Home » » Sumba Timur, Kabupaten Lumbung Kuda Sandel Dengan Pesona Wisata Menakjubkan

Sumba Timur, Kabupaten Lumbung Kuda Sandel Dengan Pesona Wisata Menakjubkan

 Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Bagi Bupati Sumba Timur,Drs.Gidion Mbilijora M.Si, kabupatennya yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT ini, merupakan salah satu lumbung Kuda Sandel terbesar di Indonesia, dihuni lebih dari 32 ribu ekor dan terus bertambah. Tak heran, Sumba Timur mempersembahkan sebuah even wisata kolosal setiap tahunnya diberi nama Festival Sandalwood dan didukung penuh Kementerian Pariwisata/Kemenpar. Di 2019 ini, rencananya akan digelar pada 11-12 Juli. Apa keistimewan Festival Sandalwood dan pesona wisata lainnya di Sumba Timur, berikut wawancara singkat IndonesiaMandiri kepada Bupati Gidion Mbilijora, asli kelahiran Sumba Timur, Mei 1960.

IndonesiaMandiri (IM) : Apa target dan pesan yang diberikan kepada masyarakat Nasional dan Dunia tentang Festival Sandalwood 2019 ?
Gidion Mbilijora (GM) : Festival Sandalwood merupakaneven besar di Pulau Sumba, terutama di Kabupaten Sumba Timur dimana Even ini masuk dalam 100 Top Even Nusantara oleh Kementerian Pariwisata, serta menjadi Even Tetap Kabupaten Sumba Timur melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur. Kenapa demikian, saya sebagai Bupati Sumba Timur sangat respek serta memberi apresiasi buat Presiden Joko Widodo, dimana pada 2017 saat hadir di even ini berpesan, “Jangan Jadikan Even ini seperti Kembang Api, nyala dan padam seketika”.  Awalnya, pada 2016, saya membuat konsep festival ini menunjuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan merancangnya berkoordinasi dengan Kemenpar di Jakarta serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT di Kupang. Dalam perjalanan, kegiatan ini didanai oleh APBD Kabupaten Sumba Timur melalui Program dan Kegiatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur sesuai kemampuan keuangan daerah.

IM : Apa maksud dan tujuan even ini?
GM : Diantaranya akan menambah nilai-nilai budaya bangsa dalam rangka menumbuhkan pemahaman dan penghargaan masyarakat pada budaya leluhur, keragaman budaya dan tradisi. Juga memperluas diversifikasi produk dan kualitas pariwisata lokal dengan tetap memperhatikan kelestarian seni dan budaya tradisional. Dan tentunya sarana promosi pariwisata dalam dan luar negeri. Targetnya untuk peningkatan jumlah kunjungan wisatawannuantara/wisnus dan mancanegara/wisman serta meningkatkan Lenght of Stay dari wisatawan yang berdampak pada peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat lokal. Festival Sandalwood terbagi menjadi dua even besar yaitu Parade Kuda Sandel dan Expo Tenun Ikat Sumba.

Seorang model dengan Kuda Sandal berlatar keindahan bukit di Sumba Timur
Parade Kuda Sandel akan diikuti oleh peserta dari beberapa kecamatan yang mempunyai populasi kuda terbanyak dengan busana pakaian adat lengkap, berciri khas masing – masing kecamatan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa potensi populasi ternak kuda cukup meningkat selain sebagai sarana transportasi lokal, juga sebagai sumber pendapatan masyarakat pemilik ternak, demikian juga budaya pakaian adat merupakan ciri khas dan warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan sehingga generasi penerus tidak melupakan warisan budaya leluhur.

Untuk Expo Tenun Ikat Sumba akan dipertunjukkan bahwa warisan tenun ikat Sumba Timur mempunyai ciri khas dan sangat unik serta butuh proses yang panjang dalam pembuatan. Ini adalah warisan budaya kerajinan tenun ikat Sumba Timur untuk memperlihatkan pada anak cucu generasi kini bahwa leluhur telah mewariskannya dan harus dilestaGM : kan.

IM : Apa yang membedakan Festival kali ini dengan tahun sebelumnya?
GM : Persiapan Festival Sandalwood Kabupaten Sumba Timur pada prinsipnya setiap awal tahun pada Februari dan Maret atau tepatnya 5 bulan persiapan. Salah satunya adalah  untuk menentukan tempat kegiatan Parade Kuda Sandel, seberapa jauh kuda itu berjalan di padang sabana dan tempat untuk finalnya.Prinsipnya tidak ada perbedaan antara 2018 dengan 2019, namun dalam pelaksanaan sekarang, jarak yang ditempuh ribuan kuda nanti sekitar kurang lebih 6 km. Tahun ini akan dilaksanakan di Padang Sabana Purrukambera, Desa Hamapraingu, Kecamatan Kanatang (20 km dari Kota Waingapu) , dimana padang sabana ini merupakan tempat yang sangat populer dengan nuansa pantai dan laut sebagai backround view.Rencananya, kedepan festival ini akan diberlakukan Hari Libur bagi Kabupaten Sumba Timur.

 Peninggalan sejarah bangunan Praiyawang
IM : Terkait Amenitas, Akses dan Aksesibilitas di Sumba Timur, apakah semua sudah siap menampung wisatawan dalam dan luar negeri ?
GM : Pada umumnya amenitas, akses dan aksesibiltas di kabupaten Sumba Timur sudah siap menampung wisatawan dalam dan luar negeri. Jumlah Hotel dan Home Stay di Sumba Timur sekitar 25 buah, baik hotel besar dengan kapasitas kamar  jumlah banyak serta beberapa home stay dan resort yang menyiapkan hingga 10- 15 kamar. Jumlah kendaraan umum juga memadai sehingga memudahkan bagi para wisatawan untuk melakukan perjalanan ke tempat festival.

IM : Pesona Wisata apalagi yang akan ditawarkan Sumba Timur untuk menarik wisatawan?
GM : Kabupaten Sumba Timur sudah memiliki Travel Pattern yaitu City Tour, East Trip, North Trip, West Trip, Southwest Trip dan South Trip serta wisata ke Pulau Terluar, yaitu Pulau Salura, Pulau Mengkudu dan Pulau Kotak yang sangat cocok untuk diving, snorkling dan fishing. Ada Air Terjun Tanggedu yang sekarang ini menjadi destinasi paling ngetren, di Desa Mondu, Kecamatan Kanatang. Berjarak kurang lebih 45 km dari kota Waingapu, disamping air terjun lainnya yang juga eksotis, seperti Waimarang, Hirumanu, dan lain-lain.

Untuk wisata bahari, Kabupaten Sumba Timur memiliki sejumlah tempat yang asri.Berkembangnya Pantai Watuparunu dengan gugusan tebing terjal dengan batu bolong, sangat menarik wisatawan. Masuknya pantai Walakiri sebagai icon destinasi wisata bahari bahkan merupakan pantai yang sudah menjadi icon dunia dengan nuansa mangrove sepanjang pesisir. Pada 2017, Pantai Tarimbang diantara dua puluh (20) pantai yang ada di kabupaten Sumba Timur, menjadi Tempat Berselancar Terpopuler Nusantara. Berkembang pulau Salura, pulau Kotak dan Pulau Menggudu sebagai destinasi wisata pulau terluar, semakin membawa Kabupaten Sumba Timur menjadi destinasi terindah dan ternyaman di Sumba, NTT.

Untuk wisata budayaSumba Timur merupakan tempat wisata budaya yang paling unik contohnya prosesi pembuatan tenun ikat dan songket atau pahikung, ritual adat seperti Repit, Purru La Mananga, Mengejing, Karaki, Prosesi Penguburan Jenazah Bangsawan, Prosesi Meminang Perempuan, Kehidupan Masyarakat Adat yang unik di kampung-kampung tradisional, Prosesi Pembangunan Rumah Adat, Sejarah tentang Kuburan Megalit dan lain sebagainya tentunya dalam suatu penghayat kepercaan Marapu.

IM : Berapa jumlah wisman dan wisnus 3 tahun terakhir ini ke daerah anda?
GM : Pada 2016, jumlah kunjungan wisman mencapai 3.212 orang sedangkan wisnus 28.406 orang. Lalu2017 mengalami peningkatan, dimana wisman sebesar 3.895 orang dan wisnus 29.462 orang. Untuk 2018 ada peningkatan signifikan, dimana wisman mencapai 4.021 orang dan wisnus 30.118 orang. Rata-rata lama tinggal (lenght of stay) wisman dan wisnus setiap tahunnya berkisar 3 hari dengan expenditure Rp 750.000/hari.

IM : Apa tantangan yang dirasakan untuk memajukan pariwisata di daerah anda?
GM : Tantangan yang saya hadapi dalam memajukan Pariwisata Sumba Timur hanya satu yaitu Pembangunan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata yang “berkompeten” dalam Sektor yang luar biasa ini (ma/nm).
Foto: Istimewa

Thanks for reading & sharing Indonesia Mandiri

Previous
« Prev Post

Menuju Indonesia Mandiri

Populer