Hidup!!! Timnas U-23

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Atas nama seluruh anggota IndonesiaMandiri.web.id mengucapkan salut sebesar-besarnya, atas persembahan perjuangan Timnas U-23 pada Final SEA Games tanggal 21 November 2011, di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kami bangga pada Timnas U-23 yang berjuang pantang menyerah.

Kami pun bangga pada Team Pelatih, yang dapat membuktikan, bahwa Anda semua tidak kalah dengan pelatih-pelatih import, yang selama ini dielu-elukan oleh sekelompok orang yang tidak percaya diri.

Ayo kita Mandiri, dengan Pemain dan Pelatih WNI.

Share:

Pejuang Sondang dan Pejuang Rahmad Darmawan

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mungkin Anda bingung, melihat judulnya, apa hubungannya? Hubungannya adalah, mereka adalah benar-benar manusia Indonesia asli.

Hal ini dikarena bahwa, Sondang dan Rahmad Darmawan melaksanakan nilai-nilai asli Nusantara, yakni; KMK (Kompromi, Melawan - mbalelo, dan Keluar - Bedol Desa).

Sondang memang masih muda, tetapi Naluri Politik-nya tumbuh begitu jernih, sesuai nilai-nilai budaya Nenek Moyang - KMK. Tembok besar yang dijaga oleh para Politisi Politikus yang sudah terkontaminasi oleh pengaruh budaya Duo AS. Membuat dirinya melakukan Perlawanan Terakhir-nya.

Prilaku Sondang dengan ketulusannya Berjuang untuk Bangsa kita, mengingatkan kita tentang patriotisme. Begitu pula yang dilakukan oleh Rahmad Darmawan, guna melindungi dan memperjuangkan anak didiknya, dirinya harus melakukan Bedol Desa. Cerminan Nasionalisme dari Rahmad Darmawan, terlihat dari caranya menyaring para pemain bola U23,  agar dapat berlaga secara maksimal pada Sea Games 2011. Sondang dan Rahmad Darmawan selalu berfikir untuk Bangsa ini, dan bukan untuk dirinya atau golongannya.

Saya yakin, bagi penghianat nilai-nilai dasar Bangsa, mereka pasti mencibirkan tindakan kedua Pejuang di atas. Mengapa demikian?

Ya kalau kita baca dan ikuti laporan-laporan Pemilu dari waktu ke waktu, ternyata pergerakan Golongan Putih semakin menjadi favorit pilihan bagi masyarakat yang sadar, tentang ada tidaknya informasi yang benar yang mereka terima saat kampanye.

Ayo pertebal nilai-nilai dasar Nenek Moyang. Karena sampai sekarang, masih belum ada lagi Politisi Negarawan yang lahir kembali di bumi kita, setelah Bapak Bangsa kita "Bung Karno"

Sondang dan Rahmad Darmawan adalah dua sosok yang meski perjuangannya tidak bisa dibandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi mereka sama-sama  mengingatkan kita semua, bahwa sudah waktunya memulai, untuk kembali ke Nilai-nilai Bangsa yang Luhur.

Mari Bung untuk berjuang sendiri-sendiri, dalam satu nilai dan tujuan yang sama. Apapun bentuknya, selama dalam jalur nilai-nilai Luhur Bangsa ini, dan bukan nilai-nilai Duo AS. Kita pasti bisa bangkit kembali, seperti Bangsa Atlantis - Nenek Moyang Kita.

Karena Perjuangan Bangsa Besar, bukanlah perjuangan yang dipimpin oleh Pemimpinnya, tetapi Perjuangan Yang Dipimpin oleh Nilai-nilai akar Budaya Bangsa itu sendiri.

Sebelum masuknya pengaruh asing, baik Amerika Serikat maupun Arab Saudi (Duo AS), kita adalah Bangsa yang Berbudi Luhur.

Sapto Satrio Mulyo, 14/12/2011

Share:

Kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Memang, untuk kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa Indonesia yang Luhur, bukanlah hal yang mudah.

Banyak sekali variabel yang harus dikembalikan lagi ke Nilai-nilai itu sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba melihatnya dari sisi Bahasa sehari-hari saja. Dari sisi sini, salah satunya yang paling kita tidak sadari adalah penggunaan Bahasa Asing.

Mengapa koq "Bahasa," karena bahasa itu merupakan pola pikir dasar sebuah Bangsa atau masyarakat. Contoh yang gampang, konon bahasa Tetun (Bahasa Asli Timor Timur) itu tidak memiliki kosa kata "Terimakasih." Kata terimakasih diambilnya dari bahasa Portugis.

Dari sepenggal kata "Terimakasih" tersebut, saya rasa kita sudah bisa mendapat gambaran, bagaimana mereka berinteraksi untuk mengatakan Terimakasih? Apakah perbuatan orang baik kepada dirinya sebuah kewajiban, hingga tidak perlu ada kata Terimakasih, atau memang orang di sana hidup begitu individualnya, sehingga tidak perlu ada kata terimakasih.

Lagi-lagi dari sepenggal kata, masyarakat dapat membentuk atau dibentuk pola pikirnya. Untuk itulah, saya mencoba untuk sedikit mengkritisi dan mengajak seluruh orang yang tinggal di Bumi Nusantara ini, untuk mencoba kembali menggunakan Bahasa dan Kosa Kata Indonesia saja.

Jika di Bahasa Indonesia tidak ada kosa kata yang dibutuhkan oleh kemajuan pergaulan Bangsa ini, coba cari padanannya pada Bahasa Daerah kita sendiri yang memiliki jumlah kurang lebih 746 Bahasa Daerah. Seperti Download menjadi Unduh, dan Upload menjadi Unggah.

Penyimpangan penggunaan kosa kata Bahasa Asing ini, banyak orang yang hanya melihat atau meng-kritisinya pada penggunaan Bahasa Inggris saja. Sementara, banyak juga penggunaan Bahasa Arab di dalam komunikasi masyarakat.

Kalau itu kosa kata yang tidak berhubungan dengan Pola Pikir, syah-syah saja untuk digunakan. Tetapi, jika kosa kata tersebut menyangkut atau mempunyai makna "Pola Pikir dan Pola Gerak," hal inilah yang tidak boleh terjadi.

Saya sendiri memang bukan seorang ahli bahasa, bahkan awam dengan berbagai ilmu bahasa, tetapi dengan menggunakan perasaan saja, kita sudah dapat merasa, adanya kekuatan bahasa, dalam merubah "Pola Pikir dan Pola Gerak" Bangsa ini, jika kita biarkan saja.

Dalam keseharian, banyak orang atau media yang memperkenalkan kata "passion / gairah" padahal konsep kosa kata terebut ada dan sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Tetapi karena media turut menyebarkan, sebagai gaya hidup, maka banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Passion" tapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Di lain pihak, ada juga kata "Suuduzon / Prasangka" padahal konsep kosa kata ini pun sudah ada dalam Bahasa Indonesia, tetapi lagi-lagi media turut menyebarkan melalui penyiar-penyiar yang sadar atau tidak, bahwa mereka telah menggunakan Bahasa Asing. Lagi-lagi, banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Suudzon" tetapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Dari dua contoh kosa kata tersebut, jelas bahwa kekuatan Asing akan dengan mudah me-redefinisi kata-kata milir mereka yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat luas demi kepentingannya.

Kita kadang tidak sadar bagaimana peran bahasa dapat mengombang-ambingkan atau mencuri perhatian masyarakat luas, untuk menjadi sesuatu.

Kalau kita tidak mengerti kata "Galau", maka kita tidak perlu "Galau", tetapi karena "Galau" dibuat menjadi trend maka pada saat itu pula banyak ABG yang "Mencari Perhatian" dengan menerapkan konsep "Galau"

Silahkan Anda renungkan.....

Foto : kebudayaan.kemdikbud.go.id
Share:

Puas.....!!!!

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Puas...., kata yang terlontar dari hasil wawancara Mendikbud Mohammad Nuh dengan tersangka pembunuh pada saat tawuran pelajar terjadi.

Miris kita mendengarnya, bahwa remaja

sekarang memiliki kepuasan setelah membunuh "Musuhnya." Sementara kalau si pelaku pembunuhan tersebut dikirim ke Medan Perang untuk membela negara, mungkin ia menolak dengan berbagai alasan.

Lalu ia mengidap keberanian yang seperti apa? Kalau kita mencoba melihat dua tulisan para penulis IndonesiaMandiri.com sebelumnya; "Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung dan Duo AS Memiliki Teman Baru", mungkin Anda semua akan mudah memahaminya, mengapa hal ini bisa terjadi, di bumi yang tadinya dipenuhi oleh Nilai-Nilai Luhur para Leluhur Bangsa Kita.

Beginilah jadinya, kalau kita tidak mengikuti dan menerapkan Nilai-nilai Lokal yang ada sudah sejak Bangsa ini eksis. Semua ingin dengan hal-hal yang import.

Benci kah kita mendengar pernyataan "Tersangka Pembunuh" tersebut? Jawabannya adalah, dia (baca: Tersangka) hanyalah korban dari kita yang membiarkan Budaya ke Tiga Bangsa itu tumbuh di Indonesia.

Mari kita renungi, dan lakukan yang dapat kita lakukan, jangan mudah menghujat.... seperti Ketoprak DPR (baca: Diatas Penderitaan Rakyat) yang mudah saling menghujat.

Hal ini dikarenakan, budaya AS Timur Tengah yang selalu menempatkan kesalahan di luar dirinya, sehingga orang lain saja yang salah, sementara untuk dirinya mereka menerapkan standar ganda....

Renungkan dan kembali ke Nilai-nilai Leluhur saja, bukan yang lain....

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Selamat Natal

Menteri Agama: “Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal”

Pro dan kontra soal ucapan selamat Natal oleh kaum Muslim, akhirnya dijawab oleh MenAg Suryadharma Ali.

Mengucapkan “Selamat Natal” oleh kaum muslimin kepada umat Nasrani hukumnya Halal.

“Pemerintah mendorong terciptanya kerukunan umat beragama. Jadi tidak ada masalah memberi ucapan selamat Natal. Ya, itu halal,” tegas Suryadharma Ali, Senin (24/12/2012).

Menurut Menteri Agama, penegasan itu perlu disampaikan karena ada pendapat sebagian ulama yang menyebut mengucapkan Selamat Natal adalah haram.

“Ini soal interpretasi masing-masing dan sumbernya Al Qur’an, Sunnah dan ‘Ijma (kesepakatan para ulama). Perlu kita lihat. Tapi pemerintah tidak pernah mempersoalkan. Ini wujud toleransi yang kita bangun,” tegas Suryadharma Ali.

Sumber : http://www.lensaindonesia.com/2012/12/24/menteri-agama-mengucapkan-selamat-natal-hukumnya-halal.html

Share:

Membawa Telepon Genggam ke Sekoah = Citizen Journalism

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Belakangan ini marak beredar video porno di kalangan sekolah, yang menyebar secara luas. Hal ini tentunya memusingkan semua pihak.

Karena betapa tidak, yang beberapa tahun lalu mewabah pada kalangan SMA, kini ternyata anak-anak SMP pun sudah pandai membuat film porno, mungkin beberapa saat lagi kalangan SD....

Semua bingung, harus mulai darimana???

Memulai dengan pelarangan membawa HP ke sekolah??? Kalau jawabannya ini, maka logika berfikir kita sudah benar-benar terjajah, yang mengepankan kesalahan di luar dirinya, bukan intropeksi.

Penjajah (Baca: Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung) selalu memiliki hukum yang memudahkan mereka untuk Memanipulasi Pola Pikir Bangsa Ini. Yang pada akhirnya terbawa sampai sekarang...., antara lain:
  • Korban Narkoba dijadikan penjahatnya, sementara Bandarnya (yang penjahat beneran) bisa enak berkeliaran...

  • Pembeli Motor Curian (yang notabene seorang pembeli awam) justru dijadikan sebagai penadah, sementara pencurinya enak berkeliaran

  • Membongkar mal praktek, justru dijadikan terdakwa pencemaran nama baik.... dan masih banyak lagi.....

Dalam kasus "Rusaknya Prilaku Peserta Didik", sebenarnya kesalahan ada pada "Sistem Pendampingan Pendidikan Nasional" itu sendiri, tetapi mengapa justru yang dikambinghitamkan adalah "Telepon Genggam"

Kalau diumpamakan, "Telepon Genggam" itu adalah "Sarana Kebebasan Pers", maka dengan aturan Larangan Membawa Telepon Genggam, adalah upaya membunuh "Kebebasan Pers" itu sendiri.

Sebab diharapakan, dengan tidak adanya Telepon Genggam akan menghilangkan informasi yang keluar ke Masyarakat mengenai kebobrokan "Sistem Pendampingan Pendidikan Nasional" pada masing-masing sekolah yang bersangkutan.

Jadi sebaiknya, justru setiap anak diwajibkan untuk membawa Telepon Genggam Kamera, sehingga orang tua tidak merasa rugi, telah membayar biaya sekolah yang besar, tetapi hasil "Pendidikannya Tidak Memuaskan".

Dengan adanya Telpon Genggam Berkamera yang dibawa masing-masing peserta didik, paling tidak mereka dapat menceritakan kebaikan atau kebobrokan kondisi sekolah mereka masing-masing kepada Orang Tua mereka yang telah membayar biaya pendidikan yang mahal, atau bagi Negara yang sudah mengeluarkan biaya yang besar bagi sekolah-sekolah Negeri.

Dengan demikian, orang tua dapat gambaran yang utuh mengenai kondisi sekolah anak-anak tercintanya. Mengenai kebersihan toiletnya, misalnya..... dlsb..... Jadi jangan tutup saluran berita keluar, tetapi dampingi dan didiklah peserta didik dengan baik dan benar.... Untuk itu kita perlu memiliki Kiat yang cermat.

Marilah Kita Tinggalkan Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, yang merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung tersebut, dan kembali kepada pola berfikir Pancasila. Dengan menerapkan kembali kurikulum "Budi Pekerti", maka perkembangan Citizen Journalism di lingkungan sekolah akan membawa angin segar dalam proses Belajar Mengajar yang baik dan benar pula....

Dapat dipastikan hasil atau produk dari Citizen Journalism para peserta didik menjadi sarana pengawasan dari kemungkinan adanya penyimpangan di sekolah yang bersangkutan itu sendiri.

Sapto Satrio Mulyo
Foto : Istimewa
Share:

Pilpres 2014: Melawan Logika Berfikir Arabis

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Sebuah fenomena Pemilu di Indonesia, dimana begitu banyak orang yang tersadarkan diri, untuk turut berpartisipasi dalam Pilpres 2014, ketika melihat 2 calon yang berhadapan.

Dari Pilpres 2014 pula kita dapat melihat konstelasi politik yang cukup jelas, antara yang Pancasilais dengan yang Arabis.

Untungnya Alam atas Kehendak Tuhan Yang Maha Esa, masih berpihak kepada orang-orang yang benar-benar membela Eksistensi Bangsa ini.

Ayo kaum Pancasilais untuk tetap berjuang, agar Bangsa ini tetap dipimpin oleh orang-orang yang benar-benar cinta dengan Bangsanya sendiri, dan tidak menghianati Bangsanya sendiri, demi keuntungan dirinya dan bangsa lain.
Sumber Gambar : Istimewa
Share:

Pancasila adalah Nilai-nilai Warisan Leluhur

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mengapa Founding Fathers kita menetapkan Pancasila sebagai Azas Berbangsa dan Bernegara NKRI?

Karena, Pancasila adalah nilai-nilai yang diambil dari nilai-nilai Leluhur kita.

Bagi yang masih mengakui bangsa Indonesia adalah dari keturunan Manusia Nusantara, seyogyanya paham benar dengan hal tersebut. (Baca : Perpustakaan. TanahImpian.web.id)

Bagi yang tidak mengakui Pancasila sebagai nilai-nilai warisan Leluhur, dan tidak mau menerapkannya, lepaskan saja Warga Negara Indonesia Anda...

Bagi Ormas atau Partai yang tidak ingin menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas dapat dipastikan mereka adalah antek dari negera asing yang membiayainya.

Mengapa ktia diam saja, kalau ada kelompok yang ingin menggantikannya dengan nilai-nilai impor??? (SSM)
Share: