Home » » Mentan Ajak Tujuh Rektor Perkuat Sistem Perkarantinaan

Mentan Ajak Tujuh Rektor Perkuat Sistem Perkarantinaan

Posted by INDONESIA MANDIRI on Agustus 29, 2020

Tujuh perguruan tinggi di Timur Indonesia ikut kawal sistem karantina Kementan
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengajak tujuh rektor dari Perguruan Tinggi Wilayah Timur perkokoh sistem perkarantinaan pertanian. Hal ini disampaikan SYL saat hadiri penandatangan kerjasama Badan Karantina Pertanian (Barantan) dengan perguruan tinggi tersebut secara virtual di Agriculture War Room, Jakarta (28/8).

"Saya sangat mengapresiasi kerjasama ini karena Barantan dalam menjalankan tugasnya harus terus memperkuat pengawasan keamanan pangan dan pengendalian mutu baik produk pangan maupun pakan asal produk pertanian di pintu-pintu tanah air,” ujar Mentan.

Menurutnya, pesatnya perkembangan saat ini, maka Barantan tak lagi hanya menjaga sumber daya alam hayati dari hama penyakit hewan dan tumbuhan. Dan kini potensinya meningkat akibat arus lalu lintas manusia dan media pembawa baik hewan dan tumbuhan yang juga terus meningkat.

Disini perlunya terobosan dan inovasi baru, tak cukup dengan cara yang biasa. Untuk inilah kerjasama dengan dunia pendidikan baik nasional maupun internasional sangat dibutuhkan.

"Inovasi biosensor untuk mendeteksi cepat hama penyakit hewan dan tumbuhan sangat dibutuhkan, karena dengan lalu lintas yang tinggi, pemeriksaan juga harus akurat. Jika tidak, maka hama penyakit bisa masuk dan mengancam sumber daya alam hayati kita," papar Mentan.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu yang hadir dari salah satu tujuh perguruan tinggi menyebut kesediaannya mendukung harapan Mentan terkait pengembangan inovasi dibidang biosensor. "Kami siap berkolaborasi Pak Menteri, baik dengan Barantan dan Balitbangtan. Terlebih di wilayah timur ini kaya akan sumber daya alam hayati yang harus dilindungi," terangnya.

Dr. Meky Sagrim, Rektor Universitas Papua menambahkan, saat ini petani diwilayahnya sangat butuh bantuan akibat serangan hama pada tanaman Kakao. "Beberapa tahun lalu kami bisa ekspor, sekarang tidak lagi karena hama.
Untuk itu kerjasama dengan Barantan ini sangat kami apresiasi, semoga petani di Papua dapat segera kembali bersemangat bertanam dan bisa ekspor lagi," harapnya.

Lima perguruan tinggi lainnya yang ikut teken nota kesepahaman yakni Universitas Cendrawasih, Universitas Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Alhaairat dan Universitas Tadulako.

Kepala Barantan Ali Jamil didampingi Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan Juanedi, menyampaikan implementasi kerjasama juga berupa penguatan laboratorium dan peningkatan kompetensi SDM di kedua belah pihak.

Menurut Jamil, pelaksanaan tindakan karantina dalam kegiatan ekspor dan impor perlu didukung dan didasari oleh justifikasi ilmiah yang bersumber dari lembaga-lembaga riset diantaranya perguruan tinggi.

Penguatan justifikasii ilmiah juga digunakan untuk pelaksanaan perkarantinaan terkait perlindungan sumber daya alam hayati seperti IAS (Invasive Alien Species) dan SDG (Sumber Daya Genetik).

“Era sekarang ini kebijakan tarif tidak lagi populer sehingga kebijakan teknis sanitari dan fitosanitari menjadi penentu dalam ekspor produk pertanian. Untuk itu Barantan  yang bertugas menjamin pemenuhan persyaratan SPS negara tujuan ini berperan sangat strategis,” ungkap Jamil (lw).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala