Home » » SMA Pradita Dirgantara Kembangkan Bank Kedelai

SMA Pradita Dirgantara Kembangkan Bank Kedelai

Posted by Indonesia Mandiri on Oktober 04, 2020

Banyak sekali fungsi tempe dari bahan kedelai yang bermanfaat untuk kesehatan
Boyolali (IndonesiaMandiri) – “Saya sangat mengapresiasi program Bank Kedelai yang sedang diinisiasi oleh SMA Pradita Dirgantara. SMA Pradita Dirgantara bisa menjadi pelopor untuk sekolah-sekolah lain. Menyusutnya lahan kedelai, kurang tertariknya generasi muda mendalami secara tuntas sektor Agraris yang sebenarnya sangat menjanjikan dan fondasi dasar Kedaulatan Pangan di Negeri  ini, Bank Kedelai merupakan langkah positif dari sebuah SMA yang luar biasa,” ucap Dr. Atris Suyantohadi, Dosen Universitas Gadjah Mada & Founder Attempe-Tempe Sehat dari kedelai lokal non-GMO.

Atris membahas soal potensi kedelai, saat berbicara acara webinar tentang “Modernisasi Tempe untuk Industri Pangan Fungsional di Era Pandemi Covid-19”, diadakan SMA Pradita Dirgantara melalui aplikasi Zoom Meeting dan juga siaran langsung kanal Youtube (2/10). Webinar digelar dalam rangka Hari Tani Nasional sekaligus sebagai bagian dari rencana pengembangan Bank Kedelai SMA Pradita Dirgantara, sebagai salah satu SMA Unggulan yang didirikan TNI AU, di Boyolali, Jawa Tengah.
Wakil Ketua Yayasan Ardhya Garini (Yasarini) sekaligus Ketua PIA Ardhya Garini, Inong Fadjar Prasetyo, menyampaikan apresiasi kepada sivitas akademika SMA Pradita Dirgantara dan berharap  acara ini akan menjadi awalan yang bagus untuk mengembangkan konsep bank Kedelai di SMA Pradita Dirgantara. Webinar menghadirkan pembicara pakar Tempe  Dr. Atris Suyantohadi dan Dr. Sutanto, DEA (Manajer Penjaminan Mutu SMA Pradita Dirgantara)
Dr. Sutanto menyebut, “ternyata tempe sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18. Ini tercantum di Serat Centhini yang ditulis pada zaman Pakubuwana V. Tempe merupakan salah satu kuliner tradisional yang betul-betul asli Indonesia.”
Menurut Dr. Sutanto, program Bank Kedelai di SMA Pradita Dirgantara sebagai bentuk konsep pembelajaran baru di masa pandemi, agar siswa tidak stres dan bisa belajar dengan cara yang mengasyikkan. Selain itu program Bank Kedelai ini adalah bentuk respon dari perilaku impor kedelai yang sampai saat ini masih banyak dilakukan. padahal tanah di Indonesia ini sangat memungkinkan jika ditanami kedelai. Bahkan kedelai lokal kualitasnya justru lebih unggul daripada kedelai impor.
Bank Kedelai juga merupakan bentuk dari Integrated Contextual Learning yang ada di SMA Pradita Dirgantara. Melalui Bank Kedelai siswa tidak hanya belajar biologi, tetapi juga belajar kimia, matematika, fisika, hingga pelajaran Agama. Integrated Contextual learning ditawarkan agar siswa paham tentang apa gunanya mempelajari ilmu lewat kegiatan penanaman kedelai hingga panen dan akan jadi bank kedelai bila dikelola dengan baik. 
“Melalui Bank Kedelai, diharapkan kedepan siswa dapat belajar untuk menghargai tanah ini dan menjadikan Bank Kedelai ini sebagai gerakan nasional. Kebesaran bangsa ini ditentukan oleh bangsa ini sendiri. Mari kita mengumpulkan action yg kongrit, jadikan gerakan yang nyata. Negara ini tidak akan jatuh miskin jika orang-orang berpikiran besar bagi bangsanya,” terang Dr. Sutanto.
Sedangkan Dr. Atris Suyantohadi memaparkan perkembangan kedelai lokal. Selama ini opini yang muncul di masyarakat adalah kedelai lokal kurang bagus. Padahal tempe dari kedelai lokal banyak sekali diminati konsumen luar negeri, serta memiliki gizi yang lebih daripada yang impor. Di 2015 produksi nasional kedelai lokal dikisaran 800 ribu ton, padahal kebutuhan nasional mencapai 2,4 juta ton, sehingga sekitar 75% kebutuhan nasional masih dipenuhi dari kedelai impor. 
Secara historis ada anggapan bahwa tempe adalah makanan yang murah, makanan biasa. Padahal prosesnya hingga menjadi tempe bisa sampai pada generasi ketiga. Di generasi pertama, diolah dan bentuknya masih kelihatan seperti tempe, misal di goreng atau dibuat mendoan. Lalu generasi kedua, masih berupa 60-100% tempe tapi wujudnya bukan lagi seperti tempe, contohnya dibuat brownis tempe dengan kandungan probiotiknya tinggi.
Pengembangan selanjutnya tempe bisa diolah menjadi pangan fungsional, artinya tak hanya pangan yang memiliki nilai gizi tinggi namun juga berfungsi untuk pencegahan dan pengobatan didalamnya. Tempe mengandung probiotik dan senyawa antioksidan yang sangat tinggi, meningkatkan fungsi tempe sendiri. Bahkan kedepan dengan pangan fungsional ini tidak perlu mengkonsumsi buah, dengan tempe saja sudah cukup (ma). 

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala