Mewakili Golonngan / Antek Asing?


Bekasi (Indonesia Mandiri) - Mewakili Golongan / Mewakili Antek Asing? Pilihan tersebut, pastilah salah. Seharusnya mewakili aspirasi Bangsa-nya sendiri. Apalagi kalau kita berangkat dari arti yang luas, mengenai Fatsun Politik Demokrasi.

Mengapa sekarang politisi sangat sulit untuk berjalan di rel Fatsun Politik Demokrasi? Karena secara umum dapat digambarkan sebagai berikut....

Fatsun politik merupakan tatakrama atau etika politik yang tidak tertulis, akan tetapi sangat jelas bagi setiap orang yang  punya Komitmen terhadap  Perjanjian dan Komitmen terhadap nilai-nilai Demokrasi.

Dalam hubungannya dengan fatsun politik, Komitmen terhadap Koalisi juga harus ada, walaupun setiap partai politik dalam koalisi mempunyai aspirasi yang berbeda-beda, tetapi apabila sudah bersepakat berkoalisi, maka harus ada etika-etika yang perlu dihormati, dan ditegakan bersama.

Keluar dari koalisi dan menjadi oposisi, tanpa diikuti pengembalian fasilitas yang didapat dari keikusertaannya di Koalisi, adalah sebuah sikap oportunis dan penghianatan, dalam kacamata Fatsun Politik. Tetapi memang, jika mereka sebagai Antek Asing, tentunya ini bukan masalah.

Sebaliknya, Pemerintah Berkuasa juga harus menjalankan Fatsun Politik, dan konsisten dalam mensejahterakan Rakyat-nya. Karena jelas kita menyaksikan, bagaimana Penguasa melindungi kadernya yang korupsi, di setiap persoalan besar yang masuk ke ranah hukum. Dan juga, jangan berada di bawah bayang2 Tangan-tangan Asing pula.

Jika kita menengok kebelakang, bahwa di zaman peralihan Soekarno ke Soeharto, banyak sekali gosip atau rumor yang dapat dibaca, bahkan memang kenyataan, bahwa banyaknya politisi saat itu yang sudah menjadi Antek Asing.

Kejatuhan Soekarno, merupakan rentetan rekayasa Asing melalui Antek-anteknya yang ada di Elit Politik saat itu, bahkan ada di jajaran Pemerintahan itu sendiri.

Mulai dari zaman Soeharto ke sini, kita sudah tidak mendengar lagi gosip mengenai Antek Asing, karena mungkin kuantitas Antek Asing sudah terlalu banyak, dan jadi mereka tidak mungkin melempar isu Antek Bangsa Sendiri, hehehe.....

Di sisi lain, kita sama-sama tahu bahwa, demonstrasi terkadakang tidak murni, tetapi di dalamnya ada Tangan-tangan lain yang memanfaatkan keadaan, atau bahkan sudah mengkondisikannya terlebih dahulu.

Jadi sekarang ini sudah semakin rumit, kalau dulu Penghianatan ada di tingkat elit, kalau sekarang ada di masyarakatnya juga, karena dua-duanya sudah bisa dibeli pakai uang.

Di tingkat elit, Tangan-tangan Asing dapat membeli (Membiayai) dengan mendorong pembuatan Peraturan yang memihak kepada Mereka (Duo AS). Di tingkat masyarakat, Tangan-tangan Asing pun dapat membeli (Membiayai) masyarakatnya untuk berdemo, agar opini memihak kepada Mereka juga.

Warna Tangan-tangan Asing pun yang berpengaruh di Indonesia dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok besar, yakni kelompok Amerika Serikat di satu sisi, dan kelompok Arab Saudi di lain pihak (Duo AS). Tidak percaya? Lihat saja "Gaya Hidup Masyarakat Perkotaan di Indonesia" Dalam berpakaian misalnya,  pilihannya pasti hanya dua, sementara pakaian Tradisional sudah ditinggalkan. Padahal Gaya Hidup yang sekarang digandrungi oleh masyarakat perkotaan  Indonesia itu, adalah pakaian Tradisional-nya Mereka.

Mari kita selamatkan Bangsa ini, dengan kembali pada nilai-nilai Kearifan Lokal, yang mencintai dan menyayangi saudara-saudaranya sendiri. Bukan "Menyayangi dan Mencintai Uang Bangsa Asing Dan Memusuhi Bangsa Sendiri", seperti sekarang ini.

Sapto Satrio Mulyo - Berlin 2004 - 2006
Foto : Istimewa
Share:

Arsip