktif. Karena rumah yang dipakai adalah rumah milik masyarakat setempat. Merekalah yang merenovasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada siapapun pengunjungnya. Tarif per kamar pun sangat terjangkau karena di bawah rp.300 ribu per malam (Abri).Foto : Abri

Share:

Mengintip Pesona Kota Tua Muntok

MUNTOK (Indonesia Mandiri) - Semangat Bupati Bangka Barat ust. Zuhri M. Syazali, Lc. MA, menjadikan wilayahnya sebagai kawasan wisata sejarah dan pusaka nasional patut di acungkan jempol.

Pasalnya, Zuhri langsung menangkap peluang untuk kembangkan wilayahnya dikenal luas dengan menjadi tuan rumah The International Homestay Promotional Fair & Old Town Workshop 2015 di Muntok (ibukota Kabupaten Bangka Barat), pada 11-12 September.

Acara ini merupakan rangkaian kerjasama yang dijalankan sejak lama oleh tiga negara ASEAN dalam forum IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand growth triangle). Dan sektor Pariwisata adalah salah satu pilar yang memang dikerjasamakan.

Seperti diketahui, kota Muntok sejak abad 18 sudah dikenal dunia - utamanya Belanda dan Inggris - yang memanfaatkan tambang timah dan hasil lada putih untuk komoditi penting di negaranya. Itu sebabnya, Muntok yang dahulu dikenal dengan nama Mentok, dijadikan basis penting produksi Timah.

Museum timah yang berada di jantung kota Muntuk, mulanya adalah kantor Penambangan Timah sekaligus Pemerintahan milik Belanda dengan nama Hoofdbureau Bangka Tin Winning pada 1915. Semenjak itu banyak bangunan penting milik perusahaan Timah di Muntok.

Kemudian dalam perkembangannya, bangsa Cina dan Melayu juga banyak hadir di sini. Itu sebabnya peninggalan Cina dan Melayu juga sangat kentara di Muntok, seperti Gudang Mayor Cina, Komplek Makam Kampung Patemun, dan lain-lain.

Berbagai titik temu warisan budaya lintas bangsa ini kemudian yang dikemas dengan baik oleh Zuhri untuk ditawarkan kepada masyarakat luas, baik di dalam dan luar negeri, untuk dinikmati.

Acara dua hari seminar dan pameran kota tua serta rumah tinggal (Homestay) untuk wisata di Muntok ini memang sengaja dibuat bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Pesertanya lebih dari 100 orang perwakilan dari berbagai latar belakang yang memiliki keinginan sama untuk memelihara kota tua.

"Kami sangat berharap dengan kegiatan ini menjadi tonggak sejarah Bangka Barat untuk bangkit di bidang wisata," tegas Zuhri. Homestay yang disediakan oleh masyarakat begitu beragam, mulai dari model tradisional hingga yang berarsitektur modern. Intinya, Zuhri mengajak seluas-luasnya masyarakat untuk terlibat aktif. Karena rumah yang dipakai adalah rumah milik masyarakat setempat. Merekalah yang merenovasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada siapapun pengunjungnya. Tarif per kamar pun sangat terjangkau karena di bawah rp.300 ribu per malam (Abri).Foto : Abri

Share:

Hubungan Indonesia Madagaskar

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Hubungan Diplomatik Indonesia Madagaskar dimulai sejak penandatangan MOU pembukaan hubungan diplomatik yang ditandatangani Menlu RM Didiew Ratsiraka (Kemudian menjadi Presiden Madagaskar) dan Menlu Adam Malik 13 Desember 1974.

Meskipun demikian, hingga kini Madagaskar tidak memiliki Kedutaan Besar di Indonesia.

Mungkin Anda tertarik untuk membaca Hubungan antara Makasar dan Madagaskar
Share:

Hubungan Indonesia Slowakia

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Hubungan diplomatik Indonesia dan Slowakia dibuka sejak 1 Januari 1993, telah berlangsung baik, namun masih perlu diperkuat dengan kerja sama bilateral yang konkret, khususnya pada bidang ekonomi. Peningkatan hubungan bilateral kedua negara ditandai dengan kunjungan Presiden Slowakia ke Indonesia pada tahun 2011.

Slowakia memandang Indonesia sebagai mitra penting di kawasan Asia Tenggara, dan akan terus menupayakan peningkatan hubungan kerja sama bilateral ekonomi dengan Indonesia di berbagai bidang, khususnya pada sektor energi, pertanian dan pertahanan.
Di sektor pertanian, kerja sama dalam penelitian dan pengembangan bibit gandum tropis di Padang telah dilakukan.  Selain itu, kerja sama ekonomi melalui peningkatan kontak antarpelaku usaha kedua negara, serta kerja sama investasi Slowakia di Indonesia, juga sebaliknya.

Nilai perdagangan bilateral RI-Slowakia pada 2014 tercatat USD 29,91 juta dengan surplus di pihak Indonesia sebesar USD 4,94 juta. Kedua belah pihak menjadi Pintu Masuk Ekonomi yang potensial, yakni Indonesia sebagai pintu masuk pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN, sedangkan Slowakia sebaigai Pintu Masuk kelompok negara-negara Visegrad atau V4 (Slowakia, Polandia, Hongaria, dan Ceko), dimana Slowakia sedang menduduki presidensi kelompok negara-neggara tersebut.

Investasi Slowakia di Indonesia pada 2010-2014 tercatat sebanyak 12 proyek. Dalam rangka meningkatkan kerja sama ekonomi, kedua negara telah mengadakan Sidang Komisi Bersama (SKB) sebanyak 3 kali, dan Business Round Table (BRT) sebanyak 8 kali. SKB terakhir dilaksanakan pada 2 Desember 2013 secara back-to-back dengan BRT ke-8, dan menghasilkan penandatanganan beberapa MoU antar pelaku usaha swasta.

RI - Slowakia sepakat meningkatkan people-to-people-contact, antaralain; melalui kerja sama antaruniversitas, program Darmasiswa, serta penyelenggaraan Dialog Lintas Agama RI-Slowakia ke-2. Sejalan dengan hal tersebut, maka kedua pihak mengharapkan kemudahan fasilitas visa kunjungan singkat bagi masyarakat Slowakia, dan visa Schengen bagi masyarakat Indonesia.

Dalam bidang politik, kedua pihak saling mendukung bagi pencalonan di berbagai organisasi internasional, termasuk pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB periode 2019-2020. (SSM)
Share:

Asyik, Stasiun Gambir Sediakan Hotel Transit

JAKARTA (Indonesiamandiri) – Bagi masyarakat yang menggunakan jasa kereta dan tiba di stasiun Gambir tengah malam, tak perlu kuatir lagi cari tempat penginapan. Kini, sudah tersedia Rail Transit Suite Gambir, yang bisa dipakai untuk istirahat mulai dari enam jam paling cepat hingga 24 jam. Hotel setaraf bintang dua ini, dibanderol dengan tarif Rp. 290.000 untuk kasur tunggal dan Rp. 360.000 yang ganda.

Hotel yang berlokasi di lantai dua stasiun Gambir – di atasnya loket penjualan tiket – menyediakan sekitar 20an kamar. Ini sangat bermanfaat karena di stasiun Gambir juga ada moda transportasi darat untuk ke Lampung dan bandara Soekarno Hatta. Sehingga, saat masyarakat yang menggunakan pesawat udara mau lanjut dengan kereta lalu tiba di Gambir sudah larut malam, maka bisa menginap di sini sehingga keesokannya tinggal melanjutkan dengan kereta.

Dan, masih di stasiun Gambir, bagi yang hanya perlu membugarkan diri dengan mandi serta strika pakaian untuk langsung beraktifitas, pun sudah ada fasilitas kamar mandi shower. Sewanya juga sangat memadai, hanya Rp. 55.000, sudah dapat handuk, sikat gigi, pengering rambut (hair dryer) serta strika.

Fasilitas baru lain yang ada di Stasiun Gambir, juga sudah ada loket pembelian tiket kereta dengan mesin (seperti ATM) dengan pembayaran memakai kartu kredit atau kartu debit.  Berbagai renovasi yang dilakukan stasiun Gambir, tentunya untuk memudahkan dan menambah kenyamanan masyarakat pengguna kereta. Dan diharapkan ini bisa dicontoh oleh stasiun besar lainnya di sejumlah kota yang memiliki frekuensi penumpang lanjutan (transit) lumayan tinggi (Abri).

Share:

Asyik, Stasiun Gambir Sediakan Hotel Transit

JAKARTA (Indonesiamandiri) – Bagi masyarakat yang menggunakan jasa kereta dan tiba di stasiun Gambir tengah malam, tak perlu kuatir lagi cari tempat penginapan. Kini, sudah tersedia Rail Transit Suite Gambir, yang bisa dipakai untuk istirahat mulai dari enam jam paling cepat hingga 24 jam. Hotel setaraf bintang dua ini, dibanderol dengan tarif Rp. 290.000 untuk kasur tunggal dan Rp. 360.000 yang ganda.

Hotel yang berlokasi di lantai dua stasiun Gambir – di atasnya loket penjualan tiket – menyediakan sekitar 20an kamar. Ini sangat bermanfaat karena di stasiun Gambir juga ada moda transportasi darat untuk ke Lampung dan bandara Soekarno Hatta. Sehingga, saat masyarakat yang menggunakan pesawat udara mau lanjut dengan kereta lalu tiba di Gambir sudah larut malam, maka bisa menginap di sini sehingga keesokannya tinggal melanjutkan dengan kereta.

Dan, masih di stasiun Gambir, bagi yang hanya perlu membugarkan diri dengan mandi serta strika pakaian untuk langsung beraktifitas, pun sudah ada fasilitas kamar mandi shower. Sewanya juga sangat memadai, hanya Rp. 55.000, sudah dapat handuk, sikat gigi, pengering rambut (hair dryer) serta strika.

Fasilitas baru lain yang ada di Stasiun Gambir, juga sudah ada loket pembelian tiket kereta dengan mesin (seperti ATM) dengan pembayaran memakai kartu kredit atau kartu debit.  Berbagai renovasi yang dilakukan stasiun Gambir, tentunya untuk memudahkan dan menambah kenyamanan masyarakat pengguna kereta. Dan diharapkan ini bisa dicontoh oleh stasiun besar lainnya di sejumlah kota yang memiliki frekuensi penumpang lanjutan (transit) lumayan tinggi (Abri).

Share:

Pengabdian Guru Muda di Pelosok TImor

MENGASAH GENERASI EMAS DI TANAH TIMOR: KISAH PENGABDIAN SEORANG GURU MUDA DI PELOSOK NEGERI

“Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di republik ini."  Anies Baswedan

Kupang (Indonesia Mandiri) - Kata-kata di atas mungkin menjadi semacam teguran atau tantangan keras bagi generasi muda terdidik, khususnya yang memiliki kesempatan dan kemauan untuk mendidik anak-anak Indonesia di negara ini. Dalam hal ini, saya akan menekankan konteks pendidikan bagi anak-anak di pelosok negeri. 

Saya akan berbagi sedikit pengalaman dan pandangan saya tentang pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Saya sendiri merupakan alumni SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). SM-3T merupakan program pemerintah yang telah dicetuskan sejak tahun 2011. Tujuannya untuk mengatasi kekurangan guru dan permasalahan lainnya yang terkait dengan pendidikan di daerah pelosok dan perbatasan RI.

Mungkin bagi para pemuda yang (hanya) terbiasa hidup enak, nyaman, dan dimanjakan oleh fasilitas yang serba lengkap tak pernah berpikir apalagi mau berpartisipasi dalam program tersebut. Tak terkecuali bagi diri saya sendiri. Saya berpikir bahwa hidup daerah pelosok pasti penuh keterbatasan. Terlebih lagi, saya harus mendidik anak-anak di sana yang kondisi daerahnya benar-benar tertinggal dari segi pembangunan infrastruktur dan pendidikan. Tapi, saya melihat hal tersebut sebagai tantangan. Saya pun memantapkan hati saya untuk ikut program SM-3T dan langsung mendapatkan izin dari orang tua.

Dengan berbagai tes yang lumayan sulit untuk dilalui, akhirnya saya terpilih menjadi salah satu peserta SM-3T angkatan III tahun 2013-2014. Saya sendiri ditempatkan di Kabupaten Kupang, NTT. Awalnya, saya berpikir bahwa NTT merupakan wilayah yang gersang, panas, sulit air, dan banyak malaria. Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Di beberapa kecamatan di Kabupaten Kupang, kondisinya masih sangat hijau, banyak air, dan hampir tidak ada malaria. Di desa yang menjadi tempat tinggal saya kondisinya masih jauh lebih baik. Banyak air, udara yang dingin, pemandangan yang asri dan indah. Saya sendiri bertugas di desa Nunsaen, kecamatan Fatuleu Tengah, tepatnya di SMA Negeri 1 Fatuleu Tengah. Kondisi desa Nunsaen pada saat saya pertama kali datang cukup memperihatinkan jika dilihat dari segi infrastruktur. Di desa tersebut belum ada listrik PLN, jalan rusak, sinyal yang tidak bagus, serta gedung sekolah yang bisa dikatakan tidak layak. Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi tantangan dan saya bisa menjalaninya dengan hati yang senang, seperti anak-anak di sana.

Masyarakat di tempat saya bertugas sebagian besar merupakan suku Timor dan menganut agama Kristen Protestan. Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai petani. Mereka masih memegang adat istiadat secara kuat dan menjalankan tradisi seacara rutin. Saya sendiri sempat mengalami “Culture Shock” di hari-hari pertama kedatangan saya. Lama-kelamaan saya mulai membaur dengan masyarakat di sana. Saya mulai memakan sirih pinang, jagung bose, bahkan hingga ikut tarian adat.

Kembali ke masalah pendidikan, ada beberapa hal yang menjadi sorotan. Siswa/i di sana bisa dikatakan tertinggal secara akademis. Mereka sangat kekurangan informasi karena tidak adanya buku-buku serta media-media yang bisa meningkatkan pengetahuan mereka. Jadi, gurulah satu-satunya sumber ilmu dan pengetahuan mereka di sekolah.

Ironisnya, guru-guru di sana sebagian besar masih berstatus honorer dan hanya dibayar Rp 2.500, per jam mata pelajaran. Upah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan tugasnya yang berat. Saya merasakan beratnya mendidik anak-anak di pelosok. Mereka sangat sulit jika hanya dididik secara verbal. Guru-guru di sana masih menggunakan kekerasan untuk mendidik siswa/i di sekolah. Mereka berpendapat bahwa pendidikan yang keras terpaksa dilakukan demi kemajuan mereka. Memang, anak-anak yang tidak dididik secara keras kelak akan menjadi generasi muda yang “lembek” dan manja.

Saya sendiri bisa dikatakan mengajar di dua sekolah karena SMA N 1 Fatuleu Tengah memiliki dua gedung, induk dan filial. Gedung induk terdapat di desa Nunsaen, sedangkan gedung filial terdapat di desa Oelbiteno yang berjarak sekitar 4 KM dari gedung induk. Biasanya saya mengajar di gedung induk pada pukul 07.00-12.00 dan lanjut mengajar di gedung filial pada pukul 13.00-18.00. Itu semua saya lakukan demi satu alasan, siswa! Saya tidak ingin semangat belajar siswa/i saya harus pupus karena tidak diimbangi semangat mengajar dari saya sendiri, guru mereka.

Saya mengabdi di sekolah ini selama satu tahun. Banyak hal dan pengalaman yang saya dapatkan di sekolah ini. Ada satu pengalaman yang benar-benar menjadi kebanggan sekaligus keyakinan saya bahwa lewat pendidikan kita bisa membuat perubahan. Anies Baswedan pernah berkata, Anak-anak Nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan”. Saya berhasil membuktikan kata-kata tersebut. Saya bersama seorang rekan SM-3T dari UPI Bandung berhasil membimbing seorang siswa menjadi juara satu Olimpiade Sains dan Budaya untuk mata pelajaran Geografi. Sekolah yang baru berdiri sekitar 4 tahun dan terletak di pelosok mampu mengalahkan sekolah-sekolah yang menjadi langganan juara.
Terakhir dari saya, hidup di pelosok RI telah membuat saya melihat dan merasakan langsung kehidupan serta perjuangan saudara-saudara saya. Sebagai generasi muda, bukan saatnya kita hanya teriak-teriak pemerataan pembangunan, pendidikan, dan lain-lain. Saatnya kita terjun langsung mengabdikan diri kepada negara ini, khususnya kepada saudara kita yang kurang beruntung di pelosok negeri ini. Mumpung kita masih muda, punya kemampuan dan kesempatan, maka mengabdilah! 

Achmad Seftian, S.Pd
Penulis : Seorang Praktisi Pendidikan
Foto : Dok Pribadi

 

 

Share:

LISAN dan TULISAN

Karawang (Indonesia Mandiri) - Beberapa pakar bahasa mengatakan, .....bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulisan Berdasarkan keyakinan, bahwa sang Pencipta mengajarkan ilmu pengetahuan dengan lisan, Walaupun kemudian Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekedar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengaruh evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, Konon sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5000 tahun yang lalu di Sumeria ( Irak selatan ), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya.Dari gagasan ke tindakan, hanya tinggal selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang. Teknologi sebatas sederhana, komunikasi sebatas teriakan, Transportasi seluas tungkai melangkah, selebar layar terkembang. Buta tulisan, biarpun kaya lisan adalah resep ketidakberdayaan dan kemiskinan.

Seorang filsuf dan pakar bahasa, mendaftarkan beberapa ciri-ciri oralitas yang berkontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan, kosakata sedikit, tata bahasa sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang masih kental dalam bahasa indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal didunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.

Dalam hubungannya dengan Lisan dan Tulisan, bangsa Indonesia tidak terlepas dari metamorfosa ini. Hanya saja, masih sedikit peninggalan bahasa literer yang ditinggalkan oleh nenek moyang bangsa ini.Tercatat tulisan ataupun lebih dikenal dengan Aksara Nusantara ini digunakan oleh bangsa indonesia sebelum adanya abjad Arab ataupun Alphabet. Beberapa aksara yang digunakan antara lain, aksara pallawa, aksara sidhamatrkha, aksara kawi jawi kuna, aksara Buda, aksara Sunda kuna, aksara proto sumatera, dll. Sejarah juga mencatat bahwa, hanya beberapa suku bangsa Indonesia saja yang masih mempertahankan tulisan warisan nenek moyang, Bangsa Jawa dengan aksara honocoroko-nya, Sunda dengan cacarakan-nya, bangsa Bali dengan aksara bali-nya, bangsa Batak dengan aksara toba, karo, dairi, simalungun, mandailing-nya, dan bangsa Bugis dan Makassar dengan aksara lontara-nya. Sekali lagi, sejarah bangsa ini pun mencatat, Suku ・suku bangsa yang masih mempertahankan tulisan nenek moyangnya inilah yang menjadi suku bangsa yang dominan di negeri ini. Tidak sedikit tokoh-tokoh Bangsa yang berasal dari suku bangsa ini. Entah suku bangsa mana yang masih eksis tetapi tidak mempunyai bahasa tulisan ???

Jadi, penulis berpendapat bahwa, salah satu syarat yang harus dipenuhi agar bangsa Indonesia bisa tetap bertahan adalah dengan mempertahankan bahasanya, Baik bahasa Lisan maupun Tulisan.Tetapi kita tidak juga harus meng-isolasi diri dari pengaruh bangsa asing. Karena Bahasa adalah bungkus dari ilmu, proses penyerapan ilmu pengetahuan dari luar yang notabene menggunakan literatur asing juga perlu kita lakukan, tetapi tentu disesuaikan dengan jatidiri bangsa kita, artinya tetap dengan menggunakan bahasa bangsa Indonesia. Seperti Peribahasa yang mengatakan : “ Bahasa adalah Ciri Bangsa “, maka Jika mengaku sebagai Bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita “mengerti” dan Bangga berbahasa Indonesia. Hilangnya kebanggaan untuk menggunakan Bahasa Indonesia menjadi pertanda ketidak percaya dirian sebagai Bangsa. Penulis merasa prihatin, dengan kenyataan yang ada pada bangsa ini, generasi muda kita sudah kehilangan pegangan dalam berbahasa lisan dan tulisan, Fenomena bahasa Lisan dan Tulisan “Alay” sedang menjangkiti generasi muda kita. Tata bahasa yang “ ngawur “, Cara penulisan yang “aneh “ menjadi semacam wabah yang terus menyebar.

Penulis tidak bersikap sinis terhadap fenomena ini, karena sebagian orang yang tidak sependapat mengatakan, “ ah, ini kan ciri kehidupan modern “. Modern bukan berarti kehilangan jati diri, Modern seharusnya membawa kita ke arah yang lebih baik, bukan menjadi tidak baik. Apakah menggunakan bahasa Indonesia secara lisan dan tulisan degan baik berarti tidak modern ? Sungguh pemahaman yang Bukankah sampai detik ini Pelajaran Bahasa Indonesia masih termasuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia ? Tentunya ini menjadi Pekerjaan rumah bagi kita semua, supaya kita semua dikaruniai generasi penerus yang mempunyai ciri dan Jati diri sebagai bangsa Indonesia. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi penambah cakrawala berfikir untuk kita semua.

Harapan dan cita-cita kita agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, dapat terwujud dengan semangat dan usaha kita. Tentu kita tidak ingin mengecewakan para pendiri bangsa ini. “ Hari ini kita adalah pewaris bahasa lisan dan tulisan, dan esok kita akan mewariskan untuk anak cucu kita”.

Kido
Penulis: Profesional dan Pemerhati masalah sosial yang berdomisili di Karawang.

 

Share:

Film Drama "Adriana"

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Siang itu, kebetulan saya sedang di rumah, dan menyaksikan tayangan acara salah satu TV Swasta Nasional. Seperti melirik film atau sinetron TV, biasanya saya melihatnya separuh hati. Karena biasanya stereotypes, yang berbeda hanya setting lokasi, dan waktunya saja, sehingga tampak modern atau klasik, selebihnya tidak memiliki ciri khas.


Yang satu ini saya terhenyak, ketika mendengar dialog yang membawa-bawa, nama-nama, Tokoh-tokoh Sejarah Indonesia. Mulailah saya dengan seksama menyaksikannya. Ternyata menurut saya, penggarapan film ini sangat jarang ditemukan di Indonesia. Mungkin produser dan sutradara yang lain, takut kalau-kalau filmnya tidak laku.


Salut untuk produser dan sutradara "Adriana", selain berani mengambil resiko, kemasan penyajiannya pun sangat baik, dan renyah untuk ditonton - tentunya bagi masyarakat yang cinta akan Sejarah Bangsa-nya sendiri, sehigga mengerti betul guyonan sejarah yang ada dalam adegan-adegan film tersebut.


Banyak catatan-catatan yang dilontarkan di Film ini, sehingga membuat kita jadi mengerti latar belakang proses pembuatannya, maupun latar belakang mengapa harus dibuatnya bangunan, atau patung-patung yang jadi bahan petunjuk dari teka-teki dalam film tersebut.


Yang tidak kalah pentingnya untuk dikritisi juga adalah, gimmick2 dalam film ini memiliki nilai filosofi yang dalam. Kalaupun satu saat banyak film yang ditayangkan seperti Film ini,maka tidak menutup kemungkinan, masyarakat akan berangsur-angsur memiliki kesadaran Sejarah yang tinggi, dan semoga kedepan Film ini menjadi trendsetter, bagi pendidikan Masyarakat melalui Film Hiburan.


Dimana sementara sekarang ini, kita semua tahu, bahwa Film Hiburan adalah sumber degradasi nilai-nilai Luhur yang terus digerus oleh Tayangan-tayangan yang menitik beratkan pada pendekatan komersial semata.


Sekarang ini sudah saatnya #BerjuangDenganSejarah dan tidak lagi dengan senjata, atau kekerasan. Hal ini dikarenakan, mungkin kini lebih banyak anak muda kita yang mengerti Filosofi Bangsa Asing, daripada Filosofi Bangsa-nya sendiri.


Sekali lagi salut untuk Produser dan Sutradara "Adriana" (SSM) Foto (Istimewa)

Share:

Bintang Iklan yang Tidak Bermoral

Karawang (Indonesia Mandiri) - Banyak sekali iklan yang kita lihat atau dengar setiap harinya melalui media cetak, dan elektronik, yang tidak tersaring oleh Lembaga Sensor. Mulai dari sistematika penyajian, isi dialog tayangan, hingga produk yang masih di bawah standar kesehatan, bahkan mungkin sudah bersinggungan dengan katagori racun.

Hal ini tentunya tidak terlepas dari para stakeholder (Pihak-pihak Berkepentingan), dimana kita sebagai individu dari anggota masyarakat sebuah Bangsa Besar, sesungguhnya turut pula memiliki Tanggung Jawab Moral untuk itu. Apalagi sebagai pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan iklan yang bersangkutan.

Tidak jarang kita lihat, bintang iklan yang terkenal, dan juga punya kapabelitas pengetahuan yang terlihat cukup mumpuni, karena dalam kesempatan lain mereka sangat kritis dalam menanggapi masalah-masalah sosial, namun ketika dirinya membintangi iklan, dirinya melupakan Tanggung Jawab Moral Sosial sebagai Anak Bangsa - karena yang diingat hanyalah uang semata.

Sebagai Anak Bangsa yang bermoral, seyogyanya sebelum membintangi sebuah iklan, haruslah membaca isi / ingredient dari makanan / minuman yang akan ia bintangi. Jadi tidak terjadi apa yang disebut sebagai "Turut Berpartisipasi Dalam Membodohi Bansa sendiri".

Hal ini ternyata tidak hanya satu, atau dua bintang iklan saja yang melupakan Tanggung Jawab Moral sebagai Anak Bangsa, tetapi banyak sekali, kalau tidak mau dibilang semua bintang iklan terlibat dalam membohongi Bangsanya sendiri.

Kalau dari Bintang Iklanya sudah sadar akan Tanggung Jawab Moral bagi Bangsanya, maka niscaya Bangsa ini akan berangsur menjadi Sehat, sehingga membawa proses moral dan mental Bangsa menjadi Sehat pula, sehingga tidak menutup kemungkinan kemajuan pelanggulangan korupsi pun akan semakin mudah.

Logikanya, jika yang dilihat oleh masyarakat kebanyakan, adalah hal-hal yang sehat, maka langsung atau tidak langsung internalisasi nilai-nilai positif akan muncul lebih dominan ketimbang nilai-nilai negatif dalam kehidupan sehari-hari. Karena akan tumbuh kembang self defence terhadap nilai-nilai negatif ,dalam diri masing-masing insan Nusantara. (Imam Choerul)

Share:

Hubungan Indonesia Mesir

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Mesir juga merupakan Negara pertama di dunia yang mengakui Kemerdekaan dan Kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kedua negara adalah anggota Organisasi Kerjasama Islam, Gerakan Non-Blok, kelompok G20 negara berkembang dan kelompok 8 negara berkembang.

Ekspor Indonesia ke Mesir meliputi minyak kelapa sawit, kopi, teh, tekstil dan barang-barang elektronik serta barang-barang lainnya. Tahun 2013, volume perdagangan antara dua negara mencapai sekitar $1.03 miliar.  Sedangkan tahun 2014, tingkat ekspor Indonesia meningkat 21.71 dengan nilai sebesar $1.34 miliar. Di sisi lain, pada 2013 ekspor Mesir ke Indonesia bernilai sejumlah $94.4 juta, yang meliputi mineral, semen dan buah-buahan serta barang-barang lainnya.
Sebagian besar daratan Mesir adalah, bagian dari gurun Sahara yang jarang dihuni. Luas wilayah Mesir +  997.739 km², mencakup Semenanjung Sinai (yang dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), juga sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Di sebelah barat, Mesir berbatasan dengan Libya, di Selatan dengan Sudan, di Utara Timur berbatsan dengan Jalur Gaza dan Israel. Sementara di sisi Utara, Mesir berbatasan dengan perairan Laut Tengah, dan di Timur dengan Laut Merah.

Mayoritas penduduk Mesir menganut agama Islam, dan selebihnya menganut agama Kristen Koptik. Sedangkan mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²).

Mesir sangat terkenal dengan peradaban kuno, yang dapat dilihat dari peninggalan situs-sutusnya seperti; Piramid Giza, Kuil Karnak, Lembah Raja, serta Kuil Ramses. Sementara di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan Mesir terdapat + 65% artefak kuno di seluruh dunia. Sampai saat ini, Mesir diakui sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah.

Kantor Kedutaan Indonesia di Kairo
13, Aisha El Taimouria Street, Garden City, Cairo, Arab Republic of Egypt
Phone : (20-2) 2794-7200, 2794-7209, 792-5451, 2792-5452, 2794-7356
Fax : (20-2) 2796-2495

Pelayanan Konsuler dan Pendidikan
Bld. 33 Ahmed Azzumur st, Hay-10 Nasr CIty Cairo Mesir
Phone:+202-24715561 /63
Fax: +202-24726772
Sebaliknya Mesir pun memiliki Kedutaan Besar di Indonesia

Kantor Kedutaan Mesir di Indonesia
Address : JL. Teuku Umar No. 68 Menteng, Jakarta Pussat, Post Code 10310
Tlp : (+6221) 3143440 - (+6221) 31931141- (+6221) 31935350
Fax number: (+6221) 3145073
E-mail: embassyofegypt.jakarta@gmail.com
Website : http://www.mfa.gov.eg/Jakarta_Emb
Jurisdiction :Jurisdiction throughout Indonesia, non- resident representation in East Timor
Working hours (Embassy): Daily from 9:00 am till 4:00 pm except on Saturdays and Sundays
Working hours (Consular section) : All consular transactions have to be submitted from 9:00 am till 12:00 pm and will be handed out from 12:00 am till 13:00 pm
Other E-mail : Ambassador :bebd2011@yahoo.com
Counselor : hmokhtar@live.com
          :    Third Secretary Ahmed Lashin alashine@hotmail.com

Commercial Office :
Address : The Egyptian Embassy Jakarta
Telp : (+6221) 2305346
Fax number : (+6221) 319326177
E-mail: Jakarta@tamseel-ecs.gov.eg

Working hours :
Daily from 9:00 am till 4:00 pm except on Saturdays and Sundays
Share:

Arsip