Home » » Sukses Kelola Hutan, Indonesia Terima USD103,8 Juta Dari Green Climate Fund

Sukses Kelola Hutan, Indonesia Terima USD103,8 Juta Dari Green Climate Fund

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 28, 2020

Kepercayaan dunia kepada Indonesia dalam aksi nyata deforestasi merupakan prestasi penting
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Keberhasilan Indonesia dalam mengelola hutan dan lingkungan, mendapat pengakuan global atas proses penurunan emisi gas rumah kaca dari menurunnya deforestasi dan degradasi hutan (REDD+). Pengakuan ini dalam bentuk persetujuan dana sebesar 103,8 Juta USD sebagai pembayaran kinerja melalui skema Result Based Payment (RBP) dari Green Climate Fund (GCF).

Sebelumnya, Indonesia juga mendapatkan dana dengan skema RBP dari Norwegia sebesar USD56 juta. Proposal yang diajukan Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyajikan hasil kinerja REDD+ Indonesia untuk periode 2014-2016, dengan volume pengurangan emisi sekitar 20,3 juta ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2eq).
Indonesia menjadi negara terbesar penerima pembayaran dengan skema RBP dari GCF, jauh di atas Brasil yang menerima USD96,5 juta. Indonesia merupakan negara kelima yang berhasil mengakses program percontohan senilai USD500 juta ini. Pembayaran berbasis hasil atas keberhasilan penurunan emisi dari REDD+ ini, telah melalui verifikasi tim teknis independen yang ditunjuk Sekretariat UNFCCC.
“Jadi ini bukan klaim Indonesia sepihak, melainkan telah diverifikasi kebenaran data dan konsistensi metodologi-nya. Laporan hasil verifikasi juga terbuka untuk publik,” ucap Menteri LHK Siti Nurbaya saat konferensi pers bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati secara virtual (27/8). Angka deforestasi netto Indonesia menunjukkan tren menurun dari waktu ke waktu. Pada 1996- 2000 pernah menyentuh angka tertinggi 3,51 juta hektar/tahun, dengan berbagai intervensi kebijakan, contohnya moratorium izin hutan primer dan lahan gambut, maka laju deforestasi Indonesia terus menurun hingga mencapai terendah yaitu 0,40 juta hektar/tahun.
Begitu pula dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang pernah menyentuh luasan terbakar hingga 11,8 juta pada 1997-1998, dan terjadi kenaikan di 2015 karena faktor El Nino, karhutla berhasil dikendalikan secara signifikan pada tahun 2016-2018. Terjadi perubahan paradigma kerja pemadaman ke pengendalian.
Keberhasilan pemerintah mengurangi secara konsisten laju deforestasi, ditempuh melalui sejumlah langkah dan kebijakan. Seperti rehabilitasi hutan dan lahan, Reboisasi/penghijauan, Perlindungan dan pengamanan kawasan hutan konservasi, Perlindungan dan pengamanan kawasan hutan, Pengendalian kebakaran hutan dan lahan, Penegakan Hukum, SVLK, Perhutanan Sosial, dan berbagai program lainnya.
Perhatian GCF ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap perubahan iklim, serta menjadi wujud peningkatan kepercayaan di dalam negeri dan komunitas internasional. ''Melalui pembayaran berbasis kinerja dari Norwegia dan GCF ini, kerja keras selama satu dekade dalam melestarikan hutan dan menurunkan laju deforestasi telah menuai hasil. Namun usaha dan aksi nyata kita terhadap perubahan iklim tidak akan berhenti sampai di sini,'' terang Siti.
“Kita senang Menteri LHK dan tim berhasil mendapatkan pengakuan sebesar USD103,8 juta ha, bahkan lebih besar dari proposal Brasil dengan Amazon-nya. Ini adalah prestasi yang luar biasa dari Ibu Siti dan tim di KLHK bisa mendapatkan fund, karena sudah melalui proses yang cukup panjang dan tidak mudah. Karena pernah di World Bank, jadi saya tau,” puji Sri Mulyani (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala