Berita Indonesia Mandiri

Orientasi Pola Pikir Yang Terbalik Perlu Perhatian KPI

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mencoba mencermati Pola Komunikasi di Media Masa di Indonesia pada umumnya, terlihat jelas kita membiarkan untuk pikiran kita dijajah oleh Pihak Asing. Di sini diperlukan kejelian Pihak-pihak terkait, untuk mengawasi kalimat-kalimat yang dapat membawa kita ke pola pikir yang Inferior.

Tidak sengaja menonton acara di salah sebuah stasiun Televisi Swasta, yang menyiarkan Reality Show, yang disponsori oleh sebuah perusahaan minuman. Di sela-sela acara si pembawa acara tidak henti-hentinya menanyakan apakah tamunya yang dari India senang dengan Teh tersebut, setelah mendapatkan jawaban "Senang". Sang pembawa acara memberikan kalimat perbandingann "Dia saja (yang notabene orang Asing) senang dengan Teh tersebut"

Secara implisit si pembawa acara mengatakan, kamu kaum interior jangan sok mengada-ada selera kamu.... Dengan demikian jelas, bahwa pikiran si Pembawa Acara tersebut sudah sejak kecil terkooptasi oleh pikiran inferior, yang membiarkan pola pikir dirinya dijajah oleh pola pikir asing.

Ada dua contoh belakangan ini yang saya tidak sengaja menontonya; Ketika acara Najwa Shihab di Metro TV "Sepak Bola Gajah", sang Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mengatakan bahwa Sepak Bola ini milik Viva. Untungnya pas Najwa Shihab menanyakan kepada pak Menteri, pak Menteri menjawab Sepak Bola milik Rakyat Indonesia. Dari kalimat Ketua Komisi Disiplin, terlihat jelas banyak orang yang sudah terkooptasi pola pikirnya dengan semua sistem yang dibuat untuk membuat pikiran kita menjadi satu ke arah mereka.

Bukan tanpa alasan, kalau mereka sedang menggiring kita untuk menuju satu norma yang mereka kuasai.

Dari sisi AgiPro, mereka sudah melempar jargon, Satu Hati, Satu Dunia, dan entah apalagi, hingga nantinya Satu Sistem yang mereka kuasai.

Dari kalimat Ketua Komdis tadi, terlihat sangat takutnya dituduh keluar dari rel mereka. Hingga yang lucu, Kita takut untuk diembargo, dlsb.

Hingga persis seperti; Pemilik Sawah dan Lumbung Padi, yang takut dengan tengkulak.

Sapto Satrio Mulyo
Foto : Istimewa
Share:

Perfilman Indonesia dan Ronald Reagan

Hamburg (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman saya membaca buku-buku di sebuah perpustakaan di Hamburg, kala itu masih Jerman Barat. Dimana saya sempat membaca buku Laporan (Kebijakan setelah 25 Tahun Laporan Intelijen AS dapat dipublikasikan) yang menyatakan bahwa Ronald Reagan adalah agen CIA sejak muda, dan sengaja dimasukan ke Hollywood dalam rangka mengawasi aliran dana Rusia dalam pembuatan Film-film di Hollywood.

Singkat kata logika yang saya dapat, Film adalah alat untuk mengubah logika berfikir yang efektif. Artinya dalam rangka  "Revolusi Mental" yang dicanangkan oleh Bapak Joko Widodo, salah satu bahkan yang paling Esensial adalah memperketat Perfileman di Indonesia yang harus mengikuti Rel yang sejalan dengan Cita-cita Founding Father kita.

Gambarannya begini, kalau saja Pemerintah Amerika tidak jeli mengawasi, maka konsep Hak Azasi Amerika bisa-bisa didalamnya justru menerapkan nilai-nilai "Hak Azasi Rusia", yang mana Rusia kala itu, menerapkan Hak Azasi ala Rusia itu sendiri.

Film-film yang mayoritas ada di Indonesia saat ini, dapat dikatakan, mengarah pada pembelajaran nilai-nilai Asing, ketimbang Nilai-nilai Leluhur kita sendiri. Oleh karenanya kata-kata Gus Dur yang Pemikirannya sangat kita hormati, terpampang di pojok kanan Laman ini, hal ini untuk selalu mengingatkan kita, apa yang benar dan apa yang salah.

Jadi kita jangan disibukan oleh masuknya nilai-nilai asing dari Barat saja, tetapi menyitir kata-kata Gus Dur, maka kita juga harus mewaspadai nilai-nilai dari Arab, yang selalu menempatkan Kesalahan di Luar Dirinya, ditambah lagi dengan Standar Ganda-nya.

Makanya tidak heran sekarang banyak maling teriak maling.... "Karena logika kesalahan bukan pada saya", tidak heran juga ketika ditangkap KPK malah berakting bak Selebriti, senyum2 dan melambaikan tangan... (SSM) | Foto : Istimewa
Share:

Menteri Susi Kaulah Dambaan Nelayan NKRI

Bengkalis (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman singgah di Bengkalis sekitar tahun 2010-an, saya melihat betapa sedihnya ketika penguasa berpihak kepada Nelayan Asing, ketimbang Nelayan NKRI.

Padahal Nelayan di sana, sudah menggunakan Kearifan Lokal untuk mempertahankan kelangsungan rantai kehidupan ikan-ikan Kurau itu sendiri.

Mereka bahkan tidak serakah, memancing hanya dengan pancing rawai, pancing tradisional yang mereka gunakan hingga saat ini, karena patuh pada pesan Leluhur mereka, bahwa pola memancing dengan pancing rawai ini dapat menjaga kelestarian ikan-ikan kurau itu sendiri.

Mereka pun hanya berharap mendapat ikan yang beratnya tertentu, demi mempertahankan kelangsungan hidup ikan-ikan Kurau tersebut.

Tetapi apa yang dilakukan Negara tetangga dengan pukat harimau, hingga berdampak merusak karang-karang laut. Hal tersebut meski diketahui pemerintah setempat, mereka tidak bergeming untuk menghalaunya.

Singkat kata, semoga Menteri Susi juga tidak hanya melihat lautan yang luas, tetapi juga memperhatikan Nelayan-nelayan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Saya yakin, kalau mereka diberi haknya sebagai warga negara, mereka pun akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, hingga tercipta, nelayan membantu Aparat. Tidak seperti dahulu.... Nelayan takut kepada Aparat yang berpihak kepada???

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Menteri Susi Kaulah Dambaan Nelayan NKRI

Bengkalis (Indonesia Mandiri) - Sekilas pengalaman singgah di Bengkalis sekitar tahun 2010-an, saya melihat betapa sedihnya ketika penguasa berpihak kepada Nelayan Asing, ketimbang Nelayan NKRI.

Padahal Nelayan di sana, sudah menggunakan Kearifan Lokal untuk mempertahankan kelangsungan rantai kehidupan ikan-ikan Kurau itu sendiri.

Mereka bahkan tidak serakah, memancing hanya dengan pancing rawai, pancing tradisional yang mereka gunakan hingga saat ini, karena patuh pada pesan Leluhur mereka, bahwa pola memancing dengan pancing rawai ini dapat menjaga kelestarian ikan-ikan kurau itu sendiri.

Mereka pun hanya berharap mendapat ikan yang beratnya tertentu, demi mempertahankan kelangsungan hidup ikan-ikan Kurau tersebut.

Tetapi apa yang dilakukan Negara tetangga dengan pukat harimau, hingga berdampak merusak karang-karang laut. Hal tersebut meski diketahui pemerintah setempat, mereka tidak bergeming untuk menghalaunya.

Singkat kata, semoga Menteri Susi juga tidak hanya melihat lautan yang luas, tetapi juga memperhatikan Nelayan-nelayan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Saya yakin, kalau mereka diberi haknya sebagai warga negara, mereka pun akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, hingga tercipta, nelayan membantu Aparat. Tidak seperti dahulu.... Nelayan takut kepada Aparat yang berpihak kepada???

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Mensana in Corpore Sano Pembodohan Sistematis

Berlin (Indonesia Mandiri) - Didalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang kuat. itulah yang ada di catatan SD saya pada saat itu. Filosofi itu kita percaya, dan jalankan bertahun-tahun.

Sejenak harusnya kita berfikir, bahwa banyaknya Orang Gila yang badannya sehat, maka seharusnya filosofi tersebut harusnya sudah usang. Dan cenderung dapat kita katakan sebagai konspirasi marketing pabrik-pabrik VItamin besar dunia.

Pembodohan di atas, menyumbang konsep pemasaran vitamin yang notabene pabrik-pabriknya kala itu dimiliki asing, dapat dengan mudah menjual Vitamin produksinya.

Dilain pihak, anehnya hingga besar kita berfikir, beli Vitamin buatan pabrik asing, biar memiliki Jiwa yang sehat. Sadar tidak sadar,  kita terbuai dengan filofosi tersebut.

Mengapa mereka melakukan itu? Hal ini dikarenakan, bagi kita yang hidup di Indonesia ini, tidaklah susah untuk menjadi sehat. Hanya dengan mengkonsumi sayuran, buah-buahan, dan hewani yang ditanam atau dipelihara secara Kearifan Lokal, maka dapat dipastikan kita semua akan sehat.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Mensana in Corpore Sano Pembodohan Sistematis

Berlin (Indonesia Mandiri) - Didalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang kuat. itulah yang ada di catatan SD saya pada saat itu. Filosofi itu kita percaya, dan jalankan bertahun-tahun.

Sejenak harusnya kita berfikir, bahwa banyaknya Orang Gila yang badannya sehat, maka seharusnya filosofi tersebut harusnya sudah usang. Dan cenderung dapat kita katakan sebagai konspirasi marketing pabrik-pabrik VItamin besar dunia.

Pembodohan di atas, menyumbang konsep pemasaran vitamin yang notabene pabrik-pabriknya kala itu dimiliki asing, dapat dengan mudah menjual Vitamin produksinya.

Dilain pihak, anehnya hingga besar kita berfikir, beli Vitamin buatan pabrik asing, biar memiliki Jiwa yang sehat. Sadar tidak sadar,  kita terbuai dengan filofosi tersebut.

Mengapa mereka melakukan itu? Hal ini dikarenakan, bagi kita yang hidup di Indonesia ini, tidaklah susah untuk menjadi sehat. Hanya dengan mengkonsumi sayuran, buah-buahan, dan hewani yang ditanam atau dipelihara secara Kearifan Lokal, maka dapat dipastikan kita semua akan sehat.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Berita Menaker Naik Pagar dari Sisi Pembodohan

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mayoritas berita mengenai Menaker Hanif Dhakiri naik pagar sebuah tempat penampungan dari sebuah PJTKI, hanya dari sudut pandang yang bodoh, padahal saya yakin pewarta adalah orang-orang yang kritis.

Artinya kalau pewarta cinta dengan bangsa ini, akan lebih mewartakan dengan sebuah misi pembelajaran.

Singkat kata, Seorang Menteri yang membawahi bidangnya, dapat ditolak mentah-mentah oleh lembaga yang seharusnya patuh aturan.

Melihat kejadian di atas, secara singkat dapat dikatakan, yang sangat berwewenang saja berani mereka tolak, apalagi keluarga TKI, yang mungkin berubah pikiran untuk tidak mengizinkan anggota keluarganya untuk menjadi TKI.

Secara singkat dari kejadian diatas, hal tersebut di atas dapat dikatakan sebagai Penculikan Terorganisir. Karena sesudah masuk penampungan, susah untuk keluar, padahal aturannya jelas....

Memang pemberitaan yang seimbang saat ini, perlu dipertanyakan, apakah masih ada?.
Foto : Istimewa
Share:

Gerakan Penghilangan Situs Sejarah


Bekasi (Indonesia Mandiri) - Gerakan Penghilangan Situs Sejarah Indonesia memang sudah berlangsung sejak lama. Hal ini dilakukan dan dibiayai pihak Asing - terutama Duo AS, untuk meghilangkan Indentitas Bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang Besar, karena sebuah Bangsa bisa menjadi Bangsa yang Besar karena Bangsa Tersebut menghargai Sejarah Leluhurnya, dan bukan Sejarah Bangsa Asing. Pesan ini disampaikan dan disosialisasikan oleh Komunitas Perpustakaan.TanahImpian.web.id




Share:

Laman untuk Bangsa




Jakarta, (Indonesia Mandiri) - Disamping membuat IndonesiaMandiri.id, penulis juga membuat beberapa laman yang semuanya bertujuan untuk menyadarkan Bangsa ini, bahwa kita ini Bangsa Besar. Dimana mewujudkannya hanya dengan kita bersatu melawan nilai-nilai yang bukan nilai-nilai Leluhur kita sendiri.


Apapun alasannya, nilai asing yang masuk ke Bumi Nusantara ini, pasti dengan muatan kepentingan mereka, dan bukan kepentingan Bangsa Indonesia.


KotaSehat.web.id




Sebelum Indonesia menjadi Mandiri, yang Mandiri dalam Kemerdekaannya sendiri, kiranya perlu dimulai dari semua sisi masyarakatnya. Untuk mengedepankan sosialisasi pada Kota-kota agar memiliki lingkungan dan prilaku sehat di seluruh Indonesia.

SusuKaleng.pedia.my.id
Sebenarnya E Book "Susu Kaleng" adalah otokritik bagi kita semua, jika kita ingin menerapkan hak dan kewajiban dalam wilayah masing-masing gender (Dengan Menerapkan Nilai-nilai Asing Dalam Kesetaraan Gender Yang Sekarang Sedang Ingin Diterapkan), maka kita pun harus benar-benar melihat dari sisi kesetaraan hak dak kewajibannya.


Maka pertanyaannya timbul; apakah tidak ada interaksi yang ideal dalam mengelola wilayah masing-masing gender. Jawabannya; Leluhur kita sudah memberi contoh kepada kita, yakni dengan prilaku "Mimi Lan Mintuno..".


Perpustakaan.TanahImpian.web.id
Laman ini sengaja penulis buat, mengingat dari sejak kecil, di sekolah-sekolah kita sudah dijauhkan dari sejarah bangsa, bahkan kita dibutakan. Dengan cara, sistem pengajarannya yang tidak sistematis, dan tidak menyenangkan. Di negara-negara maju, anak-anak TK dan SD sudah dibiasakan untuk mengunjungi museum mereka. Untuk itu penulis mencoba, di Perpustakaan.TanahImpian.web.id, pola yang penulis buat adalah dengan tahun kejadian. Jadi, tidak ada lagi, dongeng yang masuk dalam sejarah, yang justru terkadang, dongeng tersebut yang mendominasi sejarah sebenarnya.


Karena kalau kita mengerti sejarah "Siapa Kita Sebenarnya", maka kita akan berpegangan tangan saling bahu membahu untuk menolak segala pengaruh asing, yang merusak nilai-nilai Kearifan Lokal, yang digantikan dengan nilai-nilai instant yang merusak diri kita sendiri.

Herbal.TanahImpian.web.id
Banyaknya pengobatan dengan pola virus komputer (Bangsa asing menyebar virus komputer terlebih dahulu, kemudian mereka tawarkan antivirusnya), membuat penulis tergelitik untuk mengumpulkan informasi dan data, mengenai obat-obatan alami asli Nusantara. Di Laman ini, penulis mencoba mengumpulkan obat-obatan alami yang memang tidak instant, tetapi tidak memiliki efek samping. Mayoritas isi dari website JakartaSehat.pedia.id diambil dari Laman ini.


Wisata.TanahImpian.web.id
Dalam berbagai kesempatan, kebetulan penulis diberi kesempatan untuk mengunjungi negara-negara lain, baik Asia maupun Eropa. Dimana, di sana promosi pariwisatanya sangat baik. Tetapi bukan hal itu, yang menjadikan obyek di sana juga lebih baik dari di Bumi Nusantara ini, bahkan menurut penulis secara obyek banyak sekali yang jelek. Hanya memang, dari segi pengelolaannya, mereka jauh lebih baik.

Dengan alasan tersebut di atas, olehkarenya Laman ini penulis buat untuk dapat memberikan informasi, bagaimana hebatnya pariwisata di Bumi Nusantara ini....


IndonesiaMandiri.id
Dalam mewujudkan Bangsa yang besar, dan lepas dari pengaruh nilai-nilai budaya Asing yang masuk ke Indonesia, kita pun jangan lupa bahwa Politik Dalam Negeri kita sedang mengalami perubahan yang teramat sangat. Kadang bahkan keluar dari apa yang telah ditetapkan oleh Founding Father Bangsa ini. Untuk itu, kita perlu sedikit banyaknya memperhatikan bidang politik ini.


Sapto Satrio Mulyo



Share:

Berantas Korupsi Pemberitaan !!!

Bekasi (IndonesiaMandiri) - Korupsi di Indonesia ternyata tidak saja dari sisi memanipulasi uang rakyat, tetapi lebih parah dan tidak terlalu kasat mata adalah banyaknya penyiaran Pers yang dimanipulasi. Sehubungan Revolusi Mental yang akan dicanangkan, hal ini adalah permasalahan nomor 1 yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Agar kita tidak salah kaprah untuk menganalisisnya, kira perlu pertama-tama kita membicarakan sedikit teorinya, dari pendekatan sosiologis, yakni;

Menyitir dari deskripsi Allan Jhonson (Wikipedia, ensiklopedia bebas-Sosiologi23/02/2008), mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi system tersebut.

Adapun hubungan sosial tersebut, dapat terjadi karena adanya kontak dan interaksi dari berbagai perilaku manusia, inilah yang disebut sebagai interaksi sosial.

Dengan demikian, perbuatan korupsi merupakan salah satu konsekuensi dari interakasi antar individu baik dalam bentuk individu maupun kelompok yang merupakan wujud dari penyimpangan sosial.

Jadi, ketika salah satu pihak melakukan suatu tindakan penyimpangan dan tindakan menyimpang tersebut merugikan pihak lain, maka tindakan individu atau kelompok tersebut dapat dikatakan sebagai suatu tindakan korupsi.

Dari dasar pemikiran tersebut, jelas kita lihat bahwa dari mulai "Kebebasan Pers" diberlakukan di era Reformasi, hingga saat PilPres, yang sangat kental dengan korupsi Pemberitaan ini, semestinya kedepan, Korupsi Pemberitaan harus dapat ditindak dengan tegas.

Hal ini mengingat, bahwa koruptor yang korupsi uang Negara, dampaknya sangat merugikan masyarakat banyak. Begitu pula, bahkan lebih merugikan dari Korupsi konvensional ini adalah, Korupsi Pemberitaan.

Kosupsi Pemberitaan dampaknya pada kelangsungan Pola Pikir Bangsa ke depan, bahkan Korupsi Pembeitaan dapat membuat Bangsa ini memiliki Pola Pikir Korupsi, yang akan memusuhi orang-orang yang tidak korupsi itu sendiri.

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Akankah SBY Jadi Seorang Negarawan ?

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Melihat sepak terjang SBY belakangan ini, dan melihat tulisan saya mengenai "Politisi Politikus vs Politisi Negarawan". Ibaratnya, karir akhir seorang Milioner adalah kekayaan sangat besar, hingga ia dapat dikenang sepanjang masa, seperti Rockefeller, Onasis, dslb.

Sementara karir akhir seorang Politisi adalah dianugerahi oleh masyarakat Negaranya dan diakui oleh seluruh Dunia gelar non formal sebagai Negarawan. Seperti; Bung Karno, George Washington, Kenedi, dlsb.

Mengapa saya bilang non formal, karena gelar tersebut bukan pemberian sebuah lembaga, yang akhir2nya dapat dibeli.

Contoh konkrit adalah Presiden kita ke 2, dimana beliau sudah merekayasa masyarakat untuk menganugerahi gelar Bapak Pembangunan, sebagai sarana untuk menuju sebutan Negarawan. Tetapi hingga kini, hanya anteknya saja yang menyebut beliau adalah Negarawan, tetapi bagi orang yang melek politik, jangankan Negarawan.....

Dan selain dari tulisan saya "Politisi Politikus vs Politisi Negarawan", yang perlu diingat, bahwa seorang Negarawan tidak pernah main dua kaki untuk kepentingan Bangsanya sendiri dalam menghadapi musuh politiknya di dalam negeri.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Akankah SBY Jadi Seorang Negarawan ?

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Melihat sepak terjang SBY belakangan ini, dan melihat tulisan saya mengenai "Politisi Politikus vs Politisi Negarawan". Ibaratnya, karir akhir seorang Milioner adalah kekayaan sangat besar, hingga ia dapat dikenang sepanjang masa, seperti Rockefeller, Onasis, dslb.

Sementara karir akhir seorang Politisi adalah dianugerahi oleh masyarakat Negaranya dan diakui oleh seluruh Dunia gelar non formal sebagai Negarawan. Seperti; Bung Karno, George Washington, Kenedi, dlsb.

Mengapa saya bilang non formal, karena gelar tersebut bukan pemberian sebuah lembaga, yang akhir2nya dapat dibeli.

Contoh konkrit adalah Presiden kita ke 2, dimana beliau sudah merekayasa masyarakat untuk menganugerahi gelar Bapak Pembangunan, sebagai sarana untuk menuju sebutan Negarawan. Tetapi hingga kini, hanya anteknya saja yang menyebut beliau adalah Negarawan, tetapi bagi orang yang melek politik, jangankan Negarawan.....

Dan selain dari tulisan saya "Politisi Politikus vs Politisi Negarawan", yang perlu diingat, bahwa seorang Negarawan tidak pernah main dua kaki untuk kepentingan Bangsanya sendiri dalam menghadapi musuh politiknya di dalam negeri.

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Hidup!!! Timnas U-23

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Atas nama seluruh anggota IndonesiaMandiri.web.id mengucapkan salut sebesar-besarnya, atas persembahan perjuangan Timnas U-23 pada Final SEA Games tanggal 21 November 2011, di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kami bangga pada Timnas U-23 yang berjuang pantang menyerah.

Kami pun bangga pada Team Pelatih, yang dapat membuktikan, bahwa Anda semua tidak kalah dengan pelatih-pelatih import, yang selama ini dielu-elukan oleh sekelompok orang yang tidak percaya diri.

Ayo kita Mandiri, dengan Pemain dan Pelatih WNI.

Share:

Pejuang Sondang dan Pejuang Rahmad Darmawan

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mungkin Anda bingung, melihat judulnya, apa hubungannya? Hubungannya adalah, mereka adalah benar-benar manusia Indonesia asli.

Hal ini dikarena bahwa, Sondang dan Rahmad Darmawan melaksanakan nilai-nilai asli Nusantara, yakni; KMK (Kompromi, Melawan - mbalelo, dan Keluar - Bedol Desa).

Sondang memang masih muda, tetapi Naluri Politik-nya tumbuh begitu jernih, sesuai nilai-nilai budaya Nenek Moyang - KMK. Tembok besar yang dijaga oleh para Politisi Politikus yang sudah terkontaminasi oleh pengaruh budaya Duo AS. Membuat dirinya melakukan Perlawanan Terakhir-nya.

Prilaku Sondang dengan ketulusannya Berjuang untuk Bangsa kita, mengingatkan kita tentang patriotisme. Begitu pula yang dilakukan oleh Rahmad Darmawan, guna melindungi dan memperjuangkan anak didiknya, dirinya harus melakukan Bedol Desa. Cerminan Nasionalisme dari Rahmad Darmawan, terlihat dari caranya menyaring para pemain bola U23,  agar dapat berlaga secara maksimal pada Sea Games 2011. Sondang dan Rahmad Darmawan selalu berfikir untuk Bangsa ini, dan bukan untuk dirinya atau golongannya.

Saya yakin, bagi penghianat nilai-nilai dasar Bangsa, mereka pasti mencibirkan tindakan kedua Pejuang di atas. Mengapa demikian?

Ya kalau kita baca dan ikuti laporan-laporan Pemilu dari waktu ke waktu, ternyata pergerakan Golongan Putih semakin menjadi favorit pilihan bagi masyarakat yang sadar, tentang ada tidaknya informasi yang benar yang mereka terima saat kampanye.

Ayo pertebal nilai-nilai dasar Nenek Moyang. Karena sampai sekarang, masih belum ada lagi Politisi Negarawan yang lahir kembali di bumi kita, setelah Bapak Bangsa kita "Bung Karno"

Sondang dan Rahmad Darmawan adalah dua sosok yang meski perjuangannya tidak bisa dibandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi mereka sama-sama  mengingatkan kita semua, bahwa sudah waktunya memulai, untuk kembali ke Nilai-nilai Bangsa yang Luhur.

Mari Bung untuk berjuang sendiri-sendiri, dalam satu nilai dan tujuan yang sama. Apapun bentuknya, selama dalam jalur nilai-nilai Luhur Bangsa ini, dan bukan nilai-nilai Duo AS. Kita pasti bisa bangkit kembali, seperti Bangsa Atlantis - Nenek Moyang Kita.

Karena Perjuangan Bangsa Besar, bukanlah perjuangan yang dipimpin oleh Pemimpinnya, tetapi Perjuangan Yang Dipimpin oleh Nilai-nilai akar Budaya Bangsa itu sendiri.

Sebelum masuknya pengaruh asing, baik Amerika Serikat maupun Arab Saudi (Duo AS), kita adalah Bangsa yang Berbudi Luhur.

Sapto Satrio Mulyo, 14/12/2011

Share:

Kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Memang, untuk kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa Indonesia yang Luhur, bukanlah hal yang mudah.

Banyak sekali variabel yang harus dikembalikan lagi ke Nilai-nilai itu sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba melihatnya dari sisi Bahasa sehari-hari saja. Dari sisi sini, salah satunya yang paling kita tidak sadari adalah penggunaan Bahasa Asing.

Mengapa koq "Bahasa," karena bahasa itu merupakan pola pikir dasar sebuah Bangsa atau masyarakat. Contoh yang gampang, konon bahasa Tetun (Bahasa Asli Timor Timur) itu tidak memiliki kosa kata "Terimakasih." Kata terimakasih diambilnya dari bahasa Portugis.

Dari sepenggal kata "Terimakasih" tersebut, saya rasa kita sudah bisa mendapat gambaran, bagaimana mereka berinteraksi untuk mengatakan Terimakasih? Apakah perbuatan orang baik kepada dirinya sebuah kewajiban, hingga tidak perlu ada kata Terimakasih, atau memang orang di sana hidup begitu individualnya, sehingga tidak perlu ada kata terimakasih.

Lagi-lagi dari sepenggal kata, masyarakat dapat membentuk atau dibentuk pola pikirnya. Untuk itulah, saya mencoba untuk sedikit mengkritisi dan mengajak seluruh orang yang tinggal di Bumi Nusantara ini, untuk mencoba kembali menggunakan Bahasa dan Kosa Kata Indonesia saja.

Jika di Bahasa Indonesia tidak ada kosa kata yang dibutuhkan oleh kemajuan pergaulan Bangsa ini, coba cari padanannya pada Bahasa Daerah kita sendiri yang memiliki jumlah kurang lebih 746 Bahasa Daerah. Seperti Download menjadi Unduh, dan Upload menjadi Unggah.

Penyimpangan penggunaan kosa kata Bahasa Asing ini, banyak orang yang hanya melihat atau meng-kritisinya pada penggunaan Bahasa Inggris saja. Sementara, banyak juga penggunaan Bahasa Arab di dalam komunikasi masyarakat.

Kalau itu kosa kata yang tidak berhubungan dengan Pola Pikir, syah-syah saja untuk digunakan. Tetapi, jika kosa kata tersebut menyangkut atau mempunyai makna "Pola Pikir dan Pola Gerak," hal inilah yang tidak boleh terjadi.

Saya sendiri memang bukan seorang ahli bahasa, bahkan awam dengan berbagai ilmu bahasa, tetapi dengan menggunakan perasaan saja, kita sudah dapat merasa, adanya kekuatan bahasa, dalam merubah "Pola Pikir dan Pola Gerak" Bangsa ini, jika kita biarkan saja.

Dalam keseharian, banyak orang atau media yang memperkenalkan kata "passion / gairah" padahal konsep kosa kata terebut ada dan sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Tetapi karena media turut menyebarkan, sebagai gaya hidup, maka banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Passion" tapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Di lain pihak, ada juga kata "Suuduzon / Prasangka" padahal konsep kosa kata ini pun sudah ada dalam Bahasa Indonesia, tetapi lagi-lagi media turut menyebarkan melalui penyiar-penyiar yang sadar atau tidak, bahwa mereka telah menggunakan Bahasa Asing. Lagi-lagi, banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Suudzon" tetapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Dari dua contoh kosa kata tersebut, jelas bahwa kekuatan Asing akan dengan mudah me-redefinisi kata-kata milir mereka yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat luas demi kepentingannya.

Kita kadang tidak sadar bagaimana peran bahasa dapat mengombang-ambingkan atau mencuri perhatian masyarakat luas, untuk menjadi sesuatu.

Kalau kita tidak mengerti kata "Galau", maka kita tidak perlu "Galau", tetapi karena "Galau" dibuat menjadi trend maka pada saat itu pula banyak ABG yang "Mencari Perhatian" dengan menerapkan konsep "Galau"

Silahkan Anda renungkan.....

Foto : kebudayaan.kemdikbud.go.id
Share:

Puas.....!!!!

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Puas...., kata yang terlontar dari hasil wawancara Mendikbud Mohammad Nuh dengan tersangka pembunuh pada saat tawuran pelajar terjadi.

Miris kita mendengarnya, bahwa remaja

sekarang memiliki kepuasan setelah membunuh "Musuhnya." Sementara kalau si pelaku pembunuhan tersebut dikirim ke Medan Perang untuk membela negara, mungkin ia menolak dengan berbagai alasan.

Lalu ia mengidap keberanian yang seperti apa? Kalau kita mencoba melihat dua tulisan para penulis IndonesiaMandiri.com sebelumnya; "Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung dan Duo AS Memiliki Teman Baru", mungkin Anda semua akan mudah memahaminya, mengapa hal ini bisa terjadi, di bumi yang tadinya dipenuhi oleh Nilai-Nilai Luhur para Leluhur Bangsa Kita.

Beginilah jadinya, kalau kita tidak mengikuti dan menerapkan Nilai-nilai Lokal yang ada sudah sejak Bangsa ini eksis. Semua ingin dengan hal-hal yang import.

Benci kah kita mendengar pernyataan "Tersangka Pembunuh" tersebut? Jawabannya adalah, dia (baca: Tersangka) hanyalah korban dari kita yang membiarkan Budaya ke Tiga Bangsa itu tumbuh di Indonesia.

Mari kita renungi, dan lakukan yang dapat kita lakukan, jangan mudah menghujat.... seperti Ketoprak DPR (baca: Diatas Penderitaan Rakyat) yang mudah saling menghujat.

Hal ini dikarenakan, budaya AS Timur Tengah yang selalu menempatkan kesalahan di luar dirinya, sehingga orang lain saja yang salah, sementara untuk dirinya mereka menerapkan standar ganda....

Renungkan dan kembali ke Nilai-nilai Leluhur saja, bukan yang lain....

Sapto Satrio Mulyo

Share:

Selamat Natal

Menteri Agama: “Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal”

Pro dan kontra soal ucapan selamat Natal oleh kaum Muslim, akhirnya dijawab oleh MenAg Suryadharma Ali.

Mengucapkan “Selamat Natal” oleh kaum muslimin kepada umat Nasrani hukumnya Halal.

“Pemerintah mendorong terciptanya kerukunan umat beragama. Jadi tidak ada masalah memberi ucapan selamat Natal. Ya, itu halal,” tegas Suryadharma Ali, Senin (24/12/2012).

Menurut Menteri Agama, penegasan itu perlu disampaikan karena ada pendapat sebagian ulama yang menyebut mengucapkan Selamat Natal adalah haram.

“Ini soal interpretasi masing-masing dan sumbernya Al Qur’an, Sunnah dan ‘Ijma (kesepakatan para ulama). Perlu kita lihat. Tapi pemerintah tidak pernah mempersoalkan. Ini wujud toleransi yang kita bangun,” tegas Suryadharma Ali.

Sumber : http://www.lensaindonesia.com/2012/12/24/menteri-agama-mengucapkan-selamat-natal-hukumnya-halal.html

Share:

Membawa Telepon Genggam ke Sekoah = Citizen Journalism

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Belakangan ini marak beredar video porno di kalangan sekolah, yang menyebar secara luas. Hal ini tentunya memusingkan semua pihak.

Karena betapa tidak, yang beberapa tahun lalu mewabah pada kalangan SMA, kini ternyata anak-anak SMP pun sudah pandai membuat film porno, mungkin beberapa saat lagi kalangan SD....

Semua bingung, harus mulai darimana???

Memulai dengan pelarangan membawa HP ke sekolah??? Kalau jawabannya ini, maka logika berfikir kita sudah benar-benar terjajah, yang mengepankan kesalahan di luar dirinya, bukan intropeksi.

Penjajah (Baca: Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung) selalu memiliki hukum yang memudahkan mereka untuk Memanipulasi Pola Pikir Bangsa Ini. Yang pada akhirnya terbawa sampai sekarang...., antara lain:
  • Korban Narkoba dijadikan penjahatnya, sementara Bandarnya (yang penjahat beneran) bisa enak berkeliaran...

  • Pembeli Motor Curian (yang notabene seorang pembeli awam) justru dijadikan sebagai penadah, sementara pencurinya enak berkeliaran

  • Membongkar mal praktek, justru dijadikan terdakwa pencemaran nama baik.... dan masih banyak lagi.....

Dalam kasus "Rusaknya Prilaku Peserta Didik", sebenarnya kesalahan ada pada "Sistem Pendampingan Pendidikan Nasional" itu sendiri, tetapi mengapa justru yang dikambinghitamkan adalah "Telepon Genggam"

Kalau diumpamakan, "Telepon Genggam" itu adalah "Sarana Kebebasan Pers", maka dengan aturan Larangan Membawa Telepon Genggam, adalah upaya membunuh "Kebebasan Pers" itu sendiri.

Sebab diharapakan, dengan tidak adanya Telepon Genggam akan menghilangkan informasi yang keluar ke Masyarakat mengenai kebobrokan "Sistem Pendampingan Pendidikan Nasional" pada masing-masing sekolah yang bersangkutan.

Jadi sebaiknya, justru setiap anak diwajibkan untuk membawa Telepon Genggam Kamera, sehingga orang tua tidak merasa rugi, telah membayar biaya sekolah yang besar, tetapi hasil "Pendidikannya Tidak Memuaskan".

Dengan adanya Telpon Genggam Berkamera yang dibawa masing-masing peserta didik, paling tidak mereka dapat menceritakan kebaikan atau kebobrokan kondisi sekolah mereka masing-masing kepada Orang Tua mereka yang telah membayar biaya pendidikan yang mahal, atau bagi Negara yang sudah mengeluarkan biaya yang besar bagi sekolah-sekolah Negeri.

Dengan demikian, orang tua dapat gambaran yang utuh mengenai kondisi sekolah anak-anak tercintanya. Mengenai kebersihan toiletnya, misalnya..... dlsb..... Jadi jangan tutup saluran berita keluar, tetapi dampingi dan didiklah peserta didik dengan baik dan benar.... Untuk itu kita perlu memiliki Kiat yang cermat.

Marilah Kita Tinggalkan Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, yang merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung tersebut, dan kembali kepada pola berfikir Pancasila. Dengan menerapkan kembali kurikulum "Budi Pekerti", maka perkembangan Citizen Journalism di lingkungan sekolah akan membawa angin segar dalam proses Belajar Mengajar yang baik dan benar pula....

Dapat dipastikan hasil atau produk dari Citizen Journalism para peserta didik menjadi sarana pengawasan dari kemungkinan adanya penyimpangan di sekolah yang bersangkutan itu sendiri.

Sapto Satrio Mulyo
Foto : Istimewa
Share:

Pilpres 2014: Melawan Logika Berfikir Arabis

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Sebuah fenomena Pemilu di Indonesia, dimana begitu banyak orang yang tersadarkan diri, untuk turut berpartisipasi dalam Pilpres 2014, ketika melihat 2 calon yang berhadapan.

Dari Pilpres 2014 pula kita dapat melihat konstelasi politik yang cukup jelas, antara yang Pancasilais dengan yang Arabis.

Untungnya Alam atas Kehendak Tuhan Yang Maha Esa, masih berpihak kepada orang-orang yang benar-benar membela Eksistensi Bangsa ini.

Ayo kaum Pancasilais untuk tetap berjuang, agar Bangsa ini tetap dipimpin oleh orang-orang yang benar-benar cinta dengan Bangsanya sendiri, dan tidak menghianati Bangsanya sendiri, demi keuntungan dirinya dan bangsa lain.

Sumber Gambar : Istimewa

Share:

Pancasila adalah Nilai-nilai Warisan Leluhur

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Mengapa Founding Fathers kita menetapkan Pancasila sebagai Azas Berbangsa dan Bernegara NKRI?

Karena, Pancasila adalah nilai-nilai yang diambil dari nilai-nilai Leluhur kita.

Bagi yang masih mengakui bangsa Indonesia adalah dari keturunan Manusia Nusantara, seyogyanya paham benar dengan hal tersebut. (Baca : Perpustakaan. TanahImpian.web.id)

Bagi yang tidak mengakui Pancasila sebagai nilai-nilai warisan Leluhur, dan tidak mau menerapkannya, lepaskan saja Warga Negara Indonesia Anda...

Bagi Ormas atau Partai yang tidak ingin menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas dapat dipastikan mereka adalah antek dari negera asing yang membiayainya.

Mengapa ktia diam saja, kalau ada kelompok yang ingin menggantikannya dengan nilai-nilai impor??? (SSM)
Share:

Mandiri dalam Kemerdekaan

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Bersama-sama mewujudkan "Kemerdekaan NKRI" dari Kolonialisme Asing dan Penghianat Bangsa Sendiri. Untuk itu, kami perlu menghimbau, agar:

  • Untuk bersama-sama mengamalkan Pancasila secara utuh dan konsekwen, dalam kehidupan sehari-hari
  • Kembali ke UUD 45
  • Lepas dari penjajahan Budaya Asing, baik Budaya Barat maupun Budaya Timur Tengah
  • Menghapus UU yang masih berorientasi pada peninggalan UU Kolonial manapun, dan menggantikannya dengan UU produk dalam negeri, berdasarkan Pancasila dan UUD 45
Share:

Masih Adakah Pahlawan di Indonesia Yang Tidak Korupsi?

Jakarta (Indonesia Mandiri) - "Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya." Itu adalah kalimat yg perlu diingat & direnungkan, Pidato Bung Karno pada Hari Pahlawan 10 November 1961.

Membaca kalimat tersebut pada saat ini, membuat kita terus bertanya? Apakah masih ada Pahlawan di dalam lingkungan politik Indonesia? Setahu saya sekarang ini, yang ada di dalam Lingkaran Masyarakat Internal Sistem Politik di Indonesia, semuanya hanyalah Politisi Politikus. Sudah tidak ada lagi Politisi Negarawan. Karena semua Politisi Politikus takut, senang dan bahkan berselingkuh dengan "Uang".

Terakhir mungkin hanyalah Bung Karno, pemimpin yang memiliki predikat Politisi Negarawan. Karena Soeharto meninggalkan Sistem Kapitalistis, atau bahkan sebagai pelopor Kapitalis Kropos di Indonesia. Pada saat Soeharto, Pancasila dan UUD'45 hanya dijadikan pagar kedua setelah Jargonnya yang terkenal "Stabilitas Nasional demi Pembangunan Nasional".

Kenapa sebagai pagar kedua, karena jika ia tidak bisa membuktikan pelanggaran lawan-lawan politiknya terhadap "Pembangunan Nasional," maka ia melegitimasinya dengan Pancasila dan UUD 1945 (ini perlu pembahasan tersendiri).

Dengan berlindung di belakang "Stabilitas Nasional", maka Soeharto dengan mudahnya membabat habis, semua lawan politiknya. Tidak sampai di situ, Pancasila dan UUD'45 dijadikan sebagai Hafalan Belaka (Tidak diterapkan seutuhnya), dimana Soeharto menerapkan hal lain, yakni Sistem Yang Cenderung Kapitalistis (Seperti Negara-negara Barat), dan Otoriter (Seperti Negara-negara Komunis) pada saat bersamaan. Sehingga pada saat itu, sebenarnya kalau kita jeli, "Pancasila dan UUD 1945", dan "Stabilitas Nasional" merupakan proses pembenturan nilai-nilai pola pikir bawah sadar kita. Yangmana, kasat mata seolah ia ingin melestarikan "Pancasila dan UUD 1945", tetapi sebenarnya merupakan proses pembusukan terhadap Pancasila dan UUD 1945 itu sendiri.

Rancangan Embrio "Bom Waktu" ini didorong dan dibiayai oleh Duo AS, untuk mendorong pengrusakan makna yang terkandung di dalam Pancasila dan UUD 1945 dari dalam bangsa Indonesia sendiri. Hal ini terbukti, setelah ia lengser, terjadi desakan yang sangat besar terhadap pelaksanaan  Amandemen UUD 1945. Dengan Amandemen, maka prosesnya dapat dibeli oleh Duo AS. Terbukti lagi, sistem pemerintahan sekarang ini kocar-kacir.

Jadi jelas, mulai sejak lengsernya Bung Karno, tidak ada lagi Pahlawan di Indonesia yang lahir di lingkungan Politik Praktis yang bersih dari pengaruh dan pembiayaan Duo AS. Justru yang masih mungkin adalah, Pahlawan yang lahir di desa-desa yang masih bersih dari Polusi Udara maupun dari "Polusi Politicking"

Dengan demikian, kita harus sadar-sesadar-sadarnya, bahwa Taman Makam Pahlawan hanya diperuntukan bagi sisa-sisa pejuang 1945, atau bahkan bagi Pejuang Kearifan Lokal Indonesia yang ada di desa-desa. Sebab jika masih ada Politisi Politikus yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, maka sama saja kita melegitimasi bahwa nilai-nilai Korupsi itu adalah Pahlawan.

Sapto Satrio Mulyo
Share:

Mewakili Golonngan / Antek Asing?


Bekasi (Indonesia Mandiri) - Mewakili Golongan / Mewakili Antek Asing? Pilihan tersebut, pastilah salah. Seharusnya mewakili aspirasi Bangsa-nya sendiri. Apalagi kalau kita berangkat dari arti yang luas, mengenai Fatsun Politik Demokrasi.

Mengapa sekarang politisi sangat sulit untuk berjalan di rel Fatsun Politik Demokrasi? Karena secara umum dapat digambarkan sebagai berikut....

Fatsun politik merupakan tatakrama atau etika politik yang tidak tertulis, akan tetapi sangat jelas bagi setiap orang yang  punya Komitmen terhadap  Perjanjian dan Komitmen terhadap nilai-nilai Demokrasi.

Dalam hubungannya dengan fatsun politik, Komitmen terhadap Koalisi juga harus ada, walaupun setiap partai politik dalam koalisi mempunyai aspirasi yang berbeda-beda, tetapi apabila sudah bersepakat berkoalisi, maka harus ada etika-etika yang perlu dihormati, dan ditegakan bersama.

Keluar dari koalisi dan menjadi oposisi, tanpa diikuti pengembalian fasilitas yang didapat dari keikusertaannya di Koalisi, adalah sebuah sikap oportunis dan penghianatan, dalam kacamata Fatsun Politik. Tetapi memang, jika mereka sebagai Antek Asing, tentunya ini bukan masalah.

Sebaliknya, Pemerintah Berkuasa juga harus menjalankan Fatsun Politik, dan konsisten dalam mensejahterakan Rakyat-nya. Karena jelas kita menyaksikan, bagaimana Penguasa melindungi kadernya yang korupsi, di setiap persoalan besar yang masuk ke ranah hukum. Dan juga, jangan berada di bawah bayang2 Tangan-tangan Asing pula.

Jika kita menengok kebelakang, bahwa di zaman peralihan Soekarno ke Soeharto, banyak sekali gosip atau rumor yang dapat dibaca, bahkan memang kenyataan, bahwa banyaknya politisi saat itu yang sudah menjadi Antek Asing.

Kejatuhan Soekarno, merupakan rentetan rekayasa Asing melalui Antek-anteknya yang ada di Elit Politik saat itu, bahkan ada di jajaran Pemerintahan itu sendiri.

Mulai dari zaman Soeharto ke sini, kita sudah tidak mendengar lagi gosip mengenai Antek Asing, karena mungkin kuantitas Antek Asing sudah terlalu banyak, dan jadi mereka tidak mungkin melempar isu Antek Bangsa Sendiri, hehehe.....

Di sisi lain, kita sama-sama tahu bahwa, demonstrasi terkadakang tidak murni, tetapi di dalamnya ada Tangan-tangan lain yang memanfaatkan keadaan, atau bahkan sudah mengkondisikannya terlebih dahulu.

Jadi sekarang ini sudah semakin rumit, kalau dulu Penghianatan ada di tingkat elit, kalau sekarang ada di masyarakatnya juga, karena dua-duanya sudah bisa dibeli pakai uang.

Di tingkat elit, Tangan-tangan Asing dapat membeli (Membiayai) dengan mendorong pembuatan Peraturan yang memihak kepada Mereka (Duo AS). Di tingkat masyarakat, Tangan-tangan Asing pun dapat membeli (Membiayai) masyarakatnya untuk berdemo, agar opini memihak kepada Mereka juga.

Warna Tangan-tangan Asing pun yang berpengaruh di Indonesia dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok besar, yakni kelompok Amerika Serikat di satu sisi, dan kelompok Arab Saudi di lain pihak (Duo AS). Tidak percaya? Lihat saja "Gaya Hidup Masyarakat Perkotaan di Indonesia" Dalam berpakaian misalnya,  pilihannya pasti hanya dua, sementara pakaian Tradisional sudah ditinggalkan. Padahal Gaya Hidup yang sekarang digandrungi oleh masyarakat perkotaan  Indonesia itu, adalah pakaian Tradisional-nya Mereka.

Mari kita selamatkan Bangsa ini, dengan kembali pada nilai-nilai Kearifan Lokal, yang mencintai dan menyayangi saudara-saudaranya sendiri. Bukan "Menyayangi dan Mencintai Uang Bangsa Asing Dan Memusuhi Bangsa Sendiri", seperti sekarang ini.

Sapto Satrio Mulyo - Berlin 2004 - 2006
Foto : Istimewa
Share:

Rusaknya Logika Berfikir Bangsa

Jakarta (Indonesia Mandiri) - Berangkat dari renungan, mengenai banyaknya penghianat di Negeri ini, saya mencoba melihat kepada apa akar masalah yang sangat esensial itu. Pola perampokan kelompok-kelompok, atau agen-agen asing terhadap Kekayaan Alam Indonesia ini, melalui tahapan-tahapan yang sungguh sangat licik.

Mulai dari pelecehan sistem ekonomi dan politik, hingga turut campur tangan mereka terhadap proses perubahan UUD 1945 dan Pancasila. Membuat kita bertanya, celah mana lagi yang mereka akan, atau bahkan sudah mereka lakukan dalam rangka pengkroposan fondasi nilai-nilai Pola Pikir Bangsa ini, agar lebih memihak kepada mereka hingga di bawah alam bawah sadar kita.

Coba kita sedikit berkelakar dengan kata-kata Pelecehan Mentalitas. Kita sering dengar, bahwa orang  mengatakannya dengan "Dasar Mental Tempe". Padahal kita tahu, bahwa Tempe adalah makanan yang telah diakui Dunia, bahwa sebagai makanan yang sangat bervitamin dan bermanfaat.

Alasannya :

  • Mereka ingin kita tidak menyukai Tempe yang notabene Kuliner Asli Bangsa Sendiri.
  • Mereka ingin kita tidak sehat, dengan menyantap makanan dari mereka, seperti; Hamburger dan Kebab, yang notabene kandungan sampah dan racunnya lebih banyak daripada vitamin dan manfaatnya. Oleh karenanya mereka sendiri sebetulnya menyebut sebagai Junk Food (Makanan Sampah).
  • Mereka ingin membuat Komparasi Pemikiran di Bawah Sadar, makanan yang begitu bermanfaat saja yang milik Bangsa ini, merupakan makanan yang hina untuk dikonsumsi.
  • Mereka ingin mengkontradiksikan Pemikiran diantara kita sendiri, yang pada akhirnya secara dibawah sadar akan menimbulkan konflik-konflik yang ditimbulkan oleh rasa "minder wardeg komplek" itu sendiri.
  • Dan masih banyak lagi.........

Di atas, kita sudah mengkritisi tentang Pelecehan Mentalitas Bangsa. Kini saya ingin mengajak saudara-saudara saya untuk berfikir lebih kritis sedikit lagi mengenai Pelecehan Prilaku.

Kita sering mendengar, seseorang yang marah kepada orang lain, dan menganggap orang  tersebut tidak berakhlak, adalah dengan perkataan "Dasar Anjing", bukan "Dasar Kucing". Padahal kalau kita kritisi, Anjing (Anjing adalah hewan yang domestikasi Nusantara) adalah binatang yang sangat loyal terhadap tuannya, dan tidak pernah berhianat. Sementara Kucing (kesayangan orang timur tengah) adalah binatang yang tidak pernah loyal terhadap tuannya, dan selalu berhianat. Kalau tidak ada muatan kepentingan dari orang-orang timur tengah, mengapa koq dibolik-balik?

Alasannya :

  • Mereka ingin kita pun salah mempresepsikan mana yang benar, dan mana yang salah.
  • Mereka juga ingin mengajarkan kita untuk menilai orang lain, cukup dari penampilannya saja, sementara ada pepatah "don't judge book from the cover". Yang justru membuat kita mudah dibohongi. (Catatan : Kucing Tampak memang Lebih Lembut dibanding Anjing).
  • Mereka ingin kita bergaya pakaian (cover) seperti mereka, seolah tampak alim.
  • Mereka ingin kita menjadi mispersepsi dalam menilai prilaku. Sehingga "Prilaku" dapat di-dogma-kan oleh mereka, atau menjadi komoditas mereka.
  • Dan masih banyak lagi.........

Tempe, dan Anjing adalah salah satu Contoh saja, bagaimana mereka begitu cerdasnya memutarbalikan atau merusak Pola Pikir kita, hingga sampai ke alam bawah sadar.

Dengan demikian, jika Anda mendukung gerakan "Mandiri Dalam Kemerdekaan / Indie for Freedom", maka sewajarnya kita mengubah jargon-jargon yang beredar di seluruh pelosok Nusantara, dengan pemikiran yang cerdas. Seperti : "Dasar Mental Kebab / Mental Hamburger" dan buat orang-orang yang suka berkhianat kita juga bisa bilang "Dasar Kucing". Ini semua bukan fitnah, tetapi berdasarkan data dan fakta yang ada.

Tidak sampai di situ saja, mereka terus mencoba untuk menghancurkan Bangsa ini sampai sehancur-hancurnya, dengan meniadakan definisi bagus dan baik di otak kita.

Contohnya, Anda pun bisa membuktikannya sendiri dengan melihat kamus Indonesia-indonesia, ada beberapa Kamus tersebut yang dijual di Toko-toko buku ternama di Indonesia, yang tidak memiliki kosa kata "Kemampuan".

Ini jelas, ingin menghilangkan definisi ketahanan Bangsa ini, terhadap eksistensi Bangsa ini untuk bisa dan tetap unggul di antara bangsa-bangsa lainnya. (Baca: TanahImpian.info)

Tulisan ini hanyalah sekelumit contoh, dan saya yakin masih banyak lagi nilai-nilai kita yang sudah, sedang, dan bahkan akan dikacaukan oleh Duo AS.

Sapto Satrio Mulyo, 06/04/2012

Share:
Peradaban Atlantis, pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM). Lihat pula tulisan saya di TanahImpian.info

dalam bukunya yang berjudul "Critias dan Timaeus". Dalam buku Timaeus, Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis.

Dalam buku Critias, adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialognya. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe, yaitu moyang lelaki Critias. Sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM).

Garis besar kisah pada buku tersebut adalah, ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas, dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas, dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya yang sangat memukau.

Peradaban Atlantis, memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan manusia.

Jika kita amati dari tulisan diatas, maka kita akan berkesimpulan, bahwa Atlantis merupakan sebuah
peradaban yang sangat maju. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu, sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar, dan mempunyai kehidupan yang makmur.

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan, dalam usaha pencarian, untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato, waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya atau rekayasanya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato, yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam, orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan piranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal
Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sedangkan menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia saat ini, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair, dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut, membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian, secara beruntun, dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik, yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu, tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis, dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah, atau sedang aktif kembali.

Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan, dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa, diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin.

Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah, bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh, dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang, setelah disilang di depan dada.

Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna, karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib, dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami.

Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas, sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata, dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran, atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan, dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan
aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus, dan berkualitas tinggi, serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik, dan mengekstrak sari patinya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati, dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan, juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi, dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka, mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja, yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan
magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga, atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk, dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus, untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik, dan berpengetahuan luas tentang pengobatan, akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat, dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna, dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif, dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh, dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif, dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik, maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan, dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa, atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis, untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui, bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas, dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar, dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah, dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat, pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah ceret air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang, dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan.

Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak kita renungkan mulai sekarang. Bicara sejarah, pasti hanya waktu yang tidak dapat diubah, karena penggambaran tempat dapat direkayasa sedemikian rupa. Anda tahu kapan Atlantis eksis, dan apakah Anda tahu tahun Jawa yang sesungguhnya eksis; 12.322 JED pada saat 1 Masehi. Sementara tahun Jawa yang terkontaminasi pertama adalah tahun 4425 pada saat 1 Masehi, dan tahun Jawa yang terkontaminasi kedua adalah tahun 78 pada saat 1 Masehi, atau yang sering disebut tahun saka. Dan kontaminasi tahun Jawa yang terakhir adalah kalender Jawa Islam yang diperkenalkan oleh Sultan Agung.

Masyarakat Jawa yang senkretis, terlalu longgar menerima pengaruh luar, hal ini sesuai dengan ingatan “Inggrid Benette” dimana masyarakat Atlantis adalah masyarakat yang sangat menghargai dan mudah menerima  nilai-nilai yang dianggap tidak menyakitkan orang lain.

Dari penuturan “Inggrid Benette” percaya atau tidak, itu adalah budaya yang masih hingga kini diterapkan di pedalaman Nusantara, yakni "Kearifan Lokal Indonesia"

Sumber : Dari Berbagai Sumber
Share:

Arsip