Duo AS Memiliki Teman Baru

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Kalau kita mencintai Bangsa ini, mari kita tinggalkan Budaya Asing, atau yang saya sering sebut dengan Budaya Kedua AS tersebut. Kembalilah ke Budaya Indonesia Asli "Budi Pekerti, Kearifan Lokal, dan pada akhirnya terciptalah Bangsa Indonesia yang  Berbudi Luhur"

Tetapi ternyata kini Duo AS memiliki Teman Baru, yakni China yang ikut berkiprah dalam mempengaruhi Budaya Bangsa Kita. Jadi kini mereka sudah menjadi Trio, yang kemudian hari mungkin akan menjadi kwartet, dst. Sekedar flashback, kiranya perlu saya kutip sebagian tulisan saya terdahulu,...

Adanya pengaruh AS Barat (Amerika Serikat), maka tidak dapat dielakan lagi, konflik terjadi karena proses demokrasi yang belum dapat diterima oleh masyarakat umum, atau justru masih dipaksakan, dari kepindahan nilai-nilai Guyub ke Nilai-nilai Individualisme, yang pada akhirnya merujuk pada proses Thesis Antithesis,  dan Synthesis yang mengarah pada Pola Pikir yang menguntungkan AS Barat.

Di sisi lain, AS Timur (Arab Saudi) mencoba menyebarkan pola hubungan Antar Golongan, hal ini terlihat jelas, dari banyaknya bentrokan di seluruh penjuru Indonesia, yang berlatarbelakang SARA, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah rekayasa perbedaan Kaidah atau Pemaknaan dalam Agama, menjadi issue yang berkembang di dalam masyarakat seperti proses Thesis Antithesis, yang pada akhirnya merujuk pada Synthesis yang menguntungkan Negara AS Timur.

Sedangkan China mencoba menyebarkan pola hubungan yang kalau kita tidak jeli, hampir mirip sekali dengan Senkretisme (singkatnya; mudah menyesuaikan pada nilai yang baru). Kalau Leluhur kita Senkretis itu bukan untuk mengambil keuntungan. Kalau China mengajarkan orang untuk menyesuaikan diri ke lingkungan demi keuntungannya sendiri. Yang pada akhirnya mengarahkan kita pada Synthesis yang menguntungkan Negara China.

Kalau AS Barat membuat kita menjadi Individualistis, dan AS Timur membuat kita menjadi Gerombolan-gerombolan (kelompok-kelompok orang-orang penindas), sedangkan China membuat kita menjadi Manusia yang Oportunis.

Dengan 3 Pola Pikir ini, maka lengkaplah Bangsa ini menjadi Bangsa yang tidak akan pernah bersatu. Hal ini dikarenakan 3 Pola Pikir ini, tidak satupun yang dimiliki oleh Nilai-nilai Luhur Bangsa Kita Sendiri.

Oleh karenanya, tidak berlebihan jika saya mengajak kita semua untuk kembali ke Budaya Indonesia Asli "Berbudi Pekerti, yang berkearifan Lokal, dan pada akhirnya terciptalah Bangsa Indonesia yang  Berbudi Luhur"

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Arsip