Home » » Jangan Anggap Remeh Soal Pikun

Jangan Anggap Remeh Soal Pikun

Posted by Indonesia Mandiri on September 27, 2020

Soal pikun bukan hanya dialami orang tua saja. Karena yang muda juga bisa terkena
Depok (IndonesiaMandiri) – Dalam dunia medis, saat September ada yang memperingatinya sebagai bulan Alzheimer. Oleh karenanya, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bekerjasama dengan Yayasan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) Chapter Depok membahas topik Kepikunan dalam seminar rutinnya bicara sehat ke-25.

Tentunya kita sering mendengar istilah 'pikun', diartikan sebagai kondisi berkurangnya daya ingat atau memori, dan dikaitkan efek dari penuaan dan tidak bisa dicegah. Apakah benar? Seminar yang dimoderatori oleh Ns. Siti Sultoni, S.Kep, MPH, Manajer Ruang Rawat Jalan dan Rawat Inap RSUI, diisi narasumber utama dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K), dokter spesialis neurologi di RSUI dan lulusan Fakultas Kedokteran UI serta saat ini masih pendidikan di Jepang.
Pukovisa menjelaskan dengan mengenalkan Formula 4-4-2, yaitu suatu istilah untuk persyaratan otak tetap sehat. Formula 4-4-2 terdiri dari: Kiper (Modal awal yaitu berupa otak), Bek (4 Bebas Pengganggu yaitu 4 hal yang yang dapat mengganggu kesehatan otak diantaranya: Zat neurotoksik dan adiktif, penyakit karidovaskular dan neurotoksik, pengalaman yang merusak otak, serta penyakit otak), Gelandang (4 Bahan Baku Optimal yaitu 4 hal yang dapat menjaga kesehatan otak diantaranya: Nutrisi, Istirahat yang cukup, Olahraga dan aktivitas seni, serta koleksi memori yang bernilai), serta Penyerang (2 Karakter Mulia yaitu berupa kecerdasan dan kreativitas).
Jadi, kata Pukovisa, pikun juga bisa menyerang orang yang masih berusia muda. Biasanya terjadi akibat trauma otak setelah kecelakaan, penggunaan NAPZA, atau akibat HIV. Ada singkatan “LALILULELO” dari Pukovisa, guna mempermudah kita mengenal gejala dini pikun/demensia, yang memiliki arti Labil, Linglung, Lupa, Lemot, dan Logika menurun.
Untuk itu, Pukovisa memberi beberapa strategi untuk menanggulangi pikun, seperti menerapkan formula 4-4-2, melakukan deteksi dini demensia, jangan termakan isu hoax, dan sebaiknya langsung konsultasi kepada dokter ahli. Ada pula aplikasi e-Memory Screening (EMS), yang dapat didownload melalui Google Play Store atau App Store, dibuat oleh PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia), berisi artikel-artikel edukasi seputar demensia, skrining demensia, serta daftar nama rumah sakit dan dokter spesialis neurologis terdekat.
Selain narasumber dari RSUI, Ir. Dunanty RK Sianipar, MPH selaku Korwil ALZI Chapter Depok juga ikut memberi informasi soal kepikunan. Menurut Dunanty, angka demensia dan Alzheimer saat ini mengalami kenaikan.  ALZI aktif berkampanye terkait demensia, bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat terkait demensia serta membantu orang dengan demensia dan menghilangkan stigma negatif terkait demensia.
ALZI Chapter Depok aktif dalam mengadakan berbagai kegiatan bermanfaat seperti Kelas Lansia dan ALZI Berbagi Kasih.  Semua kegiatan dilakukan untuk mewujudkan Depok sebagai Kota Ramah Lansia dan Ramah Demensia. Singkatnya, Dunanty berpesan, “Semua orang akan menjadi tua, namun tua yang bagaimana? Tentunya yang sehat, aktif, produktif, mandiri, dan bermakna. Hiduplah seimbang antara fisik, mental, dan emosional, yang akan mengungi risiko demensia dan alzheimer”
Guna menyemarakkan bulan lansia, RSUI juga menggelar lomba video senam dan dongeng lansia. Lomba ini masih dibuka hingga 12 Oktober 2020. Untuk mendapatkan informasi terkait pelaksanaan seminar Bicara Sehat spesial Lansia selanjutnya serta ketentuan lomba lansia dapat dipantau melalui media sosial RSUI (ma).
Foto: PuspenTNI

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala